|
Mikroba Melahap Dinding Perut Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 22 Agustus 2026
|
Ketika serat
di piring kita menipis, mikroba usus tidak mati kelaparan—mereka beralih
memangsa protein dari lendir pelindung dinding usus kita! Bayangkan sebuah kampung padat yang
dihuni oleh ribuan keluarga. Setiap pagi, truk logistik mendatangi kampung
itu membawa pasokan beras, sayur, buah, kacang-kacangan, dan beragam bahan
pangan segar. Penduduk kampung hidup tenteram karena bahan makanan selalu
tersedia melimpah di atas meja. Lalu suatu ketika, truk logistik itu
makin jarang melintas. Penduduk tak langsung mati kelaparan. Mereka
menggeledah sisa-sisa makanan. Begitu sisa makanan itu habis, mereka berburu
sumber lain. Saat situasi kian memburuk, mereka mulai membongkar dinding dan
tiang kayu rumah sendiri untuk mereka jadikan kayu bakar. Kira-kira seperti itulah gambaran
nyata yang ditemukan para ilmuwan pada triliunan mikroba penghuni usus
manusia tatkala pasokan makanan dari luar mendadak seret. Tentu saja, mikroba
usus tidak membawa kapak atau gergaji. Namun mereka memiliki kemampuan
metabolisme dahsyat. Kemampuan ciptaan Tuhan itulah yang
membuat jalannya cerita kian menarik. Bayangkan, menurut temuan penelitian,
tatkala serat dan bahan pangan yang sulit manusia cerna makin sedikit,
sebagian bakteri usus dapat beralih memangsa protein yang berasal dari jaringan
tubuh kita sendiri. Temuan ilmiah tersebut lahir dari
riset mendalam Jenna E. AbuSalim, Joshua D. Rabinowitz, dan kolega mereka di
Princeton University serta Ludwig Institute for Cancer Research. Hasil
penelitian itu terbit dalam jurnal Proceedings of the National Academy of
Sciences (PNAS) pada 11 Agustus 2026. Penelitian bertajuk
Digestion-resistant proteins support the healthy metabolite profiles
associated with plant-based diets yang versi daringnya terbit 27 Juli 2026),
itu mengubah cara pandang kita terhadap fungsi serat. Selama ini, ahli gizi
memuji serat karena ampuh melancarkan buang air besar. Bahkan, serat selama ini dikatakan
memberi rasa kenyang lebih lama, serta menopang kesehatan metabolik. Namun
riset AbuSalim membuktikan fungsi vital lain yang tak kalah krusial. Yaitu
bahwa, serat menyediakan jatah makanan utama bagi mikroba usus sehingga
mereka tak perlu lagi memburu sumber makanan dari dinding tubuh kita. Di dalam rongga usus besar, hidup
komunitas mikroba raksasa. Mereka bukanlah penumpang gelap yang pasif. Mereka
melahap beragam sisa makanan yang lolos dari proses pencernaan manusia.
Sebagai imbalannya, mereka memproduksi beragam senyawa aktif yang memengaruhi
seluruh sistem kesehatan tubuh kita. Hubungan antara manusia dan mikroba
usus sejatinya sangatlah presisi. Kita menyuplai mereka makanan. Mereka
mengolahnya di pabrik pencernaan. Lalu hasil olahan itu memengaruhi fungsi
organ tubuh kita. Namun, bisa terjadi bencana tatkala menu makanan yang
sampai ke usus besar berubah drastis. Tubuh manusia memang memiliki
kemampuan luar biasa untuk mencerna makanan. Namun, sistem itu tidaklah
sempurna. Sebagian komponen makanan, terutama serat kasar dan protein
spesifik dari tumbuh-tumbuhan, gagal tercerna secara tuntas di usus halus.
Bahan-bahan sisa inilah yang akhirnya meluncur menuju usus besar. Di sanalah mikroba usus mendapat
giliran untuk melahap santapan. Dalam riset PNAS tersebut, AbuSalim dan
Rabinowitz memberikan perhatian khusus pada jenis protein tumbuhan yang tahan
terhadap enzim pencernaan manusia (digestion-resistant proteins). Dalam rilis resmi Ludwig Institute,
AbuSalim menyebut kelompok ini sebagai proteins imitating fiber atau Prif.
Sederhananya, ini adalah protein yang gagal kita serap sehingga terus
meluncur dan menjadi menu utama mikroba usus. Dan keberadaan protein semacam itu
ternyata memegang peranan sangat vital! Para peneliti menemukan bahwa serat
dan protein tahan cerna saling bahu-membahu mengarahkan metabolisme mikroba.
Kombinasi keduanya mendorong mikroba memproduksi lebih banyak senyawa sehat
dan menekan radikal berbahaya. Di sinilah alur ceritanya menjadi kian
seru. Para peneliti tak cuma menghitung jenis bakteri yang mendiami usus,
melainkan melacak secara jeli, dari mana asalnya bahan makanan yang ditelan
bakteri? Untuk itu, mereka memanfaatkan teknik canggih bernama stable isotope
tracing. Bahasanya memang terdengar sangat
saintifik, tetapi prinsip kerjanya sangat sederhana. Para ilmuwan menyematkan
penanda khusus non-radioaktif pada molekul makanan tertentu, lalu melacak
rute perjalanan molekul tersebut di dalam tubuh. Teknik ini bekerja bak
detektif yang mengajukan beberapa pertanyaan kunci. Mereka bertanya, misalnya,
"Apakah protein ini berasal dari makanan luar atau dari organ
tubuh?" "Apakah metabolit ini murni buatan bakteri atau sel
manusia?" "Jika bakteri memproduksi senyawa tertentu, apa bahan
bakunya?" Hasil penelusuran tersebut sangat mengejutkan! Saat mikroba memproses tirosin hingga
memicu lahirnya senyawa phenol sulfate dan p-cresol sulfate, bahan bakunya
ternyata berasal dari protein yang tubuh kita sekresikan sendiri. Salah satu
sumber utamanya adalah mucin —protein utama dalam lapisan lendir yang
menyelimuti dan melindungi dinding dalam usus. Saat pasokan serat yang kita asup dari
makanan luar menipis, sebagian bakteri beralih memangsa protein lendir yang
tubuh kita ciptakan untuk melindungi dinding usus. Dari sinilah lahir
metafora fiksi ilmiah tersebut: ketika serat menipis, mikroba usus mulai
“memakan kita”. Mahasuci Allah. Tentu istilah tersebut hanyalah
metafora. Bakteri tidak memelihara niat jahat. Mereka cuma menjalankan
metabolisme sesuai bahan yang tersedia di sekitarnya. Bagi bakteri, hukumnya
sangat simpel: ada makanan atau tidak? Jika ada serat, mereka melahapnya.
Jika tak cukup, mereka memburu sumber lain yang tersedia di dalam tubuh. Lendir usus bukanlah kotoran yang
menjijikkan, melainkan benteng pertahanan paling krusial. Lapisan lendir kaya
mucin ini menjadi pagar biologis yang memisahkan mikroba dari permukaan sel
usus. Masalah besar mencuat tatkala mikroba
mulai merusak dan memakan bahan penyusun pagar perlindungan itu. Riset
AbuSalim membuktikan bahwa keberadaan serat sanggup mencegah bakteri memecah
protein sekresi tubuh. Saat serat melimpah, tekanan mikroba untuk memangsa
jaringan tubuh sendiri otomatis merosot drastis. Riset ini juga membedakan hasil olahan
bakteri. Saat memproses fenilalanin dari tumbuhan, bakteri menghasilkan
hippuric acid dan 3-phenylpropionate yang sangat menyehatkan tubuh.
Sebaliknya, saat melahap tirosin dari protein tubuh, bakteri memicu lahirnya
phenol sulfate dan p-cresol sulfate yang beracun serta merusak fungsi ginjal. Tumbuhan ternyata memberi kita makan
dua kali. Ia menyerahkan serat sekaligus menyuplai protein tahan cerna yang
menjadi bahan baku metabolit sehat bagi mikroba. Di sisi lain, kelompok peneliti yang
sama menerbitkan riset kedua dalam jurnal Nature Metabolism pada 23 Juni 2026
bertajuk Host metabolism can produce many indoles and phenols independently
of the microbiome. Riset ini mengungkap fakta mengejutkan bahwa sel mamalia
sendiri ternyata sanggup memproduksi metabolit indole dan phenol secara
mandiri tanpa bantuan mikrobioma! Artinya, kita tidak boleh gegabah
menilai bahwa semua metabolit dalam darah murni buatan bakteri. Tubuh kita
dan mikroba usus sejatinya terus bernegosiasi secara dinamis. Lalu, bagaimana kita mengukur apakah
mikroba usus kita sedang kelaparan? Di laboratorium, peneliti menggunakan
stable isotope tracing untuk memetakan alur metabolisme tersebut secara
rinci. Metode ini memberi jawaban pasti mengenai siapa memakan apa di dalam
usus. Di luar laboratorium, kita memang
belum memiliki alat instan untuk mengukur tingkat kelaparan mikroba. Namun
petunjuk paling ampuh justru kembali ke piring makan kita sehari-hari, apakah
kita menyuplai cukup serat dan beragam tumbuhan utuh? Kita bukan cuma wajib menjaga populasi
bakteri baik, melainkan wajib memberi mereka makan! Jika pasokan serat yang
kita kirimkan ke usus besar terus menyusut, jangan kaget jika suatu hari
nanti para penghuni usus itu mulai melahap dinding rumah tempat mereka
tinggal. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar