Senin, 31 Agustus 2026

 

Adu Kuat Calon Ketua PBNU Menggalang Dukungan Kiai

Hanaa Septiana :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 30 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Kandidat Ketua Umum PBNU bersafari ke sejumlah pesantren yang mengasuh ribuan santri.

 

·      Mereka menggalang dukungan dan memaparkan rencana kerja jika terpilih sebagai Ketua Umum PBNU.

 

·      Empat kelompok pendukung mengerucut menjelang Muktamar Jombang.

 

MENYONGSONG Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Ke-35 di Jombang, Jawa Timur, para kandidat ketua umum organisasi keagamaan itu beranjangsana ke sejumlah pondok pesantren. Yahya Cholil Staquf yang berstatus inkumben, misalnya, menyambangi Pondok Pesantren Salafiyah di Kota Pasuruan, Jawa Timur, bersamaan dengan acara haul ke-45 Abdul Hamid, pengasuh utama pesantren tersebut.

 

Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, Yahya menembus kerumunan ratusan santri dan warga Pasuruan yang mengenakan busana putih dan telah memadati lapangan Pesantren Salafiyah. Putra mendiang Abdul Hamid, Idris Hamid, beruluk salam dengan Yahya ketika mereka bertemu di kantor pesantren.

 

Yahya yang ditemani Wakil Ketua Umum PBNU Amin Said Usni dan Katib Syuriah PBNU Nurul Yaqin Ishaq sempat berbincang di ruang tertutup selama 15 menit dengan Idris. Setelah keluar dari ruangan, Yahya membisikkan hasil pertemuan itu kepada Tempo yang mengikuti safarinya sejak dari Jakarta. “Katanya menang, menang, dan menang karena beliau mendukung saya sejak awal,” ujar Yahya.

 

Meski Yahya optimistis mendapat sokongan dari pengasuh pondok pesantren yang punya 2.000 santri itu, Idris belum blakblakan menyatakan sikapnya kepada kandidat tertentu. Ketika berceramah dalam acara haul itu, Idris menjelaskan bahwa para santri dan jemaahnya bertanya-tanya mengenai kandidat Ketua Umum PBNU yang akan menang dalam Muktamar Jombang. “Saya bukan dukun dan calonnya belum putus,” tuturnya.

 

Menurut Yahya, sejumlah pengurus pesantren juga telah mendatanginya. Mereka meminta izin kepada Yahya untuk mendoakan pencalonan kakak mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, itu. Yahya mengklaim ada pengurus pesantren di Lampung dan Aceh yang beristigasah menjelang Muktamar Jombang.

 

Selain menggalang dukungan dari pesantren, Yahya memakai kesempatan bertemu dengan para ulama untuk menjelaskan mekanisme muktamar. Sebab, ada peluang model pemilihan ketua umum berubah dari pemilihan langsung oleh muktamirin menjadi penentuan oleh dewan formatur alias ahlul halli wal aqdi atau AHWA. “Pekerjaan kami selama lima tahun sudah dirasakan sehingga tak perlu capek-capek meyakinkan orang,” kata Yahya.

 

Yahya juga mengunjungi Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Pesantren Lirboyo merupakan salah satu pondok yang memiliki santri terbanyak di Indonesia. Beberapa catatan menunjukkan jumlah santri di pesantren tersebut mencapai lebih dari 40 ribu dengan jumlah pengasuh sedikitnya 3.000 orang.

 

Pengasuh Pesantren Lirboyo, Abdul Muid Shohib, mengatakan pesantrennya sudah disambangi sejumlah calon Ketua Umum PBNU. Selain Yahya, Menteri Agama Nasaruddin Umar; Abdul Hakim Mahfudz dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur; Muhammad Yusuf Chudlori, yang pernah menjadi Ketua Partai Kebangkitan Bangsa Jawa Tengah; serta Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah Abdul Ghaffar Rozin pernah mendatangi Pesantren Lirboyo. Nasaruddin belakangan menyatakan mundur dari pencalonan karena ingin berfokus memimpin Kementerian Agama.

 

Menurut Muid, para kandidat itu tak hanya meminta restu untuk maju dalam Muktamar Jombang. Mereka memaparkan visi dan misi serta menawarkan program strategis untuk memajukan PBNU. Meski demikian, Muid enggan menyebutkan janji-janji para kandidat kepada pesantren jika salah satu dari mereka terpilih. “Gagasannya macam-macam, tapi semuanya bagus,” tuturnya.

 

Muid sempat menyampaikan aspirasinya kepada para calon ketua umum. Ia ingin kandidat terpilih memperhatikan kesejahteraan pesantren dan para ulama. Selain itu, ia meminta pengkaderan pemimpin di PBNU tak macet.

 

Abdurrahman Al-Kautsar, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah di Kediri, Jawa Timur, juga mengaku telah menerima para kandidat ketua umum. Ia punya kesempatan bertatap muka dengan para calon karena pernah menjadi sahibulbait acara Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU pada 20-23 Juni 2026.

 

Menurut Kautsar, para calon ketua umum telah memaparkan program dan rencana kerja kepada para ulama dan pengasuh Pesantren Al-Falah yang punya 13 ribu santri. Kautsar menitipkan pesan kepada para kandidat yang sowan ke pesantrennya agar merangkul para nahdliyin. “Itu harapan para kiai sepuh,” ujarnya.

 

Ada calon yang bergerilya ke pondok pesantren sejak awal 2026. Salah satunya Abdussalam Shohib, yang karib disapa Gus Salam. Ia bersafari ke sejumlah pesantren karena telah mendeklarasikan niat maju sebagai calon ketua umum pada akhir 2024. Abdussalam pernah menggagas Muktamar Luar Biasa Nahdlatul Ulama dan menjadi Ketua Presidium Penyelamat Organisasi NU.

 

Abdussalam dan sejumlah ulama waktu itu kecewa terhadap PBNU di bawah Yahya Cholil Staquf. Akar masalahnya adalah pengelolaan organisasi, kasus korupsi yang menjerat pengurus, politisasi acara satu abad NU, hingga pembekuan kepengurusan di daerah.

 

Abdussalam kini bersiap maju dengan mengumpulkan dukungan dari pesantren. Ia mendaku telah sowan ke Pesantren Tebuireng, Pesantren Al-Falah, Pesantren Bahrul Ulum, serta sejumlah pesantren di luar Pulau Jawa. Kepada para pengasuh pesantren itu, Abdussalam menyebutkan perlu ada perbaikan terhadap pesantren.

 

Ia menaruh perhatian khusus pada perbaikan sistem pendidikan di pesantren. “Mesti ada transformasi di pesantren karena banyak perkara yang belakangan ini terjadi di dalam lingkungan pesantren,” kata Abdussalam.

 

Ketua Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren Se-Indonesia (MP3I) Zaim Ma’shoem mengatakan sejumlah calon pemimpin PBNU bersilaturahmi ke pesantrennya sejak Juni 2026. Salah satunya Muhammad Yusuf Chudlori. “Dia bilang ingin memperbaiki NU,” ujar Zaim.

 

Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin juga sudah berbicara dengan Zaim. “Gus Kikin tidak spesifik mengatakan akan maju, tapi beliau menggali informasi bagaimana suara masyarakat NU dan kebutuhan jam’iyyah NU,” tutur pengasuh Pondok Pesantren Kauman, Lasem, Jawa Tengah, itu.

 

Zaim mengatakan MP3I telah mengadakan halaqah nasional pada Rabu, 26 Agustus 2026. Forum itu dihadiri perwakilan pesantren-pesantren yang menunjukkan arah dukungan mereka. Hasilnya, pesantren tak satu suara.

 

Menurut Zaim, setidaknya ada empat kelompok yang bertarung dalam Muktamar PBNU Ke-35 di Jombang. Kelompok pertama mendukung kandidat yang membutuhkan rekomendasi penguasa seperti Gus Kikin dan Nasaruddin Umar. “Golongan ini tak mau voting dan mendorong mekanisme penunjukan,” kata Zaim.

 

Kelompok kedua adalah pendukung calon yang menghendaki mekanisme pemilihan dengan model one man one vote. Pendukung kelompok ini bermuara pada calon seperti Yahya Cholil Staquf atau Muhaimin Iskandar, yang sempat digadang-gadang akan maju.

 

Menurut Zaim, kelompok ketiga adalah kandidat yang mengejar panggung. Sedangkan grup terakhir adalah kelompok yang tak didukung para kiai khos. “PBNU lebih membutuhkan kelompok yang pertama,” ujar Zaim.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/kampanye-calon-ketua-pbnu-pesantren-muktamar-jombang-2284500

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar