|
Peluang Investasi Data Center, Jangan Seperti Pelanduk Terperosok Dua
Kali Didik J. Rachbini : Ekonom Indef, Rektor Universitas Paramadina. |
ORBIT INDONESIA, 04 Oktober 2026
|
Indonesia dinilai layak
sebagai negara tujuan investasi, ketika tidak kurang dari investasi setara
360 triliun rupiah berebut masuk ke Indonesia. Kawasan yang menjadi
sasaran lokasi data center ini antar lain adalah Batam, Jawa Barat, Madura
dan Bali. Perkembangan ini merupakan peluang emas, yang tidak boleh
terperosok ke lubang yang sama pada tahun 1980-an kehilangan peluang emas
investasi semi conductor. Minat dan semangat
investor sudah cukup jauh, pemerintah juga sudah dan mesti bersiap diri
karena jumlah investasi ini sedemikian besar. Peluang ini akan menolong
ketertinggalan Indonesia dalam menarik investasi dibandingkan dengan
negara-negara sekitarnya. Pemerintah sudah mematok
target investasi data center AI senilai Rp360 triliun untuk masuk ke
Indonesia. Pengalaman Indonesia dalam beberapa tahun ini menjadi pertimbangan
investor karena setidaknya sudah ada 182 data center, yang berjalan di
Indonesia. Iitu berarti Indonesia sudah layak menjalankan operasional
teknologi canggih data center ini di mana mayoritas berada di Jakarta (94
unit) dan Batam (16 unit). Khusus di Batam, rencana
investasi data center diperkirakan bernilai US$15-20 miliar, dengan target
kapasitas nasional sekitar 1,3 gigawatt. Batam dengan tingkat pertumbuhan
ekonomi daerah 7 persen akan menjadi pusat pertumbuhan baru dengan pilar
investasi data center ini. Tetapi di Jawa Barat
terjadi kisruh di mana pembangunan data center dihentikan sepihak oleh
gubernur dengan berbagai alasan lingkungan hidup, pasokan air dan beragam
alasan lainnya. Praktik kebijakan yang
menyebabkan iklim investasi rusak seperti ini menjadi kendala besar bagi masa
depan perekonomian, yang sekarang terhenti bertumbuh moderat 5 persen. Indonesia membutuhkan
investasi yang besar dan peluang emas yang sedang hangat adalah kepercayaan
investor untuk investasi data center di Indonesia. Di Jawa Barat peluang
tersebut terganjal, yang kemungkinan bisa merusak iklim investasi. Kita bisa menjadi pandir
seperti pelanduk terperosok dua kali di lubang yang sama. Persis seperti yang
dilakukan gubernur Jawa Barat pada saat ini, pemerintah pada tahun 1980-an
membuat blunder “mengusir” peluang emas investasi semikonduktor karena anti otomatisasi
dengan alasan menyingkirkan tenaga kerja manusia. Blunder kebijakan tahun
1980-an tersebut terjadi ketika raksasa teknologi dunia seperti Fairchild
Semiconductor, National Semiconductor, dan Monsanto sempat mendirikan basis
perakitan chip besar di Jakarta dan Bandung tetapi secara tidak langsung
“diberangus” oleh pemerintah. Pada tahun 1985, terjadi
konflik kebijakan mengenai otomatisasi produksi, yang kemudian dimenangkan
oleh aliran kuno ortodoks dengan membatasi otomatisasi dan memaksa penyerapan
tenaga kerja manual kepada investor. Tentu saja kebijakan kuno seperti ini tidak
cocok dengan investasi canggih mereka dan akhirnya hengkang ke Penang,
Malaysia. Sama seperti yang terjadi
sekarang di Jawa Barat di mana investasi sudah dilaksanakan tetapi secara
sepihak dihentikan. Ini merupakan pukulan telak terhadap investor, menjadi
palu mematikan bagi investasi karena tidak mendapatkan iklim berinvestasi
yang nyaman dan pasti. Indonesia pada tahun
1970-an dan awal 1980-an sudah memimpin industri semikonduktor di Asia
Tenggara. Tetapi gara-gara kebijakan yang buruk maka posisinya tergeser oleh
Malaysia. Praktik kebijakan masa lalu yang kurang tepat dan kekalahan dalam
pemasaran investasi dengan negara tetangga menyebabkan peluang itu terbang. Kini, Malaysia menguasai
sekitar 13% pangsa pasar global untuk aktivitas pengujian, perakitan, dan
pengemasan chip di dunia. Pemerintah harus dengan
segera mengantisipasi ganjalan dari pemerintah daerah, yang merusak iklim
investasi. Pada sisi program di lapangan mulai dulu dari pemerintah daerah
yang ramah investasi. Batam bisa menjadi hub data center utama kawasan karena
Singapura mulai membatasi pembangunan baru karena keterbatasan lahan dan
energi. Batam bisa mengambil
peluang itu, didukung tiga faktor utama, di mana Indonesia merupakan pusat
ekonomi digital terbesar di ASEAN dengan 200 juta lebih pengguna internet. Investor raksasa
teknologi yang sudah ikut masuk telah mengumumkan investasi US$1,7 miliar
untuk perluasan infrastruktur cloud dan AI di Indonesia, sementara AWS
berkomitmen US$5 miliar. Firmus bahkan membangun
kampus data center di Batam dengan target 170.000 akselerator Al. Kapasitas
data center nasional diproyeksikan melampaui 2.000 MW pada 2030, dengan
permintaan tumbuh 16,8% per tahun menurut proyeksi Bank Dunia. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar