Senin, 09 Desember 2019

Oedipus Versus Watugunung

Oedipus Versus Watugunung

Oleh :  JEAN COUTEAU

KOMPAS, 8 Desember 2019


Masyarakat tradisional mana pun di dunia selalu ”cerdas” ketika menciptakan mitos. Bila ditelaah, setiap kisah mistis ternyata mengandung berbagai lapis arti. Sayang, entah karena ditimbun aneka pengaruh ”luar” atau karena disalah-tafsir pengikut agama-agama baru, adakalanya mitos-mitos itu tertelan begitu saja oleh sejarah. Bahkan sebelum diolah atau ditafsir secara lengkap lapis-lapis maknanya.

Namun, kini terdapat perkembangan positif. Berkat media-media mutakhir, mitos-mitos masyarakat sedunia dapat disandingkan satu sama lain. Usai disandingkan, dapat dibandingan hingga terbaca cara-cara aneka masyarakat dunia bereaksi terhadap masalah-masalah pokok seperti: apa itu Sang Ada/Tuhan; bagaimana manusia merumuskan aturan reproduksi/seksualitas; bagaimana sikapnya terhadap alam; bagaimana menanggapi keberadaan manusia ”liyan”, dan sebagainya.

Membicarakan mitos-mitos di atas, berapa persen orang Jawa kini menyadari bahwa hari ini, tanggal 8 Desember ini, adalah hari pertama dari wuku Sinta di kalender pawukon Jawa, yang panjangnya 210 hari itu? Sedangkan kemarin, tanggal 7, adalah hari terakhir dari wuku Watugunung dari pawukon sebelumnya?

Selain itu, siapa di antara kalian, teman-teman di Jawa dan Jakarta, yang mengetahui bahwa Watugunung adalah putra inses yang dipisahkan dari ibunya yang inses pula oleh akhir siklus pawukon yang satu dan awal siklus pawukon yang baru? Siapa lagi yang mengetahui bahwa cerita pemisahan ibu inses dari putranya yang inses merupakan salah satu kisah induk dari Babad Tanah Jawa?

Ya, kemungkinan cukup besar kalian tidak tahu. Sebab, cerita itu hampir-hampir ditelan sejarah. Tetapi mungkin kalian diberi tahu oleh pers—karena berita dari Bali adalah ikonik—bahwa kemarin, tanggal 7 itu, adalah Hari Saraswati di Bali, yaitu hari untuk merayakan turunnya ilmu pengetahuan ke bumi.

Apa itu pengetahuan? Pada dasarnya Kesadaran: yaitu bahwa manusia menjadi manusia penuh ketika memantangkan hubungan seksual antara orangtua dan anaknya. Itulah dasar kehidupan sosial. Cerita pantangan inses yang hampir dilupakan di Jawa ini tetap hidup di Bali di bawah naungan Hindu—meskipun pasti lebih kuno dari tradisi Hindu sendiri.

Cerita yang memantangkan ibu berhubungan seksual dengan anak lakinya cukup menarik, kan? Menarik karena khas Indonesia: ketika sang ibu, Dewi Sinta, menyadari bahwa dia telah tidur dengan anaknya Watugunung—karena melihat bekas luka di kepala—apa yang dilakukannya? Dia menggodanya untuk menyerang kahyangan. Tentu saja, Watugunung dikalahkan oleh para dewa (Wisnu).

Tetapi apakah ia dibunuh? Tidak, Watugununglah yang mengalah (sadar), untuk selanjutnya dijadikan pelindung kalender (Pawukon) dan dipisahkan dari ibunya, seperti diceritakan di atas, di ujung kalendar, hari yang dirayakan di Bali sebagai Hari Saraswati (Kesadaran).

Kekalahan Watugunung bermuara pada: larangan inses; pengaturan waktu (kalendar); pengaturan kehidupan sosial melalui agama (hari raya kalendar). Dengan demikian Watugunung menjadi penjaga kehidupan yang sadar waktu/sadar agama….

Hal terakhir inilah yang menarik pada ajaran cerita Watugunung. Oleh karena bertolak belakang dengan cerita serupa yang merupakan salah satu cerita kunci tradisi Barat, yaitu cerita Oedipus, sebagaimana dikisahkan pengarang besar Yunani kuno, yaitu Sophokles. Di dalam cerita klasik ini, Oedipus, seperti Watugunung, juga ditakdirkan bersetubuh dengan ibunya tanpa menyadarinya.

Namun, usai menyadari dia telah melakukan inses, dia tidak dicerahkan oleh agama—seperti dilambangkan oleh Saraswati di Bali—dan tidak terjun di dalam ritual-ritual. Dia sebaliknya membutakan diri, yaitu menolak memahami kutukan yang menimpa diri. Apalagi ibunya Jocasta telah bunuh diri. Oedipus lalu pergi melanglang buana mencari arti dipapah oleh putrinya Antigone.

Yang menarik dalam perbandingan kedua tradisi di atas—tradisi Jawa-Bali di satu pihak (yang kian terlupakan di Jawa) dan tradisi Barat di lain pihak, ialah cara masing-masing menawarkan pemecahan atas masalah ”kutukan inses”. Melalui Watugunung, solusi tradisi Jawa-Bali adalah: mencari penyelesaian melalui pencerahan agama dan ritual Saraswati. Adapun melalui Oedipus, solusi Barat adalah: merasa kehilangan semua makna (membutakan diri).


Sayangnya, bila problem kemanusiaan ala Oedipus telah disadurkan menjadi sastra dan teater adiluhung, kita masih menanti pengarang atau pegiat teater Indonesia yang akan menerjemahkan rumus Watugunung di dalam karya besar, baik di dalam penyandingan dengan Oedipus atau secara tersendiri. Saya menantinya. ***

1 komentar:

  1. ===Agens128 Bandar Judi Online Free Coin===

    Pakai Pulsa Tanpa Potongan
    Juga Pakai(OVO, Dana, LinkAja, GoPay)
    Support Semua Bank Lokal & Daerah Indonesia
    Game Populer:
    =>>Sabung Ayam S1288, SV388
    =>>Sportsbook,
    =>>Casino Online,
    =>>Togel Online,
    =>>Bola Tangkas
    =>>Slots Games, Tembak Ikan
    Permainan Judi online yang menggunakan uang asli dan mendapatkan uang Tunai
    || Online Membantu 24 Jam
    || 100% Bebas dari BOT
    || Kemudahan Melakukan Transaksi di Bank Besar Suluruh INDONESIA

    WhastApp : 0852-2255-5128
    Agens128 Agens128

    BalasHapus