Jumat, 09 Oktober 2026

 

Tiga Tahun Genosida Gaza: Apa Artinya bagi Masyarakat Dunia?

KH. Fahmi Salim, Lc., MA. :   Presidium Majelis Arah Indonesia.

REPUBLIKA, 07 Oktober 2026

 

 

 

Hari ini, 7 Oktober 2026, tepat tiga tahun sejak dunia menyaksikan babak baru tragedi Palestina yang dimulai setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan perang besar Israel di Gaza.

 

Tiga tahun. Bagi media, tiga tahun mungkin hanya deretan angka statistik, konferensi diplomatik, resolusi PBB, pernyataan politik, dan pergantian tajuk berita. Tetapi bagi rakyat Gaza, tiga tahun berarti kehilangan orang tua, anak, saudara, rumah, sekolah, rumah sakit, mata pencaharian, dan rasa aman.

 

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika sebuah tragedi berlangsung terlalu lama, manusia dapat mengalami kelelahan empati. Berita tentang kematian puluhan orang yang dahulu mengguncang dunia, lama-kelamaan hanya menjadi angka di layar telepon.

 

Di sinilah pertanyaan pentingnya: setelah tiga tahun Gaza, sebenarnya apa yang berubah dalam diri masyarakat dunia?

 

Perang Gaza dan Ujian Peradaban

 

Gaza telah mengubah cara dunia berbicara tentang perang. Perang tidak lagi hanya berlangsung di medan tempur. Ia berlangsung di ruang sidang internasional, universitas, parlemen, media sosial, pasar keuangan, jalan-jalan kota besar, bahkan di meja makan keluarga.

 

Gaza telah menjadi cermin yang memperlihatkan bagaimana negara-negara besar menerapkan prinsip hak asasi manusia, hukum humaniter, kedaulatan, dan keadilan internasional.

 

Karena itu, makna Gaza tidak berhenti pada konflik Israel-Palestina. Ia telah menjadi ujian terhadap kredibilitas tatanan dunia itu sendiri.

 

Apakah hukum internasional berlaku sama untuk semua? Apakah nyawa manusia memiliki nilai yang sama? Apakah perlindungan terhadap warga sipil benar-benar universal? Dan apakah institusi internasional masih mampu mencegah kekuatan militer mengubah hukum menjadi sekadar retorika?

 

Pertanyaan-pertanyaan itu akan terus menghantui dunia bahkan setelah perang Gaza berakhir.

 

Gaza Kehilangan Rumah, Dunia Kehilangan Ilusi

 

Selama puluhan tahun, sebagian masyarakat dunia hidup dengan keyakinan bahwa konflik Timur Tengah pada akhirnya dapat dikelola melalui diplomasi tanpa menyelesaikan akar masalah Palestina.

 

Tiga tahun terakhir menunjukkan rapuhnya asumsi tersebut.

 

Bahkan setelah gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025, perang belum benar-benar berubah menjadi perdamaian.

 

Reuters melaporkan pada 6 Oktober 2026 bahwa tujuan utama rencana perdamaian Amerika Serikat—termasuk pelucutan senjata Hamas, penarikan penuh pasukan Israel, dan rekonstruksi Gaza—masih menghadapi kebuntuan. Israel masih menguasai sekitar dua pertiga Gaza, sementara lebih dari 1.400 warga Palestina dilaporkan tewas sejak gencatan senjata tersebut.

 

Dengan demikian, persoalan Gaza bukan lagi “Bagaimana menghentikan perang?” Tetapi: “Bagaimana membangun perdamaian yang tidak hanya menghentikan tembakan, tetapi mengakhiri struktur konflik yang membuat perang terus berulang?”

 

Dunia Barat pun Mulai Berubah

 

Salah satu perubahan paling penting selama tiga tahun terakhir terjadi di Eropa. Uni Eropa kini secara terbuka mendorong implementasi gencatan senjata, bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, rekonstruksi Gaza, dukungan kepada Otoritas Palestina, dan solusi dua negara. EU juga mendukung pelaksanaan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803.

 

Inggris bahkan bersama sejumlah negara Eropa dan Kanada menyatakan kesiapan menerapkan atau mendukung pembatasan perdagangan barang dari permukiman Israel yang dianggap ilegal menurut hukum internasional.

 

London juga pada September 2026 mengumumkan paket baru dukungan kemanusiaan dan pemulihan awal Gaza, termasuk layanan kesehatan, air bersih, sanitasi, rehabilitasi anak-anak korban luka, dan dukungan kesehatan mental.

 

Prancis semakin konsisten mendorong solusi dua negara. Paris mengakui Negara Palestina pada 2025 dan terus menempatkan pembentukan negara Palestina yang berdaulat dan layak hidup berdampingan dengan Israel sebagai tujuan diplomatik utamanya.

 

Namun perubahan sikap Eropa tidak berarti Eropa telah sepenuhnya meninggalkan Israel. Justru di sinilah kompleksitasnya.

 

Eropa berusaha menjaga dua hal sekaligus: keamanan Israel dan hak bangsa Palestina untuk merdeka.

 

Masalahnya, selama pendudukan, ekspansi permukiman, dan kekerasan terus menggerus kemungkinan berdirinya negara Palestina, keseimbangan diplomatik tersebut semakin sulit dipertahankan.

 

Amerika Serikat dan Desain Gaza Pascaperang

 

Washington memiliki posisi yang jauh lebih kompleks. Amerika Serikat tetap menjadi kekuatan utama yang dapat memengaruhi Israel, tetapi kini juga berusaha menjadi arsitek tata kelola Gaza pascaperang melalui Board of Peace, rencana transisi pemerintahan Gaza, dan gagasan International Stabilization Force.

 

Pada September 2026, Board of Peace mengumumkan rencana senilai sekitar US$2,45 miliar untuk tahap awal pemulihan Gaza. Tetapi angka tersebut masih sangat jauh dibandingkan kebutuhan rekonstruksi yang diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar.

 

Di sinilah pertarungan geopolitik baru dimulai. Pertanyaannya bukan lagi semata-mata siapa menguasai Gaza secara militer.

 

Pertanyaannya adalah: Siapa yang akan menentukan pemerintahan Gaza? Siapa yang membiayai rekonstruksi? Siapa yang menjamin keamanan? Siapa yang menentukan masa depan politik Palestina?

 

Dengan kata lain, setelah perang memasuki fase baru, perebutan desain Gaza pascaperang menjadi arena geopolitik tersendiri.

 

China dan Rusia: Dunia Multipolar Masuk ke Palestina

 

China dan Rusia menawarkan perspektif berbeda dari Washington. China terus menempatkan penyelesaian Palestina dalam kerangka solusi dua negara dan hukum internasional. Rusia juga mempertahankan dukungan terhadap negara Palestina sembari menolak dominasi tunggal Amerika Serikat atas proses penyelesaian.

 

Ini menunjukkan sesuatu yang lebih besar: Gaza telah menjadi episentrum medan perebutan bentuk tatanan dunia multipolar.

 

Amerika Serikat memiliki jaringan aliansi dan pengaruh keamanan yang sangat besar. Eropa memiliki kekuatan ekonomi dan diplomatik. China memiliki kapasitas ekonomi dan jaringan Global South. Rusia memiliki posisi strategis di Timur Tengah dan forum multilateral.

 

Palestina karena itu tidak lagi hanya berada di tengah konflik Timur Tengah. Ia justeru berada di tengah pertarungan mengenai masa depan sistem internasional.

 

Dunia Islam: Solidaritas Harus Naik Kelas

 

Bagaimana dengan dunia Islam? Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam memiliki legitimasi politik yang besar. Tetapi tiga tahun Gaza juga memperlihatkan problem klasik dunia Islam: solidaritas politik belum selalu berubah menjadi daya ungkit strategis.

 

OKI pada September 2026 kembali menegaskan pentingnya konsolidasi gencatan senjata, pelaksanaan fase kedua rencana de-eskalasi, aliran bantuan kemanusiaan, perlindungan internasional bagi rakyat Palestina, dukungan terhadap UNRWA, dan perjuangan menuju keanggotaan penuh Palestina di PBB.

 

Namun pertanyaan yang lebih besar harus diajukan: Apakah dunia Islam mampu mengubah solidaritas menjadi kekuatan diplomatik, ekonomi, finansial, teknologi, kemanusiaan, dan rekonstruksi? Sebab Palestina tidak hanya membutuhkan pernyataan. Palestina membutuhkan leverage.

 

Kemanusiaan Belum Selesai

 

Kesalahan terbesar dunia adalah menganggap bahwa gencatan senjata otomatis berarti krisis kemanusiaan telah selesai. Tidak.

 

Laporan OCHA per 2 Oktober 2026 menunjukkan betapa dalam kerusakan yang tersisa. Sekitar 279.000 orang masih berada di sekitar 400 lokasi pengungsian yang rawan banjir, sementara lebih dari 2.300 bangunan yang dinilai tidak aman masih dihuni. Sekitar 74 persen penduduk Gaza masih bergantung pada air yang diangkut dengan truk. Kekurangan suku cadang dan peralatan bahkan mengurangi kapasitas desalinasi di Gaza selatan.

 

Krisis pangan pun belum selesai. OCHA memperingatkan bahwa kekurangan pendanaan akan menyebabkan penurunan signifikan produksi makanan siap santap dan distribusi paket pangan mulai Oktober.

 

Artinya, setelah kehancuran fisik, Gaza memasuki fase kehancuran sosial. Dan jika dunia gagal melakukan rekonstruksi secara serius, generasi anak-anak Gaza akan mewarisi bukan hanya reruntuhan bangunan, tetapi juga trauma, kemiskinan, kehilangan pendidikan, dan ketidakpercayaan kepada sistem internasional.

 

Arti Tiga Tahun Gaza bagi Masyarakat Dunia

 

Menurut saya, setidaknya ada lima pelajaran. Pertama, jangan biarkan tragedi menjadi normal. Ketika kematian berubah menjadi angka statistik, manusia sedang kehilangan sensitivitas moralnya.

 

Kedua, solidaritas tidak boleh bergantung pada algoritma. Media sosial menentukan apa yang kita lihat, tetapi tidak boleh menentukan apa yang kita pedulikan. Gaza tidak menjadi kurang penting hanya karena perang di tempat lain menjadi lebih viral.

 

Ketiga, kemanusiaan harus melampaui batas identitas. Membela warga sipil Palestina tidak berarti membenci bangsa Israel. Mengutuk serangan terhadap warga Israel tidak mengharuskan kita membenarkan penderitaan warga Palestina. Prinsipnya sederhana: nyawa manusia harus dilindungi tanpa standar ganda.

 

Keempat, masyarakat sipil memiliki kekuatan. Donasi, bantuan kemanusiaan, boikot yang dilakukan secara bertanggung jawab, pendidikan publik, advokasi, jurnalisme, penelitian, aksi damai, dan tekanan demokratis semuanya merupakan bagian dari ekosistem solidaritas.

 

Kelima, dunia harus mengubah solidaritas menjadi perdamaian yang berkeadilan. Sebab tujuan akhirnya bukan sekadar membuat Gaza berhenti ditembaki. Tujuan akhirnya adalah menciptakan kondisi ketika Palestina dapat hidup sebagai bangsa yang merdeka, bermartabat, aman, dan mampu menentukan masa depannya sendiri, sementara umat Yahudi juga dapat hidup dalam keamanan tanpa sistem pendudukan dan konflik yang terus berulang.

 

Tiga tahun adalah waktu yang cukup lama untuk bertanya: Apa yang telah kita lakukan sebagai manusia?

 

Kita mungkin tidak mampu menghentikan perang seorang diri. Kita mungkin bukan diplomat, presiden, jenderal, atau pemimpin organisasi internasional.

 

Tetapi kita masih memiliki pilihan. Kita dapat memilih untuk tidak melupakan. Kita dapat memilih untuk membantu. Kita dapat memilih untuk menyuarakan kebenaran dengan damai.

 

Kita dapat memilih untuk mendidik anak-anak kita agar tidak tumbuh dengan kebencian, tetapi dengan keberanian membela keadilan. Kita dapat memilih untuk tidak membiarkan penderitaan manusia menjadi sekadar konten yang lewat beberapa detik di layar hape.

 

Dalam perspektif Islam, Rasulullah ﷺ menggambarkan orang-orang beriman sebagai satu tubuh: ketika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan sakitnya.

 

Pesan ini hari ini harus dibaca melampaui sekat umat. Palestina adalah ujian bagi kemanusiaan universal.

 

Gaza sedang bertanya kepada dunia: ketika hukum diuji, apakah kita akan membelanya? Ketika manusia menderita, apakah kita akan peduli? Ketika berita berhenti memberitakannya, apakah kita masih mengingatnya? Dan ketika senjata akhirnya diam, apakah kita akan membangun perdamaian yang adil, atau hanya menunggu perang berikutnya?

 

Tiga tahun Gaza seharusnya cukup untuk membuat dunia memahami satu hal: perdamaian tanpa keadilan hanyalah jeda menuju perang berikutnya.

 

Karena itu, jangan biarkan Gaza keluar dari ingatan kita hanya karena headline telah berganti. Plis, algoritma boleh berganti topik. Nurani jangan.  ●

 

Sumber :  https://analisis.republika.co.id/berita/tmijo9451/tiga-tahun-genosida-gaza-apa-artinya-bagi-masyarakat-dunia-part4

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar