|
Peran
Oei Tjoe Tat di Organisasi Tionghoa dan Partai Politik Egi Adyatama :
Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026
|
· Oei Tjoe Tat dekat dengan pendiri
Baperki, Siauw Giok Tjhan. · Ia ikut membidani berdirinya sejumlah
partai politik pada awal masa kemerdekaan. · Oei Tjoe Tat ikut menolak Rancangan
Undang-Undang Kewarganegaraan yang mendiskriminasi kelompok etnis Tionghoa. RUMAH
kos di Jalan Palmenlaan West, Semarang, Jawa Tengah, menjadi awal perkenalan
Oei Tjoe Tat dengan dunia aktivisme. Di rumah yang kini masuk Kecamatan
Semarang Tengah tersebut, Oei pertama kali bergaul dengan Siauw Giok Tjhan
yang waktu itu masih menjadi jurnalis harian Matahari sekaligus tokoh
Organisasi Pemuda Cina Perantauan atau Hua Chiao Tsing Nien Hui. Oei
masih menjadi murid Hoogere Burgerschool Semarang ketika indekos pada 1935.
Siauw Giok Tjhan, yang di kemudian hari menjadi salah satu pelopor pendirian
Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia, menjadi salah satu penghuni
senior di pondok itu. Siauw
Giok Tjhan menjadi orang yang supel. Karena itu, sebagian besar pemuda di
kos-kosan tersebut dekat dengannya. “Papa saya mempengaruhi kegiatan politik
para pemuda itu, termasuk Oei,” ujar anak Siauw Giok Tjhan, Siauw Tiong Djin,
melalui telekonferensi video pada Rabu, 22 Juli 2026. Oei
memang mempelajari politik sejak masa remaja, tapi ia lebih sering
bersentuhan dengan organisasi sosial ketika kuliah dan tumbuh dewasa. Oei
baru terjun ke bidang politik praktis ketika ikut mendirikan Partai Persatuan
Tionghoa (PPT) pada 1948. Umur laki-laki yang lahir di Surakarta, Jawa
Tengah, itu 26 tahun ketika ikut mendirikan PPT. Gagasan
pendirian PPT muncul karena Oei dan tokoh Tionghoa lain yang pernah mengenyam
pendidikan dari pemerintah kolonial merasa satu-satunya wadah bagi etnis
Tionghoa, Chung Hua Tsung Hui, terlalu banyak memperhatikan politik luar
negeri, khususnya ihwal Kuomintang. Sementara itu, mereka tak memprioritaskan
problem masyarakat peranakan di Indonesia. Dalam
Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, Oei mengatakan
keterlibatannya dalam pembentukan PPT terjadi secara otomatis karena tengah
menjabat pengurus di Perhimpunan Sosial Sin Ming Hui. Oei ditunjuk menjadi
komisaris pengurus pusat PPT ketika partai itu berdiri. “Saya habiskan
sebagian waktu untuk mengikuti berbagai rapat dan pertemuan partai,” kata
Oei. Seiring
dengan usainya masa revolusi setelah penyerahan kedaulatan dari Kerajaan
Belanda, PPT berganti nama menjadi Partai Demokrat Tionghoa Indonesia (PDTI).
Partai ini merupakan salah satu pengusung terdepan gagasan pengakuan
keturunan Tionghoa sebagai salah satu suku di Indonesia. Selama
bergiat di PDTI, Oei acap berkunjung ke kantor cabang partai di daerah. Di
sana ia bertemu dengan warga Tionghoa dari berbagai kalangan dan profesi. Oei
menyebut safari politik itu sebagai pengalaman yang memperkaya pengetahuan
mengenai kondisi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Salah
satu kontribusi PDTI adalah membatalkan Rancangan Undang-Undang
Kewarganegaraan yang digagas Menteri Luar Negeri Sunario Sastrowardoyo.
Sunario mengusulkan perubahan sistem kewarganegaraan dari model pasif, yakni
seseorang otomatis menjadi warga negara Indonesia jika lahir di wilayah
Indonesia, menjadi sistem aktif. Model yang kedua berarti seseorang bisa
secara aktif mengajukan permohonan untuk memperoleh status kewarganegaraan. PDTI
keberatan terhadap rancangan Undang-Undang Kewarganegaraan yang baru. Jika
draf regulasi itu gol di Dewan Perwakilan Rakyat, orang Tionghoa berpotensi
kehilangan status kewarganegaraan. Sebab, sistem pendataan warga keturunan
Tionghoa baru dimulai pada 1918 di Pulau Jawa dan pada 1926 untuk penduduk di
luar Pulau Jawa. Oei
mendapat mandat dari partai untuk mengundang semua anggota parlemen beretnis
Tionghoa dan membentuk Panitia Kerja Kewarganegaraan Indonesia. Siauw Giok
Tjhan, yang saat itu duduk di parlemen dari jalur independen, ditunjuk
menjadi ketua panitia kerja. Panitia
kerja mengeluarkan kesimpulan bersama, yakni menentang Rancangan
Undang-Undang Kewarganegaraan yang mendiskriminasi penduduk Tionghoa.
Kesimpulan rapat disampaikan langsung kepada Perdana Menteri Ali
Sastroamidjojo. Siauw Giok Tjhan, yang dikenal dekat dengan Ali, ikut
meyakinkan agar rancangan undang-undang itu dibatalkan sebelum sampai dibahas
di DPR. Meski
berhasil menggagalkan pembahasan Rancangan Undang-Undang Kewarganegaraan,
masyarakat peranakan Tionghoa mulai diliputi rasa khawatir terhadap isu
diskriminasi. Dalam suatu rapat pada Februari 1954, pengurus PDTI
menyimpulkan bahwa organisasinya tak lagi berdaya dalam melawan isu rasial
yang menyebar di masyarakat Indonesia. Rapat
partai lalu memutuskan membentuk sebuah organisasi kemasyarakatan yang
berpotensi mendapat dukungan dari masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia.
Hasilnya, pada 13 Maret 1954, PDTI mengumpulkan sejumlah tokoh Tionghoa dan
membahas pendirian wadah untuk menjadi saluran perjuangan komunitas Tionghoa. Para
tokoh itu merancang pendirian sebuah organisasi yang diberi nama Badan
Permusyawaratan Warga Negara Turunan Tionghoa (Baperwat). “Oei yang
menyiapkan naskah awal pendiriannya,” tutur Siauw Tiong Djin, anak pendiri
Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia, Siauw Giok Tjhan. Siauw
Giok Tjhan diusulkan menjadi ketua organisasi yang baru berdiri itu.
Alasannya, Giok Tjhan dianggap berhasil membuktikan kapasitasnya saat
memimpin Panitia Kerja Kewarganegaraan Indonesia. Oei diminta membujuk Giok
Tjhan karena mereka telah saling mengenal ketika sama-sama bersekolah di
Semarang. Siauw
Giok Tjhan setuju menjadi ketua, tapi meminta nama Baperwat diganti menjadi
Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki). Ia tak mau badan
ini menjadi eksklusif dan mengandung rasisme. “Konsepnya harus berpatokan
pada Indonesia, bukan lagi eksklusif sebagai Tionghoa,” kata Siauw Tiong
Djin. Baperki
resmi didirikan pada 13 Maret 1954 di Gedung Sin Ming Hui, Jakarta Pusat,
dengan Siauw Giok Tjhan sebagai ketua umum pertamanya. Oei diminta masuk ke
kepengurusan dengan menjadi Wakil Ketua Umum. Di awal
pendirian Baperki, sejumlah partai politik mempertanyakan arah ormas itu.
Sebab, sejumlah anggota Baperki juga aktif sebagai kader partai lain. Oei
terjun langsung menemui pemimpin partai lain untuk memberi penjelasan. Ia,
misalnya, menemui Ketua Umum Partai Nasional Indonesia Ali Sastroamidjojo
untuk menjelaskan posisi Baperki sebagai organisasi kemasyarakatan, bukan
partai politik. Lobi Oei mampu meyakinkan Ali dan membuat keanggotaan Baperki
tumbuh. Salah
satu keberhasilan Baperki adalah menerapkan gagasan integrasi yang
memungkinkan komunitas Tionghoa menjadi bagian dari Indonesia tanpa harus
menanggalkan identitas budayanya. Oei Tjoe Tat mengatakan konsep integrasi
itu berjalan secara alamiah dan tanpa paksaan. Baperki
rutin menyelenggarakan kursus, ceramah, dan upacara yang menonjolkan sikap
patriotisme. Pengurus cabang Baperki di daerah juga kerap menggelar
pertunjukan seni di komunitas Tionghoa, tapi menonjolkan unsur-unsur
kebudayaan Indonesia. “Oei
Tjoe Tat mencoba mengintegrasikan Tionghoa dengan Indonesia karena ia ingin
Indonesia yang adil dan majemuk,” tutur Ariel Heryanto, profesor emeritus di
Monash University, Australia, pada Sabtu, 18 Juli 2026. Ariel masih
berkerabat dengan Oei karena istrinya merupakan kemenakan ipar Oei. ••• PERAN
Oei Tjoe Tat di Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia lebih banyak
di balik layar. Lain halnya dengan Siauw Giok Tjhan yang populer sebagai ikon
organisasi karena menjadi pendiri sekaligus Ketua Umum Baperki. Meski
demikian, Oei memainkan peran penting dalam perkembangan organisasi.
Penyunting Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, Stanley Adi
Prasetyo, mengatakan Oei terampil mengelola jaringan. “Pergaulannya luwes,”
ujar Stanley di Palmerah, Jakarta Barat, pada Kamis, 2 Juli 2026. Kelincahan
Oei dalam bergaul terlihat dari kelompok pertemanannya. Ia bisa dekat dengan
Lukman Wiriadinata dari Partai Sosialis Indonesia (PSI). Oei kagum terhadap
kapasitas intelektual para tokoh Partai Sosialis Indonesia pada waktu itu sehingga
menganggap mereka sebagai kawan diskusi yang hangat. “Mereka sangat rasional
dan tak memiliki prasangka rasial,” tutur Oei. Saking akrabnya dengan para
tokoh PSI, Oei pernah mendengar tuduhan bahwa ia merupakan antek PSI. Oei juga
dekat dengan Albert Mangaratua Tambunan dari Partai Kristen Indonesia
(Parkindo). Ia menganggap pentolan Parkindo, Johannes Leimena, sebagai
saudara tua yang berpengalaman. Ia bahkan kerap berkonsultasi secara pribadi
dengan Leimena. “Oei tidak menjadikan prinsip politik itu sebagai dasar
persahabatan atau permusuhan,” kata Siauw Tiong Djin. Siauw
Tiong Djin menggolongkan Oei sebagai politikus garis tengah bersama Yap Thiam
Hien dan Lim Tjong Hian di Baperki. Saat itu anggota Baperki berasal dari
aktivis partai berhaluan kiri ataupun kanan. Meski begitu, Baperki tak pernah
menyatakan diri sebagai partai politik, tapi sebagai organisasi
kemasyarakatan. Keluwesan
Oei dalam bergaul membuat ia mengambil peran sebagai penjaga keseimbangan di
lingkup internal Baperki yang berasal dari berbagai haluan politik. Toh,
upayanya tak berhasil. Konflik internal tak terhindarkan setelah Baperki
memutuskan ikut dalam Pemilihan Umum 1955. Salah
satu pangkal soalnya adalah penyusunan nomor urut calon legislator dari
Baperki. Lingkup internal organisasi menganggap pemilihan nomor urut
menguntungkan Siauw Giok Tjhan dan Go Gien Tjwan—dua pentolan Baperki.
Turbulensi di dalam Baperki itu mendorong Auwyang Peng Koen atau Petrus
Kanisius Ojong serta Inyo Beng Goat mundur dari Baperki. “Saya telah berusaha
mati-matian untuk mencegah kesalahpahaman di antara kami, tapi pada akhirnya
saya terpaksa mengakui kegagalan saya,” ujar Oei. Oei tak
luput terkena dampak konflik internal Baperki. Ia dituding berhaluan kiri dan
terafiliasi dengan PSI. Ada pula yang menuduhnya sebagai orang dekat dan
terlalu dipengaruhi Siauw Giok Tjhan. Atas tuduhan itu, Oei membantahnya.
“Saya lebih memikirkan Baperki sebagai sebuah institusi yang memayungi dan
memperjuangkan kepentingan banyak orang,” tutur Oei. Mundurnya
sejumlah pentolan organisasi tak membuat Baperki kehilangan taji pada saat
pencoblosan. Dalam Pemilihan Umum 1955, Baperki sukses mengamankan kursi
Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante. Konstituante saat itu bertugas
membahas dan menetapkan Undang-Undang Dasar yang akan menggantikan
Undang-Undang Dasar Sementara 1950. Oei
ditunjuk Baperki menjadi salah satu perwakilan di Konstituante yang bekerja
di Bandung, Jawa Barat. “Setiap hari saya repot mondar-mandir Jakarta-Bandung
pulang-pergi,” kata Oei dalam memoarnya. Oei bahkan merasa menjadi
satu-satunya representasi Baperki yang bekerja di Konstituante karena
perwakilan Baperki lain terlampau sibuk. Keterlibatan
Oei di Konstituante mempertemukannya dengan Asmara Hadi yang waktu itu
menjabat Ketua Umum Partai Indonesia (Partindo). Di sela-sela rapat
Konstituante, Asmara Hadi berkali-kali mengajak Oei bergabung dengan
Partindo. Menjelang pembubaran Konstituante, Partindo bekerja sama dengan
Baperki. Salah satu kesepakatannya adalah sejumlah pengurus Baperki harus
masuk ke Partindo. Baperki menunjuk Oei masuk ke Partindo. Hubungan
Baperki dengan Partindo makin erat saat keduanya membentuk Panitia Penolong
Korban Kontra Revolusi, yang menggalang dana untuk membantu korban kerusuhan
rasial anti-Cina pada Mei 1963. “Kesediaan Partindo untuk membantu dihargai
oleh penduduk Tionghoa sehingga menyebabkan Partindo menjadi partai yang
populer di kalangan Tionghoa,” tutur Siauw Tiong Djin. Perkembangan
karier politik Oei di Partindo terhitung cepat. Tak lama setelah masuk
partai, Oei langsung didapuk sebagai salah satu ketua muda. Dalam memoarnya,
Oei menduga ia ditunjuk karena saat itu belum banyak kader partai yang
dianggap mampu. Kesibukannya di Partindo membuatnya makin tak aktif di
Baperki ataupun Sin Ming Hui. Sebagai
pemimpin partai, Oei tekun menggelar safari politik ke daerah. Ia, misalnya,
datang ke Indramayu, Jawa Barat, dan menyaksikan petani yang tergabung dalam
Kelompok Tani Marhaen mengkonsumsi bonggol pohon pisang sebagai makanan sehari-hari
akibat kelangkaan pangan. Tak lama
kemudian, Oei justru diminta menjadi ketua gerakan petani itu. “Permintaan
yang tak bisa saya tolak, meski sedari kecil sesungguhnya kehidupan saya jauh
dari dunia petani dan masalahnya,” ujar Oei. Aktivitas
politik Oei di berbagai organisasi terhenti setelah meletusnya Gerakan 30
September 1965 atau G-30-S. Oei mendapati namanya masuk surat perintah
penahanan bersama dua menteri lain di kabinet Sukarno, yakni Setiadi
Reksoprodjo dan Soemardjo. Surat penahanan ditandatangani Letnan Jenderal
Soeharto yang menjadi Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan
Ketertiban. Siauw
Tiong Djin mengatakan pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto menargetkan
orang-orang yang dekat dengan Sukarno dan Partai Komunis Indonesia. Ayah
Tiong Djin, Siauw Giok Tjhan, juga masuk daftar target dan ditangkap pada 4
November 1965. Nama
Siauw Giok Tjhan bahkan masuk sebagai salah satu anggota Dewan Revolusi yang
dituduh menjadi dalang G-30-S. “Dengan sendirinya semua kelompok kiri disasar
Orde Baru dan Baperki masuk ke golongan yang harus dibubarkan,” tutur Siauw
Tiong Djin. Penahanan
ayahnya membuat Siauw Tiong Djin harus terbang ke Australia demi melanjutkan
pendidikan. Sesekali ia pulang ke Indonesia untuk menemui ayahnya di tahanan.
Tiong Djin sempat bertemu dengan Oei yang berada di dalam Instalasi
Rehabilitasi Nirbaya di Jakarta Timur. Aktivitas
di Baperki dan Partindo meninggalkan kesan bagi Oei. Siauw Tiong Djin
menerangkan, Oei masih bersemangat membahas masa-masa di Baperki dan Partindo
saat pria itu terbaring di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta, pada 1997. “Oei
selalu merasa kegiatan politik di Baperki sangat bermakna dalam karier
politik dan karier hidupnya,” ujar Siauw Tiong Djin. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/oei-tjoe-tat-baperki-partai-tionghoa-2282211 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar