|
Habis UN Terbit TKA Mahyudin : Direktur Riset dan Publikasi Yayasan Sukma. |
MEDIA INDONESIA, 28 September 2026
|
UN dihapus, TKA diperkenalkan. Sebuah janji baru
ditebar: asesmen yang lebih manusiawi, diagnostik, dan kontekstual. Namun,
janji itu tidak terwujud. TKA hanyalah bentuk baru dari persoalan lama:
seleksi, skor, dan hafalan yang berganti kulit. Ia bukan terang, melainkan
lampu baru di ruangan yang sama. Ironi itu semakin tajam pada Oktober nanti. TKA
dirancang mendiagnosis kinerja sekolah, pesertanya dipilih acak oleh
kementerian—bukan semua siswa. Namun, begitu fungsinya bergeser menjadi
'syarat' masuk perguruan tinggi, semuanya berubah. Orangtua, siswa, bahkan
guru panik. Sekolah meminta semua siswa ikut TKA dan menyiapkan bimbel khusus
untuk menjawab soalnya—termasuk di sekolah tempat saya mengabdi. UN, TKA, DAN PISA TKA lahir dari niat mulia: alat evaluasi kinerja
sekolah, bukan penghukum. Ia dijanjikan sebagai terang setelah kegelapan
UN—asesmen yang mendiagnosis penalaran, bukan sekadar hafalan. Namun, janji
itu kandas. Begitu hasil TKA dihubungkan dengan seleksi perguruan tinggi,
fungsinya bergeser: dari evaluasi sekolah menjadi seleksi individu. Sekolah
dan bimbel ramai membuka drill TKA; pelajaran seni, olahraga, dan agama
tersingkir. Inilah backwash effect, pembelajaran mengikuti tes, bukan
sebaliknya. Siswa kurang mampu paling dirugikan. PISA 2025 memperparah ironi. Skor Indonesia
stagnan, tertinggal 93-99 poin dari OECD. Lebih dari 80% siswa gagal mencapai
kompetensi minimum matematika. Karena TKA meniru desain PISA, ia hanya akan
mengungkap fondasi yang rapuh, bukan memperbaikinya. Terang TKA ternyata
hanya menerangi mereka yang sudah berdiri di tempat terang. Data PISA ini bukan sekadar angka; ia anomali
yang menuntut penjelasan paradigmatik. Di sinilah Thomas Kuhn membantu kita. IRONI TKA Untuk memahami akar ironi TKA, kita perlu masuk
lebih dalam daripada sekadar kritik kebijakan. Kuhn mengajarkan ilmu
pengetahuan tidak berkembang linier, tetapi melalui periode normal science
yang stabil, lalu diguncang anomali. Ketika anomali menumpuk dan tak lagi
bisa dijelaskan paradigma lama, terjadilah krisis yang melahirkan revolusi
paradigmatik. Hasil PISA 2025 yang stagnan, dengan mayoritas
siswa gagal mencapai kompetensi minimum literasi-numerasi, ialah anomali tak
terbantahkan. Paradigma pendidikan yang berpusat pada hafalan dan skor jelas
tidak lagi efektif. TKA hadir sebagai tawaran paradigma baru: penilaian
holistis, growth mindset, berpusat pada siswa. Dalam bahasa Kuhn, TKA ingin
menjadi new normal science. Namun, harapan itu kandas. Alih-alih menggantikan
paradigma lama, TKA justru terjebak kembali ke dalamnya, paradigma seleksi,
skor, dan hafalan. Sekolah yang mengganti pelajaran lain dengan persiapan TKA
ialah bukti bahwa normal science baru belum lahir; yang terjadi hanyalah
revolusi semu. Paradigma lama tidak mati, ia hanya berganti kulit. Kuhn
mengingatkan bahwa perubahan paradigma menuntut gestalt switch—perubahan cara
pandang mendasar. Sayangnya, yang berubah hanya singkatan dan format
administratif. Inilah ironi epistemiknya: TKA lahir dari rahim paradigma
lama, dan kembali ke rahim itu juga. IRONI MORAL Jika Kuhn menjelaskan mengapa sistem gagal
berubah, Arendt menjelaskan mengapa orang-orang di dalamnya tidak pernah
mencoba mengubahnya. Konsep banality of evil menunjukkan kejahatan besar
lahir dari pikiran yang tidak berpikir, ketaatan buta, dan pembiaran. Tiga
ciri Eichmann relevan dengan ekosistem pendidikan kita. Pertama, guru atau
kepala sekolah menjalankan perintah persiapan TKA sebagai kewajiban
administratif, tanpa mempertanyakan dampaknya pada hakikat pendidikan. Kedua,
pengambil kebijakan yang mengaitkan TKA dengan seleksi PTN tidak berpikir
dari sudut pandang siswa tertinggal, mereka melihat data, bukan manusia.
Ketiga, bahasa birokratis 'TKA sebagai instrumen evaluasi kinerja sekolah'
menyamarkan realitas pahit: kelas bimbel, jadwal drill, pelajaran tergeser.
Sistem itu membuat orang baik melakukan hal buruk tanpa merasa bersalah.
Sekolah, guru, dan orangtua hanya 'menjalankan kebijakan', taat tanpa
berpikir kritis. Itulah ironi moralnya: terang TKA tidak pernah sampai karena
mereka yang seharusnya menyalakannya justru sibuk menjalankan rutinitas dalam
kegelapan. MENYALAKAN TERANG YANG SESUNGGUHNYA Kritik tanpa solusi hanyalah keluhan. Karena itu,
TKA harus dikembalikan pada niat awalnya: pisahkan fungsi evaluasi dan
seleksi. Asesmen sekolah sebaiknya low-stakes—untuk pendampingan, bukan
rangking atau sanksi. Tes seleksi PT boleh high-stakes, tetapi harus dirancang
dengan soal penalaran, studi kasus, dan pemecahan masalah, bukan hafalan.
Pemerintah pun wajib mengelola efek sampingnya: akses latihan gratis,
pelatihan guru, dan larangan mengganti pelajaran inti demi drill ujian. PISA
2025 menunjukkan masalahnya bukan kurang latihan soal, melainkan pembelajaran
yang belum membangun nalar sejak awal. Fondasi literasi dan numerasi harus
diperkuat sejak pendidikan dasar—bukan diperbaiki di ujung dengan bimbel dan
drill. Namun, solusi struktural tidak akan cukup tanpa
perubahan cara berpikir. Yang paling mendasar ialah melawan banalitas: guru,
kepala sekolah, orangtua, dan pembuat kebijakan perlu terus bertanya, apa
yang sebenarnya sedang kita lakukan, untuk siapa, dan apakah ini benar-benar
mendidik? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak nyaman karena menuntut kita
berhenti sekadar menjalankan kebijakan. Arendt mengingatkan bahwa kejahatan
besar tidak lahir dari monster, tetapi dari orang-orang biasa yang berhenti
berpikir. Karena itu, terang yang sesungguhnya tidak datang dari pergantian
nama atau format administratif, tetapi dari kesadaran kolektif untuk tidak
lagi taat tanpa bertanya. Di situlah—bukan di ruang birokrasi, melainkan di
ruang-ruang kelas dan ruang guru—terang itu mulai dinyalakan. RA Kartini menulis Habis Gelap Terbitlah Terang
dari balik dinding pingitan—sebuah doa bahwa setelah kegelapan, datanglah
cahaya. Namun, ketika UN dihapus dan TKA diperkenalkan, janji itu justru
berbalik: yang terbit bukan terang, melainkan senja berkepanjangan. TKA
mengulang kegelapan UN dengan nama yang lebih elok. Ironi itu lahir dari
paradigma yang tak berubah dan orang-orang yang berhenti berpikir. Terang
tidak datang dari pergantian nama, tetapi dari keberanian berpikir berbeda.
Selama fungsi evaluasi dan seleksi tidak dipisahkan, selama sekolah tetap
menjadi pabrik skor, selama itu pula pelesetan 'Habis UN Terbit TKA' akan
tetap pahit. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/938230/habis-un-terbit-tka
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar