|
Puji Syukur Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 09 Oktober 2026
|
Pujian
(hamd) adalah kepala syukur. Tetapi kepala yang bagus tetap membutuhkan tubuh
yang bekerja. Kalimat ini hampir selalu muncul dalam
pidato pejabat: “Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang
Maha Esa.” Jika sang pejabat merasa nasionalis, biasanya ia cukup memakai
istilah "Tuhan", bukan "Allah". Presiden mengucapkan puji dan syukur
itu. Menteri mengucapkannya. Gubernur, bupati, wali kota, rektor, kepala
kantor, sampai ketua panitia tujuh belasan juga mengucapkannya. Kalimat itu
sudah seperti seragam dinas. Dipakai di mana-mana, pada musim apa saja. Misalnya Pak Harto, yang hampir selalu
membawa teks saat berpidato. Di antara formula yang akrab dari pidato
kenegaraan ialah ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan ia selalu
mulai dulu dengan "Assalamu'alaikum", dan hebatnya, ia mengucapnya
tanpa tambahan salam agama-agama yang lain. Kita biasanya melewatkan kalimat itu
begitu saja. Masuk telinga kanan, keluar ke kiri. Padahal ada pertanyaan
kecil yang mengusik: mengapa “puji-syukur” selalu bergandengan? Apakah
keduanya benar-benar sama? Jawabannya: ternyata puji dan syukur tidak persis
sama. Kitab bacaan saya, Al-Mu'jam al-Furuq
al-Dalaliyyah fi al-Qur'an al-Karim karya Dr. Muhammad Muhammad Dawud
menjelaskan perbedaan itu dengan cukup rinci. Kata hamd dan syukr memang
berdekatan maknanya, tapi keduanya berbeda. Keduanya bertemu pada satu pengertian
umum: الثناء على الجميل, memuji sesuatu yang baik atau indah. Dan keduanya
mempunyai wilayah masing-masing. Saya mulai dari hamd (pujian). Ia
dapat muncul karena kita mengucapkannya usai memperoleh nikmat dan pemberian
dari Allah SWT. Namun, ia juga dapat muncul karena sifat yang melekat pada
seseorang. Kita tak jarang memuji seseorang
karena ia memberi kita sesuatu. Kita juga memujinya karena ia berilmu,
berani, dermawan, atau memiliki sifat terpuji lainnya. Karena itu, kita
mengucapkan pujian (hamd) tanpa kita harus menunggu menerima hadiah dari
mereka. Kita bisa memuji orang yang memiliki
keberanian, meskipun ia tidak pernah memberi kita apa-apa. Kita bisa memuji
orang karena ilmunya, meskipun ilmu itu tidak sedang ia gunakan untuk
menolong kita. Pujian melihat sesuatu yang baik pada objeknya. Al-Zamakhsyari dalam kitab tafsirnya,
al-Kasysyaf, bahkan mengatakan bahwa hamd dan madḥ (juga pujian) merupakan
dua kata yang bersaudara. Keduanya berarti pujian terhadap sesuatu yang baik,
berupa nikmat maupun bukan nikmat. Ahli tafsir tersebut memberi contoh:
seseorang dapat dipuji karena pemberiannya, tetapi dapat pula dipuji karena
kemuliaan nasab dan keberaniannya. Di sini kata hamd memiliki wilayah dan
cakupan pengertian yang luas. Lebih dari itu, hamd dapat diberikan
atas nikmat yang sampai ke kita maupun nikmat yang sampai ke orang lain. Kita
dapat memuji Allah karena suatu kebaikan yang kita terima. Kita juga dapat
memuji Allah karena kebaikan yang Dia berikan kepada orang lain. Sekarang giliran kata syukr, yang
mempunyai pengertian lebih khusus dan batasan. الشكر لا يكون إلا على النعمة والعطاء “Syukur hanya berkaitan dengan nikmat
dan pemberian.” Bukan hanya itu. Syukr berkaitan
dengan nikmat yang sampai kepada kita. Jadi, kalau tetangga memperoleh
rezeki, kita dapat memuji Allah, dengan mengucapkan alhamdulillah, atas
karunia-Nya kepada tetangga itu. Tetapi ketika kita bersyukur, objeknya ialah
nikmat yang sampai kepada diri kita saja, bukan orang lain. Perbedaan berikutnya bahkan lebih
menarik. Para ulama menyebut, hamd dilakukan dengan lisan. Sementara syukr
melibatkan tiga wilayah sekaligus: hati, lisan, dan anggota badan. Di sinilah syukur menjadi lebih berat
dari sekadar ucapan. Hati mengenali nikmat. Lisan mengakuinya. Anggota badan
menunjukkan respons terhadap nikmat itu. Syukur, dengan demikian, bukan hanya
suara. Ia mempunyai tubuh. Al-Zamakhsyari menjelaskan bahwa hamd
merupakan salah satu cabang syukr. Ia mengutip ungkapan: الحمد رأس الشكر —
“Hamd adalah kepala syukur.” Perumpamaannya bagus. Syukur seperti
tubuh yang mempunyai kepala. Hamd menjadi kepala karena lisan menyebut nikmat
dan memuji Pemberinya. Mengapa lisan mendapat tempat penting?
Karena pekerjaan hati tersembunyi. Gerak anggota badan juga dapat menimbulkan
banyak kemungkinan maksud. Tetapi lisan dapat membuka sesuatu yang tersembunyi
dan menjelaskan sesuatu yang samar. Lisan mengumumkan apa yang ada di dalam
hati. Maka hamd memiliki unsur yang khas: المحبة
والإجلال — cinta dan pengagungan. Kita tidak sekadar mengatakan bahwa sesuatu
itu baik. Kita memuji dengan rasa cinta dan penghormatan. Karena itu, ketika kita mengucapkan
al-hamdulillah, kita tidak sedang mengisi ruang kosong dalam pembukaan
pidato. Kita sedang menyatakan pengakuan, cinta, dan pengagungan kepada
Allah. Sementara itu, syukur tidak berhenti
pada lisan. Syukur berlangsung melalui hati, lisan, dan anggota badan. Hati
mengakui. Lisan memuji. Anggota badan bertindak. Karena itu, syukur tidak
cukup menjadi bunyi yang keluar dari pengeras suara. Al-Qur'an memberi contoh yang sangat
kuat melalui keluarga Nabi Dawud As.: اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ
مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ “Bekerjalah, wahai keluarga Dawud,
sebagai bentuk syukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang
benar-benar bersyukur.” (Qs Saba' [34]: 13). Perhatikan kata yang dipakai Allah: اعْمَلُوا.
Bekerjalah. Bukan sekadar “ucapkanlah”. Maka syukur memiliki konsekuensi
kerja. Nikmat yang masuk ke tangan menuntut tangan melakukan sesuatu. Ilmu
menuntut amal. Kekuasaan menuntut tanggung jawab. Kekayaan menuntut kebaikan.
Kesehatan menuntut penggunaan yang benar. Kalau syukur berhenti di bibir, tubuh
syukur belum lengkap. Al-Qur'an juga berkata: فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا
طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ “Maka makanlah dari rezeki yang telah
diberikan Allah kepada kalian yang halal lagi baik, dan bersyukurlah atas
nikmat Allah.” (Qs An-Nahl [16]: 114). Perhatikan lagi: ada nikmat, lalu ada
syukur. Syukur mempunyai objek konkret. Begitu pula: فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا
لِي وَلَا تَكْفُرُونِ “Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku
akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari-Ku.” (Qs Al-Baqarah [2]: 152). Al-Qur'an berkali-kali menggunakan
ungkapan لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ, “agar kamu bersyukur”. Sebaliknya, ketika Al-Qur'an berbicara
tentang hamd, kita menemukan wilayah yang lebih luas. Ayat pembuka Al-Fatihah mengatakan: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh
alam.” (QS Al-Fatihah [1]: 2). Para malaikat berkata: وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ
لَكَ “Sedangkan kami bertasbih dengan
memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu.” (QS Al-Baqarah [2]: 30). Al-Qur'an juga mengatakan: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ “Segala puji bagi Allah yang telah
menciptakan langit dan bumi serta menjadikan kegelapan dan cahaya.” (Qs Al-An'am [6]: 1). Dan: وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ
وَلَدًا “Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi
Allah yang tidak mempunyai anak.’” (Qs Al-Isra' [17]: 111). Ayat-ayat itu memperlihatkan keluasan
hamd. Kita memuji Allah bukan hanya karena satu nikmat yang baru saja masuk
ke rekening kehidupan kita. Kita memuji-Nya karena Dia adalah Allah, Pencipta
langit dan bumi, Pemilik kesempurnaan dan segala sifat terpuji. Karena itu, kitab al-Mu'jam tersebut
membedakan pula lawan kedua kata itu. الحمد نقيضه الذم، والشكر نقيضه الكفران “Lawan hamd adalah celaan, sedangkan
lawan syukr adalah pengingkaran nikmat.” Ini menarik. Hamd berhadapan dengan
dzam; pujian berhadapan dengan celaan. Sedangkan syukr berhadapan dengan
kufran; pengakuan nikmat berhadapan dengan pengingkaran nikmat. Maka seseorang dapat mengucapkan hamd
dengan lisannya. Tetapi untuk membuktikan syukr, ia harus membawa hati dan
tubuhnya ikut bekerja. Di sinilah kebiasaan pidato kita
mendapat cermin kecil. Kita sering mengatakan, “Marilah kita panjatkan puji
dan syukur.” Tidak ada yang keliru dengan ungkapan
itu selama kita memahami isinya. Masalah muncul ketika kalimat tersebut
menjadi sekadar pembuka acara, sementara makna syukur berhenti sebelum acara
benar-benar dimulai. Mikrofon mudah mengucapkan syukur.
Tiga detik selesai. Padahal tangan membutuhkan waktu lebih panjang untuk
membuktikannya. Seorang pejabat memperoleh jabatan. Ia
mengucapkan syukur. Maka syukurnya tidak cukup berupa kalimat dalam sambutan.
Ia harus menggunakan jabatan itu dengan benar. Seseorang memperoleh ilmu. Ia
mengucapkan syukur. Maka syukurnya tidak selesai dengan gelar di depan atau
di belakang nama. Ia harus menggunakan ilmunya. Seseorang memperoleh kekayaan. Ia
mengucapkan syukur. Maka hartanya harus melahirkan manfaat. Seseorang memperoleh kekuasaan. Ia
mengucapkan syukur. Maka kekuasaan itu harus melahirkan keadilan. Inilah bedanya kalimat dengan
tindakan. Hamd dapat menjadi kepala syukur. Ia mengawali pengakuan dengan
lisan. Tetapi kepala tidak boleh berjalan sendirian tanpa tubuh. Mungkin karena itu kita perlu lebih
hati-hati ketika mengucapkan “puji dan syukur”. Bukan supaya pidato menjadi
lebih rumit. Justru supaya kalimat yang sudah terlalu biasa itu kembali
mempunyai isi. Hamd adalah pujian kepada Yang Maha
Terpuji. Ia dapat lahir karena nikmat, tetapi juga karena sifat
kesempurnaan-Nya. Ia keluar melalui lisan, dengan cinta dan pengagungan. Syukr adalah pengakuan atas nikmat
yang kita terima. Ia bergerak melalui hati, lisan, dan anggota badan. Jadi, ketika seorang pejabat berkata,
“Saya panjatkan syukur kepada Allah,” kita tidak perlu sibuk menghitung
berapa kali ia mengucapkannya. Lihat saja setelah pidato selesai. Apa
yang dilakukan tangannya? Ke mana langkah kakinya? Untuk siapa kekuasaannya?
Ke mana ilmunya mengalir? Di situlah syukur diuji. Sebab hamd bisa menjadi kepala syukur.
Tetapi kepala yang bagus tetap membutuhkan tubuh yang bekerja. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar