|
Adu
Kuat Calon Ketua PBNU Menggalang Dukungan Kiai Hanaa Septiana
: Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 30 Agustus 2026
|
· Kandidat Ketua Umum PBNU bersafari ke
sejumlah pesantren yang mengasuh ribuan santri. · Mereka menggalang dukungan dan
memaparkan rencana kerja jika terpilih sebagai Ketua Umum PBNU. · Empat kelompok pendukung mengerucut
menjelang Muktamar Jombang. MENYONGSONG
Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Ke-35 di Jombang, Jawa Timur, para
kandidat ketua umum organisasi keagamaan itu beranjangsana ke sejumlah pondok
pesantren. Yahya Cholil Staquf yang berstatus inkumben, misalnya, menyambangi
Pondok Pesantren Salafiyah di Kota Pasuruan, Jawa Timur, bersamaan dengan
acara haul ke-45 Abdul Hamid, pengasuh utama pesantren tersebut. Pada
Sabtu, 22 Agustus 2026, Yahya menembus kerumunan ratusan santri dan warga
Pasuruan yang mengenakan busana putih dan telah memadati lapangan Pesantren
Salafiyah. Putra mendiang Abdul Hamid, Idris Hamid, beruluk salam dengan
Yahya ketika mereka bertemu di kantor pesantren. Yahya
yang ditemani Wakil Ketua Umum PBNU Amin Said Usni dan Katib Syuriah PBNU
Nurul Yaqin Ishaq sempat berbincang di ruang tertutup selama 15 menit dengan
Idris. Setelah keluar dari ruangan, Yahya membisikkan hasil pertemuan itu
kepada Tempo yang mengikuti safarinya sejak dari Jakarta. “Katanya menang,
menang, dan menang karena beliau mendukung saya sejak awal,” ujar Yahya. Meski
Yahya optimistis mendapat sokongan dari pengasuh pondok pesantren yang punya
2.000 santri itu, Idris belum blakblakan menyatakan sikapnya kepada kandidat
tertentu. Ketika berceramah dalam acara haul itu, Idris menjelaskan bahwa
para santri dan jemaahnya bertanya-tanya mengenai kandidat Ketua Umum PBNU
yang akan menang dalam Muktamar Jombang. “Saya bukan dukun dan calonnya belum
putus,” tuturnya. Menurut
Yahya, sejumlah pengurus pesantren juga telah mendatanginya. Mereka meminta
izin kepada Yahya untuk mendoakan pencalonan kakak mantan Menteri Agama,
Yaqut Cholil Qoumas, itu. Yahya mengklaim ada pengurus pesantren di Lampung
dan Aceh yang beristigasah menjelang Muktamar Jombang. Selain
menggalang dukungan dari pesantren, Yahya memakai kesempatan bertemu dengan
para ulama untuk menjelaskan mekanisme muktamar. Sebab, ada peluang model
pemilihan ketua umum berubah dari pemilihan langsung oleh muktamirin menjadi
penentuan oleh dewan formatur alias ahlul halli wal aqdi atau AHWA.
“Pekerjaan kami selama lima tahun sudah dirasakan sehingga tak perlu
capek-capek meyakinkan orang,” kata Yahya. Yahya
juga mengunjungi Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Pesantren
Lirboyo merupakan salah satu pondok yang memiliki santri terbanyak di
Indonesia. Beberapa catatan menunjukkan jumlah santri di pesantren tersebut
mencapai lebih dari 40 ribu dengan jumlah pengasuh sedikitnya 3.000 orang. Pengasuh
Pesantren Lirboyo, Abdul Muid Shohib, mengatakan pesantrennya sudah
disambangi sejumlah calon Ketua Umum PBNU. Selain Yahya, Menteri Agama
Nasaruddin Umar; Abdul Hakim Mahfudz dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang,
Jawa Timur; Muhammad Yusuf Chudlori, yang pernah menjadi Ketua Partai
Kebangkitan Bangsa Jawa Tengah; serta Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama
Jawa Tengah Abdul Ghaffar Rozin pernah mendatangi Pesantren Lirboyo.
Nasaruddin belakangan menyatakan mundur dari pencalonan karena ingin berfokus
memimpin Kementerian Agama. Menurut
Muid, para kandidat itu tak hanya meminta restu untuk maju dalam Muktamar
Jombang. Mereka memaparkan visi dan misi serta menawarkan program strategis
untuk memajukan PBNU. Meski demikian, Muid enggan menyebutkan janji-janji
para kandidat kepada pesantren jika salah satu dari mereka terpilih.
“Gagasannya macam-macam, tapi semuanya bagus,” tuturnya. Muid
sempat menyampaikan aspirasinya kepada para calon ketua umum. Ia ingin
kandidat terpilih memperhatikan kesejahteraan pesantren dan para ulama.
Selain itu, ia meminta pengkaderan pemimpin di PBNU tak macet. Abdurrahman
Al-Kautsar, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah di Kediri, Jawa Timur, juga
mengaku telah menerima para kandidat ketua umum. Ia punya kesempatan bertatap
muka dengan para calon karena pernah menjadi sahibulbait acara Musyawarah
Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU pada 20-23 Juni 2026. Menurut
Kautsar, para calon ketua umum telah memaparkan program dan rencana kerja
kepada para ulama dan pengasuh Pesantren Al-Falah yang punya 13 ribu santri.
Kautsar menitipkan pesan kepada para kandidat yang sowan ke pesantrennya agar
merangkul para nahdliyin. “Itu harapan para kiai sepuh,” ujarnya. Ada
calon yang bergerilya ke pondok pesantren sejak awal 2026. Salah satunya
Abdussalam Shohib, yang karib disapa Gus Salam. Ia bersafari ke sejumlah
pesantren karena telah mendeklarasikan niat maju sebagai calon ketua umum
pada akhir 2024. Abdussalam pernah menggagas Muktamar Luar Biasa Nahdlatul
Ulama dan menjadi Ketua Presidium Penyelamat Organisasi NU. Abdussalam
dan sejumlah ulama waktu itu kecewa terhadap PBNU di bawah Yahya Cholil
Staquf. Akar masalahnya adalah pengelolaan organisasi, kasus korupsi yang
menjerat pengurus, politisasi acara satu abad NU, hingga pembekuan
kepengurusan di daerah. Abdussalam
kini bersiap maju dengan mengumpulkan dukungan dari pesantren. Ia mendaku
telah sowan ke Pesantren Tebuireng, Pesantren Al-Falah, Pesantren Bahrul
Ulum, serta sejumlah pesantren di luar Pulau Jawa. Kepada para pengasuh
pesantren itu, Abdussalam menyebutkan perlu ada perbaikan terhadap pesantren. Ia
menaruh perhatian khusus pada perbaikan sistem pendidikan di pesantren.
“Mesti ada transformasi di pesantren karena banyak perkara yang belakangan
ini terjadi di dalam lingkungan pesantren,” kata Abdussalam. Ketua
Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren Se-Indonesia (MP3I) Zaim Ma’shoem
mengatakan sejumlah calon pemimpin PBNU bersilaturahmi ke pesantrennya sejak
Juni 2026. Salah satunya Muhammad Yusuf Chudlori. “Dia bilang ingin
memperbaiki NU,” ujar Zaim. Abdul
Hakim Mahfudz alias Gus Kikin juga sudah berbicara dengan Zaim. “Gus Kikin
tidak spesifik mengatakan akan maju, tapi beliau menggali informasi bagaimana
suara masyarakat NU dan kebutuhan jam’iyyah NU,” tutur pengasuh Pondok
Pesantren Kauman, Lasem, Jawa Tengah, itu. Zaim
mengatakan MP3I telah mengadakan halaqah nasional pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Forum itu dihadiri perwakilan pesantren-pesantren yang menunjukkan arah
dukungan mereka. Hasilnya, pesantren tak satu suara. Menurut
Zaim, setidaknya ada empat kelompok yang bertarung dalam Muktamar PBNU Ke-35
di Jombang. Kelompok pertama mendukung kandidat yang membutuhkan rekomendasi
penguasa seperti Gus Kikin dan Nasaruddin Umar. “Golongan ini tak mau voting
dan mendorong mekanisme penunjukan,” kata Zaim. Kelompok
kedua adalah pendukung calon yang menghendaki mekanisme pemilihan dengan
model one man one vote. Pendukung kelompok ini bermuara pada calon seperti
Yahya Cholil Staquf atau Muhaimin Iskandar, yang sempat digadang-gadang akan
maju. Menurut
Zaim, kelompok ketiga adalah kandidat yang mengejar panggung. Sedangkan grup
terakhir adalah kelompok yang tak didukung para kiai khos. “PBNU lebih membutuhkan
kelompok yang pertama,” ujar Zaim. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/kampanye-calon-ketua-pbnu-pesantren-muktamar-jombang-2284500 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar