|
Uang
Panas Menjerat Rupiah Yopie Hidayat
: Anggota
Tim Evaluator Editorial Tempo. |
TEMPO MINGGUAN, 30 Agustus 2026
|
· Defisit neraca transaksi berjalan pada
kuartal II 2026 menembus US$ 12,5 miliar. · Pemerintah membanggakan besarnya arus
modal asing sebagai simbol tingginya kepercayaan investor. · Stabilitas rupiah bergantung pada hot
money yang bisa berpindah-pindah dengan cepat. SUDAH dua pekan ini rupiah menguat.
Akhir pekan lalu, kursnya stabil di kisaran Rp 17.700 per dolar Amerika
Serikat. Namun kita jangan cepat terlena. Sebab, data neraca pembayaran
Indonesia yang terbit pekan lalu menunjukkan dua hal yang patut mendapat
perhatian investor. Sinyalnya tak terlalu baik: penopang stabilitas rupiah
yang terlihat saat ini sebetulnya tidak kukuh, bahkan rapuh. Persoalan pertama adalah defisit neraca
perdagangan barang dan jasa atau neraca transaksi berjalan yang cukup besar.
Selama kuartal II 2026 saja, defisit mencapai US$ 12,5 miliar. Secara nilai
nominal, inilah defisit neraca transaksi berjalan secara kuartalan yang
terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Penyebab utama melebarnya defisit itu
adalah lonjakan harga minyak sejak perang Iran meletus. Dari perdagangan
minyak dan gas saja, Indonesia harus memikul defisit US$ 10,2 miliar. Ini
mencerminkan ketergantungan ekonomi Indonesia pada impor energi yang sangat
besar. Setiap hari Indonesia harus mengimpor minyak dan produk-produk
turunannya sekitar 1 juta barel. Itu sebabnya gejolak geopolitik global yang
membuat harga minyak meledak akan selalu menjadi ancaman serius terhadap
stabilitas rupiah. Pada saat yang sama, surplus
perdagangan nonmigas juga menyusut, dari US$ 15,27 miliar pada kuartal I 2026
menjadi US$ 12,14 miliar pada kuartal II. Selama ini surplus perdagangan
nonmigas berfungsi menjadi bantalan penyangga yang sangat penting. Karena itu,
defisit karena impor minyak bisa tertutupi. Kini bantalan itu mulai menipis
dan bukan tak mungkin merosot menjadi defisit pula. Selain mengamati defisit perdagangan
dan jasa yang mencapai rekor tertinggi, investor sebaiknya mencermati satu
data lagi yang terlihat pada neraca pembayaran. Selama kuartal II 2026,
terjadi banjir modal asing yang masuk ke sektor publik. Nilainya juga sangat
mencengangkan: US$ 13 miliar. Banyak pejabat pemerintah membanggakan besarnya
arus modal asing ini sebagai simbol tingginya kepercayaan investor kepada
Indonesia. Tentu sah-sah saja jika pejabat
membanggakan angka itu. Namun, dalam perspektif investor, angka itu menjadi
alarm untuk mengambil sikap waspada. Sebab, sebagian besar modal portofolio
asing itu masuk ke instrumen berjangka sangat pendek yang memberikan imbalan
amat besar. Apalagi kalau bukan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang
kini menjadi kegemaran investor asing. Lihat saja datanya. Pada kuartal II
saja, nilai kepemilikan asing di SRBI bertambah Rp 149 triliun atau sekitar
US$ 8,48 miliar. Angka kepemilikan asing di SRBI pada akhir Juni 2026 sudah
mencapai Rp 293 triliun, melonjak dua kali lipat ketimbang pada kuartal
pertama. Derasnya modal asing yang masuk ke SRBI
bisa menjadi penyelamat untuk sementara karena menambal defisit neraca
perdagangan dan jasa. Tapi SRBI juga membawa risiko besar bagi stabilitas
rupiah di masa depan. Sebab, penjaga stabilitas itu adalah aliran dana
investasi jangka pendek atau hot money yang bisa berpindah-pindah dengan
cepat. Muncul risiko ketika investor asing mencairkan SRBI dan mengubahnya
menjadi dolar untuk dibawa pergi ke negara lain—jika iklim investasi di
Indonesia memburuk atau karena terjadi gejolak di pasar finansial global. Begitu besarnya jumlah kepemilikan
asing di SRBI menimbulkan ketergantungan amat besar. Pada akhirnya,
ketergantungan ini bakal menyandera kebijakan moneter. Agar investor asing
bersedia mempertahankan uangnya di SRBI, imbal hasilnya tentu harus menarik.
Jika Bank Indonesia menurunkan bunga SRBI, dana asing bisa keluar
beramai-ramai, sama cepatnya dengan ketika dana itu masuk. Akibatnya, jumlah
permintaan dolar melonjak dan rupiah kembali tertekan. Begitulah. Stabilitas rupiah saat ini
ternyata bertumpu pada hot money. Uang panas itu rapuh dan agak serupa dengan
jeratan rentenir. Selama si pengutang bersedia membayar bunga tinggi, situasi
bakal aman-aman saja. ● Sumber :https://www.tempo.co/ekonomi/surat-utang-srbi-melemahkan-rupiah-2284437
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar