|
Mengembangkan Keilmuan Integratif pada
Jenjang Pendidikan Tinggi di Era VUCA Muhammad Turhan Yani :
Guru Besar dan
Kepala LPPM Universitas Negeri Surabaya. |
MEDIA INDONESIA, 08 Oktober 2026
|
MENTERI Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
(Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyampaikan kepada para rektor di Indonesia
agar tidak membuka banyak program studi (prodi). Para rektor diminta
menggabungkan prodi yang memiliki rumpun keilmuan serupa agar administrasi
perguruan tinggi (PT) lebih sederhana. Statement Brian disampaikan pada
pembukaan gelaran Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) XII di
Bali yang diikuti oleh 12 perguruan tinggi negeri (PTN) eks IKIP se-Indonesia
pada 2-3 Oktober 2026. Penulis mengikuti gelaran Konaspi sebagai representasi
dari salah satu PTN. Menindaklanjut arahan Mendiktisaintek diperlukan
langkah konkret yang disertai regulasi dan kebijakan serta sinkronisasi
dengan berbagai pihak terkait, termasuk lembaga akreditasi. Secara kuantitas, jumlah prodi semakin naik dari
waktu ke waktu. Menurut data Buku Statistik Pendidikan Tinggi yang dirilis
Kemendiktisaintek 2025, jumlah prodi hingga 2025 sebanyak 34.711 dari 4.303
PT, dengan 328.241 dosen. Pada 2024 jumlah prodi sebanyak 33.741, dan dalam
waktu setahun hingga 2025 meningkat 970 atau 2,87%. Sementara di sisi lain,
jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi semakin naik. Berdasarkan data
Badan Pusat Statistik (BPS), hingga Mei 2026 ada 1.033.182 lulusan perguruan
tinggi yang menganggur mulai D-IV hingga S-3. Persentase pengangguran sarjana
terhadap total pengangguran nasional meningkat dari 7,98% (Agustus 2022)
menjadi 14,31% (Mei 2026). Ini artinya penambahan jumlah prodi tidak
berbanding lurus dengan keterserapan lulusan pada dunia kerja. Dengan kata
lain, penambahan prodi baru justru membebani, yakni jumlah pengangguran
semakin tinggi. Padahal, saat ini eranya ‘Kampus Berdampak’ yang mestinya
juga berdampak pada semakin meningkatnya keterserapan lulusan pada dunia
kerja, bukan meningkat dalam jumlah pengangguran. PERSPEKTIF KEILMUAN Selain terkait dunia kerja sebagai salah satu
muara keterserapan lulusan PT, yang juga sangat penting ditekankan ialah
pengembangan keilmuan secara integratif. Pengembangan keilmuan pada jenjang
pendidikan tinggi menjadi bagian penting dari implementasi fungsi Tridarma
PT, yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Di era yang sangat kompleks saat ini, yang
diperlukan ialah pengembangan keilmuan secara integratif, bukan parsial,
apalagi memperbanyak prodi, yang dari sisi administratif membebani, khususnya
ketika akreditasi di samping tanggung jawab moral PT terhadap lulusan.
Sehingga, di sinilah diperlukan penggabungan prodi untuk efisiensi biaya,
waktu, dan tenaga, di samping untuk mengoptimalkan sivitas akademika dalam
menjalankan fungsi Tridarma PT. Penggabungan prodi di samping pertimbangan
efisiensi, juga untuk membangun keilmuan secara efektif dan kontributif.
Hadirnya institusi pendidikan tinggi tidak sekadar berkaitan dengan dunia
kerja, tetapi juga berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan umat
manusia secara keseluruhan. Kontribusi inilah yang menjadi ‘identitas utama’
institusi PT karena PT memiliki tanggung jawab akademik mentransformasikan
ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan sosial humaniora. Dalam konteks keilmuan, pengembangan khazanah
keilmuan tersebut penting diwadahi dalam suatu ‘rumah besar keilmuan’ yang
menjadi payung dari berbagai disiplin keilmuan untuk didialogkan,
didiskusikan, dan dikembangkan bersama secara integratif dan komprehensif. Berbagai perspektif keilmuan dari latar belakang
berbeda yang masih dalam satu rumpun keilmuan akan memberikan penguatan dan
pengayaan bagi sivitas akademika (dosen dan mahasiswa) sehingga realitas
perkembangan zaman mampu dihadapi dengan kesiapan skill dan kompetensi yang
integratif, tidak lagi parsial berbasis prodi yang terlalu administratif. Pernyataan Mendiktisaintek Brian pada tataran
implementasi juga perlu dilakukan sinkronisasi dengan lembaga-lembaga
akreditasi untuk membuka cakrawala keilmuan yang lebih luas, tidak dibatasi
secara administratif pada prodi. Membangun ‘rumah besar keilmuan’ di PT tetap
mempertimbangkan bidang keilmuan, misalnya dalam satu rumpun keilmuan yang
memiliki kedekatan substansi kajian, didesain dalam suatu kurikulum integratif
(integrated curriculum) yang dinaungi dalam satu prodi sebagai tindak lanjut
penggabungan prodi. Simplifikasi ini diyakini akan memberikan dampak positif,
di antaranya mengurangi beban administrasi. Model kurikulum terpadu atau integrated curriculum
model (ICM) yang dikembangkan oleh Robin J Fogarty, seorang ahli kurikulum,
penulis, dan pakar pendidikan asal Amerika Serikat dalam buku yang berjudul
How To Integrate the Curricula dapat dijadikan sebagai kerangka teoretis dan
perspektif. Model ini dikembangkan secara terpadu dengan pendekatan secara
lintas disiplin ilmu untuk saling melengkapi pengetahuan. Model ini mempunyai
keuntungan, di antaranya kemudahan belajar yang mengarah pada keterkaitan di
antara berbagai disiplin ilmu, di samping dapat membangun pemahaman lintas
disiplin yang lebih komprehensif. Perspektif ini sangat relevan dikembangkan
untuk melakukan restrukturisasi prodi di era saat ini dan ke depan. ANGIN SEGAR Gagasan Mendiktisaintek Brian menjadi angin segar
bagi pimpinan perguruan tinggi untuk melakukan restrukturisasi atau proses
penataan dan pembangunan ulang struktur organisasi (termasuk prodi),
keuangan, dan manajemen agar lebih efektif dan efisien, sehingga fokus
perguruan tinggi dan dosen untuk pengembangan keilmuan yang menjadi mandat
dari Tridarma PT berlangsung secara optimal karena waktu yang tersedia lebih
memadai. Disadari atau tidak, ketika akreditasi secara
rutin lima tahun sekali tiba, beberapa tahun sebelumnya, pimpinan, mulai dari
prodi, fakultas, hingga universitas (atau sejenis) disibukkan dengan
persoalan administratif, yang kadang ‘merampas’ tugas Tridarma yang menjadi
’core business’ atau aktivitas utama dan fondasi terpenting perguruan tinggi.
Dapat dibayangkan pada PT yang memiliki ratusan prodi, betapa lelahnya insan
akademik, khususunya pimpinan dan dosen. Dampak langsung yang dirasakan ialah
aktivitas kuliah ‘terganggu’ karena dosen disibukkan persiapan administrasi
akreditasi, mahasiswa pun kena getahnya. Di sisi lain, waktu pimpinan dan
dosen juga habis karena beban administrasi yang terlalu berat sehingga tugas
utama Tridarma menjadi terbengkalai. Wacana penggabungan prodi perlu dimaknai secara
positif dengan tetap mempertimbangkan rasio dosen dan mahasiswa secara
proporsional. Di era VUCA yang ditandai dengan volatility atau perubahan
sangat cepat dan sulit diprediksi, uncertainty atau ketidakpastian,
complexity atau faktor saling terkait, dan ambiguity atau situasi yang tidak
menentu/tidak jelas membutuhkan kesiapan institusi PT yang responsif dan adaptif,
salah satunya dengan cara melakukan simplifikasi atau penyederhanaan dalam
arti efisiensi dan efektivitas prodi agar menjadi lebih optimal. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar