|
Kebatinan Joao Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 03 Oktober 2026
Saya ke kantor
pusat Agrinas Pangan Nusantara Senin lalu. Saya tidak punya target apa-apa.
Hanya ingin ketemu direktur utamanya, Joao Angelo De Sousa Mota. Saya hanya
ingin tahu suasana kebatinannya setelah kritik ke Koperasi Desa Merah Putih
(KDMP) begitu gencarnya.
Saya juga tidak
ingin meneruskan kritik masyarakat itu kepadanya: ia pasti sudah tahu sendiri.
Dan lagi saya juga tahu: kritik sekeras apa pun sudah tidak ada gunanya. Maka
sebelum menuju ke kantornya saya kirim dulu WA kepadanya: bisakah saya mampir
ke kantornya. Yakni setelah selesai acara saya di Pertamina Hulu Energi.
Saya tahu di
hari Senin Joao tidak ke mana-mana. Di hari Selasalah yang ia sangat sibuk:
rapat-rapat di Mabes TNI di Cilangkap. Di situ, seminggu sekali diadakan rapat
monitoring pembangunan KDMP se-Indonesia. Para pangdam harus memberi laporan
perkembangan KDMP ke Markas Besar Tentara Nasional Indonesia.
Joao langsung
merespons WA saya: dengan senang hati ia akan menyambut kedatangan saya.
Tiba di Agrinas
saya pun naik ke lantai delapan di gedung bekas kantor pusat BUMN Yodya Karya
itu. Istri saya menunggu di mobil –dari Agrinas saya memang akan mengantar
istri melihat gedung DBL Academy yang baru, milik anaknyi, di Cakung, Jakarta
Timur.
Hari itu Joao
sedang rapat dengan para calon manajer KDMP. Ia harus mencarikan jalan keluar
dari persoalan kemanusiaan yang rumit: beberapa wanita yang tinggal di
pedalaman Jawa Barat harus bertugas di pedalaman Gorontalo. Ada juga yang
mendapat tugas di pedalaman Sulawesi Tengah. Padahal mereka punya anak-anak
kecil dan bapaknya anak-anak itu.
Dalam hal
penentuan manajer KDMP, Agrinas tidak punya wewenang apa-apa. Itu urusan
Kementerian Koperasi. Mulai dari rekrutmennya, seleksinya, sampai
penempatannya.
Saya diajak
Joao ke ruang penuh dengan calon manajer yang punya persoalan rumit mirip-mirip
itu. Dengan rendah hati Joao minta saya untuk ikut memberikan ide jalan keluar
apa yang harus ditemukan. Saya menolak dengan halus dan dengan nada guyon.
Mereka pun serentak tertawa –meski setelah itu pusing kepala lagi.
--
Tentu saya juga
diajak ke ruang pusat kendali. Masih sama dengan ketika kali pertama saya ke
ruang itu. Hanya angka-angkanya yang berubah. Ada angka baru: sudah 1500 KDMP
yang beroperasi. Ada angka 30.000 lebih bangunan KDMP yang sudah jadi. Tinggal
tunggu dibuka. Tunggu manajer. Tunggu isinya. Banyak macam-macam angka di situ.
Tidak semuanya bisa saya ingat.
Akhirnya saya
diajak ngobrol di ruang kerja Joao yang sekaligus juga ruang rapatnya. Di papan
tulis utamanya masih tertera copy surat yang ditulis seorang anak yang bunuh
diri oleh kemiskinan di NTT. Copy surat itu diperbesar sehingga tulisannya
terbaca dari tempat Joao duduk. Isi surat sudah pernah saya tulis di Disway
tahun lalu (baca Disway 25 Maret 2026: Mati Efisien).
Dalam pertemuan
ini saya menangkap beberapa suasana kebatinan Joao. Itu saya lihat dari raut
wajahnya yang gabungan Asia-Eropa. Juga dari nada kata-katanya. Gerak
tangannya. Sorot matanya.
Tampak Joao
masih punya keyakinan KDMP adalah program yang baik dan harus sukses. Ia juga
tampak tidak sabar agar KDPM bisa segera buka di seluruh Indonesia. Tapi ia
juga tampak kesal karena tidak punya wewenang memilih dan menempatkan para
manajer untuk KDMP itu.
Yang lebih
terlihat kesal adalah ini: mengapa KDMP belum segera bisa menjual barang
subsidi. Kementerian dan para BUMN terlihat ada keengganan menyalurkan barang
subsidi ke KDMP. Mereka harus taat peraturan. Sebelum peraturan berubah mereka
tidak akan mau mengubah penyaluran barang subsidi.
Maka Joao harus
berjuang mengubah peraturan itu. Berhasil. Presiden sudah memberikan keputusan
tertulis. Tapi setelah itu masih harus ada perubahan peraturan menteri dan
lain-lain.
"Saya
tetap optimistis perubahan peraturan menteri juga segera keluar. Kan tidak
mungkin menteri tidak menuruti Perpres," ujar Joao. Hanya saja setelah
perubahan keputusan menteri, jangan-jangan masih harus menunggu perubahan
putusan dirjen. Lalu keputusan dirut BUMN, dan seterusnya.
Tahun 2026
tinggal tiga bulan. KDMP belum bisa memastikan kapan mulai dibuka lantaran
perubahan peraturan di luar wewenang Agrinas Pangan Nusantara. Yang jelas KDMP
belum akan dibuka kalau barang subsidi belum bisa dijual di sana.
Sambil menunggu
kepastian barang subsidi itu Joao terus memberikan keyakinan di sisi lain:
sistem keuangan KDM sangat baik. Yakni sistem keuangan tersentral.
Sistem keuangan
itu sudah jadi. Sudah siap. Menurut Joao lebih baik dari sistem keuangan
Indomart atau Alfamart "karena dibuat lebih belakangan". Semua
transaksi di KDMP langsung terkirim ke pusat. Menit itu juga laporan keuangan
dan arus kas di setiap KDMP terbaca dan tercatat di pusat.
Maka tidak ada
sistem pembukuan terpisah di masing-masing KDMP. Mereka juga tidak perlu punya
rekening bank sendiri.
Target saya
bertemu Joao pun tercapai: seperti apa suasana kebatinannya. Lalu saya pamit.
Terlihat istri saya tertidur di dalam mobil, di tempat parkir, kelamaan
menunggu suaminyi. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/971614/kebatinan-joao
Tidak ada komentar:
Posting Komentar