|
Akal Sehat Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 31 Agustus 2026
Puji Tuhan,
akhirnya akal sehatlah yang menang di Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di
Tambakberas, Jombang yang berakhir hari ini.
Saya tidak
sedang bicara siapa yang terpilih sebagai rais aam --pemimpin tertinggi ormas
Islam terbesar di dunia itu. Juga tidak sedang membahas siapa yang terpilih
sebagai ketua umum tanfidziyah (eksekutif PBNU).
Menangnya akal
sehat yang saya maksud adalah: disetujuinya cara baru pemilihan ketua umum eksekutif
pengurus pusat NU: tidak lagi berdasar pemungutan suara one man one vote.
Cara baru itu mirip dengan tata cara pemilihan Rais Am PBNU: Lewat AHWA Plus.
Persidangan
untuk mencapai cara baru itu memang sangat alot. Yang mempertahankan cara lama
masih sangat kuat. Tidak mau dikompromikan. Musawarah mufakat pun gagal.
Akhirnya harus voting. Yang pilih one man one vote dapat 150 suara. Yang
pilih cara baru 501 suara.
Maka
berakhirlah era demokrasi langsung di NU.
"Uji
coba" demokrasi murni di NU selama ini hanya menghasilkan hiruk pikuk yang
membelah kerukunan nahdliyin. Bahkan membelah kiai dan santrinya sendiri.
Martabat kiai NU dibuat taruhan. Seorang anak SD mengoreksi secara terbuka
kemampuan bahasa Arab kiai tertinggi dalam hirarki NU.
Kekalahan
demokrasi one man one vote pasti dilatarbelakangi keprihatinan atas
kerusakan parah moralitas berjam'iyah di NU.
Muhammadiyah
sudah lebih dulu menghindari cara one man one vote. Kini NU juga sudah
secara total meninggalkannya. Berarti sudah dua organisasi terbesar di
Indonesia mengabaikan demokrasi hiruk-pikuk.
Berarti
sebagian besar orang Indonesia sudah menyadari bahwa demokrasi one man one
vote harus ditinggalkan.
Di Muhammadiyah
sistem pemilihan pemimpin "cara Muhammadiyah" terbukti menghasilkan
kualitas pemimpin yang sangat baik. Juga menghasilkan stabilitas dan ketenangan
berorganisasi. Ujung-ujungnya amal sosial Muhammadiyah luar biasa.
Untuk NU,
hasilnya masih perlu kita lihat satu kurun ke depan. Tapi "jalan
baru" NU dan "jalan matang" Muhammadiyah memberikan harapan bagi
kita bahwa akal sehat akhirnya menang.
Memenangkan
akal sehat seperti itulah yang masih sulit dilakukan di lingkungan partai
politik di Indonesia. Rakyat sudah mulai muak dengan partai politik tapi belum
tahu cara merombaknya.
Kemenangan cara
baru pemilihan ketua umum tanfidziyah NU itu sekaligus seperti pertanda
"mati angin"-nya KH Miftachul Akhyar di pemilihan rais aam dan
"mati angin"-nya Gus Yahya Staquf di posisi perebutan ketua umum.
Tapi di saat
penjaringan majelis AHWA ternyata nama KH Miftachul Akhyar masih masuk
"sembilan besar". Perolehan suaranya masih nomor empat --turun dari
nomor tiga di Muktamar Lampung lima tahun lalu.
Waktu itu KH
Miftachul Akhyar terpilih sebagai rais aam karena yang dapat nomor urut satu
dan dua tidak bersedia menjabat rais aam.
Apakah dengan
dapat suara di urutan empat KH Miftachul Akhyar masih akan bisa jadi rais aam?
Apakah kali ini yang dapat nomor urut di atasnya juga tidak bersedia jadi rais
aam?
Tampaknya tidak
lagi. Yang memperoleh suara terbanyak di Tambakberas tadi malam adalah KH Nurul
Huda Djazuli dari Kediri. Di Muktamar Lampung KH Nurul Huda mendapat suara
nomor empat.
KH Nurul Huda
tidak mungkin menyatakan menolak amanah itu. Bukan karena ambisius tapi demi
penyelamatan NU. Kiai besar Jatim KH Asep Saifuddin Chalim akan sangat marah
kalau sampai KH Nurul Huda tidak bersedia menjabat rais aam.
Kalau KH Nurul
Huda menjabat rais aam ganti banyak tokoh NU yang "mati angin". Nurul
Huda adalah nama yang paling tidak diharap terpilih oleh para tokoh itu.
Gagallah impian banyak tokoh NU yang ingin bisa menyetir seorang rais aam.
KH Nurul Huda
adalah kiai yang sangat independen dan kuat dan bersikap. Tidak bisa
disetir-setir.
Nomor dua di
bawah KH Nurul Huda adalah KH Nuruzzahri Yahya dari Beureun, Aceh. Selisih
suaranya sangat tipis. Di urutan ketiga adalah KH Dr Bajaruddin Hs dari Bone,
Sulsel. Hebatnya, KH Said Aqil Siradj terpilih di nomor urut delapan. Yang
nomor sembilan adalah Abun Bunyamin dari Purwakarta. Masih ada KH Anwar Iskandar,
KH Afifuddin Muhajir dari Sukorejo Situbondo dan Anwar Manshur Lirboyo Kediri.
KH Wildan Salman dari Martapura tergeser dari sembilan besar.
Ketika artikel
ini selesai saya tulis, tadi malam, demo berlangsung di kawasan Muktamar. Para
pendukung KH Yusuf Chudlori tidak rela kalau kiai mereka dicoret dari
pencalonan ketua umum dengan alasan masih belum melewati "masa idah"
setelah bercerai dengan Partai Kebangkitan Bangsa. Mereka mengatakan Kiai Yusuf
sudah lebih dua tahun tidak lagi di PKB. Sebaliknya pihak yang anti menilai
Kiai Yusuf masih "sangat PKB".
Pemilihan
sembilan majelis AHWA sudah selesai. Tadi malam mulailah pertempuran yang
sebenarnya untuk menentukan siapa ketua umum NU yang baru. Pemungutan suaranya
pasti lebih "dingin" karena satu cabang mengajukan lima nama. Bukan
satu nama. Yang memperoleh suara terbanyak pun belum tentu bisa jadi ketua
umum.
Majelis AHWA
akan menentukan siapa di antara lima besar nama calon akan dipilih sebagai
ketua umum. Itu pun rais aam harus memberikan persetujuan.
Hari ini
Muktamar ke -35 NU selesai. Rasanya NU akan lebih baik dengan kepemimpinan
hasil muktamar Tambakberas. Ini bukan hanya muktamar persatuan tapi juga
sekaligus muktamar jalan baru demokrasi ala NU. Demokrasi Akal Sehat. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/965721/akal-sehat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar