Sebuah
Puisi Esai
|
AKU KEHILANGAN ANAKKU KETIKA HUTAN TERBAKAR Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 26 Agustus 2026
|
(Hutan
di Kalimantan, Papua, dan Sumatera terbakar, Agustus 2026. Saya teringat
kembali kisah ini.) -000- Ayah,
kapan asap ini pergi?” tanya
Mila, napasnya
patah-patah menjadi
burung kecil yang
kehilangan langit. Ayahnya
tak menjawab. Bagaimana
menjelaskan kepada
anak dua belas tahun bahwa
langit sedang sakit, dan
bumi kesulitan
bernapas? Di
luar, matahari
menjadi koin merah yang
perlahan tenggelam dalam
lautan kelabu. Hutan
terbakar jauh di sana. Tetapi
api rupanya tak
membutuhkan kaki. Ia
menyeberangi bukit, menyusuri
angin, lalu
tiba di
dada Mila. -000- Asap
memang aneh,” kata Ayah. Ia
tak punya kaki, tetapi
tahu jalan menuju
dada manusia. Ia
tak punya tangan, tetapi
dapat mengetuk ribuan
pintu sekaligus. Ia
tak punya pisau, tetapi
meninggalkan luka di
tempat yang tak terlihat. Dan
ia tak punya rekening, tetapi
selalu tahu kepada
siapa tagihan
harus dikirimkan. Malam
itu, tagihan
itu tiba di
sebuah kamar kecil: Atas
nama Mila. -000- “Ayah, aku
ingin udara.” Ayah
terdiam. Selama
hidupnya ia
bekerja mencari uang. Baru
malam itu ia
mengetahui: ada
kekayaan yang
tak pernah disimpan di
bank mana pun, tetapi
ketika hilang, seluruh
uang di dunia tak
sanggup membelinya kembali: Udara. -000- September
2015. Nama
sebenarnya dirahasiakan. Panggil
saja ia Mila. Pekanbaru
sedang dikepung asap. Langit
kehilangan warna. Matahari
kehilangan wajah. Dan
manusia perlahan kehilangan
udara. Mula-mula, Mila
hanya lemas. Batuk
kecil, seperti
ketukan pelan di
pintu rumah. Ibu
menjawabnya dengan
air hangat. Ayah
menjawabnya dengan
harapan: “Besok
juga sembuh.” Mereka
belum tahu, kadang-kadang
malapetaka datang
bukan dengan ledakan, tetapi
dengan batuk kecil. Besok
datang. Batuk
Mila menjadi
lebih panjang. Lusa
datang. Napas
Mila menjadi
lebih pendek. Sampai
akhirnya, rumah
sakit. Selang. Mesin. Ruang
intensif. Sebuah
mesin bekerja siang
dan malam, seperti
paru-paru kedua yang
tak pernah diminta Mila. Lalu
suatu hari, angka-angka
di layar mulai
kehilangan iramanya. Mesin
masih bekerja. Ayah
masih berdoa. Tetapi
Mila perlahan
pergi. Tubuh
kecil itu diam. Ayah
menggenggam tangannya, seakan
seluruh cintanya dapat
dialirkan melalui
jemari. Namun
cinta dapat
menemani seseorang pergi. Ia
tak selalu dapat
menahannya tinggal. Air
mata Ayah tumpah. Di
luar jendela, asap
terus berjalan ke
mana-mana. Tak
punya wajah. Tak
punya nama. Tetapi
sejak hari itu, bagi
seorang Ayah, asap
mempunyai satu
nama: kehilangan, yang
mendalam. -000- Agustus
2026. Kalimantan,
Sumatera, Papua kembali
mengirimkan kabar tentang
api. Sebelas
tahun telah lewat, tetapi
bagi Ayah, ada
luka yang tak mengenal kalender. Ia
teringat Mila. Dulu
Mila bertanya: “Ayah,
kapan asap ini pergi?” Kini
Ayah yang
bertanya: “Siapa
yang menyalakan api?” Ia
bertanya kepada langit. Langit
diam. Barangkali
langit sudah
terlalu lama menjadi saksi, melihat
hutan terbakar tahun
demi tahun, tetapi
tak pernah sekali pun dipanggil ke
ruang pengadilan. Jika
benar ada tangan-tangan yang
memilih api karena
membakar hutan lebih
murah daripada menjaganya, betapa
mahal harga
dari sesuatu yang
mereka sebut murah. Di
atas kertas, api
mungkin hanya angka dalam
ongkos produksi. Tetapi
ada angka yang
tak pernah masuk ke
dalam pembukuan: yaitu,
seorang anak yang
tak pulang. Bagi
mereka, mungkin
statistik. Bagi
Ayah, angka
itu mempunyai nama: Mila. -000- Ayah
akhirnya mengerti: hutan
tidak pertama-tama terbakar ketika
api menyentuh daun. Ia
terbakar jauh sebelumnya. Ketika
keserakahan menemukan
tempat di
dalam hati manusia. Dari
sanalah api
pertama menyala. Baru
kemudian ia
belajar menjalar ke
batang, daun, sarang burung, dan
langit. Ayah
teringat seorang politisi pernah
menanam pohon di
depan kamera. Ada
tepuk tangan. Ada
senyum. Ada
janji tentang
masa depan. Lalu
kamera pergi. Pohon
itu tinggal, sendirian
menjaga janji
manusia. Tahun-tahun
berlalu. Ketika
ribuan pohon terbakar, Ayah
bertanya: siapa
yang akan berbicara atas
nama mereka? Pohon
tak mempunyai kartu suara. Burung
enggang tak
mempunyai wakil di
gedung dewan. Sungai
tak bisa berdiri di
depan mikrofon dan
berkata: “Aku
sedang sekarat.” Maka
ketika semuanya berubah
menjadi abu, alam
tak mempunyai bahasa
pembelaan. Hanya
asap yang
naik ke langit, seperti
surat terakhir dari
bumi kepada
manusia. Tetapi
di bawahnya, manusia
masih sibuk menghitung
harga sebuah hutan, seakan
lupa: ada yang dapat dihitung dengan
uang, dan
ada yang baru diketahui nilainya
setelah hilang. -000- “Ayah,
kapan asap ini pergi?” Sebelas
tahun kemudian, Ayah
akhirnya mengerti: asap
memang bisa pergi ketika
api padam. Tetapi
api selalu
tahu jalan pulang selama
keserakahan masih
mempunyai rumah di
hati manusia. Ia
akan kembali selama
hukum lebih
mudah membungkuk kepada
uang daripada
kepada luka. Selama
keuntungan hari ini ditimbang
lebih berat daripada
napas anak-anak
esok hari. Sebab
asap bukan
hanya lahir dari
hutan yang terbakar. Kadang
ia lahir dari
nurani yang
lebih dahulu padam. -000- Malam
itu, Ayah
membuka jendela. Langit
telah membersihkan sebagian
lukanya. Di
antara bintang-bintang, Ayah
mencari Mila. Entah
mengapa, orang
yang kehilangan selalu
percaya: yang
dicintainya tidak
benar-benar pergi, hanya
pindah ke
tempat yang tak bisa dijangkau. “Mila,”
bisiknya, “sekarang
Ayah mengerti. Bumi
bukan sekadar selembar
sertifikat. Dan
manusia bukan
sekadar angka dalam
sebuah laporan.” Di
halaman, sebatang
pohon menggerakkan
daunnya ditiup
angin. Sederhana
sekali. Tetapi
malam itu Ayah
seperti melihat sebuah
keajaiban yang
selama ini terlalu
dekat untuk disadari: sebelum
manusia menciptakan
uang, pohon
telah lebih dahulu menciptakan
udara. Ayah
menatap langit lama
sekali. Lalu
dari lorong sebelas
tahun yang jauh, suara
kecil itu datang
kembali: “Ayah, aku
ingin udara.” Ayah
memejamkan mata. Kini
ia tahu. Itu
bukan hanya permintaan
Mila. Itu
suara anak-anak yang
belum lahir, mengetuk
pintu generasi
hari ini: sisakan
untuk kami hutan. Sisakan
untuk kami langit. Sisakan
untuk kami udara. Sebab
sebuah peradaban tidak
berakhir ketika uangnya habis. Ia
mulai berakhir ketika
anak-anaknya harus
memohon untuk bernapas.
● CATATAN
KAKI (1)
Tokoh Mila dalam puisi ini diinspirasi oleh kisah Muhanum Anggriawati, 12
tahun, Pekanbaru, yang meninggal pada 10 September 2015 di tengah bencana
kabut asap Riau. Data Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan mencatat
penyebab kematiannya sebagai ISPA. https://m.antaranews.com/.../bocah-hanum-kehilangan-nyawa... |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar