|
PISA 2025 Ruang Naik masih Lebar, Peluang di
PISA 2029 Ali Saukah :
Dekan FKIP
Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, Anggota Dewan Pendidikan Nasional. |
MEDIA INDONESIA, 29 September 2026
|
HASIL Programme for International Student
Assessment (PISA) 2025 kembali mengundang perhatian. Indonesia mencatat
kenaikan enam poin dalam science, dari 383 pada 2022 menjadi 389, dan enam
poin dalam reading, dari 359 menjadi 365. Sebaliknya, mathematics turun dua
poin, dari 366 menjadi 364. Sekilas, kenaikan tersebut memberi alasan untuk
optimistis. Namun, angka PISA perlu dibaca dengan hati-hati. Kenaikan skor
belum tentu menunjukkan perubahan yang signifikan secara statistik, apalagi
peningkatan yang besar secara pendidikan. Laporan resmi OECD menyatakan bahwa hasil
Indonesia pada 2025 secara umum masih kurang lebih sama dengan 2022. Dengan
demikian, kenaikan enam poin dalam science dan reading belum cukup kuat untuk
menyimpulkan bahwa kemampuan siswa Indonesia telah meningkat secara
statistik. Perubahan skor dan perubahan kemampuan berbeda. Skor yang naik
enam poin adalah fakta. Menyimpulkan bahwa kemampuan siswa telah meningkat
secara nyata memerlukan bukti statistik. Dalam PISA, perbandingan antarsiklus
mengandung ketidakpastian pengukuran, termasuk link error. Untuk perbandingan
science 2025 dengan 2022, OECD mencatat link error sebesar 2,9 poin. Oleh
karena itu, kenaikan enam poin tidak perlu dirayakan sebagai lompatan mutu,
tetapi juga tidak perlu diabaikan. Itu merupakan sinyal yang patut diperhatikan,
terutama apabila kelak menjadi bagian dari tren peningkatan yang konsisten
dalam beberapa siklus PISA berikutnya. Ada alasan lain mengapa angka enam poin perlu
ditempatkan dalam perspektif yang tepat. OECD menggunakan sekitar 20 poin
sebagai salah satu patokan untuk menggambarkan rata-rata learning gain selama
sekitar satu tahun pada usia 15 tahun. Angka ini tidak boleh diterjemahkan
secara mekanis sebagai ‘satu tahun pembelajaran', tetapi memberikan
perspektif bahwa enam poin merupakan perubahan yang relatif kecil. Namun,
persoalan yang lebih mendasar bukan sekadar apakah skor naik atau turun enam
poin. Pertanyaan yang lebih penting ialah: apa yang sebenarnya dapat
dilakukan siswa Indonesia dengan kemampuan yang tecermin dalam skor tersebut? Di science, skor rata-rata Indonesia pada 2025
ialah 389, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 482. Hanya sekitar 37% siswa
Indonesia yang mencapai sekurang-kurangnya level 2, dibandingkan 74% pada
rata-rata OECD. Pada level 2, siswa setidaknya mampu mengenali penjelasan
yang benar untuk fenomena ilmiah yang sudah dikenal dan menggunakan
pengetahuan tersebut untuk menilai, dalam situasi sederhana, apakah suatu
kesimpulan didukung oleh data. Hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai
level 5 atau 6. Gambaran reading juga menunjukkan tantangan yang
besar. Hanya sekitar 27% siswa Indonesia mencapai level 2 atau lebih,
sedangkan rata-rata OECD mencapai 69%. Hampir tidak ada siswa Indonesia yang
mencapai level 5 atau lebih. Pada tingkat tersebut, siswa diharapkan mampu memahami
teks yang panjang dan kompleks, menangani konsep yang abstrak atau berlawanan
dengan intuisi, serta membedakan fakta dan opini berdasarkan petunjuk yang
tersirat dalam isi atau sumber informasi. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan
pendidikan Indonesia bukan hanya berapa skor rata-rata kita, tetapi seberapa
banyak siswa yang mencapai kompetensi minimum dan seberapa banyak yang mampu
mencapai tingkat kecakapan tinggi. Inilah yang sering hilang ketika perhatian
publik hanya diarahkan pada naik-turunnya skor rata-rata. RUANG NAIK MASIH LEBAR Posisi Indonesia yang masih rendah dalam
distribusi kecakapan PISA dapat dilihat dari perspektif floor effect. Dalam
pengukuran, floor effectmerujuk pada keadaan ketika capaian banyak peserta
terkonsentrasi di bagian bawah skala sehingga masih tersedia ruang untuk
bergerak ke tingkat yang lebih tinggi. OECD tidak menyatakan floor effect
sebagai diagnosis resmi terhadap Indonesia. Namun, sebagai perspektif untuk
membaca distribusi capaian, konsep ini membantu melihat sisi lain dari posisi
Indonesia: ruang untuk naik masih lebar. Dalam science, sekitar 63% siswa Indonesia masih
berada di bawah level 2; dalam reading, sekitar 73% belum mencapai level 2.
Oleh karena itu, peluang peningkatan terbesar bukan pertama-tama terletak
pada mencetak lebih banyak siswa di level 5 atau 6, melainkan mengangkat
sebanyak mungkin siswa yang masih berada di bawah kompetensi minimum menuju
level 2, kemudian mendorong mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Sebaliknya,
negara atau sistem pendidikan yang sebagian besar siswanya sudah berada pada
tingkat kecakapan tinggi menghadapi ruang yang lebih terbatas untuk
meningkatkan proporsi siswa pada tingkat dasar. Tantangan mereka lebih banyak
berada pada ujung atas distribusi: mendorong siswa yang sudah berada di level
tinggi menuju kecakapan yang lebih tinggi lagi. Dalam perspektif pengukuran,
kondisi seperti ini dapat dikaitkan dengan ceiling effect—bukan berarti
negara tersebut hanya dapat turun, tetapi ruang peningkatan pada bagian atas
skala menjadi semakin terbatas. Perbedaan ini penting. Indonesia memiliki ruang
peningkatan yang besar, tetapi ruang tersebut bukan jaminan kenaikan. Floor
effect bukan berarti Indonesia otomatis akan naik pada PISA 2029. Ruang untuk
naik baru menjadi capaian apabila kualitas pembelajaran, guru, lingkungan
belajar, dukungan keluarga, dan faktor pendidikan lainnya benar-benar mampu
meningkatkan kompetensi siswa. Justru karena itu, PISA 2029 perlu dipandang
sebagai peluang. Bukan peluang untuk sekadar mengejar skor, melainkan
kesempatan untuk membuktikan apakah pembelajaran selama beberapa tahun ke
depan benar-benar mampu menggeser distribusi kompetensi siswa ke tingkat yang
lebih tinggi. Jika sebagian besar siswa yang sekarang berada di bawah level 2
dapat bergerak ke level 2 dan kemudian ke level yang lebih tinggi, dampaknya
akan jauh lebih bermakna daripada sekadar kenaikan beberapa poin pada skor
rata-rata. Oleh karena itu pula, kita perlu berhati-hati
menggunakan istilah HOTS dan LOTS ketika membaca hasil PISA. PISA tidak
secara sederhana membagi siswa menjadi kelompok 'HOTS' dan 'LOTS'. PISA
menggunakan proficiency levels yang menggambarkan kompleksitas pengetahuan
dan keterampilan yang dapat ditunjukkan siswa. Pada level tinggi, misalnya,
siswa science mampu menggunakan teori, model, data kompleks, dan berbagai
sumber informasi untuk membangun serta mengevaluasi penjelasan dan mengambil
keputusan dalam konteks yang tidak familier. Kemampuan tersebut memang
memiliki karakteristik berpikir tingkat tinggi, tetapi level 5–6 tidak
identik begitu saja dengan 'HOTS', sebagaimana level 1 tidak identik dengan
'LOTS'. Cara membaca seperti ini lebih membantu kita memahami kompetensi apa
yang harus dibangun melalui pembelajaran, bukan sekadar memberi label pada
soal atau siswa. PISA juga perlu dibaca dalam konteks coverage,
yaitu cakupan populasi siswa yang direpresentasikan oleh asesmen. Namun,
persoalannya tidak berhenti pada siapa yang tercakup dalam asesmen.
Pertanyaan yang lebih penting ialah: apakah siswa yang berada di sekolah
memperoleh kompetensi minimum yang diperlukan untuk berpartisipasi secara
penuh dalam masyarakat? Dengan demikian, kita tidak perlu
mempertentangkan kabar baik dan kabar buruk. Kenaikan enam poin adalah fakta
yang patut dicatat. Tetapi karena secara statistik belum menunjukkan
perubahan yang signifikan, kita belum mempunyai dasar yang kuat untuk menyebutnya
sebagai bukti peningkatan kemampuan siswa Indonesia. Pada saat yang sama,
rendahnya proporsi siswa yang mencapai level 2 atau lebih menunjukkan
pekerjaan rumah yang sangat besar, sekaligus ruang peningkatan yang masih
lebar. CERMIN, BUKAN TUJUAN PISA seharusnya kita perlakukan sebagai cermin,
bukan tujuan pendidikan. Cermin membantu kita melihat keadaan secara lebih
objektif; bukan sesuatu yang harus kita kejar demi memperoleh angka yang
lebih tinggi. Tujuan pendidikan tetaplah membangun manusia yang mampu
memahami, mengaplikasikan, menalar, mencipta, berkomunikasi, bekerja sama,
dan merefleksikan apa yang dipelajarinya. Oleh karena itu, respons terhadap PISA 2025
sebaiknya bukan merayakan kenaikan enam poin, melainkan menjadikannya bahan
refleksi. Apakah pembelajaran di kelas benar-benar membuat siswa memahami,
bukan sekadar mengingat? Apakah mereka mampu menggunakan pengetahuan untuk
memecahkan masalah baru? Apakah mereka mampu menilai bukti, membedakan fakta
dari opini, dan mempertanggungjawabkan kesimpulannya? Pembelajaran mendalam menjadi relevan. Jika
pendidikan ingin meningkatkan kompetensi yang tecermin dalam PISA sekaligus
kompetensi yang lebih luas, pembelajaran harus memberi ruang yang cukup
kepada siswa untuk memahami, mengaplikasi, dan merefleksi melalui pengalaman
belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. PISA 2025 belum menunjukkan perubahan yang
signifikan secara statistik. Oleh karena itu, enam poin tidak perlu
dibesar-besarkan. Namun, posisi Indonesia yang masih berada di bagian bawah
distribusi kecakapan juga tidak seharusnya hanya dibaca sebagai kelemahan.
Ruang untuk naik masih lebar. Tantangannya ialah bagaimana ruang tersebut
dikonversikan menjadi peningkatan kompetensi yang nyata melalui pembelajaran
yang lebih bermutu. PISA 2029 akan menjadi salah satu kesempatan untuk
melihat apakah ikhtiar tersebut benar-benar membuahkan hasil. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/938570/pisa-2025-ruang-naik-masih-lebar-peluang-di-pisa-2029
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar