|
Rocky Gerung Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 07 Oktober 2026
Terbitnya
aturan baru di MBG pun tenggelam oleh hebohnya Rocky Gerung yang masuk ke
Wantimpres. Heboh Rocky Gerung hanya kalah oleh heboh pergantian Kapolri: dari
Jenderal Lestyo Sigit Prabowo ke Jenderal Suyudi Ario Seto.
Bukan main
membanjirnya ejekan, hujatan, meme sampai karangan bunga duka cita: R.I.P Rocky
Gerung. Termasuk yang mengejek tekadnya di Wantimpres: tetap kritis dan kritis
itu beda dengan kritik.
Saya tertarik
dengan satu komentar yang mendasar. Yakni dari seorang akademikus hukum tata
negara Universitas Gadjah Mada Yogyakarta: Prof Dr Zainal Arifin Mochtar.
"Rocky
Gerung itu seorang sofis," ujarnya.
Sofisme bukan
aliran. Bukan juga diambil dari nama orang. Itu diambil dari satu kata dalam
bahasa Yunani ''Sophos''. Artinya: orang yang bijaksana karena punya
pengetahuan yang luas dan terampil dalam olah kata.
Di Yunani, di
zaman itu, orang-orang yang seperti Rocky Gerung biasa disebut golongan sofis.
Tokohnya antara lain Protagoras dan Gorgias. Mereka hidup sekitar 400 tahun
sebelum masehi.
Belakangan
istilah ''sofis'' agak bergeser ke negatif: orang pintar, berpengetahuan luas,
pandai berdebat untuk kemenangan dirinya sendiri.
Debat yang asli
adalah debat untuk menemukan kebenaran. Maka ada yang menilai RG lebih negatif:
debat Rocky Gerung jauh dari debat mencari kebenaran. Itu debat untuk
memenangkan debat itu sendiri. Senjatanya adalah logika atau yang seolah
logika.
Mungkin begitu
yang dimaksud Prof Zainal Arifin Mochtar.
Salah satu
senjata yang sering dipakai untuk ''memenangkan'' debat itu terlihat jelas:
Rocky Gerung biasa menohok lawan debat dengan pertanyaan ''apakah sudah baca
buku ini atau itu''. Biasanya itu judul buku ''berat'' dari masa lalu.
Kalau pun ada
lawan debat yang ternyata sudah membaca buku dimaksud, Rocky tidak kehilangan
akal. Ia masih bertanya: bagian mana dari buku itu yang diingat. Atau ''apa
intisari buku itu''.
Gaya bertanya
seperti itu sebenarnya bukan kebiasaan kelompok sofis. Tapi lebih ke gaya
Socrates. Mungkin saja Rocky Gerung memang terobsesi Socrates.
Anda sudah
tahu: di antara para filsuf zaman itu Socrates memang yang paling jago debat.
Pun dibanding Plato dan Aristotelis. Plato lebih sastrawi. Aristotelis lebih ke
sistematika berpikir. Socrates punya kemampuan lengkap.
Harus diakui
Rocky Gerung memang pembaca buku yang luar biasa. Waktu ke rumahnya yang
menempel di tebing terjal dekat Sentul itu saya minta izin ke toilet. Dengan
cara itu saya bisa memasuki lorong-lorong rumahnya yang unik itu: di mana-mana
buku. Buku karya pemikir siapa saja dari zaman apa saja ada di rumah itu.
"Saya
ingat isi seluruh buku ini," katanya.
Di rumahnya,
saat itu, sudah ada beberapa tokoh aktivis seperti Jumhur Hidayat, Ferry
Juliantono, dan Syahganda Nainggolan. Merekalah tokoh aktivis militan sampai
ada yang masuk penjara.
Keempatnya kini
berada di dalam pemerintahan Prabowo. Jumhur sebagai menteri lingkungan hidup,
Ferry sebagai menteri koperasi, Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Badan
Komunikasi Pemerintah, dan Rocky Gerung sebagai anggota Wantimpres.
Melihat cara
Rocky Gerung memojokkan lawan debatnya, kadang terpikir oleh saya kenapa tidak
ada yang balas bertanya ke Rocky Gerung: apakah Anda sendiri pernah baca buku
Al-Mabahith al-Mashriqiyyah? Kalau ia ternyata mengaku juga telah membacanya
baliklah bertanya: apakah pernah membaca karya aslinya yang berbahasa Arab?
Saya ingin tahu jawaban Rocky.
Mengikuti
beberapa debat yang melibatkan Rocky ada kesan seolah sesuatu yang sudah ditulis
di sebuah buku terkemuka adalah kebenaran. Demikian juga dengan logika. Seolah
yang logikanya lebih baik ia yang lebih benar.
Mungkin Rocky
memang seperti Socrates: kuat dalam tiga hal sekaligus. Pandai berpikir, pandai
bertanya, dan pandai berbicara. Banyak filsuf yang hanya pandai berpikir dengan
cara lebih banyak merenung dan menulis. Tapi Socrates hebat tiga-tiganya.
Anda sudah
tahu: Socrates punya kebiasaan pergi ke pasar-pasar, ke warung-warung, dan ke
mana saja. Socrates selalu mengajak siapa saja berdebat. Ia juga selalu ke
mana-mana membawa buku.
Rocky Gerung
mirip itu. Pasarnya mahasiswa. Warungnya kampus. Bedanya Socrates sering
membuat pertanyaan yang membuat yang ditanya berpikir. Rocky sering membuat
yang ditanya terpojok.
Yang jelas
Rocky punya kemampuan bertanya. Ketika pertanyaan itu dijawab ia mampu
mengajukan pertanyaan berikutnya. Lalu berikutnya lagi. Sampai yang ditanya
terjebak sendiri dengan jawaban awalnya.
Kini Rocky
Gerung berada di dalam ''kerangkeng'' Wantimpres. Di situ ia tidak bisa
memperlakukan 25 anggota Watimpres yang lain seperti mahasiswa. Saya tidak tahu
Rocky cocoknya masuk tim apa di dalam Wantimpres.
Di lembaga itu
akan dibentuk beberapa tim. Tim Ekonomi, misalnya, ada Chairul Tanjung, Dato'
Sri Tahir, Jusuf Hamka. Rocky pasti akan dimasukkan ke salah satu tim. Perannya
pun akan dibatasi untuk merumuskan pertimbangan di bidangnya saja. Tidak bisa
lagi bicara apa saja yang di luar bidang timnya.
Setelah
masing-masing tim membuat rumusan barulah dibawa ke pleno Wantimpres. Kalau
sudah disetujui pleno barulah pertimbangan itu dikirim ke Presiden.
Di Wantimpres
mirip di DPR yang anggotanya dikelompokkan ke dalam komisi-komisi. Seorang
anggota DPR hanya bisa bicara sebatas bidang di komisinya.
Maka saya bisa
membayangkan apakah Rocky Gerung bisa kerasan hidup seperti itu. Atau ia memang
sudah sejinak itu. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/972149/rocky-gerung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar