|
Dominasi Suasana Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 18 Agustus 2026
Yang paling
melegakan di tanggal 17 Agustus kemarin adalah terbuktinya teori bahwa
bayang-bayang sering lebih menakutkan dari kenyataan: demo besar yang bisa
rusuh di mana-mana terbukti tidak terjadi.
Pesan
kekhawatiran dari mulut ke telinga sempat beredar lama: jangan keluar rumah di
tanggal 17 Agustus. Tidak aman. Pun sampai sehari sebelumnya masih ada pesan
bisik-bisik seperti itu.
Mal-mal yang
telanjur meninggikan pagar tentu yang merasa paling lega. Pengunjung mal tetap
ramai sepanjang hari kemarin. Di sebuah supermarket besar saya melihat
pembelanja masih banyak.
Saya beli
durian: Medan campur musangking. Sampai di kasir saya diberi tahu: ada paket
musangking yang menggendong durian Medan. Harganya sama. Kasir minta izin untuk
menukarnya. Tentu saya setuju. Dengan uang yang sama dapat dua.
Teman belanja
saya ikut senang. Saya anjurkan: makan dulu yang Medan baru yang musangking.
Ternyata yang Medan juga enak. Waktu giliran hendak makan musangking sudah
keburu kenyang.
"Bisnis
kian susah pak," ujar pengusaha yang di belakang saya yang juga menuju
kasir.
"Kenapa?"
"Dulu saya
pemasok di BUMN. Setelah ada Danantara, BUMN tersebut turun status jadi cucu
perusahaan. Semuanya berubah. Politiknya jadi sangat tinggi," katanya.
Saya tidak
terlalu fokus mendengarkan keluhannya. Fokus saya terbagi tiga: membayar
durian, mendengarkan curhatnya, dan memperhatikan layar HP: siaran live dari
Istana Merdeka.
Saya memang
ingin tahu: apakah peringatan detik-detik proklamasi di halaman Istana masih
bercampur dengan hura-hura, joget-joget, dan nyanyi-nyanyi. Atau sudah berubah
menyesuaikan dengan kondisi sosek terakhir.
Anda sudah
tahu: di upacara kemarin ada perubahan. Joget-joget masih ada tapi terbatas,
terkendali, dan terukur. Tidak sampai jatuh ke hura-hura. Lagu-lagu yang
dipakai pun lagu-lagu perjuangan. Tidak ada lagi sebangsa Ojo
dibanding-bandingke.
Presiden
Prabowo duduk diapit oleh Presiden Jokowi dan istri (kanan) dan Wapres Gibran
Rakabuming Raka dan istri (kiri). Rasanya inilah foto yang paling menarik untuk
diabadikan.
Presiden
Prabowo terlihat lebih sederhana dibanding kanan-kirinya. Beskap Jawanya yang
warna gelap dipilih yang tidak pakai aksesori lambang keningratan. Kain batik
di antara beskap dan celana formal hitamnya juga yang tidak mencolok. Presiden
memang berpakaian adat tapi tetap berkesan resmi.
Kontras dengan
sebelah menyebelahnya. Presiden Jokowi dengan penutup kepala Bali warna ungu
emas –disebut destar– dengan ujung bunga-bungaan besar warna emas pula terasa
"hadir". Apalagi kain songket dan celana di balik kain itu juga
mencolok. Ditambah busana Iriana Jokowi yang warna merah jambu; kehadiran
Jokowi dan istri masih serasa presiden.
Lalu lihatlah
penampilan Wapres Gibran di sebelah kiri Presiden Prabowo. Tampak sangat modis
dan keren: full pakaian adat Rote, NTT. Topinya, selempangnya, kain songketnya,
semuanya serasi dan benar-benar "tampil". Ditambah Silvi, istrinya
yang memilih pakaian adat Dayak Kenyah keemasan. Pasangan ini boleh dikata akan
terpilih sebagai best dressed di upacara 17 Agustus 2026 –kalau saya jurinya.
Orang politik
akan menafsirkan busana Jokowi-Gibran ini dengan tafsir politik. Jokowi baru
pulang dari safari politik ke NTT. Gibran yang follow up dengan pakaian adat
NTT itu. Jokowi sendiri beralih dari NTT ke Bali. Itu besar sekali tafsirnya:
mengambil hati penghuni "kandang banteng" kedua setelah Jateng.
Pakaian
keluarga Jokowi di upacara ini memang terasa penuh tafsir. Hadirnya Jokowi saja
sudah kuat –apalagi tidak ada Presiden SBY dan Presiden Megawati sebagai
penyeimbang. Ditambah penampilan Wapres Gibran dan istri semoncer itu. Keluarga
Solo telah mendominasi suasana.
Maka terasa
sekali Presiden Prabowo seperti ''jomblo'' di acara besar ini. Barulah ketika
pindah peran sebagai inspektur upacara kopiah hitamnya terasa membawa
formalitas sebagai presiden. Kadar formalitas itu lantas ia turunkan manakala
menerima laporan akhir upacara. Presiden tidak hanya mengucapkan satu kata
''bubarkan'' tapi menambahkan kata-kata pujian bagi pelaku upacara. Gongnya: ia
minta komandan upacara dan petugas lainnya menghadap presiden langsung seusai
upacara.
Selebihnya
lancar-lancar semua. Melegakan.
Dari halaman
Istana Merdeka saya ingin meloncat ke lapangan Tian An Men di Beijing. Hari ini
ada sesuatu yang besar di sana: tujuh hari meninggalnya perdana menteri
legendaris Zhu Rongji.
Di budaya
Tiongkok tiga dan tujuh hari meninggalnya seseorang disembahyangi secara khusus
di setiap keluarga. Keluarga Zhu Rongji tidak lagi hanya anak-istri-cucu.
Seluruh rakyat Tiongkok sudah merasa seperti keluarga almarhum. Maka mereka
ingin ikut memperingati tujuh hari meninggalnya Zhu Rongji di lapangan
legendaris Tian An Men.
Di sini 17
Agustus berlalu dengan aman. Pun semoga di Tian An Men hari ini. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/963434/dominasi-suasana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar