|
Rekam
Jejak Para Calon Ketua PBNU di Muktamar Jombang Hussein Abri Dongoran : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 30 Agustus 2026
|
· Abdul Hakim Mahfudz merupakan pengasuh
Pondok Pesantren Tebuireng yang berbisnis minyak dan gas bumi. · Yahya Cholil Staquf pernah dipersoalkan
elite PBNU karena tata kelola organisasi dan masalah tambang batu bara. · Nasaruddin Umar dekat dengan Presiden
Prabowo Subianto, tapi tak jadi maju sebagai calon ketua umum. MUHAMMAD
Lukman Edy kembali berjumpa dengan sahabatnya, Abdul Hakim Mahfudz alias Gus
Kikin, dalam acara pendidikan menengah kepemimpinan Nahdlatul Ulama di
Surabaya pada pertengahan Juli 2026. Saat itu Kikin yang merupakan pengasuh
Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, membuka acara konsolidasi pengurus
NU tersebut. Lukman
mengajak Kikin berbincang sejenak setelah forum tersebut bubar. “Kami berbagi
informasi mengenai perkembangan Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,”
ujar Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal 2007-2009 tersebut ketika dihubungi
Tempo pada Jumat, 28 Agustus 2026. Kikin
yang kini menjabat Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur tengah
digadang-gadang maju menjadi calon Ketua Umum PBNU dalam Muktamar Ke-35 yang
akan diselenggarakan di Jombang. Pengumuman Kikin maju menjadi kandidat
terbit setelah pertemuan dengan Lukman. Pada
Selasa, 21 Juli 2026, pengurus PWNU Jawa Timur mengumumkan dukungan mereka
terhadap Kikin. Dalam pidatonya, Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur Abdul
Matin Djawahir menjelaskan bahwa keputusan itu diambil setelah pengurus
menggelar rapat harian. “Beliau menyatakan siap,” kata Abdul Matin. Kikin
pun menerima dukungan dari para koleganya. “Bila memang sudah ditugasi,
insyaallah saya siap,” tuturnya. Lukman
mengungkapkan, Kikin merupakan keturunan pendiri Nahdlatul Ulama, Hasyim
Asy’ari. Ayah Kikin, Mahfudz Azwar, yang wafat pada 1999, merupakan pendiri
Pondok Pesantren Sunan Ampel di Jombang. Kikin pernah mengenyam pendidikan di
Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta. Menurut
Lukman, Kikin punya pengalaman yang beragam. Ia tak hanya menjadi pengasuh
Pondok Pesantren Tebuireng. Kikin juga merambah bisnis perkapalan dan energi.
“Ia terakhir berkecimpung di bisnis minyak dan gas bumi,” ujar Lukman. Dalam
Muktamar PBNU Ke-35, Kikin bersaing dengan ketua umum inkumben, Yahya Cholil
Staquf. Abang mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, itu mengklaim
pencalonannya kali ini lebih mudah daripada dalam Muktamar Lampung, lima
tahun lalu. “Saya tak perlu capek meyakinkan orang karena orang merasakan
pekerjaan kami selama ini, yakni transformasi tata kelola organisasi,” kata
Yahya dalam wawancara khusus dengan Tempo pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Dua
pengurus PBNU bercerita, pengelolaan organisasi di era Yahya diwarnai
sejumlah turbulensi. Yang terbaru adalah konflik internal karena pengelolaan
tambang serta masalah transparansi anggaran organisasi yang memicu kegaduhan
pada akhir 2025. Pada
waktu itu pembesar Nahdlatul Ulama saling pecat. Rais Am Miftachul Akhyar
sempat memberhentikan Yahya dari jabatan ketua umum. Sedangkan Yahya mencopot
Sekretaris JenderalSaifullah Yusuf dan Bendahara Umum Gudfan Arif Ghofur. Di
permukaan, Rais Syuriah menyoal tata kelola keuangan dan kedekatan Yahya
dengan kelompok pro-Israel. Persoalan
sesungguhnya adalah hak pengelolaan tambang batu bara yang didapat pada masa
pemerintahan Joko Widodo. Mereka memperoleh konsesi seluas lebih dari 26 ribu
hektare di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Wilayah pertambangan yang
dikelola PBNU merupakan bekas milik PT Kaltim Prima Coal (KPC), perusahaan
yang terafiliasi dengan keluarga Bakrie. Kerabat Yahya menyebutkan mutu batu
bara di lahan eks KPC seperti wagyu—daging premium berkualitas istimewa—yang
jumlah cadangannya ditaksir mencapai 140 juta metrik ton. Menggarap
tambang pemberian pemerintah, PBNU membentuk PT Berkah Usaha Muamalah
Nusantara. Sistem Minerba One milik Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral mencatat 99 persen saham PT Berkah Usaha dikuasai Koperasi Produsen
Bangkit Usaha Mandiri Nusantara. Sisanya dibagi rata antara Yahya dan Rais Am
Miftachul Akhyar. Yahya
menjelaskan, pembentukan perusahaan untuk mengelola tambang itu sesuai dengan
hasil Konferensi Besar NU. “Manfaat ekonomi dari tambang untuk organisasi,”
ujar Yahya. Laporan
Tempo pada November 2025 berjudul “Tambang Pemecah Pengurus Nahdliyin” memuat
cerita bahwa calon perusahaan kontraktor tambang milik PBNU bernama PT
Anugerah Perdana Nusantara diduga terafiliasi dengan pengusaha Garibaldi
Thohir, yang karib disapa Boy Thohir. Karina
Novianti dari Corporate Communication PT Alamtri Resources Indonesia Tbk
waktu itu menjawab bahwa perseroannya tak punya relasi dengan PT Anugerah “PT
Alamtri Resources Indonesia tak memiliki kaitan dan keterlibatan apa pun,”
tuturnya. Di PT Alamtri, Garibaldi menjabat Wakil Presiden Komisaris. Yahya
menyampaikan bahwa PBNU belum berkontrak dengan pengusaha mana pun untuk
mengelola tambang batu bara. “Tambang ini belum jadi apa-apa,” katanya. Yahya
juga pernah dipersoalkan elite PBNU karena kedekatannya dengan Israel. Ia
pernah berkunjung ke Yerusalem, delapan tahun lalu, untuk menemui Perdana
Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Bibi—panggilan Netanyahu—ditemani sepuluh
staf ketika menerima Yahya yang waktu itu masih menjabat Katib Am Pengurus
Besar Nahdlatul Ulama. Bibi saat itu menggelar resepsi di rumah dinasnya di
kawasan Balfour, Yerusalem. Dalam
pertemuan yang berlangsung satu jam itu, Bibi meminta Yahya menjadi jembatan
hubungan bilateral antara Israel dan Indonesia. Pemerintah Indonesia tak
menjalin relasi diplomatik dengan Israel sebagai bentuk dukungan terhadap
kemerdekaan Palestina yang dijajah Israel. Jajaran
Syuriah PBNU menganggap Yahya dekat dengan kelompok pro-Israel. Padahal
Indonesia dan PBNU tengah mendukung kemerdekaan Palestina yang berkonflik
dengan Israel. Yang terakhir, Yahya mengundang akademikus Stanford
University, Amerika Serikat, Peter Berkowitz, yang pro-Israel ke Akademi
Kepemimpinan Nasional NU. Selain
Kikin dan Yahya, Menteri Agama Nasaruddin Umar sempat masuk sebagai calon
Ketua Umum PBNU yang bertarung dalam Muktamar Jombang. Anggota NU yang dekat
dengan Nasaruddin, Khalilur Abdullah Sahlawiy, bercerita bahwa ia pernah
bertemu dengan Nasaruddin tak lama setelah menyampaikan dukungan kepada Imam Besar
Masjid Istiqlal itu agar mau maju sebagai calon ketua umum. Pembicaraan
antara Khalilur dan Nasaruddin itu terjadi pada pertengahan Juli 2026.
“Nasaruddin tak marah, hanya diam yang bisa diartikan setuju,” ujar Khalilur
pada Kamis, 27 Agustus 2026. Khalilur
mengaku kenal Nasaruddin sejak 1994 ketika masih kuliah di Institut Agama
Islam Negeri Jakarta—kini Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta. Di kampus itu, Nasaruddin pernah menjabat Pembantu Rektor III.
Karena hubungan itu, Khalilur kini bergerak mendukung Nasaruddin menjadi
PBNU-1. Khalilur menyebutkan Nasaruddin memiliki kedekatan dengan Presiden
Prabowo Subianto sejak era Orde Baru. Khalilur
menuturkan, Prabowo yang masih aktif berdinas militer menjabat Ketua Majelis
Pertimbangan Pengurus Pusat Keluarga Alumni Penerima Beasiswa Supersemar.
Nasaruddin waktu itu merupakan penerima Beasiswa Supersemar sehingga masuk ke
organisasi tersebut. “Jadi Nasaruddin dan Presiden Prabowo sudah mengenal
sejak dulu,” katanya. Nasaruddin
belakangan mundur dari gelanggang perebutan kursi Ketua Umum PBNU. Nasaruddin
mengumumkan lewat rekaman video pada Jumat, 28 Agustus 2026, bahwa ia ingin
berkonsentrasi di kementerian. “Saya minta maaf kepada teman-teman dari
berbagai daerah yang mungkin telah mengimajinasikan saya untuk memimpin
PBNU,” ujarnya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/yahya-nasaruddin-umar-kikin-ketum-pbnu-2284498 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar