|
Ketika Ijazah Diuji di Gerbang Akademi - Sebuah Dialog Imajiner di
Peace Café Kolier L. Haryanto : Pendiri Peace Café |
ORBIT INDONESIA, 07 Oktober 2026
|
- Catatan Pembuka: Nama lahirnya adalah
Aristokles. Murid-muridnya, termasuk Aristoteles, kemudian memanggilnya Platon
– Plato – yang sering dikaitkan dengan kata Yunani platus, luas
atau lebar. Konon, ia mendapat julukan itu karena tubuhnya yang bidang
sebagai pegulat, sekaligus karena keluasan pikirannya. Maka, ketika di Peace
Café kami memanggilnya Prof Plato, itu bukan sekadar sapaan. Ia
adalah penghormatan kepada seorang guru yang mengajarkan bahwa manusia boleh
memiliki pengetahuan, tetapi tidak boleh berhenti mencari kebenaran. Di gerbang Akademi yang
didirikannya, sebuah ungkapan yang secara tradisional dikaitkan dengannya
sering dikenang: “Medeis
ageometretos eisito.” “Jangan biarkan siapa pun
yang tidak mengenal geometri masuk ke sini.” Malam itu, entah
bagaimana, Plato datang ke Peace Café. Malam di Peace Café Pendiri Peace Café: Selamat datang di Peace Café, Prof Plato. Plato: Terima kasih, Beltiste – wahai yang terbaik. Tetapi
jangan terlalu cepat memberikan gelar kepada seseorang. Gelar sering membuat
manusia berhenti belajar. Pendiri Peace Café: Bukankah itu sebabnya kami memanggil Anda Prof Plato? Bukan karena
gelar, tetapi karena pikiran Anda yang luas. Plato: Kalau begitu, aku menerimanya. Pendiri Peace Café: Prof, ada satu pertanyaan yang ingin saya ajukan. Mengapa Anda
membangun Akademi setelah guru Anda, Sokrates, dihukum mati oleh demokrasi
Athena? Plato: Karena aku belajar satu hal yang pahit. Sebuah negara tidak
selalu runtuh karena kekurangan orang pintar. Kadang ia runtuh karena orang
pintar tidak lagi tahu apa yang harus dilakukan dengan kepandaiannya. Athena memiliki retorika.
Memiliki para politisi. Memiliki kerumunan yang pandai berdebat. Tetapi
pengetahuan tidak selalu menghasilkan kebijaksanaan. Maka aku bertanya kepada
diriku sendiri: jika sebuah kapal karam karena nahkodanya tidak memahami
laut, apakah yang harus dilakukan? Mengganti nahkoda setiap kali kapal karam,
atau membangun sekolah untuk mengajarkan bagaimana membaca angin, bintang dan
arus? Aku memilih membangun
sekolah. Pendiri Peace Café: Akademi? Plato: Akademi. Karena perubahan yang paling penting bukan sekadar mengganti
siapa yang memegang kemudi. Yang lebih penting adalah memastikan orang yang
memegang kemudi memahami ke mana kapal harus diarahkan. Gerbang dan Selembar
Ijazah Pendiri Peace Café: Tetapi mengapa geometri? Mengapa bukan kemampuan
berpidato? Bukankah pemimpin membutuhkan retorika untuk meyakinkan rakyat? Plato: Justru karena itu. Retorika dapat membuat sesuatu yang salah
terdengar benar. Geometri mengajarkan disiplin yang berbeda: kebenaran tidak
berubah hanya karena banyak orang tidak menyukainya. Lingkaran tetap
lingkaran, meskipun seluruh agora berteriak bahwa ia persegi. Pendiri Peace Café: Jadi geometri bagi Anda bukan sekadar matematika? Plato: Bukan. Ia adalah latihan bagi pikiran agar tidak tunduk kepada
pendapat hanya karena pendapat itu populer. Dan di sinilah
persoalanmu menjadi menarik, Mathetes. Pendiri Peace Café: Persoalan apa? Plato: Tentang selembar kertas yang disebut ijazah. Mengapa manusia begitu
penting dengan selembar kertas? Pendiri Peace Café: Karena ijazah membuktikan seseorang telah menempuh pendidikan. Plato: Tidak selalu. Ijazah dapat menjadi bukti bahwa seseorang pernah
menjalani sebuah proses pendidikan. Tetapi ijazah bukan pendidikan itu
sendiri. Seseorang dapat memiliki ijazah tetapi tidak memiliki pengetahuan.
Sebaliknya, seseorang dapat memiliki pengetahuan yang luas meskipun tidak
memiliki selembar ijazah. Namun jangan salah
memahami aku. Justru karena ijazah adalah tanda bahwa suatu proses pendidikan
pernah terjadi, maka kejujuran di balik tanda itu menjadi penting. Jika sebuah masyarakat
mulai mempertanyakan sebuah ijazah, persoalannya tidak berhenti pada selembar
kertas. Yang sedang dipertanyakan sesungguhnya adalah: apakah proses yang
melahirkan kertas itu benar-benar terjadi? Ketika Dokumen Menjadi
Soal Publik Pendiri Peace Café: Tetapi bukankah persoalan seperti itu seharusnya diselesaikan secara
administratif? Plato: Pada mulanya, mungkin. Tetapi tidak semua persoalan tetap menjadi
persoalan administratif. Bayangkan seseorang
menggunakan sebuah tanda untuk memperoleh kepercayaan publik. Ketika tanda
itu kemudian dipersoalkan, masyarakat tentu akan bertanya: apakah tanda
tersebut sah, bagaimana ia diterbitkan, siapa yang menerbitkan, dan proses
apa yang melahirkannya? Di titik itu, persoalannya telah bergerak dari
administrasi menuju legitimasi. Pendiri Peace Café: Legitimasi? Plato: Ya. Kekuasaan membutuhkan legitimasi. Dan legitimasi membutuhkan
kepercayaan. Seorang pemimpin mungkin
memiliki jabatan berdasarkan prosedur hukum. Tetapi dalam kehidupan publik,
hukum bukan satu-satunya sumber kepercayaan. Ada pula integritas, rekam
jejak, dan keyakinan masyarakat bahwa sesuatu memang sebagaimana dikatakan. Karena itu, jangan takut
kepada pertanyaan. Yang berbahaya bukan masyarakat yang bertanya. Yang
berbahaya adalah masyarakat yang tidak lagi berani bertanya. Kebenaran Tidak
Membutuhkan Keramaian Pendiri Peace Café: Tetapi pertanyaan publik kadang berubah menjadi tuduhan. Plato: Itulah sebabnya
pertanyaan harus diuji dengan pengetahuan. Aku tidak pernah mengatakan bahwa
setiap tuduhan adalah benar. Aku justru mengatakan sebaliknya: jangan
menerima tuduhan sebagai kebenaran sebelum ia diuji. Tetapi jangan pula
menolak pertanyaan hanya karena pertanyaan itu tidak nyaman. Di sinilah pendidikan
menjadi penting. Pendidikan bukan mengajari manusia untuk percaya kepada
semua yang didengar. Pendidikan mengajari manusia bagaimana membedakan antara
fakta, opini, asumsi, dan propaganda. Pendiri Peace Café: Bukankah itu yang Anda maksud dengan Perumpamaan Gua dalam Republic? Plato: Tepat. Manusia dapat hidup sepanjang hidupnya dengan melihat bayangan
dan menganggapnya sebagai kenyataan. Di dalam gua, bayangan
tampak nyata. Masalahnya bukan karena bayangan itu ada. Masalahnya adalah
manusia tidak pernah berusaha mengetahui dari mana bayangan itu berasal. Maka pendidikan adalah
proses membalikkan tubuh dan jiwa manusia menuju cahaya. Dalam bahasa yang
lebih sederhana: berani memeriksa apa yang selama ini kita anggap benar. Siapa Yang Layak Memimpin
? Pendiri Peace Cafe: Lalu bagaimana dengan pemimpin? Mengapa dalam Republic Anda berbicara
tentang philosopher-king, raja-filsuf? Plato: Karena aku tidak mencari pemimpin yang paling pandai berbicara. Aku
mencari manusia yang memahami tanggung jawab kekuasaan. Dalam jiwa manusia
ada dorongan untuk menikmati, dorongan untuk berani, dan kemampuan untuk
berpikir. Jika keinginan yang memimpin, negara menjadi rakus. Jika keberanian
tanpa akal yang memimpin, negara mudah menjadi agresif. Tetapi jika akal dan
kebijaksanaan memimpin, kekuasaan memiliki kemungkinan untuk diarahkan kepada
kebaikan bersama. Karena itu, calon pemimpin harus dididik. Bukan sehari.
Bukan semalam. Bukan hanya untuk memperoleh selembar sertifikat. Ia harus menjalani proses
panjang: belajar, berdisiplin, berdialog, menguji pikirannya sendiri, dan –
yang paling sulit – belajar mengakui bahwa dirinya bisa salah. Pendiri Peace Café: Jadi bagi Anda, ijazah tidak cukup? Plato: Ijazah penting sebagai bukti formal. Tetapi manusia jauh lebih besar
daripada dokumennya. Yang harus diuji bukan
hanya kertasnya, tetapi juga proses yang melahirkannya, pengetahuan yang
diwakilinya, dan integritas orang yang menggunakannya. Sebab ketika sebuah tanda
akademik dipakai untuk menopang legitimasi publik, maka kejujuran terhadap
tanda itu bukan lagi urusan pribadi semata. Ia menjadi bagian dari etika
publik. Di Sinilah Plato
Tersenyum Pendiri Peace Café: Prof, apakah Anda sedang mengatakan bahwa setiap ijazah pejabat harus
diperiksa? Plato: Aku tidak mengatakan demikian. Aku hanya mengatakan: jika sebuah
masyarakat mengajukan pertanyaan, jangan jawab dengan kemarahan. Jawablah
dengan bukti. Jika bukti itu kuat, pertanyaan selesai. Jika bukti itu belum
cukup, pemeriksaan dilanjutkan. Bukankah begitu cara ilmu bekerja? Pendiri Peace Café: Lalu bagaimana dengan kekuasaan? Plato: Kekuasaan seharusnya tidak takut kepada kebenaran. Justru kekuasaan
yang sehat membutuhkan kebenaran untuk menjaga dirinya sendiri. Karena itu,
aku tidak pernah mengajarkan murid-muridku untuk mencintai penguasa. Aku
mengajarkan mereka untuk mencintai kebenaran. Dan jika suatu hari kebenaran
berdiri berhadapan dengan kekuasaan, seorang akademisi harus memiliki
keberanian untuk tetap berdiri bersama kebenaran. Plato kemudian terdiam. Ia memandang ke luar
jendela Peace Café. Malam semakin larut. Lampu jalan memantulkan
bayangan di kaca. Pendiri Peace Café: Prof, bukankah kita masih berada di dalam gua? Plato: Mungkin. Tetapi setidaknya malam ini kalian mulai bertanya dari mana
datangnya bayangan. Ia tersenyum. Plato: Dan ingat satu hal, Mathetes. Akademi bukan tempat
untuk mengumpulkan ijazah. Akademi adalah tempat manusia belajar membedakan
kebenaran dari bayangan. Orang yang telah keluar
dari gua tidak menjadi lebih tinggi daripada manusia lain. Ia hanya
memperoleh satu kewajiban baru: kembali ke dalam gua dan membantu yang lain
melihat cahaya. Itulah mengapa aku
membangun Akademi. Dan itulah mengapa syarat pemimpin bukanlah selembar
kertas, melainkan keberanian untuk tidak memalsukan jiwanya sendiri. Peace Café-mu, Mathetes, melakukan hal yang sama. Kau tidak
menjual kopi. Kau sedang melatih jiwa-jiwa untuk duduk bersama, berdialog,
dan melihat cahaya yang sama. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar