Minggu, 04 Oktober 2026

 

Konjungsi dalam Bahasa Akal Imitasi

Rahmat Pakaya :  Alumnus Program Studi Sastra Indonesia Universitas Indonesia.

TEMPO MINGGUAN, 27 September 2026

 

 

                                                           

·      Orang Indonesia paling banyak memakai akal imitasi untuk mengerjakan tugas esai.

 

·      Bahasa akal imitasi cenderung seragam sehingga mudah dikenali karena memiliki pola tertentu.

 

·      Pola yang acap dipakai AI dalam menulis adalah pemakaian konjungsi korelatif yang tak sesuai tata bahasa.

 

KECERDASAN buatan (AI) saat ini berperan besar dalam peradaban manusia. Large language models atau LLMs, seperti Gemini, ChatGPT, dan DeepSeek, banyak digunakan untuk berbagai keperluan. Pemanfaatan akal imitasi juga berdampak pada tulisan yang dihasilkan AI, seperti esai dan tugas.

 

Laporan Anthropic Economic Index edisi Januari 2026 memuat satu temuan: Indonesia merupakan negara dengan penggunaan AI untuk keperluan tugas sekolah atau kuliah tertinggi di dunia. Ini merupakan kabar baik yang mengandung ancaman. Batas antara tulisan manusia dan AI menjadi kabur.

 

Ada sebuah kekhawatiran: orang-orang akan banyak meminta AI mengerjakan tugas secara penuh, bukan menjadikan AI sebagai alat bantu untuk berpikir. Lantas bagaimana mengetahui sebuah tulisan merupakan buatan AI?

 

Sampai hari ini memang belum ada alat pendeteksi yang seratus persen akurat untuk mengidentifikasi tulisan yang dihasilkan AI. Namun ada yang menarik: tata bahasa AI memiliki pola yang cukup mudah ditebak. Respons AI cenderung menggunakan konjungsi korelatif.

 

Ada dua konjungsi korelatif yang sering digunakan, yaitu konjungsi tidak hanya …, tetapi juga … dan bukan hanya …, melainkan juga …. Menurut Yudhistira dalam artikel berjudul “Konjungsi Koordinatif, Korelatif, Subordinatif, dan Antarkalimat” di Narabahasa.id, konjungsi korelatif seperti ini merupakan dua konjungsi yang berpasangan untuk menghubungkan dua unsur yang sederajat.

 

Sebuah artikel “Ketika AI Menulis: Menguak Pola Kalimat ‘Bukan Hanya Ini—Tapi Juga Itu’ dalam Komunikasi Korporat” di arsa.technology juga membahas pola bahasa AI dengan menggunakan konjungsi korelatif. Sebagai contoh, pola kalimat yang mengandung konjungsi korelatif adalah (1) guru-guru itu tidak hanya mengajar, tetapi juga membantu proses distribusi MBG dan (2) Indonesia bukan hanya negara yang kaya akan sumber daya alam, melainkan juga kaya akan budaya. Kemunculan struktur seperti ini memang nyata dalam teks buatan AI. Namun ini tidak bisa membuat kita sepakat bahwa setiap kalimat yang mengandung konjungsi korelatif adalah hasil kerja AI.

 

Konjungsi korelatif (tidak hanya…, tetapi juga… dan bukan hanya…, melainkan juga…) memiliki aturan penggunaan. Ini yang kadang tidak sepenuhnya dipatuhi AI. Yang paling penting dalam penggunaan konjungsi korelatif adalah kesejajaran sintaksis (paralelisme), yaitu unsur yang dihubungkan memiliki fungsi atau bentuk gramatikal yang sejajar.

 

Ada sebuah kalimat seperti ini yang muncul ketika ChatGPT diminta membuat sebuah esai: Pelatihan sebaiknya tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa. Secara sintaksis, unsur mengajarkan keterampilan teknis berupa frasa verba, sedangkan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa berupa frasa nomina. Ketidaksejajaran ini membuat hubungan kedua unsur menjadi tidak begitu jelas.

 

Kesalahan seperti ini bukan sekadar persoalan tata bahasa. Struktur ini dapat mempengaruhi cara pembaca memahami maksud kalimat. Seharusnya frasa verba tersebut dipasangkan dengan frasa verba yang sejajar, misalnya dengan menambahkan kata menerapkan sebelum frasa strategi pembelajaran. Akibatnya, ketidaksejajaran sintaksis seperti ini dapat membuat kalimat menjadi terdengar janggal ketika dibaca dan berpotensi mengganggu pemahaman pembaca.

 

Namun tidak ada orang yang dapat menghakimi kredibilitas sebuah tulisan hanya dari satu pola kalimat. Kemunculan konjungsi korelatif dalam tulisan yang dihasilkan AI hanyalah salah satu rekam jejak linguistik Indonesia dalam ekosistem AI. Sebagai masyarakat pembaca, tugas kita adalah tetap kritis dan bijak dalam mencerna setiap bahasa yang dihasilkan mesin. ●

 

Sumber :   https://www.tempo.co/kolom/konjungsi-bahasa-ai-2294258

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar