|
Denny JA Sang Inovator Pertamina Hamri Manoppo : Denny JA Sang Inovator Pertamina. |
ORBIT INDONESIA, 06 Oktober 2026
|
Ada sebuah paradoks
menarik dalam perjalanan Denny JA. Ia dikenal luas bukan pertama-tama sebagai
tokoh industri minyak dan gas. Namanya lebih dahulu
melekat pada dunia intelektual, survei politik, konsultasi, kepenulisan,
sastra, dan gagasan-gagasan sosial. Namun justru dari latar belakang yang
lintas disiplin itulah ia kini memasuki salah satu ruang strategis bangsa:
industri energi. Pada 2 Oktober 2026 di
Sanur, Bali, Denny JA menerima AMA Appreciation Award 2026 dalam ajang
AMA Indonesia Conference 2026 yang mengusung tema From Management
to Wealth Creation. Asosiasi Manajemen
Indonesia memberikan penghargaan tersebut atas kontribusinya sebagai
Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen PT Pertamina Hulu Energi
(PHE), khususnya dalam memperluas wawasan strategis, mendorong pengambilan
keputusan yang profesional dan bertanggung jawab, serta memperkuat ekosistem
pembelajaran dan kepemimpinan korporasi.[1] Penghargaan itu menarik
bukan semata karena siapa yang menerimanya, melainkan karena gagasan apa yang
sedang diapresiasi. Denny JA tampaknya membawa sebuah cara berpikir yang
berbeda ke dalam tubuh perusahaan energi. Ia tidak datang hanya
dengan pertanyaan, “Berapa banyak minyak yang dapat diproduksi?” Ia membawa
pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang paling dibutuhkan Indonesia dari PHE
pada zaman ini, dan perubahan apa yang dapat dilakukan [2] Pertanyaan tersebut oleh
Denny disebut sebagai defining question—pertanyaan yang menentukan arah
sebuah organisasi. Di sinilah inovasi kepemimpinan Denny JA mulai terlihat. Dari Manajemen Menuju
Penciptaan Nilai Tema AMA Indonesia
Conference 2026, From Management to Wealth Creation, sesungguhnya sangat
relevan dengan pemikiran Denny JA. Dalam pandangannya, wealth creation bukan
sekadar memperbesar pendapatan, keuntungan, aset, atau ukuran perusahaan. Kekayaan yang
sesungguhnya lahir ketika sebuah organisasi mampu melihat kebutuhan yang
belum terjawab, kemudian mengubahnya menjadi nilai baru melalui teknologi,
keberanian, dan imajinasi.[3] Cara berpikir seperti ini
penting bagi perusahaan energi. Industri minyak dan gas tidak dapat hanya
mengandalkan pola lama. Cadangan tidak tak terbatas. Teknologi terus berubah.
Geopolitik energi semakin rumit. Kebutuhan energi nasional terus meningkat. Sementara
itu, dunia bergerak menuju transisi energi. Karena itu, perusahaan
seperti PHE membutuhkan pemimpin yang bukan hanya mampu menjaga apa yang sudah
ada, tetapi juga berani bertanya: apa yang harus ditemukan, diciptakan, dan
diubah? Di sinilah latar belakang Denny JA yang lintas bidang justru dapat
menjadi kekuatan. Ia pernah bergerak dalam
dunia survei, konsultan, bisnis, hospitality, hingga pertambangan. Ia
terbiasa membaca perubahan perilaku manusia, mengolah data, melihat
kecenderungan, membangun strategi, dan menerjemahkan gagasan menjadi
tindakan. Barangkali itulah salah
satu alasan mengapa perspektifnya di PHE tidak semata-mata teknokratis. Ia
mencoba melihat perusahaan energi sebagai bagian dari persoalan yang jauh
lebih besar: ketahanan dan kedaulatan energi Indonesia. PHE dan Tantangan
Kemandirian Energi Ketika pertama kali
dipercaya menjadi Komisaris Utama PHE pada Juli 2025, Denny JA telah
menegaskan bahwa kemandirian energi bukan sekadar slogan. Ia menyebut
kebutuhan menemukan sumber minyak baru sebagai sesuatu yang sangat penting
bagi kedaulatan energi nasional.[4] Pernyataan tersebut
memiliki konteks yang kuat. Indonesia masih menghadapi kesenjangan antara
produksi minyak domestik dan kebutuhan nasional. Karena itu, peningkatan
produksi menjadi salah satu tantangan strategis. Dalam perkembangan
berikutnya, PHE mencanangkan aspirasi 1M29, yakni target produksi satu juta
barel minyak per hari pada 2029. Target tersebut membutuhkan eksplorasi,
teknologi, optimalisasi lapangan yang ada, serta sumber-sumber pertumbuhan
baru.[5] Denny JA menyebut dua
jalan besar yang harus berjalan bersamaan. Pertama, memperbesar produksi.
Kedua, memperkuat institusi. Keduanya tidak boleh dipisahkan. Produksi tanpa
institusi yang kuat dapat melahirkan persoalan tata kelola. Sebaliknya,
institusi yang terlalu takut mengambil risiko akan membuat perusahaan
kehilangan keberanian untuk melakukan terobosan. Di sinilah gagasan Denny
menjadi menarik. Inovasi Tidak Selalu
Berbentuk Teknologi Ketika mendengar kata
inovasi, orang sering membayangkan mesin baru, teknologi baru, perangkat
digital, atau metode pengeboran baru. Denny JA memperlihatkan pengertian inovasi
yang lebih luas. Inovasi dapat berupa cara baru dalam mengambil keputusan. Industri hulu migas
memiliki ketidakpastian yang sangat tinggi. Sebuah eksplorasi dapat
menghabiskan dana besar tetapi belum tentu menghasilkan cadangan komersial.
Pertanyaannya kemudian: apakah setiap kegagalan bisnis harus dipandang
sebagai kesalahan? Denny JA melihat
persoalan tersebut sebagai salah satu tantangan institusional yang serius.
Menurutnya, keputusan bisnis yang diambil secara profesional, berdasarkan
informasi memadai, tanpa konflik kepentingan, dan sesuai aturan perlu
dibedakan dari tindakan korupsi.[6] Dari sinilah ia mendorong
penguatan Business Judgment Rule (BJR). Gagasan tersebut bukan berarti
memberikan kekebalan kepada pengambil keputusan. Korupsi tetap harus
ditindak. Konflik kepentingan tetap harus diawasi. Penyalahgunaan jabatan
tetap harus diproses. Tetapi dunia usaha membutuhkan ruang untuk mengambil
risiko yang terukur. Jika setiap kegagalan
bisnis selalu dibayangi ketakutan akan kriminalisasi, seorang eksekutif dapat
terdorong memilih keputusan yang paling aman bagi dirinya, bukan keputusan
yang paling bernilai bagi perusahaan dan negara. Dalam industri migas,
mentalitas semacam itu dapat berbahaya. Eksplorasi membutuhkan
keberanian. Inovasi membutuhkan keberanian. Investasi membutuhkan keberanian.
Tetapi keberanian tersebut harus berdiri di atas integritas. Maka rumus yang
ditawarkan Denny menjadi menarik: integritas tanpa keberanian dapat berubah menjadi
stagnasi; keberanian tanpa integritas dapat berubah menjadi kesewenang
wenangan. Korporasi negara membutuhkan keduanya. PHE Goes Global :
Melampaui Batas Geografis Inovasi strategis lain
yang mendapat perhatian adalah gagasan PHE Goes Global. Jika kebutuhan energi
nasional lebih besar daripada kemampuan produksi domestik, maka pencarian
sumber energi tidak harus berhenti di dalam batas geografis Indonesia. PHE
dapat melakukan ekspansi internasional secara selektif melalui merger,
akuisisi, atau investasi pada aset-aset yang memiliki nilai strategis.[7] Ini merupakan perubahan
cara pandang. Perusahaan energi nasional tidak cukup hanya menjadi pengelola
ladang minyak dan gas di dalam negeri. Ia dapat berkembang menjadi pemain
energi yang memiliki portofolio internasional. Dengan demikian, energi
yang diperoleh dari luar negeri bukan semata-mata dilihat sebagai impor,
tetapi dapat ditempatkan dalam strategi kepemilikan dan investasi energi yang
lebih luas. Tentu saja, strategi
semacam ini mengandung risiko. Karena itu diperlukan analisis investasi yang
ketat, manajemen risiko, tata kelola yang transparan, serta pengawasan yang
kuat. Di sinilah kembali terlihat pentingnya dua kaki yang selalu ditekankan
Denny JA: pertumbuhan dan institusi. Mengapa Denny JA Layak
Mendapat Penghargaan? Ada setidaknya empat
alasan mengapa penghargaan AMA tersebut memiliki dasar yang kuat. 1. Pertama, ia membawa
perspektif lintas disiplin ke dalam industri energi. 2. Kedua, ia tidak
berhenti pada target produksi, tetapi memikirkan institusi yang memungkinkan
target tersebut dicapai secara sehat. 3. Ketiga, ia mendorong
keberanian mengambil keputusan bisnis yang bertanggung jawab melalui
penguatan prinsip Business Judgment Rule. 4. Keempat, ia mencoba
menempatkan PHE dalam perspektif yang lebih luas, yakni sebagai instrumen
ketahanan energi nasional. Dengan kata lain,
kontribusinya bukan sekadar berada di ruang rapat komisaris. Ia mencoba
mengubah pertanyaan. Dari “bagaimana mempertahankan perusahaan?” menjadi
“bagaimana menciptakan kemungkinan baru bagi perusahaan?” Dari “bagaimana
menghindari risiko?” menjadi “bagaimana mengambil risiko secara profesional?” Dari “bagaimana mengelola
kekayaan?” menjadi “bagaimana menciptakan nilai baru?” Inilah inti inovasi
kepemimpinan. Seorang Komisaris Tidak
Harus Menjadi Insinyur Minyak Mungkin ada pertanyaan
kritis: bukankah industri minyak dan gas membutuhkan orang yang memahami
geologi, pengeboran, reservoir, produksi, dan teknologi energi? Tentu.
Keahlian teknis tetap mutlak diperlukan. Tetapi seorang komisaris utama tidak
harus menggantikan fungsi ahli geologi, insinyur perminyakan, ekonom energi,
atau profesional teknis lainnya. Fungsi komisaris berada
pada tingkat pengawasan, arah strategis, tata kelola, dan kualitas
pengambilan keputusan. Justru di situlah seorang pemimpin dengan wawasan
lintas disiplin dapat memberikan nilai. PHE memiliki para profesional teknis. Yang dibutuhkan dari
seorang pemimpin strategis adalah kemampuan menghubungkan keahlian-keahlian
tersebut dengan pertanyaan yang lebih besar: untuk apa perusahaan ini
dibangun dan apa warisan yang hendak ditinggalkannya bagi Indonesia? Denny JA
tampaknya memilih pertanyaan tersebut. Penghargaan Bukan Garis
Akhir Menariknya, ketika
menerima penghargaan AMA, Denny JA sendiri tidak memandang penghargaan itu
sebagai puncak perjalanan. Ia justru menggunakannya sebagai momentum untuk
kembali mempertanyakan hakikat kepemimpinan korporasi.[8] Sikap ini penting.
Penghargaan yang sehat bukanlah mahkota yang membuat seorang pemimpin
berhenti bergerak. Ia seharusnya menjadi cermin: apakah gagasan yang
diperjuangkan benar-benar menghasilkan perubahan? Karena pada akhirnya,
keberhasilan PHE tidak diukur dari berapa banyak penghargaan yang diterima
komisarisnya. Keberhasilannya akan
terlihat dari kemampuan perusahaan meningkatkan produksi secara
berkelanjutan, menemukan sumber energi baru, memperkuat tata kelola,
mengambil keputusan secara profesional, mengembangkan teknologi, memperluas
portofolio global, dan terutama memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan
energi Indonesia. Dalam konteks itulah
Denny JA layak disebut Sang Inovator Pertamina. Bukan karena ia datang
membawa satu teknologi ajaib. Bukan pula karena ia berasal dari tradisi
industri migas. Melainkan karena ia membawa sesuatu yang sering lebih sulit
daripada teknologi: cara berpikir baru. Ia mengingatkan bahwa
perusahaan besar tidak boleh hanya menjadi penjaga aset lama. Perusahaan
harus menjadi pencipta kemungkinan. Dan bagi Indonesia, mungkin itulah
tantangan terbesar Pertamina dan PHE pada masa depan: bukan sekadar menemukan
lebih banyak minyak, tetapi menemukan cara baru untuk memastikan energi,
ekonomi, teknologi, dan keberanian institusional bergerak bersama menuju
kedaulatan bangsa. Denny JA kini berada di
salah satu ruang strategis perjalanan itu. Penghargaan AMA 2026 bukan akhir
perjalanan. Ia adalah tanda bahwa sebuah gagasan sedang diperhatikan. Dan
gagasan itu sederhana, tetapi besar: pemimpin yang baik bukan hanya menjaga
apa yang diwariskan kepadanya, melainkan berani menciptakan apa yang belum pernah
ada. ● CATATAN KAKI [1] Asosiasi Manajemen
Indonesia (AMA) memberikan AMA Appreciation Award 2026 kepada Denny JA dalam
AMA Indonesia Conference 2026 di Sanur, Bali, atas kontribusinya terhadap
wawasan strategis, pengambilan keputusan profesional, serta kepemimpinan di
PHE. [2] Denny JA
menjelaskan konsep defining question, yakni pertanyaan mendasar mengenai
kebutuhan zaman, manusia, dan lingkungan serta apa yang dapat diberikan
organisasi kepada masyarakat. [3] Dalam pidatonya,
Denny JA mengaitkan wealth creation dengan kemampuan melihat kebutuhan yang
belum terjawab dan mengubahnya menjadi nilai melalui teknologi, keberanian,
dan imajinasi. [4] Saat ditunjuk
sebagai Komisaris Utama PHE pada Juli 2025, Denny JA menekankan pentingnya
penemuan sumber minyak baru untuk mengurangi ketergantungan impor dan
memperkuat kemandirian energi Indonesia. [5] Aspirasi 1M29 PHE
menargetkan produksi satu juta barel minyak per hari pada 2029 melalui
eksplorasi, teknologi, optimalisasi lapangan eksisting, dan sumber
pertumbuhan baru. [6] Denny JA mendorong
penguatan Business Judgment Rule agar kerugian akibat risiko bisnis yang sah
dapat dibedakan dari kerugian yang timbul karena korupsi atau pelanggaran
hukum. [7] Strategi PHE Goes
Global diarahkan pada ekspansi internasional secara selektif melalui peluang
merger dan akuisisi untuk memperkuat sumber produksi dan ketahanan energi. [8] Denny JA
menyatakan penghargaan tidak seharusnya dipandang sebagai puncak perjalanan
kepemimpinan, tetapi sebagai momentum untuk kembali mempertanyakan makna
kepemimpinan korporasi. Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/512NQwHjuB/hamri-manoppo-denny-ja-sang-inovator-pertamina
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar