|
Sains Ekonomi Post Kapitalis Belajar dari Ciptagelar (Bag I) Dimitri
Mahayana : Dosen
Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang
& founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung. |
KUMPARAN, 01 Oktober 2026
|
Di lereng Gunung Halimun,
Sukabumi, berlaku satu aturan adat yang terdengar ganjil bagi telinga ekonom:
padi tidak boleh dijual. Beras pun tidak. Aturan ini dipegang oleh Kasepuhan
Ciptagelar, komunitas adat Sunda yang menurut penanggalan adatnya telah berjalan
sejak 1368. Bagi warganya, padi adalah perwujudan Nyi Pohaci sekaligus simbol
kehidupan, sehingga tidak diperlakukan sebagai komoditas. Warga menanam padi hanya
sekali dalam setahun. Hasil panen disimpan di lumbung tradisional yang
disebut leuit, berangka kayu, berdinding anyaman bambu, dan beratap ijuk.
Setiap keluarga memiliki setidaknya satu leuit untuk menyimpan persediaan
padi, sementara penelitian akademik mencatat masyarakat Kasepuhan memiliki
persediaan pangan yang cukup hingga beberapa tahun ke depan. Berbagai sumber
menyebut jumlah leuit di wilayah Kasepuhan mencapai ribuan. Saya ingin mengajak
pembaca melihat Ciptagelar dengan kacamata filsafat sains. Pertanyaannya
sederhana. Kalau ilmu ekonomi memang sains, apa yang harus ia lakukan ketika
bertemu data yang tidak cocok dengan teorinya? Ciptagelar dan pertanyaan
bagi logika pasar Thomas Kuhn menyebut
temuan semacam itu sebagai anomali. Dalam fase normal science, anomali tidak
otomatis menggugurkan paradigma; ilmuwan umumnya berusaha menjelaskannya
dengan kerangka yang ada. Namun, anomali yang bertahan dan semakin sulit
dijelaskan dapat berkontribusi pada krisis dan, pada kondisi tertentu,
mendorong perubahan kerangka. Data semacam itu dapat dibaca sebagai anomali
bagi ekspektasi ekonomi, dan justru karena itu layak ditelaah, bukan
diabaikan. Buku teks ekonomi sering
menggambarkan bahwa surplus dapat dipertukarkan untuk memperoleh kebutuhan
lain. Petani menjual hasil yang melebihi kebutuhannya, memperoleh pendapatan,
lalu menggunakan uang tersebut untuk membeli barang dan jasa yang dibutuhkan.
Dalam kerangka pasar, pertukaran semacam ini memungkinkan sumber daya
dialokasikan kepada pihak yang membutuhkannya. Adam Smith juga
menekankan pentingnya perdagangan dalam menjaga ketersediaan pangan. Dalam
The Wealth of Nations, ia menjelaskan bahwa pedagang yang mengejar keuntungan
sendiri justru ikut membantu menyalurkan pangan: dari daerah yang berlimpah
ke daerah yang kekurangan, dan dari masa panen ke masa paceklik. Ciptagelar menempuh jalan
yang berbeda: padi tidak diperdagangkan, melainkan disimpan. Padi disimpan
sebagai cadangan pangan, bukan semata-mata diperlakukan sebagai komoditas
yang diperjualbelikan. Ketika pandemi Covid-19 mengguncang rantai pasok dan
harga pangan, sistem penyimpanan berbasis leuit memberi mereka cadangan
pangan yang tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan pasar saat itu. Bagi seorang ilmuwan, ini
menarik. Ada sebuah praktik ekonomi yang telah berlangsung lintas generasi
selama lebih dari enam abad. Tidak ada yang merancangnya sebagai eksperimen.
Tidak ada ruang laboratorium. Namun hasilnya bisa diamati siapa saja yang mau
datang dan melihat bagaimana masyarakat ini mengelola pangan. Teori ekonomi dari
seorang Abah Pemimpin adat Ciptagelar
bernama Abah Ugi Sugriana Rakasiwi. Ia menerima amanah itu pada tahun 2007,
ketika ayahnya, Abah Anom, wafat. Usianya baru 22 tahun. Saat itu ia sedang
kuliah di Bandung dan memiliki hobi bermain band. Ia kemudian pulang, meninggalkan
bangku kuliah, lalu memimpin ratusan kampung. Penjelasannya tentang
larangan menjual padi sederhana. Jika padi dijual, ia berubah menjadi uang
yang mudah dibelanjakan. Jika padi disimpan di leuit, nilainya tetap berupa
persediaan pangan yang dapat digunakan untuk bertahun-tahun. Coba baca kalimat itu
pelan-pelan. Di dalamnya ada sebuah teori. Dalam ekonomi modern, likuiditas
adalah salah satu keunggulan uang: ia mudah ditukar dengan berbagai
kebutuhan. Tetapi Abah Ugi melihat sisi lainnya. Sesuatu yang mudah ditukar
juga mudah dibelanjakan. Padi di leuit tidak demikian. Ia tidak mudah
dicairkan menjadi uang, dan justru karena itu tetap tersimpan sampai
benar-benar dibutuhkan. Dalam ekonomi perilaku,
gagasan serupa dikenal sebagai commitment device, yaitu cara untuk membatasi
pilihan saat ini agar seseorang tidak mudah menyerah pada godaan sesaat di
kemudian hari. Dalam bentuknya sendiri, Ciptagelar telah memiliki mekanisme
semacam itu: padi disimpan di leuit, bukan untuk segera ditukar menjadi uang,
melainkan untuk menjadi cadangan pangan. Menjual padi sama dengan
menjual kehidupan Warga memiliki ungkapan:
mupusti pare, lain migusti. Padi dimuliakan, tetapi tidak dituhankan. Ada
ungkapan lain yang lebih menohok: menjual padi sama dengan menjual kehidupan. Gagasan ini memiliki
kemiripan dengan pemikiran Karl Polanyi, sejarawan ekonomi asal Hungaria.
Dalam The Great Transformation, Polanyi menyebut tanah, tenaga kerja, dan
uang sebagai fictitious commodities atau komoditas fiktif. Ketiganya dapat
diperlakukan sebagai komoditas dalam sistem ekonomi, tetapi pada dasarnya
bukan barang yang diproduksi untuk diperjualbelikan. Tanah adalah bagian dari
alam. Tenaga kerja adalah manusia itu sendiri. Tidak semua hal yang
bernilai dalam kehidupan harus tunduk pada logika pasar. Jika semuanya
diserahkan untuk diperjualbelikan, ada hal-hal yang justru bisa kehilangan
fungsi dasarnya. Karena itu, masyarakat akan mencari cara untuk melindungi
apa yang mereka anggap penting bagi keberlangsungan hidupnya. Ciptagelar membawa
gagasan itu lebih jauh ke soal pangan pokok. Padi dilindungi bukan setelah
terjadi kekurangan, melainkan jauh sebelumnya. Ia disimpan sebagai cadangan
agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasar ketika kebutuhan
datang. Amartya Sen memberi
alasan kemanusiaannya. Ia meneliti berbagai bencana kelaparan dan menunjukkan
sesuatu yang mengejutkan: kelaparan dapat terjadi bahkan ketika pangan
tersedia. Masalahnya bukan semata-mata jumlah pangan, melainkan kemampuan
orang untuk memperolehnya. Ketika upah jatuh dan harga pangan naik, kelompok
miskin dapat kehilangan kemampuan untuk membeli makanan. Di Ciptagelar, nasi tidak
sepenuhnya bergantung pada kemampuan membeli. Padi sudah tersedia di halaman
rumah, tersimpan di dalam leuit. Ia menjadi cadangan yang dapat digunakan
ketika dibutuhkan. Ada satu detail yang
membuat saya terdiam. Juru bicara adat Ciptagelar pernah menjelaskan kepada
Tempo bahwa padi tidak hanya diperuntukkan bagi manusia, tetapi juga bagi
hewan di sekitar rumah seperti ayam, tikus, kecoa, cicak, semut. Masyarakat
tidak boleh membunuh binatang di sekitar lingkungan tinggal karena sebagai
satu keluarga yang hidup bersama. Ekonomi lingkungan menyebutnya menghitung
biaya eksternal. Ciptagelar menyebutnya berbagi rezeki. (Bersambung) ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar