|
Lima Tahun yang Dunia Pilih Bungkam Mohammad Ayub Mirdad : Dosen hubungan internasional FISIP Universitas
Airlangga, Koordinator Lab Centre for Strategic and Global Studies (CSGS). |
MEDIA INDONESIA, 20 Agustus 2026
|
TANGGAL itu sudah lewat dan hampir tidak ada yang
menyadarinya. Lima belas Agustus datang dan pergi seperti hari biasa—tanpa
peringatan, tanpa headline, tanpa satu pun pernyataan resmi yang layak
disebut. Padahal, lima tahun lalu, tanggal itu menandai hari ketika Kabul
jatuh, ketika sebuah kelompok yang selama dua dekade diburu sebagai teroris,
yang selama itu pula bertanggung jawab atas ribuan nyawa warga sipil dan
personel keamanan Afghanistan, berjalan masuk ke istana kepresidenan dan
menyatakan diri sebagai pemerintah. Taliban menyebutnya hari kemenangan. Bagi separuh populasi Afghanistan, itu adalah
hari dimulainya penghapusan sistematis atas keberadaan mereka di ruang
publik. Dunia, tahun ini, bahkan tidak repot-repot mengucapkan selamat
tinggal pada tanggal itu. KESUNYIAN YANG MEMBUNGKUS Mari hitung apa yang sebenarnya terjadi dalam
lima tahun ini karena angka-angka ini jarang lagi disebut. Sejak Agustus
2021, anak perempuan dilarang melanjutkan sekolah menengah. Pada Desember
2022, universitas ditutup untuk seluruh mahasiswi. Perempuan dilarang bekerja
di hampir semua sektor kecuali kesehatan yang sangat terbatas, dilarang
bekerja untuk LSM lokal dan internasional, dilarang memasuki taman, gym, dan
pemandian umum. Pada 2023, dekret baru melarang perempuan
terlihat dari jendela rumah mereka sendiri. Pada 2024, undang-undang
moralitas Taliban melangkah lebih jauh: suara perempuan di ruang publik,
bernyanyi, membaca keras, bahkan berbicara terlalu lantang, dikategorikan
sebagai aurat yang harus disembunyikan. Itu bukan lagi soal akses pendidikan
atau pekerjaan. Itu adalah proyek penghapusan eksistensi perempuan dari
kehidupan publik, dijalankan secara bertahap, terdokumentasi, dan diketahui
siapa pun yang mau melihat. Yang membuat lima tahun ini lebih menyakitkan
bukan hanya kebijakan Taliban itu sendiri, melainkan juga kesunyian yang
membungkusnya. Bandingkan dengan seberapa cepat dunia bergerak untuk Ukraina,
untuk Gaza, sanksi dijatuhkan dalam hitungan hari, KTT darurat digelar, tagar
memenuhi lini masa dalam hitungan jam. Afghanistan tidak mendapat perlakuan
yang sama, bukan karena penderitaan mereka lebih ringan, melainkan karena
tidak ada kepentingan strategis besar yang dipertaruhkan di sana lagi. PBB memang pernah melabeli kebijakan Taliban
sebagai gender apartheid, sebuah istilah yang berat secara hukum
internasional, tetapi label itu berhenti di atas kertas. Tidak ada mekanisme
penegakan, tidak ada tribunal, tidak ada tekanan multilateral yang serius.
Bahkan gerakan feminisme global, yang begitu vokal pada isu-isu hak perempuan
di banyak belahan dunia lain, nyaris tidak bersuara untuk Afghanistan sejak
dua tahun terakhir. Solidaritas, ternyata, punya masa kedaluwarsa. Ini bukan sekadar kegagalan moral, ini adalah
studi kasus telanjang tentang bagaimana norma hak asasi manusia internasional
sesungguhnya bekerja. Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk
Diskriminasi terhadap Wanita (CEDAW), R2P, seluruh arsitektur hukum
internasional yang dibangun untuk melindungi kelompok rentan, terbukti hanya
berfungsi ketika ada kepentingan geopolitik yang sejalan dengannya. Ketika
kepentingan itu hilang, ketika AS sudah menarik pasukan, ketika Afghanistan
tidak lagi relevan dalam kalkulasi kekuatan besar, norma-norma itu berubah
menjadi pernyataan simbolis tanpa gigi. Dunia tidak lupa Afghanistan karena
tidak tahu. Dunia memilih untuk tidak lagi peduli karena tidak ada lagi yang
bisa diperoleh dari kepedulian itu. KRISIS YANG TERUKUR Konsekuensi kesunyian itu pun bukan sekadar
retorika. Sejumlah lembaga kesehatan mental internasional melaporkan lonjakan
kasus depresi dan percobaan bunuh diri di kalangan perempuan muda Afghanistan
sejak 2021, sementara ribuan anak perempuan kini hanya bisa belajar lewat
sekolah-sekolah bawah tanah yang setiap saat berisiko digerebek. Diaspora
profesional perempuan, dokter, dosen, jurnalis, mengalir keluar negeri,
meninggalkan Afghanistan kehilangan satu generasi tenaga terdidiknya sendiri.
Itu bukan krisis kemanusiaan yang kabur atau sulit diverifikasi; itu krisis
yang terukur dan terdokumentasi, dan tetap saja tidak cukup untuk mengetuk
hati nurani global. Yang paling ironis, Taliban sendiri tidak pernah
menyembunyikan proyek itu. Tidak ada disinformasi rumit yang perlu dibongkar,
tidak ada propaganda yang perlu diverifikasi ulang oleh jurnalis
investigatif. Setiap dekret diumumkan secara terbuka, setiap sekolah yang
ditutup ialah fakta yang bisa diverifikasi dalam hitungan jam. Kesenjangan
bukan pada informasi, melainkan pada kemauan untuk bertindak atas informasi
itu. Karena itu, pertanyaan yang seharusnya diajukan
bukan lagi 'apa yang bisa dunia lakukan untuk Afghanistan' karena jawabannya
sudah diberikan lewat lima tahun kesunyian ini: tidak banyak, dan tidak akan
banyak. Pertanyaan yang lebih jujur ialah berapa lama lagi masyarakat sipil
global bisa menyebut dirinya peduli pada hak asasi manusia secara universal,
sementara separuh populasi sebuah negara dihapuskan dari ruang publik tanpa
satu pun tekanan berarti yang menyertainya? Lima tahun sudah lewat begitu saja. Pertanyaannya
sekarang ialah apakah tahun keenam akan sama sunyinya, atau apakah masih ada
yang bersedia mengingat bahwa keheningan itu ialah pilihan, bukan keharusan. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/923831/lima-tahun-yang-dunia-pilih-bungkam
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar