|
Bintang Vela Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 22 Agustus 2026
Harusnya saya
memenuhi undangan eksklusif ini kemarin: expo helikopter di kawasan bandara
Cengkareng Jakarta. Ada daya tarik khusus di situ: pesawat buatan anak-anak
Indonesia yang disebut Vela. Itu helikopter tapi bukan helikopter.
Tapi hari ini
saya harus jadi tuan rumah ''Muktamar Perusuh Disway'' yang mendahului muktamar
NU minggu depan.
Di acara hari
ini saya memang hanya jadi tuan rumah tapi tidak sopan kalau saya tinggal pergi.
Pemilik acaranya para ''Perusuh'' sendiri.
Istilah perusuh
juga lahir dari mereka sendiri –para pembaca Disway yang suka menulis komentar
nakal-nakal itu. Kenapa bukan saya penyelenggaranya? Itu bisa sensitif. Bisa
dituduh sebagai orang tua yang tidak tahu diri: bisa dikira galang dukungan
untuk terjun ke politik.
Vela sendiri
sebenarnya belum mau unjuk diri. Apalagi di pameran kelas Asia seperti yang
dimulai kemarin: Hexa –Heli Expo Asia. Peralatan untuk terbang sudah jadi tapi
belum dipasang. Tapi panitia Hexa minta agar Vela ikut pameran. Tentu karena
Vela bisa jadi daya tarik baru bagi Hexa.
Vela adalah
pesawat yang bisa terbang dan mendarat seperti helikopter: vertikal. Setelah
mengudara Vela terbang maju seperti pesawat biasa. Yang berbeda dengan
helikopter: Vela punya banyak baling-baling kecil di bagian atasnya. Delapan
baling-baling. Untuk terbang dan mendarat. Lalu ada satu baling-baling di
bagian belakang: untuk gerak majunya. Karena itu Vela lebih tidak bising.
"Suara
bising yang ditimbulkan Vela hanya separo dari kebisingan helikopter,"
ujar Donny Paryana, kepala program Vela. Termasuk kepala program desainnya. Itu
karena motor-motor Vela adalah motor listrik. Bahwa perlu sampai delapan motor
semata-mata untuk tingkat keselamatan yang tinggi.
"Siapa
tahu ada mesin yang mati masih tetap aman," ujar Donny.
Donny adalah
alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan mesin. Begitu lulus ia bekerja
di PT Dirgantara Indonesia. 30 tahun lamanya Donny meniti karir di perusahaan
pesawat kebanggaan Presiden Prof Dr B.J. Habibie itu –dan kebanggaan kita
semua.
Setelah PT DI
tutup, Donny ke sana ke mari. Tapi idenya membuat pesawat tidak surut.
Akhirnya, dua tahun lalu, ia dipercaya Whitesky Group –induk perusahaan taksi
udara Indonesia – mengepalai program Vela.
Perusahaan itu
punya workshop di Cimahi, dekat Bandung. Awalnya ingin bisa memanfaatkan
sebagian fasilitas PT DI tapi tidak perlu lagi. Badan pesawat bisa sepenuhnya
dikerjakan di workshopnya sendiri.
"Semua
pemasok karbon kompositnya pun perusahaan di Indonesia. Bagus-bagus. Sudah ada
UMKM yang bisa memasok karbon komposit," ujar Donny.
Vela didesain
sebagai angkutan udara di perkotaan. Terbangnya tidak tinggi: maksimum 5.000
kaki atau sekitar 1.600 meter. Dengan ketinggian seperti itu tidak diperlukan
tekanan udara khusus. Berarti biaya produksinya bisa lebih rendah dibanding
membuat pesawat. Teknologinya juga tidak perlu sama dengan pesawat komersial.
Vela –diambil
dari nama rasi bintang– akan bisa jadi bintang Indonesia ke depan. Bahkan
bintang dunia: kalau dapat izin terbang. Juga kalau lulus uji emisi, hehe.
Tentu yang terakhir itu tidak perlu diuji karena delapan motornya semuanya
motor listrik. Artinya Vela terbang dengan tenaga baterai.
Sungguh Vela
dibuat di era yang tepat: teknologi baterai sudah sangat maju dan harganya juga
sudah jauh lebih murah. Harga baterai sekarang tinggal 25 persen dibanding
ketika ada orang ingin Indonesia masuk ke mobil listrik di tahun 2010 lalu.
Saat ini tentu
juga tidak akan ada lagi pejabat perizinan yang bertanya apakah mobil Vela
harus ikut uji emisi.
Vela dibuat
dalam keadaan yang sudah serba mendukung. Sudah serba paham apa itu kendaraan
listrik. Entah di bidang perizinannya.
Di udara nanti
Vela berkecepatan 250 km/jam. Mirip dengan kecepatan helikopter. Dugaan saya
Vela memiliki masa depan yang sangat cerah. Apalagi lama-lama harganya akan
kian turun. Siapa tahu kelak ada Vela yang hanya untuk dua orang. Bisa jadi
kendaraan pribadi baru.
Meski tidak
bisa memenuhi undangannya saya tetap salut pada putra-putra bangsa yang
mendesain Vela. "Tahun depan sudah bisa terbang," ujar Donny.
Kalau belum
bisa segera untuk kendaraan umum atau pribadi tapi bidang kesehatan bisa
memanfaatkannya: ambulans terbang.
Vela adalah
teknologi yang akan bisa jadi tuan rumah di rumahnya sendiri. Bila alam semesta
mendukungnya –karena ada saja orang yang tidak lagi takut pada Tuhannya alam
raya. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/964225/bintang-vela
Tidak ada komentar:
Posting Komentar