Kamis, 27 Agustus 2026

 

Sebuah Puisi Esai

AKU KEHILANGAN ANAKKU KETIKA HUTAN TERBAKAR

Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI)

FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 26 Agustus 2026

 

                                                

 

(Hutan di Kalimantan, Papua, dan Sumatera terbakar, Agustus 2026. Saya teringat kembali kisah ini.)

 

-000-

 

Ayah, kapan asap ini pergi?”

tanya Mila,

napasnya patah-patah

menjadi burung kecil

yang kehilangan langit.

 

Ayahnya tak menjawab.

 

Bagaimana menjelaskan

kepada anak dua belas tahun

bahwa langit sedang sakit,

dan bumi

kesulitan bernapas?

 

Di luar,

matahari menjadi koin merah

yang perlahan tenggelam

dalam lautan kelabu.

 

Hutan terbakar jauh di sana.

Tetapi api rupanya

tak membutuhkan kaki.

 

Ia menyeberangi bukit,

menyusuri angin,

lalu tiba

di dada Mila.

 

-000-

 

Asap memang aneh,” kata Ayah.

Ia tak punya kaki,

tetapi tahu jalan

menuju dada manusia.

 

Ia tak punya tangan,

tetapi dapat mengetuk

ribuan pintu sekaligus.

 

Ia tak punya pisau,

tetapi meninggalkan luka

di tempat yang tak terlihat.

 

Dan ia tak punya rekening,

tetapi selalu tahu

kepada siapa

tagihan harus dikirimkan.

 

Malam itu,

tagihan itu tiba

di sebuah kamar kecil:

Atas nama Mila.

 

-000-

 

“Ayah,

aku ingin udara.”

Ayah terdiam.

 

Selama hidupnya

ia bekerja mencari uang.

Baru malam itu

ia mengetahui:

ada kekayaan

yang tak pernah disimpan

di bank mana pun,

 

tetapi ketika hilang,

seluruh uang di dunia

tak sanggup membelinya kembali:

Udara.

 

-000-

 

September 2015.

Nama sebenarnya dirahasiakan.

Panggil saja ia Mila.

 

Pekanbaru sedang dikepung asap.

Langit kehilangan warna.

Matahari kehilangan wajah.

Dan manusia perlahan

kehilangan udara.

 

Mula-mula,

Mila hanya lemas.

Batuk kecil,

seperti ketukan pelan

di pintu rumah.

 

Ibu menjawabnya

dengan air hangat.

Ayah menjawabnya

dengan harapan:

“Besok juga sembuh.”

 

Mereka belum tahu,

kadang-kadang malapetaka

datang bukan dengan ledakan,

tetapi dengan batuk kecil.

 

Besok datang.

Batuk Mila

menjadi lebih panjang.

Lusa datang.

Napas Mila

menjadi lebih pendek.

 

Sampai akhirnya,

rumah sakit.

Selang.

Mesin.

Ruang intensif.

 

Sebuah mesin bekerja

siang dan malam,

seperti paru-paru kedua

yang tak pernah diminta Mila.

 

Lalu suatu hari,

angka-angka di layar

mulai kehilangan iramanya.

Mesin masih bekerja.

Ayah masih berdoa.

 

Tetapi Mila

perlahan pergi.

Tubuh kecil itu diam.

 

Ayah menggenggam tangannya,

seakan seluruh cintanya

dapat dialirkan

melalui jemari.

 

Namun cinta

dapat menemani seseorang pergi.

Ia tak selalu

dapat menahannya tinggal.

 

Air mata Ayah tumpah.

 

Di luar jendela,

asap terus berjalan

ke mana-mana.

Tak punya wajah.

Tak punya nama.

 

Tetapi sejak hari itu,

bagi seorang Ayah,

asap mempunyai

satu nama:

kehilangan,

yang mendalam.

 

-000-

 

Agustus 2026.

 

Kalimantan, Sumatera, Papua

kembali mengirimkan kabar

tentang api.

 

Sebelas tahun telah lewat,

tetapi bagi Ayah,

ada luka yang tak mengenal kalender.

 

Ia teringat Mila.

Dulu Mila bertanya:

“Ayah, kapan asap ini pergi?”

 

Kini Ayah

yang bertanya:

“Siapa yang menyalakan api?”

 

Ia bertanya kepada langit.

Langit diam.

 

Barangkali langit

sudah terlalu lama menjadi saksi,

melihat hutan terbakar

tahun demi tahun,

 

tetapi tak pernah sekali pun

dipanggil

ke ruang pengadilan.

 

Jika benar ada tangan-tangan

yang memilih api

karena membakar hutan

lebih murah daripada menjaganya,

 

betapa mahal

harga dari sesuatu

yang mereka sebut murah.

 

Di atas kertas,

api mungkin hanya angka

dalam ongkos produksi.

 

Tetapi ada angka

yang tak pernah masuk

ke dalam pembukuan:

yaitu, seorang anak

yang tak pulang.

Bagi mereka,

mungkin statistik.

 

Bagi Ayah,

angka itu mempunyai nama:

Mila.

 

-000-

 

Ayah akhirnya mengerti:

hutan tidak pertama-tama terbakar

ketika api menyentuh daun.

Ia terbakar jauh sebelumnya.

Ketika keserakahan

menemukan tempat

di dalam hati manusia.

 

Dari sanalah

api pertama menyala.

Baru kemudian

ia belajar menjalar

ke batang, daun, sarang burung,

dan langit.

 

Ayah teringat seorang politisi

pernah menanam pohon

di depan kamera.

 

Ada tepuk tangan.

Ada senyum.

Ada janji

tentang masa depan.

 

Lalu kamera pergi.

Pohon itu tinggal,

sendirian menjaga

janji manusia.

 

Tahun-tahun berlalu.

Ketika ribuan pohon terbakar,

Ayah bertanya:

siapa yang akan berbicara

atas nama mereka?

 

Pohon tak mempunyai kartu suara.

Burung enggang

tak mempunyai wakil

di gedung dewan.

 

Sungai tak bisa berdiri

di depan mikrofon

dan berkata:

“Aku sedang sekarat.”

 

Maka ketika semuanya

berubah menjadi abu,

alam tak mempunyai

bahasa pembelaan.

 

Hanya asap

yang naik ke langit,

seperti surat terakhir

dari bumi

kepada manusia.

 

Tetapi di bawahnya,

manusia masih sibuk

menghitung harga sebuah hutan,

seakan lupa: ada yang dapat dihitung

dengan uang,

 

dan ada yang baru diketahui

nilainya setelah hilang.

 

-000-

 

“Ayah, kapan asap ini pergi?”

 

Sebelas tahun kemudian,

Ayah akhirnya mengerti:

asap memang bisa pergi

ketika api padam.

 

Tetapi api

selalu tahu jalan pulang

selama keserakahan

masih mempunyai rumah

di hati manusia.

 

Ia akan kembali

selama hukum

lebih mudah membungkuk

kepada uang

daripada kepada luka.

 

Selama keuntungan hari ini

ditimbang lebih berat

daripada napas

anak-anak esok hari.

 

Sebab asap

bukan hanya lahir

dari hutan yang terbakar.

Kadang ia lahir

dari nurani

yang lebih dahulu padam.

 

-000-

 

Malam itu,

Ayah membuka jendela.

Langit telah membersihkan

sebagian lukanya.

 

Di antara bintang-bintang,

Ayah mencari Mila.

Entah mengapa,

orang yang kehilangan

selalu percaya:

yang dicintainya

tidak benar-benar pergi,

hanya pindah

ke tempat yang tak bisa dijangkau.

 

“Mila,” bisiknya,

“sekarang Ayah mengerti.

Bumi bukan sekadar

selembar sertifikat.

Dan manusia

bukan sekadar angka

dalam sebuah laporan.”

 

Di halaman,

sebatang pohon

menggerakkan daunnya

ditiup angin.

Sederhana sekali.

 

Tetapi malam itu

Ayah seperti melihat

sebuah keajaiban

yang selama ini

terlalu dekat untuk disadari:

 

sebelum manusia

menciptakan uang,

pohon telah lebih dahulu

menciptakan udara.

 

Ayah menatap langit

lama sekali.

Lalu dari lorong

sebelas tahun yang jauh,

suara kecil itu

datang kembali:

 

“Ayah,

aku ingin udara.”

Ayah memejamkan mata.

Kini ia tahu.

 

Itu bukan hanya

permintaan Mila.

 

Itu suara anak-anak

yang belum lahir,

mengetuk pintu

generasi hari ini:

 

sisakan untuk kami

hutan.

Sisakan untuk kami

langit.

Sisakan untuk kami

udara.

 

Sebab sebuah peradaban

tidak berakhir ketika uangnya habis.

Ia mulai berakhir

ketika anak-anaknya

harus memohon untuk bernapas.

 

CATATAN KAKI

 

(1) Tokoh Mila dalam puisi ini diinspirasi oleh kisah Muhanum Anggriawati, 12 tahun, Pekanbaru, yang meninggal pada 10 September 2015 di tengah bencana kabut asap Riau. Data Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan mencatat penyebab kematiannya sebagai ISPA.

 

https://m.antaranews.com/.../bocah-hanum-kehilangan-nyawa...

 

Sumber :     https://www.facebook.com/share/p/1FTTcbL7Jt/   

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar