|
Tiga Tahun Genosida Gaza: Apa Artinya bagi Masyarakat Dunia? KH. Fahmi
Salim, Lc., MA. : Presidium
Majelis Arah Indonesia. |
REPUBLIKA, 07 Oktober 2026
|
Hari ini, 7 Oktober 2026,
tepat tiga tahun sejak dunia menyaksikan babak baru tragedi Palestina yang
dimulai setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan perang besar Israel di
Gaza. Tiga tahun. Bagi media,
tiga tahun mungkin hanya deretan angka statistik, konferensi diplomatik,
resolusi PBB, pernyataan politik, dan pergantian tajuk berita. Tetapi bagi
rakyat Gaza, tiga tahun berarti kehilangan orang tua, anak, saudara, rumah,
sekolah, rumah sakit, mata pencaharian, dan rasa aman. Yang lebih
mengkhawatirkan adalah ketika sebuah tragedi berlangsung terlalu lama,
manusia dapat mengalami kelelahan empati. Berita tentang kematian puluhan
orang yang dahulu mengguncang dunia, lama-kelamaan hanya menjadi angka di
layar telepon. Di sinilah pertanyaan
pentingnya: setelah tiga tahun Gaza, sebenarnya apa yang berubah dalam
diri masyarakat dunia? Perang Gaza dan Ujian
Peradaban Gaza telah mengubah cara
dunia berbicara tentang perang. Perang tidak lagi hanya berlangsung di medan
tempur. Ia berlangsung di ruang sidang internasional, universitas, parlemen,
media sosial, pasar keuangan, jalan-jalan kota besar, bahkan di meja makan keluarga. Gaza telah menjadi cermin
yang memperlihatkan bagaimana negara-negara besar menerapkan prinsip hak
asasi manusia, hukum humaniter, kedaulatan, dan keadilan internasional. Karena itu, makna Gaza
tidak berhenti pada konflik Israel-Palestina. Ia telah menjadi ujian terhadap
kredibilitas tatanan dunia itu sendiri. Apakah hukum
internasional berlaku sama untuk semua? Apakah nyawa manusia memiliki nilai
yang sama? Apakah perlindungan terhadap warga sipil benar-benar universal?
Dan apakah institusi internasional masih mampu mencegah kekuatan militer
mengubah hukum menjadi sekadar retorika? Pertanyaan-pertanyaan itu
akan terus menghantui dunia bahkan setelah perang Gaza berakhir. Gaza Kehilangan Rumah,
Dunia Kehilangan Ilusi Selama puluhan tahun,
sebagian masyarakat dunia hidup dengan keyakinan bahwa konflik Timur Tengah
pada akhirnya dapat dikelola melalui diplomasi tanpa menyelesaikan akar
masalah Palestina. Tiga tahun terakhir
menunjukkan rapuhnya asumsi tersebut. Bahkan setelah gencatan
senjata diumumkan pada Oktober 2025, perang belum benar-benar berubah menjadi
perdamaian. Reuters melaporkan pada 6
Oktober 2026 bahwa tujuan utama rencana perdamaian Amerika Serikat—termasuk
pelucutan senjata Hamas, penarikan penuh pasukan Israel, dan rekonstruksi
Gaza—masih menghadapi kebuntuan. Israel masih menguasai sekitar dua pertiga
Gaza, sementara lebih dari 1.400 warga Palestina dilaporkan tewas sejak
gencatan senjata tersebut. Dengan demikian,
persoalan Gaza bukan lagi “Bagaimana menghentikan perang?” Tetapi: “Bagaimana
membangun perdamaian yang tidak hanya menghentikan tembakan, tetapi
mengakhiri struktur konflik yang membuat perang terus berulang?” Dunia Barat pun Mulai
Berubah Salah satu perubahan
paling penting selama tiga tahun terakhir terjadi di Eropa. Uni Eropa kini
secara terbuka mendorong implementasi gencatan senjata, bantuan kemanusiaan
tanpa hambatan, rekonstruksi Gaza, dukungan kepada Otoritas Palestina, dan
solusi dua negara. EU juga mendukung pelaksanaan Resolusi Dewan Keamanan PBB
2803. Inggris bahkan bersama
sejumlah negara Eropa dan Kanada menyatakan kesiapan menerapkan atau
mendukung pembatasan perdagangan barang dari permukiman Israel yang dianggap
ilegal menurut hukum internasional. London juga pada
September 2026 mengumumkan paket baru dukungan kemanusiaan dan pemulihan awal
Gaza, termasuk layanan kesehatan, air bersih, sanitasi, rehabilitasi
anak-anak korban luka, dan dukungan kesehatan mental. Prancis semakin konsisten
mendorong solusi dua negara. Paris mengakui Negara Palestina pada 2025 dan
terus menempatkan pembentukan negara Palestina yang berdaulat dan layak hidup
berdampingan dengan Israel sebagai tujuan diplomatik utamanya. Namun perubahan sikap
Eropa tidak berarti Eropa telah sepenuhnya meninggalkan Israel. Justru di
sinilah kompleksitasnya. Eropa berusaha menjaga
dua hal sekaligus: keamanan Israel dan hak bangsa Palestina untuk merdeka. Masalahnya, selama
pendudukan, ekspansi permukiman, dan kekerasan terus menggerus kemungkinan
berdirinya negara Palestina, keseimbangan diplomatik tersebut semakin sulit
dipertahankan. Amerika Serikat dan
Desain Gaza Pascaperang Washington memiliki
posisi yang jauh lebih kompleks. Amerika Serikat tetap menjadi kekuatan utama
yang dapat memengaruhi Israel, tetapi kini juga berusaha menjadi arsitek tata
kelola Gaza pascaperang melalui Board of Peace, rencana transisi pemerintahan
Gaza, dan gagasan International Stabilization Force. Pada September 2026,
Board of Peace mengumumkan rencana senilai sekitar US$2,45 miliar untuk tahap
awal pemulihan Gaza. Tetapi angka tersebut masih sangat jauh dibandingkan
kebutuhan rekonstruksi yang diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar. Di sinilah pertarungan
geopolitik baru dimulai. Pertanyaannya bukan lagi semata-mata siapa menguasai
Gaza secara militer. Pertanyaannya adalah:
Siapa yang akan menentukan pemerintahan Gaza? Siapa yang membiayai
rekonstruksi? Siapa yang menjamin keamanan? Siapa yang menentukan masa depan
politik Palestina? Dengan kata lain, setelah
perang memasuki fase baru, perebutan desain Gaza pascaperang menjadi arena
geopolitik tersendiri. China dan Rusia: Dunia
Multipolar Masuk ke Palestina China dan Rusia
menawarkan perspektif berbeda dari Washington. China terus menempatkan
penyelesaian Palestina dalam kerangka solusi dua negara dan hukum
internasional. Rusia juga mempertahankan dukungan terhadap negara Palestina
sembari menolak dominasi tunggal Amerika Serikat atas proses penyelesaian. Ini menunjukkan sesuatu
yang lebih besar: Gaza telah menjadi episentrum medan perebutan bentuk
tatanan dunia multipolar. Amerika Serikat memiliki
jaringan aliansi dan pengaruh keamanan yang sangat besar. Eropa memiliki
kekuatan ekonomi dan diplomatik. China memiliki kapasitas ekonomi dan
jaringan Global South. Rusia memiliki posisi strategis di Timur Tengah dan
forum multilateral. Palestina karena itu
tidak lagi hanya berada di tengah konflik Timur Tengah. Ia justeru berada di
tengah pertarungan mengenai masa depan sistem internasional. Dunia Islam: Solidaritas
Harus Naik Kelas Bagaimana dengan dunia
Islam? Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam memiliki legitimasi politik
yang besar. Tetapi tiga tahun Gaza juga memperlihatkan problem klasik dunia
Islam: solidaritas politik belum selalu berubah menjadi daya ungkit
strategis. OKI pada September 2026
kembali menegaskan pentingnya konsolidasi gencatan senjata, pelaksanaan fase
kedua rencana de-eskalasi, aliran bantuan kemanusiaan, perlindungan
internasional bagi rakyat Palestina, dukungan terhadap UNRWA, dan perjuangan
menuju keanggotaan penuh Palestina di PBB. Namun pertanyaan yang
lebih besar harus diajukan: Apakah dunia Islam mampu mengubah solidaritas
menjadi kekuatan diplomatik, ekonomi, finansial, teknologi, kemanusiaan, dan
rekonstruksi? Sebab Palestina tidak hanya membutuhkan pernyataan. Palestina
membutuhkan leverage. Kemanusiaan Belum Selesai Kesalahan terbesar dunia
adalah menganggap bahwa gencatan senjata otomatis berarti krisis kemanusiaan
telah selesai. Tidak. Laporan OCHA per 2
Oktober 2026 menunjukkan betapa dalam kerusakan yang tersisa. Sekitar 279.000
orang masih berada di sekitar 400 lokasi pengungsian yang rawan banjir,
sementara lebih dari 2.300 bangunan yang dinilai tidak aman masih dihuni.
Sekitar 74 persen penduduk Gaza masih bergantung pada air yang diangkut
dengan truk. Kekurangan suku cadang dan peralatan bahkan mengurangi kapasitas
desalinasi di Gaza selatan. Krisis pangan pun belum
selesai. OCHA memperingatkan bahwa kekurangan pendanaan akan menyebabkan
penurunan signifikan produksi makanan siap santap dan distribusi paket pangan
mulai Oktober. Artinya, setelah
kehancuran fisik, Gaza memasuki fase kehancuran sosial. Dan jika dunia gagal
melakukan rekonstruksi secara serius, generasi anak-anak Gaza akan mewarisi
bukan hanya reruntuhan bangunan, tetapi juga trauma, kemiskinan, kehilangan
pendidikan, dan ketidakpercayaan kepada sistem internasional. Arti Tiga Tahun Gaza bagi
Masyarakat Dunia Menurut saya, setidaknya
ada lima pelajaran. Pertama, jangan biarkan tragedi menjadi normal. Ketika
kematian berubah menjadi angka statistik, manusia sedang kehilangan
sensitivitas moralnya. Kedua, solidaritas tidak
boleh bergantung pada algoritma. Media sosial menentukan apa yang kita lihat,
tetapi tidak boleh menentukan apa yang kita pedulikan. Gaza tidak menjadi
kurang penting hanya karena perang di tempat lain menjadi lebih viral. Ketiga, kemanusiaan harus
melampaui batas identitas. Membela warga sipil Palestina tidak berarti
membenci bangsa Israel. Mengutuk serangan terhadap warga Israel tidak
mengharuskan kita membenarkan penderitaan warga Palestina. Prinsipnya
sederhana: nyawa manusia harus dilindungi tanpa standar ganda. Keempat, masyarakat sipil
memiliki kekuatan. Donasi, bantuan kemanusiaan, boikot yang dilakukan secara
bertanggung jawab, pendidikan publik, advokasi, jurnalisme, penelitian, aksi
damai, dan tekanan demokratis semuanya merupakan bagian dari ekosistem
solidaritas. Kelima, dunia harus
mengubah solidaritas menjadi perdamaian yang berkeadilan. Sebab tujuan
akhirnya bukan sekadar membuat Gaza berhenti ditembaki. Tujuan akhirnya
adalah menciptakan kondisi ketika Palestina dapat hidup sebagai bangsa yang
merdeka, bermartabat, aman, dan mampu menentukan masa depannya sendiri,
sementara umat Yahudi juga dapat hidup dalam keamanan tanpa sistem pendudukan
dan konflik yang terus berulang. Tiga tahun adalah waktu
yang cukup lama untuk bertanya: Apa yang telah kita lakukan sebagai manusia? Kita mungkin tidak mampu
menghentikan perang seorang diri. Kita mungkin bukan diplomat, presiden,
jenderal, atau pemimpin organisasi internasional. Tetapi kita masih
memiliki pilihan. Kita dapat memilih untuk tidak melupakan. Kita dapat
memilih untuk membantu. Kita dapat memilih untuk menyuarakan kebenaran dengan
damai. Kita dapat memilih untuk
mendidik anak-anak kita agar tidak tumbuh dengan kebencian, tetapi dengan
keberanian membela keadilan. Kita dapat memilih untuk tidak membiarkan
penderitaan manusia menjadi sekadar konten yang lewat beberapa detik di layar
hape. Dalam perspektif Islam,
Rasulullah ﷺ menggambarkan orang-orang beriman sebagai satu tubuh: ketika
satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan sakitnya. Pesan ini hari ini harus
dibaca melampaui sekat umat. Palestina adalah ujian bagi kemanusiaan
universal. Gaza sedang bertanya
kepada dunia: ketika hukum diuji, apakah kita akan membelanya? Ketika manusia
menderita, apakah kita akan peduli? Ketika berita berhenti memberitakannya,
apakah kita masih mengingatnya? Dan ketika senjata akhirnya diam, apakah kita
akan membangun perdamaian yang adil, atau hanya menunggu perang berikutnya? Tiga tahun Gaza
seharusnya cukup untuk membuat dunia memahami satu hal: perdamaian tanpa
keadilan hanyalah jeda menuju perang berikutnya. Karena itu, jangan
biarkan Gaza keluar dari ingatan kita hanya karena headline telah berganti.
Plis, algoritma boleh berganti topik. Nurani jangan. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar