Senin, 31 Agustus 2026

 

Yahya Staquf: Mereka Bilang Ada Perintah Presiden

Daniel Ahmad Fajri :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 30 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Yahya Cholil Staquf menduga persiapan yang mepet membuat ada kelompok yang mengatasnamakan Presiden Prabowo Subianto untuk menggalang dukungan.

 

·      Ia optimistis bisa memimpin kembali PBNU untuk periode kedua.

 

·      Yahya menjelaskan konflik internal PBNU karena konsesi tambang dari pemerintah.

 

MENCALONKAN diri sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk periode 2026-2031, Yahya Cholil Staquf bersaing dengan sejumlah ulama. Di antaranya Menteri Agama Nasaruddin Umar dan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, Abdul Hakim Mahfudz. Nasaruddin belakangan menyatakan mundur dari pencalonan karena ingin berfokus memimpin kementerian.

 

Yahya mengatakan ada manuver dari tim sukses kandidat dalam Muktamar Ke-35 PBNU di Jombang. Menurut Yahya, mereka mengklaim ada dukungan dari Presiden Prabowo Subianto terhadap calon tertentu. Padahal Prabowo, dalam pidato pembukaan muktamar, mengatakan tak ikut mengatur sosok yang akan memimpin PBNU. “Saya enggak percaya ada perintah Presiden,” tutur Yahya kepada Tempo pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

 

Jurnalis Tempo, Daniel Ahmad Fajri, mewawancarai Yahya Cholil Staquf di kabin Toyota Alphard hitam yang membawa Yahya berkeliling ke sejumlah pesantren di Jawa Timur pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Dalam perjalanan selama satu jam menuju Pasuruan dan Malang, Yahya bercerita soal aduan dari pengurus cabang NU mengenai tawaran mendukung paket pimpinan PBNU yang disokong lingkaran dekat Prabowo.

 

Kami mendapat informasi bahwa sejumlah menteri dan politikus Partai Gerindra berupaya mendorong terpilihnya paket pimpinan PBNU versi Istana. Anda mencermati dinamika ini?

 

Saya mendapat laporan serupa. Mereka mengatakan ini perintah Presiden. Saya pikir, kok, berani sekali mengatakan bahwa ini perintah Presiden.

 

Anda mendapat laporan dari mana saja?

 

Ada beberapa pengurus cabang. Muktamar saja belum mulai tapi sudah ramai sekali. Pengurus cabang itu menjadi resistan, malu, dan tersinggung.

 

Bagaimana mengegolkan paket calon dari Istana itu?

 

Itu tadi, mengaku-aku ada perintah Presiden. Ada juga yang memakai cara saru, yakni memakai uang dan memalsukan stempel.

 

Anda meyakini Presiden Prabowo tak punya interes di muktamar PBNU?

 

Saya enggak percaya sama sekali bahwa ada perintah Presiden. Saya menduga waktu persiapan yang mepet membuat orang memakai segala cara.

 

Katakanlah Presiden tak bermanuver, tapi bagaimana dengan orang di sekelilingnya?

 

Informasi bisa macam-macam. Dedemit saja main di muktamar PBNU.

 

Bagaimana Anda menggambarkan relasi dengan Prabowo?

 

Tak perlu dipertanyakan. Saya selalu dalam satu garis lurus yang membantu agenda pemerintah. Komunikasi kami juga bagus, saya tak ada masalah. Karena itu, saya tak percaya ada perintah, apalagi instruksi mengganti saya dengan orang lain.

 

Anda terbebani karena dikepung beberapa kandidat dalam Muktamar Ke-35?

 

Pekerjaan saya jauh lebih ringan daripada muktamar PBNU di Lampung pada 2021. Saya tak perlu capek meyakinkan orang karena orang merasakan pekerjaan kami selama ini, yakni transformasi tata kelola organisasi.

 

Siapa saja yang sudah mendeklarasikan dukungan kepada Anda?

 

Itu susah menjawabnya. Apa yang saya kerjakan selama lima tahun ini pokoknya sudah dinikmati pengurus daerah. Saya tak mendengar ada gagasan alternatif.

 

Apakah konflik internal PBNU karena konsesi tambang mempengaruhi kans Anda menjadi ketua lagi?

 

Orang punya persepsi kalau tambang ini pasti menjadi duit. Enggak ada konflik karena tambang itu karena ini belum menjadi apa-apa. Itu juga enggak terlalu jadi prioritas karena kami masih mampu menciptakan revenue dari sumber lain. Salah satunya aset tanah yang belum terkonsolidasi.

 

Benarkah Hashim Djojohadikusumo dan Garibaldi Thohir sempat meminati konsesi milik PBNU?

 

Belum ada omongan sejauh itu. Namanya komunikasi, pasti banyak yang bertanya.

 

Anda nyaris terpental dari kursi Ketua Umum PBNU gara-gara masalah tambang ini....

 

Saya enggak keberatan didongkel. Namun mari pakai aturan main yang ada.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/muktamar-nu-presiden-prabowo-yahya-staquf-2284499

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar