|
Mengapa Gibran Harus Dihabisi? Pepih Nugraha : Kolumnis. |
ORBIT INDONESIA, 02 Oktober 2026
|
Apakah Anda melihat
sesuatu yang menarik dari kegaduhan
politik kita belakangan ini? Saya sih melihat bahkan cukup dengan mata
telanjang. Apa itu? Coba simak... Presiden dimusuhi itu
biasa. Sejak Soekarno, Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Susilo
Bambang Yudhoyono sampai Joko Widodo, semuanya pernah menjadi sasaran kritik,
gugatan, hujatan, bahkan upaya menjatuhkan. Presiden memang pusat
kekuasaan eksekutif. Konstitusi tegas menyebut Presiden memegang
kekuasaan pemerintahan dan dalam
menjalankan kewajibannya dibantu seorang Wakil Presiden. Tetapi Wakil Presiden?
Nah, ini yang agak laen. Kini ijazah Mas Wapres
ikut diobok-obok. Bukan sekadar dibicarakan di warung kopi atau media sosial,
melainkan sudah masuk ruang sidang Mahkamah Konstitusi. Kurang gila apa coba? Pada September 2026,
Denny Indrayana bersama para pemohon lain mengajukan PHPU terkait keabsahan
syarat pendidikan Gibran. Mereka mempersoalkan
antara lain surat keterangan penyetaraan pendidikan dan meminta MK menilai
konsekuensi hukumnya terhadap pencalonan sampai pelantikan Gibran. Tentu, kalau ada dugaan
pelanggaran hukum, periksa saja. Negara hukum memang begitu, toh? Yang menjadi pertanyaan
bukan apakah Gibran boleh diperiksa. Tentu boleh. Pertanyaannya, mengapa
sosok Gibran begitu penting untuk terus diperiksa, dipersoalkan, bahkan
hendak dibongkar legitimasi
politiknya? Kalau hanya soal ijazah,
bukankah negara mempunyai mekanisme administrasi, KPU, Bawaslu, pengadilan,
dan berbagai lembaga verifikasi? Mengapa persoalan yang muncul setelah
orangnya menjadi Wakil Presiden kembali dibuka? Menarik, kan? Gibran bukan lagi anak
muda yang dulu datang menunduk kepada para ketua partai. Suka atau tidak,
hari ini ia Wakil Presiden Republik Indonesia. Ia dilantik bersama
Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2024 untuk masa jabatan 2024-2029.
Dan secara konstitusional, Presiden-Wakil Presiden dipilih langsung oleh
rakyat dalam satu pasangan. Itu fakta sajarah. Jadi, Gibran bukan Wakil
Presiden hasil penunjukan para ketua umum partai setelah pertandingan
selesai. Ia berada dalam satu tiket yang dipilih melalui pemilu. Lalu di mana letak
bahayanya Gibran bagi sebagian politisi? Bukan bahaya dalam arti
Gibran pasti menang pada 2029. Itu belum bisa diketahui. Bahaya politiknya
justru lebih sederhana: Gibran berpotensi menjadi pemain! Dalam ranah
"ludens" (permainan), pemain baru yang belum habis masa depannya
kadang lebih menakutkan daripada pemain lama yang sudah diketahui seluruh
kartu di tangannya. Usianya muda. Jabatannya
sekarang tinggi. Nama belakangnya sudah dikenal seluruh negeri, Jokowi. Dan
yang paling penting, ia memiliki kemungkinan untuk membangun rekam jejak
politiknya sendiri. Apakah Gibran akan
menjadi calon presiden 2029? Belum tentu. Apakah ia akan menang?
Tak seorang pun bisa memastikan hari ini. Tetapi justru karena
kemungkinan itu ada, pertarungan politik bisa dimulai jauh sebelum surat
suara dicetak. Maka muncullah pertanyaan
yang lebih nakal: Apakah yang sedang digugat sebenarnya ijazah Gibran, atau
masa depan politik Gibran? Saya tidak mengatakan
jawabannya pasti yang kedua. Tetapi pertanyaan itu sah
saya ajukan. Sebab, politikus yang rasional tentu tidak hanya menghitung
siapa yang sedang berkuasa hari ini. Ia juga menghitung siapa yang mungkin
menjadi lawan besok. Di situlah Gibran menjadi menarik. Mereka yang tidak mampu
mengalahkannya di gelanggang pemilu tentu bisa saja tergoda mencari
gelanggang lain semisal legitimasi, administrasi, hukum, citra, dan opini
publik dengan Denny Indrayana dan kawan-kawan sebagai bidak di Mahkamah
Konstitusi. Ini bukan tuduhan kepada
pihak tertentu, hanya membaca pola politik saja. Elek-elek begini saya pernah
bertahun-tahun menjadi wartawan politik. Jokowi pun pernah
mengalami pola serupa. Dulu ia pernah diberi cap “plonga-plongo”. Sebutan itu
ternyata tidak otomatis menghapus karier politiknya. Ia tetap melaju dari Solo
ke Jakarta, dari Jakarta ke Istana, lalu menjadi salah satu tokoh politik
Indonesia yang paling dikenal selama satu dekade. Kini perkara ijazahnya
sendiri menjadi arena pertarungan opini. Ada Roy Suryo dan Tifa sebagai pion
yang menguasai ruang publik. Lalu Gibran menyusul.
Seolah sejarah sedang berkata, kalau tidak bisa dikalahkan di kotak suara,
coba kalahkan di ruang persepsi! Masalahnya, strategi
semacam itu punya risiko bumerang. Semakin seseorang diserang, semakin publik
penasaran. Semakin dilarang percaya, semakin orang bertanya. Semakin seseorang
dikatakan tidak layak, sebagian orang justru bertanya: “Memangnya kenapa?”
Begitulah hukum psikologi massa bekerja. Ada pula paradoks lain.
Ketika kredibilitas pendidikan Gibran dipersoalkan karena sekolahnya di luar
negeri, maka yang ikut terseret ke dalam perdebatan adalah sistem pendidikan
luar negeri dan mekanisme penyetaraannya. Gugatan yang sekarang berlangsung justru
memberi ruang bagi semua dokumen itu untuk diuji secara terbuka. Jadi, silakan buka.
Silakan periksa. Silakan uji, termasuk Presidennya juga. Tetapi jangan
berharap setiap pembukaan dokumen otomatis menghasilkan kehancuran seseorang.
Bisa saja justru sebaliknya. Karena ketika sebuah
tuduhan dibawa ke ruang publik, publik juga berhak melihat apakah bukti yang
dibawa memang sekuat tuduhannya. So, para penyerang Gibran
harus berhati-hati dan harus pintar. Sebab menggugat seseorang tidak otomatis
membuat orang itu kehilangan simpati. Salah-salah justru membuatnya menjadi
pusat perhatian. Jokowi pernah menjadi
pusat perhatian. Kini Gibran menjadi pusat perhatian. Dan setiap hari, nama
mereka kembali masuk berita. Bukankah itu ironi? Orang
ingin menghapus seseorang dari panggung, tetapi justru menyediakan panggung
yang lebih besar untuknya. Politik memang sering
lucu. Yang hendak dibunuh secara
politik kadang justru diberi oksigen. Lalu ada satu pertanyaan
yang lebih besar lagi: Mengapa harus Gibran? Kalau persoalannya murni
hukum, biarkan hukum bekerja. Kalau persoalannya administrasi, periksa
administrasinya. Kalau persoalannya pendidikan, periksa dokumennya. Kalau
persoalannya konstitusi, biarkan hakim konstitusi memutus. Tetapi kalau persoalannya
sudah berubah menjadi proyek untuk menghabisi masa depan politik seseorang,
publik pantas bertanya: siapa yang sebenarnya sedang ketakutan? Kompetisi politik yang
sehat seharusnya bukan tentang bagaimana membuat lawan tidak bisa menjadi
calon. Kompetisi yang sehat adalah bagaimana membuat diri sendiri lebih layak
dipilih. Jangan paksa rakyat
mengagumi orang yang kita kagumi. Tetapi jangan pula paksa rakyat membenci
orang yang kita benci. Rakyat yang waras bukan
anak kecil. Ia bisa melihat. Ia bisa membandingkan. Ia bisa memilih. Karena itulah, setiap
upaya politik untuk “menghabisi” seseorang sebelum pertarungan sebenarnya
dimulai bisa menjadi perjudian yang mahal. Gibran mungkin bukan
ancaman. Tetapi potensi seorang pemain muda selalu menjadi persoalan bagi
pemain lama (baca: tua) yang merasa kursinya terlalu nyaman. Dulu anak muda ini
menunduk kepada para ketua partai. Sekarang ia menjadi Wakil Presiden,
sementara sebagian orang yang dahulu menentukan arah permainan berada di
posisi lain dalam pemerintahan.
Susunan pemerintahan 2024-2029 sendiri memperlihatkan banyak ketua atau tokoh
partai berada dalam kabinet Prabowo. Waktu memang punya cara
sendiri mempermalukan kesombongan politik. Yang kemarin disungkemi, hari ini
bisa saja berdiri di belakangnya. Yang kemarin dianggap anak kemarin sore,
hari ini sudah duduk di kursi Wakil Presiden. Maka jangan terlalu cepat
mengatakan Gibran tidak berbahaya. Bukan karena ia pasti menjadi Presiden.
Bukan pula karena ia pasti menang pada 2029. Belum ada yang tahu. Tetapi karena ia masih
mempunyai waktu. Politikus petualang yang tidak mau keluar keringat biasanya
takut sama waktu daripada takut sama Tuhan. Waktu adalah modal. Kalau kemudian Gibran
maju pada 2029, rakyatlah yang menentukan. Kalau tidak maju, selesai. Kalau kalah, selesai.
Kalau menang, berarti rakyat memilihnya. Sesederhana itu. Yang menjadi berbahaya
justru kalau kita membangun demokrasi dengan cara membuat seseorang harus
dihancurkan terlebih dahulu sebelum rakyat sempat menentukan pilihannya. Demokrasi bukan
pertandingan untuk mencari siapa yang paling pandai menjegal. Demokrasi
adalah pertandingan untuk melihat siapa yang mampu meyakinkan rakyat. Maka kepada para pembenci
Gibran (kalau memang ada), janganlah kalian terlalu sibuk menghabisi Gibran. Kepada politikus yang
ngebet jadi presiden, kalau Anda merasa lebih baik, tampilkan kualitas Anda. Kalau merasa lebih
pintar, buktikan gagasan Anda. Kalau merasa lebih layak menjadi presiden,
datanglah ke gelanggang. Jangan minta wasit
mengeluarkan pemain sebelum pertandingan dimulai. Itu cemen namanya, Bro. Rakyat akan bertanya
sederhana saja: “Kalau memang Anda hebat dan brilian, mengapa harus takut
kepada Gibran?” Pertanyaan sederhana
seperti itu kadang jauh lebih mematikan daripada seribu spanduk kampanye. Ye, kan? ● Sumber : https://orbitindonesia.com/detail/VfVT1pZJcb/pepih-nugraha-mengapa-gibran-harus-dihabisi
|