Senin, 31 Agustus 2026

 

Rekam Jejak Para Calon Ketua PBNU di Muktamar Jombang

Hussein Abri Dongoran :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 30 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Abdul Hakim Mahfudz merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng yang berbisnis minyak dan gas bumi.

 

·      Yahya Cholil Staquf pernah dipersoalkan elite PBNU karena tata kelola organisasi dan masalah tambang batu bara.

 

·      Nasaruddin Umar dekat dengan Presiden Prabowo Subianto, tapi tak jadi maju sebagai calon ketua umum.

 

MUHAMMAD Lukman Edy kembali berjumpa dengan sahabatnya, Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin, dalam acara pendidikan menengah kepemimpinan Nahdlatul Ulama di Surabaya pada pertengahan Juli 2026. Saat itu Kikin yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, membuka acara konsolidasi pengurus NU tersebut.

 

Lukman mengajak Kikin berbincang sejenak setelah forum tersebut bubar. “Kami berbagi informasi mengenai perkembangan Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,” ujar Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal 2007-2009 tersebut ketika dihubungi Tempo pada Jumat, 28 Agustus 2026.

 

Kikin yang kini menjabat Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur tengah digadang-gadang maju menjadi calon Ketua Umum PBNU dalam Muktamar Ke-35 yang akan diselenggarakan di Jombang. Pengumuman Kikin maju menjadi kandidat terbit setelah pertemuan dengan Lukman.

 

Pada Selasa, 21 Juli 2026, pengurus PWNU Jawa Timur mengumumkan dukungan mereka terhadap Kikin. Dalam pidatonya, Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur Abdul Matin Djawahir menjelaskan bahwa keputusan itu diambil setelah pengurus menggelar rapat harian. “Beliau menyatakan siap,” kata Abdul Matin.

 

Kikin pun menerima dukungan dari para koleganya. “Bila memang sudah ditugasi, insyaallah saya siap,” tuturnya.

 

Lukman mengungkapkan, Kikin merupakan keturunan pendiri Nahdlatul Ulama, Hasyim Asy’ari. Ayah Kikin, Mahfudz Azwar, yang wafat pada 1999, merupakan pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel di Jombang. Kikin pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta.

 

Menurut Lukman, Kikin punya pengalaman yang beragam. Ia tak hanya menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng. Kikin juga merambah bisnis perkapalan dan energi. “Ia terakhir berkecimpung di bisnis minyak dan gas bumi,” ujar Lukman.

 

Dalam Muktamar PBNU Ke-35, Kikin bersaing dengan ketua umum inkumben, Yahya Cholil Staquf. Abang mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, itu mengklaim pencalonannya kali ini lebih mudah daripada dalam Muktamar Lampung, lima tahun lalu. “Saya tak perlu capek meyakinkan orang karena orang merasakan pekerjaan kami selama ini, yakni transformasi tata kelola organisasi,” kata Yahya dalam wawancara khusus dengan Tempo pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

 

Dua pengurus PBNU bercerita, pengelolaan organisasi di era Yahya diwarnai sejumlah turbulensi. Yang terbaru adalah konflik internal karena pengelolaan tambang serta masalah transparansi anggaran organisasi yang memicu kegaduhan pada akhir 2025.

 

Pada waktu itu pembesar Nahdlatul Ulama saling pecat. Rais Am Miftachul Akhyar sempat memberhentikan Yahya dari jabatan ketua umum. Sedangkan Yahya mencopot Sekretaris JenderalSaifullah Yusuf dan Bendahara Umum Gudfan Arif Ghofur. Di permukaan, Rais Syuriah menyoal tata kelola keuangan dan kedekatan Yahya dengan kelompok pro-Israel.

 

Persoalan sesungguhnya adalah hak pengelolaan tambang batu bara yang didapat pada masa pemerintahan Joko Widodo. Mereka memperoleh konsesi seluas lebih dari 26 ribu hektare di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Wilayah pertambangan yang dikelola PBNU merupakan bekas milik PT Kaltim Prima Coal (KPC), perusahaan yang terafiliasi dengan keluarga Bakrie. Kerabat Yahya menyebutkan mutu batu bara di lahan eks KPC seperti wagyu—daging premium berkualitas istimewa—yang jumlah cadangannya ditaksir mencapai 140 juta metrik ton.

 

Menggarap tambang pemberian pemerintah, PBNU membentuk PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara. Sistem Minerba One milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat 99 persen saham PT Berkah Usaha dikuasai Koperasi Produsen Bangkit Usaha Mandiri Nusantara. Sisanya dibagi rata antara Yahya dan Rais Am Miftachul Akhyar.

 

Yahya menjelaskan, pembentukan perusahaan untuk mengelola tambang itu sesuai dengan hasil Konferensi Besar NU. “Manfaat ekonomi dari tambang untuk organisasi,” ujar Yahya.

 

Laporan Tempo pada November 2025 berjudul “Tambang Pemecah Pengurus Nahdliyin” memuat cerita bahwa calon perusahaan kontraktor tambang milik PBNU bernama PT Anugerah Perdana Nusantara diduga terafiliasi dengan pengusaha Garibaldi Thohir, yang karib disapa Boy Thohir.

 

Karina Novianti dari Corporate Communication PT Alamtri Resources Indonesia Tbk waktu itu menjawab bahwa perseroannya tak punya relasi dengan PT Anugerah “PT Alamtri Resources Indonesia tak memiliki kaitan dan keterlibatan apa pun,” tuturnya. Di PT Alamtri, Garibaldi menjabat Wakil Presiden Komisaris.

 

Yahya menyampaikan bahwa PBNU belum berkontrak dengan pengusaha mana pun untuk mengelola tambang batu bara. “Tambang ini belum jadi apa-apa,” katanya.

 

Yahya juga pernah dipersoalkan elite PBNU karena kedekatannya dengan Israel. Ia pernah berkunjung ke Yerusalem, delapan tahun lalu, untuk menemui Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Bibi—panggilan Netanyahu—ditemani sepuluh staf ketika menerima Yahya yang waktu itu masih menjabat Katib Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Bibi saat itu menggelar resepsi di rumah dinasnya di kawasan Balfour, Yerusalem.

 

Dalam pertemuan yang berlangsung satu jam itu, Bibi meminta Yahya menjadi jembatan hubungan bilateral antara Israel dan Indonesia. Pemerintah Indonesia tak menjalin relasi diplomatik dengan Israel sebagai bentuk dukungan terhadap kemerdekaan Palestina yang dijajah Israel.

 

Jajaran Syuriah PBNU menganggap Yahya dekat dengan kelompok pro-Israel. Padahal Indonesia dan PBNU tengah mendukung kemerdekaan Palestina yang berkonflik dengan Israel. Yang terakhir, Yahya mengundang akademikus Stanford University, Amerika Serikat, Peter Berkowitz, yang pro-Israel ke Akademi Kepemimpinan Nasional NU.

 

Selain Kikin dan Yahya, Menteri Agama Nasaruddin Umar sempat masuk sebagai calon Ketua Umum PBNU yang bertarung dalam Muktamar Jombang. Anggota NU yang dekat dengan Nasaruddin, Khalilur Abdullah Sahlawiy, bercerita bahwa ia pernah bertemu dengan Nasaruddin tak lama setelah menyampaikan dukungan kepada Imam Besar Masjid Istiqlal itu agar mau maju sebagai calon ketua umum. Pembicaraan antara Khalilur dan Nasaruddin itu terjadi pada pertengahan Juli 2026. “Nasaruddin tak marah, hanya diam yang bisa diartikan setuju,” ujar Khalilur pada Kamis, 27 Agustus 2026.

 

Khalilur mengaku kenal Nasaruddin sejak 1994 ketika masih kuliah di Institut Agama Islam Negeri Jakarta—kini Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Di kampus itu, Nasaruddin pernah menjabat Pembantu Rektor III. Karena hubungan itu, Khalilur kini bergerak mendukung Nasaruddin menjadi PBNU-1. Khalilur menyebutkan Nasaruddin memiliki kedekatan dengan Presiden Prabowo Subianto sejak era Orde Baru.

 

Khalilur menuturkan, Prabowo yang masih aktif berdinas militer menjabat Ketua Majelis Pertimbangan Pengurus Pusat Keluarga Alumni Penerima Beasiswa Supersemar. Nasaruddin waktu itu merupakan penerima Beasiswa Supersemar sehingga masuk ke organisasi tersebut. “Jadi Nasaruddin dan Presiden Prabowo sudah mengenal sejak dulu,” katanya.

 

Nasaruddin belakangan mundur dari gelanggang perebutan kursi Ketua Umum PBNU. Nasaruddin mengumumkan lewat rekaman video pada Jumat, 28 Agustus 2026, bahwa ia ingin berkonsentrasi di kementerian. “Saya minta maaf kepada teman-teman dari berbagai daerah yang mungkin telah mengimajinasikan saya untuk memimpin PBNU,” ujarnya.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/yahya-nasaruddin-umar-kikin-ketum-pbnu-2284498

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar