|
Abuleke Bahlil Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 08 Oktober 2026
Mereka pun
berbisik satu sama lain: "Apa itu abuleke?"
Saya juga tidak
tahu. Saya ganti berbisik ke orang di sebelah saya –yang orang itu juga baru
berbisik ke orang di sebelahnya. Akhirnya saya tahu arti abuleke –yang dua kali
diucapkan Menko Bahlil Lahadalia saat berpidato di Investor Daily Summit 2026
di Raffles Hotel, Kuningan, Jakarta, kemarin.
"Ini
penugasan saya yang pertama sebagai menteri koordinator Hilirisasi dan Transisi
Energi," ujar Bahlil. "Saya belum punya deputi, belum punya struktur
organisasi, dan belum punya anggaran. Masih digodok," katanya.
Yang jelas,
kata Bahlil, meski jabatannya dua, menteri gajinya hanya satu: sebagai menteri
Energi dan Sumber Daya Alam. "Jangan ada yang bersangka gaji saya dua,
yang itu memboroskan uang negara," katanya. Untuk sementara anggaran
sebagai menko pun diambil dari anggaran Kementerian ESDM.
Kata
''abuleke'' diucapkan Bahlil dua kali saat menjawab banyaknya sorotan masyarakat
soal ketatnya persetujuan RKAB tambang batu bara. ''Abuleke'' adalah bahasa
Papua yang artinya ''ngibul''. Atau ''omong kosong''. Bahlil memang orang
Fakfak yang pernah bekerja sebagai kernet angkot di sana.
Baru dari
pidato Bahlil itu saya tahu: jumlah produksi batu bara di perusahaan-perusahaan
besar sengaja dikurangi karena ada permintaan dari perusahaan-perusahaan kecil.
Itu demi pemerataan. "Jangan hanya yang besar-besar yang semakin besar,
sedang yang kecil mati," katanya.
Kalau yang
kecil-kecil diberi izin sedang yang besar tidak dikurangi, produksi batu bara
akan terlalu besar. Akhirnya harga batu bara di pasar internasional tidak bisa
naik. "Sekarang terbukti. Harga batu bara kalori 6.000 ke atas naik sampai
USD140 /ton," kata Bahlil.
Sejak akhir
tahun lalu pengusaha besar tambang batu bara memang menjerit-jerit: izin
produksinya disunat –ada yang sampai separo. Ada yang menyangka itu strategi
Bahlil untuk bisa nego apa saja dengan pemilik tambang. Baru kemarin Bahlil
membuka alasan sebenarnya.
Bahlil tidak
hanya akan berhenti di situ. "Baru saja saya keluarkan peraturan baru
lagi. Kontraktor tambang batubara harus melibatkan kontraktor setempat,"
ujar Bahlil. "Tidak bisa lagi Pak Enggar yang punya tambang besar,
kontraktornya pun perusahaan Pak Enggar sendiri, bahkan pemasok makanannya juga
perusahaan Pak Enggar. Itu abuleke namanya," ujar Bahlil.
Nama ''Pak
Enggar'' disebut di situ hanya sebagai contoh fiksi untuk tidak menyebut nama
pengusaha tambang yang sebenarnya. Enggartiasto Lukita adalah pemilik
B-Universe –induk Investor Daily yang menyelenggarakan summit kemarin. Enggar
orang Cirebon yang sukses jadi pengusaha besar di Jakarta –pernah jadi ketua
REI Pusat, anggota DPR, ketua Nasdem, dan ketua Golkar pusat.
"Kalau mau
balik ke Golkar masih diterima," ujar Bahlil yang juga ketua umum Partai
Golkar. "Pak Suswono pun kalau mau balik ke Golkar pintu masih
terbuka," katanya.
Siswono Yudo
Husodo, 84 tahun, mantan menteri perumahan, memang duduk di barisan depan. Di
situ tampak juga Hatta Rajasa, Bambang Soesatyo dan Anwar Usman yang ketiganya
baru dilantik jadi pimpinan dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
Saya pun
bertanya kepada salah satu anggota Wantimpres itu: benarkah gaji mereka sebesar
Rp76 juta/bulan. Semula saya tidak percaya gaji Wantimpres naik sedrastis itu.
Kalau benar, itu keterlaluan. Ternyata dibenarkan. Itu mengacu ke gaji anggota
DPR. Hanya saja untuk anggota DPR masih banyak tambahan tunjangan macam-macam
lagi.
Di summit
kemarin, Bahlil sebagai orang Papua, telah berhasil membuat satu kata dalam
bahasa Papua menjadi menasional: abuleke.
Sepanjang
summit saya menyimak isi pidato-pidato itu dengan seksama. Sekalian
bernostalgia semasa jadi reporter muda. Bedanya, sekarang saya bisa sambil
menilai: mana pidato yang berisi dan mana yang hanya abuleke.
Kemarin saya
juga punya catatan khusus: pidato Bahlil sudah sangat berisi. Runtut. Logis.
Jelas. Rupanya Bahlil tergolong orang yang fast learner. Celetukan
lucunya masih ada –dan itu juga penting– tapi sudah lebih terkontrol. Ia bukan
lagi golongan abuleke.
Yang tampil
setelah Bahlil adalah Hashim Djojohadikusumo –adik Presiden Prabowo. Hasyim
melihat ada dua sektor yang bisa membuat ''Indonesia Terang''. Pertama sektor
perumahan dengan segala kaitan langsungnya. Ekonomi Tiongkok, katanya, bisa
tumbuh tinggi karena berpuluh tahun lamanya sektor perumahan menyumbang
pertumbuhan sampai 30 persen. "Kita baru 14 persen," ujar Hashim.
Yang kedua
adalah internet. Persentase konektivitas internet terkait langsung dengan
pertumbuhan ekonomi. "Di Korea 80 persen penduduknya tersambung internet
selama 24 jam," ujar Hashim. "Kita baru 15 persen," tambahnya.
Memang, kata
Hashim, ketersambungan penduduk Indonesia ke internet sudah tinggi. Tapi yang
24 jam baru 15 persen. "Dan lagi," katanya sambil mengayun-ayunkan
HP, "kita umumnya tersambung internet masih lewat HP". "Itu
mahal sekali," katanya.
Ternyata Hasyim
melihat pentingnya "bonus demografi" dari sektor ini. Penetrasi
internet di Indonesia akan tumbuh besar karena jumlah anak mudanya yang
dominan. "Berarti masa depan kita terang," katanya seperti ikut
membela kakaknya.
Tentu Hashim
juga bicara di bidang green energi yang menjadi tugasnya sebagai utusan khusus
Presiden Prabowo. Hasyim memuji Petrokimia Gresik yang punya kisah sukses dalam
menjalankan carbon capture. Bukan hanya emisinya bisa dikurangi sampai 95
persen; lebih dari itu hasil tangkapan emisi tersebut punya nilai ekonomi
tambahan. Bisa untuk bahan baking soda (sodium bicarbonate).
Lalu,
tercapainya swasembada pangan juga memberi kabar baik untuk lingkungan hidup.
"Produksi beras sudah cukup. Berarti perluasan sawah jutaan hektare tidak
diperlukan lagi," ujar Hasyim. Bahkan, kata Hasyim, kita sudah ekspor
beras ke Malaysia sebanyak setengah juta ton.
"Itu bisa
menjawab kekhawatiran internasional bahwa Indonesia akan banyak menebang hutan
untuk perluasan sawah," katanya.
Sebagai
reporter, saya akan menyerahkan hasil liputan ini ke redaksi Disway. Suasana
kebatinan saya sudah berbeda. Dulu, begitu menyerahkan hasil liputan ada
ketakutan: dimarahi redaktur. Takut disuruh menulis ulang yang lebih baik.
Takut disuruh wawancara lagi untuk memperkaya isi tulisan.
Kini saya
menyerahkan tulisan ini ke redaksi dengan hati mantap: tidak akan dimarahi atau
disuruh menulis ulang. Tulisan ini rasanya sudah bukan jenis tulisan abuleke. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/972413/abuleke-bahlil
Tidak ada komentar:
Posting Komentar