|
Tangan
Penguasa dalam Muktamar Nahdlatul Ulama Raymundus Rikang
: Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 30 Agustus 2026
|
· Pemilik kekuasaan acap campur tangan
dalam pemilihan Ketua Umum PBNU. · Dengan jumlah anggota diperkirakan
mencapai lebih dari 90 juta, NU merupakan organisasi keagamaan terbesar di
Indonesia. · Muktamar PBNU Ke-35 di Jombang, Jawa
Timur, juga diwarnai cawe-cawe pejabat dan politikus di lingkaran Prabowo
Subianto. MUKTAMAR
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang salah satu agendanya adalah memilih ketua
umum tak pernah sepenuhnya menjadi urusan internal para kiai. Negara acap
ikut campur dalam penyelenggaraan konferensi yang diikuti para pembesar
Nahdlatul Ulama itu. Dalam
kacamata penguasa, NU merupakan mesin sosial politik dengan jumlah anggota
diperkirakan mencapai 90-160 juta, yang membuatnya menjadi organisasi
keagamaan terbesar di Indonesia. Dalam
Muktamar Cipasung yang digelar pada 1994, misalnya. Pemerintah Orde Baru yang
dipimpin Soeharto tak menginginkan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur memimpin
PBNU. Gus Dur waktu itu muncul sebagai salah satu tokoh politik yang kritis
terhadap pemerintah. Orde Baru secara terbuka mendukung Abu Hasan sebagai
kompetitor Gus Dur dalam muktamar ke-29 di Tasikmalaya, Jawa Barat, itu. Muktamar
Cipasung diliputi intimidasi dan pengerahan aparat. Narasi ABG alias “asal
bukan Gus Dur” merebak dalam konferensi para kiai. Meski demikian, para
muktamirin tetap memilih Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU. Seiring
dengan waktu, cawe-cawe penguasa dalam muktamar PBNU selalu muncul, dalam
skala kecil-kecilan ataupun masif. Para muktamirin pernah mengkritik pengaruh
Partai Kebangkitan Bangsa ketika muktamar ke-33 di Jombang, Jawa Timur,
berjalan. Lima
tahun kemudian, Said Aqil Siroj yang waktu itu berstatus ketua umum inkumben
mengungkap dugaan intervensi Istana dalam muktamar ke-34 di Lampung. Said
Aqil meminta Presiden Joko Widodo bersikap netral dalam penyelenggaraan
Muktamar Lampung. Dalam sebuah program siniar bersama politikus Akbar Faizal,
Said Aqil mengatakan bahwa Jokowi tak senang jika dia terpilih lagi sebagai
ketua umum. “Semua di Lampung itu diatur sehingga saya kalah,” ujar Said
dalam tayangan yang dirilis pada Maret 2025 tersebut. Kabar
mengenai cawe-cawe penguasa itu muncul lagi dalam Muktamar Ke-35 di Pondok
Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Ini adalah muktamar pertama yang
berlangsung di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Informasi
mengenai dugaan campur tangan penguasa itu bermula dari wawancara khusus
jurnalis Desk Nasional, Daniel Ahmad Fajri, dengan Ketua Umum Yahya Cholil
Staquf pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Ia
mengikuti Yahya bersafari ke sejumlah pesantren di Jawa Timur. Di dalam kabin
mobil Toyota Alphard hitam sepanjang perjalanan itu, Daniel mewawancarai
Yahya yang mengungkap adanya sekelompok pejabat yang mengatasnamakan Presiden
Prabowo untuk menggaet dukungan muktamirin terhadap kandidat tertentu.
“Mereka mengatakan ini perintah Presiden,” kata Yahya. Kami tak
menelan mentah-mentah pernyataan Yahya. Sepulang dari Jawa Timur, Daniel yang
dibantu Redaktur Desk Nasional Hussein Abri Dongoran dan Francisca Christy
Rosana menemui lebih dari lima pejabat dan pengurus PBNU. Para
narasumber itu bercerita, sejumlah menteri yang berlatar belakang nahdliyin
serta pejabat teras Partai Gerindra sempat membahas kandidat Ketua Umum PBNU
yang berpeluang. Mereka juga mendiskusikan perubahan sistem pemilihan ketua
umum dari one delegation one vote menjadi penunjukan oleh dewan formatur
alias ahlul halli wal aqdi atau AHWA. Daniel
juga berbicara dengan pengurus NU di daerah. Dari narasumber itu, kami
mendapatkan informasi ada skenario bahwa rais am dan ketua umum dipilih dalam
satu paket. Laporan itu dapat dibaca dalam artikel berjudul “Siapa Ketua PBNU
Jagoan Pemerintah” dan “Rekam Jejak Para Calon Ketua PBNU di Muktamar
Jombang”. Memotret
dinamika dan lobi-lobi para kandidat ketua umum, kontributor kami di
Surabaya, Hanaa Septiana, bertemu dengan para kiai dan pengasuh pondok pesantren.
Mereka menuturkan kunjungan dan pembicaraan para calon ketua umum ke
pesantren. Liputan Hanaa dapat dibaca dalam laporan berjudul “Adu Kuat Calon
Ketua PBNU Menggalang Dukungan Kiai”. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/istana-negara-prabowo-subianto-muktamar-pbnu-2284561 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar