|
Deep Learning Strategi Penguatan Kompetensi
Abad Ke-21 Unifah Rosyidi : Angggota Dewan Pendidikan Nasional. |
MEDIA INDONESIA, 07 Oktober 2026
|
INDONESIA sedang memasuki era ketika kemajuan
ekonomi semakin ditentukan oleh kemampuan menguasai teknologi. Industri
semikonduktor, kecerdasan artifisial, robotika, energi terbarukan, kendaraan
listrik, bioteknologi, hingga teknologi digital membutuhkan semakin banyak
tenaga science, technology, engineering, and mathematics (STEM). Masalahnya, kita masih kekurangan tenaga STEM. Di
pendidikan tinggi, bidang-bidang non-STEM masih jauh lebih dominan. Data Bank
Dunia menunjukkan bahwa lulusan program STEM Indonesia sekitar 19,4% dari
total lulusan pendidikan tinggi dalam data yang tersedia, sementara Malaysia
mencapai sekitar 40% dan Tailan sekitar 32%. Karena itu, memperbanyak mahasiswa masuk program
teknik, sains, teknologi, dan matematika memang penting. Akan tetapi, ada
persoalan yang jauh lebih mendasar: STEM tidak akan tumbuh kuat jika akarnya
lemah. Akar yang dimaksud ialah kemampuan membaca dan
memahami informasi, menulis dan berkomunikasi, menggunakan numerasi dalam
kehidupan sehari-hari, serta kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif,
kolaboratif, dan memecahkan masalah secara sistematis. Akar tersebut tidak
dapat dibangun secara tiba-tiba ketika seseorang masuk perguruan tinggi. Akar
yang kuat itu harus ditanam sejak pendidikan anak usia dini dan diperkuat
secara terus-menerus sampai sekolah menengah. Di sinilah pembelajaran mendalam atau deep learning
menjadi penting. MEMAHAMI LEBIH DALAM Pembelajaran mendalam bukan berarti menambah
jumlah materi atau membuat siswa belajar lebih banyak. Intinya adalah
mengubah cara belajar, dari sekadar menghafal informasi menuju memahami,
menghubungkan, menggunakan dan menciptakan pengetahuan sendiri. Kemendikdasmen kini terus mendorong pembelajaran
mendalam sebagai istrumen untuk mendorong pembelajaran transformatif.
Pendekatan ini menempatkan siswa sebagai subjek yang aktif belajar, berpikir,
mengeksplorasi, bekerja sama, dan melakukan refleksi. Bayangkan pelajaran matematika tentang pecahan.
Kenyataan dewasa ini, anak lebih banyak diminta untuk mengerjakan puluhan
soal rumus, misalnya: ½ + ¼. Namun, ketimbang harus menghafal rumus seperti
itu, guru lebih baik mengajak siswa menghitung kebutuhan bahan untuk membuat
makanan, membandingkan harga, atau membagi sesuatu secara adil. Matematika
akhirnya bukan sekadar rumus, melainkan alat untuk memahami kehidupan. Dalam pelajaran IPA, siswa tidak hanya menghafal
bahwa tumbuhan membutuhkan air dan cahaya. Mereka dapat mengamati mengapa
beberapa tanaman di halaman sekolah tumbuh lebih subur daripada yang lain,
mengukur intensitas cahaya, mencatat pertumbuhan, membuat dugaan,
mengumpulkan data, dan menarik kesimpulan. Dalam pelajaran bahasa, siswa tidak hanya
menjawab pertanyaan setelah membaca sebuah teks. Mereka dapat membandingkan
dua berita tentang persoalan yang sama, mencari perbedaan fakta dan opini,
mencari/memeriksa sumber informasi, kemudian menyampaikan pendapatnya secara
lisan maupun tertulis. Inilah contoh-contoh sederhana literasi yang
dibutuhkan di abad ke-21: tidak sekadar bisa membaca, tetapi mampu memahami,
menilai, dan menggunakan informasi. AKAR MASIH LEMAH Kondisi Indonesia menunjukkan bahwa pekerjaan
rumah kita masih cukup banyak. PISA 2025 mencatat hanya sekitar 25% siswa
Indonesia yang mencapai tingkat kecakapan minimum dalam membaca, 18% dalam
matematika, dan 34% dalam sains. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata OECD,
masing-masing 74%, 69%, dan 76%. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, hampir tidak ada
siswa Indonesia yang mampu mencapai tingkat tertinggi dalam membaca dan
matematika. Pada tingkat tersebut, siswa tidak hanya mampu menjawab soal
rutin, tetapi juga dapat memahami persoalan yang kompleks, mengevaluasi
informasi, dan memilih strategi pemecahan masalah. Jelasnya, tantangan pendidikan Indonesia tidak
hanya bagaimana membuat lebih banyak anak bersekolah, tetapi juga bagaimana
membuat mereka benar-benar belajar. Perlu dipahami bahwa pembelajaran
mendalam merupakan strategi untuk memperkuat akar kompetensi yang kuat, bukan
sebagai jargon pendidikan baru. PERSOALAN YANG DEKAT Pembelajaran mendalam sebenarnya tidak selalu
membutuhkan lab yang mahal atau canggih. Persoalan di sekitar sekolah dapat
menjadi laboratorium belajar. Guru bisa mengajak siswa SD menyelidiki mengapa
halaman sekolah mudah tergenang ketika hujan. Siswa mengamati saluran air,
mengukur luas halaman, menghitung curah hujan sederhana, menggambar aliran
air, berdiskusi, dan mengusulkan solusi. Dengan satu kegiatan sederhana ini, anak mulai
dikenalkan dengan cara berpikir: matematika, sains, komunikasi, kerja sama,
kreativitas, dan pemecahan masalah, sekaligus. Dalam persoalan sampah, misalnya, siswa tidak
hanya diminta menghafal jenis-jenis sampah. Mereka dapat menimbang sampah
sekolah selama satu minggu, mengelompokkan sampah organik dan anorganik,
membuat tabel dan grafik, menghitung rata-rata, kemudian merancang cara
mengurangi sampah. Akhirnya siswa memahami bahwa angka bukan sekadar
angka. Angka itu adalah data yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.
Keputusan untuk mengelola bahkan dapat mengendalikan sampah. Di SMP, persoalan dapat dibuat lebih kompleks.
Siswa diminta memeriksa penggunaan listrik sekolah. Mereka mencatat jumlah
lampu, kipas, komputer, dan perangkat lain, menghitung konsumsi listrik,
memperkirakan biaya, lalu menyusun rekomendasi untuk menghemat energi. Di SMA, pengalaman itu dapat dikembangkan menjadi
proyek yang lebih dekat dengan STEM. Siswa merancang sistem penyiraman
tanaman yang hemat air, membuat prototipe sederhana, menguji efektivitasnya,
mengolah data, dan mempresentasikan hasilnya. Mereka bukan hanya belajar fisika, matematika,
atau teknologi. Mereka belajar bagaimana menggunakan pengetahuan untuk
memecahkan masalah GURU ADALAH KUNCI Semua itu tidak akan berubah dengan mengganti
kurikulum. Kemampuan guru merancang pengalaman belajar yang membuat siswa
aktif berpikir dan bekerja adalah kuncinya. Tantangan kita sekarang, bagaimana agar
pelaksanaan pembelajaran mendalam ini tidak berhenti pada sekadar pelatihan
dan dokumen kebijakan, tetapi benar-benar terlihat dalam keseharian praktik
belajar anak sehari-hari. Perlu dipahami bahwa implementasi pembelajaran
mendalam itu harus diikuti dengan pengembangan profesional guru
berkelanjutan. Guru perlu belajar merancang problem-based learning,
project-based learning, eksperimen, diskusi, asesmen formatif, dan pemanfaatan
teknologi. Komunitas belajar seperti KKG dan MGMP perlu dihidupkan kembali
sebagai ruang guru berbagi praktik terbaik dan merefleksikan pembelajaran.
Dari situ, berbagai kursus 'micro credential' besertifkat bagi guru sangat
dibutuhkan. Pada akhirnya, pendidikan yang baik bukanlah
pendidikan yang membuat anak mampu menghafal paling banyak. Pendidikan yang
baik adalah pendidikan yang membuat anak mampu memahami persoalan, mengajukan
pertanyaan, menggunakan pengetahuan, bekerja bersama, dan menemukan solusi. Jika 'akar' itu kuat, Indonesia bukan hanya akan
memiliki lebih banyak lulusan STEM, melainkan juga generasi yang mampu
menggunakan STEM untuk menciptakan teknologi, membangun industri, dan
memecahkan persoalan bangsa. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/941460/deep-learning-strategi-penguatan-kompetensi-abad-ke-21
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar