Senin, 31 Agustus 2026

 

Uang Panas Menjerat Rupiah

Yopie Hidayat :  Anggota Tim Evaluator Editorial Tempo.

TEMPO MINGGUAN, 30 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal II 2026 menembus US$ 12,5 miliar.

 

·      Pemerintah membanggakan besarnya arus modal asing sebagai simbol tingginya kepercayaan investor.

 

·      Stabilitas rupiah bergantung pada hot money yang bisa berpindah-pindah dengan cepat.

 

SUDAH dua pekan ini rupiah menguat. Akhir pekan lalu, kursnya stabil di kisaran Rp 17.700 per dolar Amerika Serikat. Namun kita jangan cepat terlena. Sebab, data neraca pembayaran Indonesia yang terbit pekan lalu menunjukkan dua hal yang patut mendapat perhatian investor. Sinyalnya tak terlalu baik: penopang stabilitas rupiah yang terlihat saat ini sebetulnya tidak kukuh, bahkan rapuh.

 

Persoalan pertama adalah defisit neraca perdagangan barang dan jasa atau neraca transaksi berjalan yang cukup besar. Selama kuartal II 2026 saja, defisit mencapai US$ 12,5 miliar. Secara nilai nominal, inilah defisit neraca transaksi berjalan secara kuartalan yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

 

Penyebab utama melebarnya defisit itu adalah lonjakan harga minyak sejak perang Iran meletus. Dari perdagangan minyak dan gas saja, Indonesia harus memikul defisit US$ 10,2 miliar. Ini mencerminkan ketergantungan ekonomi Indonesia pada impor energi yang sangat besar. Setiap hari Indonesia harus mengimpor minyak dan produk-produk turunannya sekitar 1 juta barel. Itu sebabnya gejolak geopolitik global yang membuat harga minyak meledak akan selalu menjadi ancaman serius terhadap stabilitas rupiah.

 

Pada saat yang sama, surplus perdagangan nonmigas juga menyusut, dari US$ 15,27 miliar pada kuartal I 2026 menjadi US$ 12,14 miliar pada kuartal II. Selama ini surplus perdagangan nonmigas berfungsi menjadi bantalan penyangga yang sangat penting. Karena itu, defisit karena impor minyak bisa tertutupi. Kini bantalan itu mulai menipis dan bukan tak mungkin merosot menjadi defisit pula.

 

Selain mengamati defisit perdagangan dan jasa yang mencapai rekor tertinggi, investor sebaiknya mencermati satu data lagi yang terlihat pada neraca pembayaran. Selama kuartal II 2026, terjadi banjir modal asing yang masuk ke sektor publik. Nilainya juga sangat mencengangkan: US$ 13 miliar. Banyak pejabat pemerintah membanggakan besarnya arus modal asing ini sebagai simbol tingginya kepercayaan investor kepada Indonesia.

 

Tentu sah-sah saja jika pejabat membanggakan angka itu. Namun, dalam perspektif investor, angka itu menjadi alarm untuk mengambil sikap waspada. Sebab, sebagian besar modal portofolio asing itu masuk ke instrumen berjangka sangat pendek yang memberikan imbalan amat besar. Apalagi kalau bukan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang kini menjadi kegemaran investor asing.

 

Lihat saja datanya. Pada kuartal II saja, nilai kepemilikan asing di SRBI bertambah Rp 149 triliun atau sekitar US$ 8,48 miliar. Angka kepemilikan asing di SRBI pada akhir Juni 2026 sudah mencapai Rp 293 triliun, melonjak dua kali lipat ketimbang pada kuartal pertama.

 

Derasnya modal asing yang masuk ke SRBI bisa menjadi penyelamat untuk sementara karena menambal defisit neraca perdagangan dan jasa. Tapi SRBI juga membawa risiko besar bagi stabilitas rupiah di masa depan. Sebab, penjaga stabilitas itu adalah aliran dana investasi jangka pendek atau hot money yang bisa berpindah-pindah dengan cepat. Muncul risiko ketika investor asing mencairkan SRBI dan mengubahnya menjadi dolar untuk dibawa pergi ke negara lain—jika iklim investasi di Indonesia memburuk atau karena terjadi gejolak di pasar finansial global.

 

Begitu besarnya jumlah kepemilikan asing di SRBI menimbulkan ketergantungan amat besar. Pada akhirnya, ketergantungan ini bakal menyandera kebijakan moneter. Agar investor asing bersedia mempertahankan uangnya di SRBI, imbal hasilnya tentu harus menarik. Jika Bank Indonesia menurunkan bunga SRBI, dana asing bisa keluar beramai-ramai, sama cepatnya dengan ketika dana itu masuk. Akibatnya, jumlah permintaan dolar melonjak dan rupiah kembali tertekan.

 

Begitulah. Stabilitas rupiah saat ini ternyata bertumpu pada hot money. Uang panas itu rapuh dan agak serupa dengan jeratan rentenir. Selama si pengutang bersedia membayar bunga tinggi, situasi bakal aman-aman saja. ●

 

Sumber :https://www.tempo.co/ekonomi/surat-utang-srbi-melemahkan-rupiah-2284437

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar