|
Jokowi Bertemu Prabowo Saat MK Bersidang Memutuskan Nasib Gibran Pepih Nugraha : Kolumnis. |
ORBIT INDONESIA, 07 Oktober 2026
|
Tatkala Mahkamah
Konstitusi sedang membacakan putusan tentang nasib Wapres Gibran Rakabuming
Raka di tangan Denny Indrayana dan kawan-kawannya, perhatian publik tersedot
ke Gedung MK, tidak ke tempat lain. Padahal, pada saat yang
bersamaan, Presiden Prabowo Subianto dan Joko Widodo, ayahanda Gibran,
bertemu di Kartanegara, salah satu kediaman Prabowo. Publik tidak peduli
dengan pertemuan dua tokoh penting ini, bukan? Kenapa, karena sebagian orang
antusias menunggu-nunggu MK dalam putusannya menegaskan, "Gibran
didiskualifikasi sebagai wakil presiden". Ternyata itu tidak
terjadi. Gibran tetap bisa anteng sebagai wakil presiden meski dikatakan
menjadi wapres tanpa ijazah SMA. Kurang sakti apa coba! Bagi Denny Indrayana dkk
dan para ternaknya —meninjam istilah ternak mulyono bagi pendukung Jokowi
yang rata-rata pendukung Gibran— mimpi itu tidak menjadi kenyataan. Malam
pertama yang tak sesuai harapan. Bagi saya apa yang
terjadi di luar gedung MK pada saat putusan itu dibacakan, sangat menarik
perhatian tatkala apa yang diputuskan sudah saya prediksi jauh-jauh hari dan
memang menjadi kenyataan: MK tidak menerima permohonan Denny dkk selaku
pemohon. Coba sima kronologinya.
Jokowi menemui Prabowo di Kertanegara sekitar pukul 19.00 dan berada di sana
sampai sekitar 20.45 itu berita yang tak kalah besar. Putusan MK sendiri
dibacakan mulai pukul 20.00, dan Prabowo meninggalkan Kertanegara sekitar
pukul 20.49. Saya sendiri
"mantengin" sidang MK mulai pukul 20.00 hingga palu hakim ketua MK
diketok pukul 20.58. Artinya, perpisahan Prabowo-Jokowi saat itu tidak harus
menunggu putusan MK diketok. Ada seperempat jam penting yang justru mereka
abaikan, berpisah tanpa harus menunggu klimaks. Ada apa? Tidak ada keterangan
terbuka yang memastikan isi pembicaraan keduanya. Karena itu, hubungan
pertemuan dengan putusan MK saya tempatkan sebagai pertanyaan politik dalam
tulisan ini, bukan kesimpulan tentang adanya strategi tertentu. Biar pembaca
tidak kecewa saja. Sejatinya, ada dua
peristiwa penting dan menarik pada Selasa malam, 6 Oktober 2026 itu. Di
Gedung MK kita tahu sembilan hakim sedang membacakan putusan tentang masa
depan politik Gibran. Pada malam yang sama, di tempat lain di Jakarta, Jokowi
justru datang menemui Prabowo di kediamannya, Jalan Kertanegara. Jokowi datang sekitar
pukul 19.00. Pertemuan berlangsung tertutup. Ia berada di kediaman Prabowo
sampai sekitar pukul 20.45, sebagaimana yang ditulis sejumlah media arus
utama. Tidak lama kemudian Prabowo meninggalkan rumahnya. Hampir bersamaan dengan
peristiwa itu, MK sedang menyelesaikan pembacaan putusan perkara yang
diajukan Denny Indrayana dan kawan-kawan. Kebetulan? Bisa saja.
Tetapi politik jarang kehilangan makna ketika dua peristiwa besar terjadi
pada waktu yang hampir bersamaan. Yang kita perlukan bukan tuduhan, melainkan
pertanyaan. Ya, sekadar bertanya: Mengapa Jokowi harus
datang ke Kertanegara justru pada malam ketika nasib politik Gibran sedang
diputuskan MK? Kita tidak tahu isi
pembicaraan mereka. Tidak ada informasi resmi yang menyatakan bahwa keduanya
bertemu khusus untuk membahas Gibran atau putusan MK. Maka terlalu jauh kalau
saya mengatakan pertemuan itu adalah rapat strategi tingkat tinggi. Tetapi terlalu naif pula
kalau saya menganggap waktu pertemuan itu sama sekali tidak menarik untuk
diperbincangkan. Lha wong saya ini pensiunan wartawan politik. Gibran bukan sekadar anak
Jokowi. Gibran adalah wakil presiden yang berdiri di dalam pemerintahan
Prabowo. Dan ketika keberadaan Gibran dipersoalkan secara hukum, yang ikut
tersentuh bukan hanya keluarga Jokowi, tetapi juga konstruksi politik
pemerintahan Prabowo. Persoalan berkembang
menjadi menarik, setidaknya dalam kacamata saya sebagai awam. Kita tahu MK memutuskan
permohonan Denny Indrayana dan kawan-kawan tidak dapat diterima (NO) karena
persoalan kedudukan hukum para pemohon. Namun MK juga menyatakan
tidak menemukan bukti meyakinkan mengenai ijazah atau dokumen pendidikan luar
negeri Gibran yang dapat dijadikan dasar penyetaraan pendidikan setingkat
SMA. Jadi, secara hukum,
Gibran tetap menjadi wakil presiden. Tetapi secara politik, pertanyaan
tentang dirinya belum tentu ikut selesai. Saya kembali kepada
Prabowo. Selama proses perkara berlangsung, Prabowo relatif tidak menjadikan
persoalan Gibran sebagai panggung politiknya. Bahkan sebelumnya diberitakan
bahwa Prabowo tidak akan mengintervensi putusan MK. Sikap itu dapat dibaca
sebagai penghormatan terhadap independensi lembaga peradilan. Tetapi dari
sudut politik, diam selalu mempunyai dua kemungkinan makna. Diam bisa berarti
tidak mau ikut campur. Diam juga bisa berarti menunggu sampai persoalan
selesai sebelum menentukan langkah. Atau, dalam politik yang
lebih halus, diam bisa berarti seseorang tidak ingin mengatakan sesuatu yang
justru akan memperbesar persoalan. Saya pribadi tidak boleh
memilih salah satu tafsir itu sebagai fakta tanpa bukti. Namun ada pertanyaan
yang tidak bisa saya hindari: Apakah Prabowo masih membutuhkan Gibran? Jawabannya tentu tidak
sesederhana "ya" atau "tidak". Secara konstitusional,
Gibran adalah wakil presiden Prabowo. Secara politik, Gibran merupakan bagian
dari mandat pasangan yang memenangkan Pilpres 2024. Tetapi mengatakan bahwa
Prabowo tanpa Gibran pasti kalah dalam suatu pemilu adalah klaim yang tidak dapat
dibuktikan hanya dari peristiwa ini. Saya menghindari asumsi ini. Yang lebih menarik justru
hubungan politik di antara ketiganya: Prabowo, Jokowi, dan Gibran. Semacam misteri
"Segitiga Bermuda" yang belum terpecahkan. Begitulah. Prabowo memenangkan
Pilpres 2024 bersama Gibran. Jokowi adalah ayah Gibran dan merupakan salah
satu tokoh penting dalam konfigurasi politik yang melahirkan pasangan
tersebut. Maka ketika Gibran dipersoalkan, kita seperti melihat sebuah simpul
lama yang belum benar-benar terurai. Prabowo mungkin tidak
harus membela Gibran di depan MK. Itu memang bukan tugas presiden. Tetapi
setelah Gibran "dikuyo-kuyo" dalam proses politik dan hukum,
pertanyaan berikutnya adalah, apa yang harus Prabowo lakukan sebagai presiden
terhadap wakil presidennya? Bukan membela secara
membabi buta. Bukan pula membiarkan wakil presidennya berjalan sendirian.
Yang dibutuhkan justru kejelasan. Jika Gibran tetap menjadi
bagian pemerintahan, maka legitimasi politik dan administratifnya harus
diperkuat melalui kerja yang transparan, kinerja yang terukur, dan kepatuhan
terhadap hukum. Kalau ada persoalan
administratif atau dokumen yang masih diperdebatkan, persoalan itu semestinya
dijelaskan secara terbuka melalui mekanisme yang sah. Mengapa? Sebab politik
modern tidak cukup hanya mengatakan, "sudah selesai." Masyarakat
juga ingin tahu: selesai dalam arti hukum, atau selesai dalam arti politik? MK sendiri telah membuat
batas yang penting. Permohonan Denny dan kawan-kawan tidak dapat diterima,
tetapi dalam pertimbangan hukumnya MK menyatakan tidak menemukan bukti
meyakinkan mengenai dokumen ijazah atau sertifikat yang menjadi dasar
penyetaraan pendidikan Gibran. Nah, itulah paradoksnya. Gibran tetap wakil
presiden, tetapi perdebatan mengenai dasar pendidikannya belum tentu hilang
dari ruang publik. Dan pada malam yang sama, Jokowi datang ke rumah Prabowo. Mungkin mereka hanya
makan malam. Mungkin membicarakan pemerintahan. Mungkin membicarakan masa
depan politik. Mungkin juga sama sekali tidak membicarakan MK dan serenceng
kemungkinan lainnya. Mbuh, saya tidak tahu.
Tetapi politik selalu mempunyai satu kebiasaan buruk. Ia membuat kebetulan
tampak seperti pesan. Dan ada satu kebiasaan lain yang lebih berbahaya:
membuat dugaan tampak seperti fakta. Karena itu, saya kira
pertanyaan paling sehat bukanlah, "Apa strategi rahasia Jokowi dan
Prabowo malam itu di Kartanegara?" Pertanyaannya justru: mengapa mereka
merasa perlu bertemu pada malam ketika masa depan politik Gibran sedang
menjadi perhatian MK? Kalau jawabannya memang
kebetulan, biarlah sejarah mencatatnya sebagai kebetulan. Kalau ternyata
mereka membicarakan sesuatu yang lebih besar, biarlah waktu yang membukanya. Dalam politik, orang
boleh diam. Tetapi waktu biasanya tidak pernah diam. Kadang, justru dari orang
yang paling diam itulah kita belajar bahwa politik tidak selalu bekerja
melalui pidato. Ia juga bekerja melalui
pertemuan. Melalui waktu. Melalui pintu yang tertutup. Dan, melalui
pertanyaan yang sengaja tidak terjawab. Ya, biar penasaran saja. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar