|
MENGAPA SIMPATI PUBLIK AMERIKA KINI BERGESER KE PALESTINA, DAN
MENJAUH DARI ISRAEL Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 02 Oktober 2026
|
Bayangkan
seorang anak berdiri di antara puing rumahnya. Debu menempel di rambut. Di
belakangnya, sebuah kota kehilangan bentuk. Di tangannya, tak ada senjata.
Hanya sebuah botol kosong. Mungkin
ia mencari air. Mungkin mencari keluarganya. Kita tidak mengenal namanya.
Tetapi gambar-gambar serupa dari Gaza, hari demi hari, membuat jutaan orang
Amerika melihat wajah seperti itu. Di
zaman ini, perang dapat berlangsung ribuan kilometer jauhnya. Namun satu
wajah yang terluka dapat memasuki ruang keluarga, lalu perlahan mengubah
percakapan sebuah bangsa. -000- Sesuatu
memang sedang berubah di Amerika Serikat. Bukan perubahan sederhana. Bukan
pula berarti Amerika tiba-tiba menjadi anti-Israel, apalagi membenarkan
Hamas. Yang berubah adalah peta simpati. ReferensiGeografis Dukungan
yang dahulu sangat condong kepada Israel kini semakin terbelah, terutama
ketika publik menilai perang di Gaza dan cara perang itu dijalankan. Gallup
pada Februari 2026 menemukan 41 persen warga Amerika lebih bersimpati kepada
Palestina, sementara 36 persen lebih bersimpati kepada Israel. Untuk pertama
kalinya dalam seperempat abad, Israel tidak lagi unggul. Secara
statistik, Gallup menegaskan selisih lima poin itu belum signifikan, karena
margin kesalahannya empat poin. Karena itu, tidak tepat mengatakan secara
mutlak bahwa Amerika kini memilih Palestina. Namun
sejarah angkanya mencolok. Pada 2018, simpati kepada Israel mencapai 64
persen, sedangkan Palestina hanya 19 persen. Sejak itu, jarak tersebut
cenderung menyempit. Pada
2024, perbandingannya masih 51 melawan 27. Tahun 2025 menjadi 46 melawan 33.
Pada 2026, angkanya berbalik menjadi 36 melawan 41. Yang
lebih mengejutkan, survei Februari 2026 itu dilakukan beberapa bulan setelah
gencatan senjata. Perang besar telah mereda, tetapi simpati tetap bergerak.
Ingatan rupanya bekerja lebih lama daripada perang. Inilah
perubahan sesungguhnya. Bukan kemenangan satu pihak dalam opini publik,
melainkan hilangnya keunggulan simpati yang selama lebih dari dua dekade
dinikmati Israel. Pew
Research Center memberikan potret lain. Survei 4 sampai 17 Mei 2026 menemukan
62 persen warga Amerika berpandangan negatif terhadap pemerintah Israel. Pada
2022, angkanya baru 43 persen. Namun
di sinilah kehati-hatian intelektual diperlukan. Pemerintah Israel bukan
rakyat Israel. Israel bukan Netanyahu. Palestina bukan Hamas. Setiap pasangan
itu harus dipisahkan agar kita tidak tergelincir pada kesimpulan yang keliru. Ketika
membaca angka-angka ini, bagian yang paling mengusik bagi saya justru bukan
41 melawan 36. Yang lebih bermakna adalah jarak antara penilaian terhadap
pemerintah dan terhadap rakyatnya. Terhadap
rakyat Israel, 52 persen warga Amerika masih berpandangan positif. Terhadap
rakyat Palestina, angkanya 50 persen. Keduanya hampir berimbang, jauh berbeda
dari penilaian terhadap pemerintah Israel. Hamas
justru tetap sangat tidak populer. Sebanyak 84 persen warga Amerika memiliki
pandangan negatif terhadap Hamas, menurut survei Pew yang sama. Hanya sepuluh
persen yang memandangnya positif. Karena
itu, meningkatnya simpati kepada Palestina tidak dapat disederhanakan sebagai
dukungan kepada Hamas. Justru di sanalah perubahan opini Amerika menjadi
lebih menarik untuk dibaca. Publik
semakin membedakan sebuah bangsa dari pemerintahnya, korban sipil dari
kelompok bersenjata, serta hak atas keamanan dari cara sebuah perang
dijalankan. Mengapa
pergeseran sebesar itu terjadi? Setidaknya ada tiga penjelasan: cara perang
dilihat, lensa generasi muda, dan
politik Amerika sendiri yang sedang terbelah. -000- PERTAMA,
GAZA MENGUBAH CARA PERANG DILIHAT Tanggal
7 Oktober 2023 tetap menjadi luka besar. Hamas menyerang Israel, membunuh
warga sipil dan membawa sandera. Trauma yang ditinggalkan serangan itu nyata
dan tidak boleh dilupakan. Tetapi
setelah itu perang memanjang. Kamera terus bekerja. Setiap hari, publik
Amerika juga menyaksikan wajah lain konflik: kehancuran kota, kelaparan, dan
penderitaan warga Palestina. Persepsi
sebagian publik pun bergeser. Konflik tidak lagi semata dilihat sebagai
persoalan keamanan Israel menghadapi Hamas, tetapi juga sebagai tragedi
kemanusiaan yang menimpa warga Gaza. Gallup
pada Juli 2025 menemukan hanya 32 persen warga Amerika menyetujui operasi
militer Israel di Gaza. Sebanyak 60 persen menyatakan tidak setuju. Itulah
angka terendah sejak pengukuran dimulai. Bandingkan
dengan November 2023. Ketika Gallup pertama kali mengukurnya, 50 persen masih
menyetujui operasi militer Israel, sedangkan 45 persen tidak menyetujuinya. Pew
menemukan pola serupa. Pada September 2025, 39 persen mengatakan operasi
Israel terhadap Hamas telah berjalan terlalu jauh, naik dari 27 persen pada
akhir 2023. Polling
tentu tidak membuktikan bahwa gambar penderitaan Gaza sendirian menyebabkan
perubahan tersebut. Korelasi opini tidak otomatis menjelaskan seluruh rantai
sebab akibat. Namun
urutan waktunya penting. Ketika perang memanjang, dukungan terhadap operasi
militer Israel menurun, sementara kekhawatiran terhadap nasib warga sipil
semakin menguat. Perang
modern ternyata berlangsung di dua medan. Yang pertama adalah tanah tempat
tentara bertempur. Yang kedua adalah layar tempat dunia memberikan penilaian. Tank
dapat menghancurkan bangunan dalam hitungan detik. Tetapi sebuah foto anak di
antara reruntuhan dapat tinggal dalam ingatan manusia selama bertahun-tahun. -000- KEDUA,
GENERASI MUDA MELIHAT DENGAN LENSA BERBEDA Generasi
Amerika yang lebih tua tumbuh dengan memori Holocaust, Perang Dingin, dan
kisah Israel sebagai negara kecil yang berjuang mempertahankan eksistensinya
di tengah tetangga yang memusuhinya. Generasi
muda memasuki cerita itu melalui pintu berbeda. Mereka tumbuh bersama media
sosial, diskursus hak asasi, ketimpangan kekuasaan, politik identitas, dan
gambar penderitaan sipil. Akibatnya,
dua generasi dapat menyaksikan konflik yang sama, membaca sejarah yang sama,
tetapi sampai pada intuisi moral yang sangat berbeda. Pew
Mei 2026 menemukan hanya 32 persen warga Amerika berusia 18 sampai 29 tahun
berpandangan positif terhadap rakyat Israel. Terhadap rakyat Palestina,
angkanya 58 persen. Terhadap
pemerintah Israel, penilaian positif kelompok muda itu bahkan hanya 18
persen. Angka ini menunjukkan jarak yang sangat lebar antara generasi baru
dan sikap resmi Washington. Bandingkan
dengan warga berusia 65 tahun ke atas. Sebanyak 68 persen masih berpandangan
positif terhadap rakyat Israel dan 47 persen terhadap pemerintah Israel. Perbedaan
ini penting karena generasi bukan sekadar kategori statistik. Generasi adalah
waktu yang sedang berjalan menuju masa depan, membawa ingatan dan luka
zamannya sendiri. Mahasiswa
hari ini kelak menjadi senator, profesor, jurnalis, pengusaha, diplomat,
pemimpin organisasi, dan pembentuk opini Amerika dua puluh tahun mendatang. Karena
itu, perubahan terdalam mungkin bukan apa yang dipikirkan Amerika hari ini.
Yang lebih penting adalah memori moral yang sedang dibentuk pada generasi
berikutnya. -000- KETIGA, POLITIK AMERIKA SENDIRI SEDANG TERBELAH Selama
puluhan tahun, dukungan kepada Israel menjadi salah satu sedikit wilayah
kesepakatan Republikan dan Demokrat. Kini, wilayah itu ikut terseret ke dalam
polarisasi politik Amerika. Pada
Mei 2026, 51 persen Republikan masih berpandangan positif terhadap pemerintah
Israel. Di kalangan Demokrat, angkanya hanya 16 persen. Jaraknya lebih dari
tiga kali lipat. Bahkan
terhadap rakyat Israel, jarak itu terasa. Sebanyak 65 persen Republikan
berpandangan positif, sementara di kalangan Demokrat hanya 43 persen. Israel
kian dibaca melalui kacamata partai. Gallup
memperlihatkan pola yang sama terhadap perang. Pada Juli 2025, 71 persen
Republikan menyetujui operasi militer Israel di Gaza. Di kalangan Demokrat,
persetujuan itu tinggal 8 persen. Retakan
itu bahkan mulai muncul di dalam kubu Republikan sendiri. Survei Pew Maret
2026 menemukan 57 persen Republikan berusia 18 sampai 49 tahun berpandangan
negatif terhadap Israel, naik dari 50 persen setahun sebelumnya. Garis
generasi kini memotong garis partai. Kelompok
independen, penentu banyak pemilu Amerika, juga bergeser. Pada Februari 2026,
mereka lebih bersimpati kepada Palestina daripada Israel, dengan perbandingan
41 melawan 30 persen. Ketika
sebuah isu luar negeri menjadi penanda identitas partai, sikap terhadapnya
tidak lagi hanya ditentukan peristiwa di Gaza, tetapi juga oleh siapa yang
membela dan menentangnya di Washington. Maka
sesungguhnya tidak ada satu "Amerika". Ada yang muda dan tua. Ada
Republikan dan Demokrat, masing-masing dengan ingatan sejarah yang berbeda. Masing-masing
melihat perang yang sama dari jendela pengalaman yang berbeda. Dan dari
jendela itulah simpati politik
perlahan dibentuk, lalu diwariskan. -000- Pergeseran
persepsi ini tidak lahir di ruang hampa. Untuk memahami akar historis dan
pemicu emosional di balik pembacaan publik Amerika yang terus berubah, dua
buku kunci ini memberikan panduan mendalam. Dua
buku membantu kita memahami mengapa konflik ini begitu sulit dimasukkan ke
dalam kotak moral yang sederhana, dan mengapa publik Amerika membacanya
dengan cara yang terus berubah. BUKU
PERTAMA: THE HUNDRED YEARS' WAR ON PALESTINE Rashid
Khalidi, Metropolitan Books, 2020 Khalidi
membaca konflik dari perspektif sejarah Palestina. Ia menempatkan kehilangan
tanah, pengungsian, perang, pendudukan, dan ketimpangan kekuasaan dalam
rangkaian sejarah panjang sejak 1917. Kekuatan
buku ini terletak pada pertemuan arsip dengan pengalaman keluarga Khalidi
sendiri. Palestina hadir bukan sebagai abstraksi geopolitik, tetapi sebagai
manusia dengan ingatan. Khalidi
menggunakan kerangka kolonialisme pemukim untuk membaca sejarah tersebut.
Kerangka itu diperdebatkan, tetapi berpengaruh besar dalam diskursus akademik
dan aktivisme kontemporer di kampus Amerika. Ia
juga menyoroti peran Amerika sebagai penyokong utama Israel. Buku ini
membantu memahami mengapa sebagian generasi baru membaca Palestina melalui
bahasa perampasan tanah dan hak menentukan nasib. -000- BUKU
KEDUA: MY PROMISED LAND: THE TRIUMPH AND TRAGEDY OF ISRAEL Ari
Shavit, Spiegel & Grau, 2013 Shavit
membawa pembaca memasuki kontradiksi Israel dari dalam. Ia menulis tentang
idealisme Zionisme, pencapaian Israel, ancaman eksistensial, tetapi juga
tragedi yang menyertainya. Buku
ini menolak kenyamanan moral sederhana. Israel tampil sekaligus sebagai
proyek keselamatan sebuah bangsa dan sebagai bagian sejarah yang membawa
penderitaan bagi bangsa lainnya. Kekuatan
Shavit terletak pada keberaniannya menampung dua kenyataan sekaligus.
Ketakutan orang Yahudi mempunyai sejarah. Pengalaman kehilangan orang
Palestina juga mempunyai sejarah. Buku
ini juga membantu memahami mengapa generasi Amerika yang lebih tua tetap
melihat Israel sebagai tempat berlindung. Bagi mereka, Israel adalah jawaban
atas trauma, bukan sekadar sebuah negara. Membaca
Shavit berdampingan dengan Khalidi mengajarkan sesuatu. Konflik ini terlalu
dalam untuk dipahami hanya dengan satu memori, satu luka, atau satu narasi
moral. -000- KONTRA-ARGUMEN:
JANGAN TERLALU CEPAT MENGATAKAN AMERIKA BERUBAH Ada
argumen kuat bahwa kesimpulan mengenai perubahan Amerika terlalu jauh.
Hubungan Amerika dan Israel jauh lebih dalam daripada fluktuasi beberapa
tahun polling. Israel
tetap mitra strategis Amerika. Hamas tetap dinilai sangat negatif. Rakyat
Israel bahkan masih memperoleh penilaian positif dari mayoritas tipis
masyarakat Amerika. Gallup
sendiri mengingatkan bahwa keunggulan Palestina sebesar lima poin pada Februari
2026 tidak signifikan secara statistik. Jadi jangan mengumumkan revolusi
opini terlalu cepat. Argumen
itu layak dihormati. Namun jawabannya juga kuat. Yang penting bukan satu
angka pada satu waktu, melainkan arah perubahan dalam rentang beberapa tahun. Dari
2018 sampai 2026, simpati Gallup kepada Israel turun dari 64 menjadi 36
persen. Pada periode yang sama, simpati kepada Palestina naik dari 19 menjadi
41 persen. Pew
menunjukkan arah serupa melalui pertanyaan berbeda. Survei Maret 2026 menemukan
60 persen warga Amerika berpandangan negatif terhadap Israel sebagai negara,
naik dari 42 persen pada 2022. Dalam
survei yang sama, 59 persen menyatakan sedikit atau sama sekali tidak percaya
kepada Benjamin Netanyahu dalam menangani urusan dunia. Dua
lembaga berbeda, dengan pertanyaan dan seri waktu berbeda, menunjukkan arah
yang berdekatan. Kesimpulan paling hati-hati: lanskap opini Amerika memang
sedang berubah. Belum
tentu permanen. Belum tentu linear. Pemilu, perang baru, atau perdamaian
dapat membalikkannya. Namun perubahan ini terlalu besar untuk disebut sekadar
riak sesaat. -000- Perubahan
opini Amerika membawa pelajaran yang melampaui Israel dan Palestina. Kekuatan
negara tidak hanya ditentukan senjata, teknologi, dan sekutu, tetapi juga
legitimasi moral. Israel
berhak hidup aman. Palestina berhak atas keamanan, martabat, dan masa depan.
Mengecam Hamas tidak mengharuskan kita menutup mata terhadap penderitaan
warga Gaza. Di
situlah empati menemukan kedewasaannya: mampu berduka untuk korban di Israel
dan di Gaza sekaligus. Kita tidak perlu memadamkan luka satu bangsa untuk
menerangi luka bangsa lainnya. Israel
memiliki Iron Dome untuk melindungi langitnya. Tetapi sejarah belum menemukan
Iron Dome yang mampu mencegat perubahan hati sebuah generasi. ● REFERENSI Buku 1.
Khalidi, Rashid. The Hundred Years' War on Palestine: A History of Settler
Colonialism and Resistance, 1917–2017. New York: Metropolitan Books, 2020. 2.
Shavit, Ari. My Promised Land: The Triumph and Tragedy of Israel. New York:
Spiegel & Grau, 2013. Survei 3.
Gallup. "Middle East" (seri tren simpati Amerika terhadap Israel
dan Palestina, 2001–2026; survei World Affairs 2–16 Februari 2026).
https://news.gallup.com/poll/1639/middle-east.aspx 4.
Gallup. "Israelis No Longer Ahead in Americans' Middle East
Sympathies." 27 Februari 2026 (survei 2–16 Februari 2026).
https://news.gallup.com/.../israelis-no-longer-ahead... 5.
Gallup. "32% in U.S. Back Israel's Military Action in Gaza, a New
Low." 29 Juli 2025 (survei 7–21 Juli 2025).
https://news.gallup.com/.../u.s.-back-israel-military... 6.
Pew Research Center. "How Americans View the Israel-Hamas Conflict 2
Years Into the War." 3 Oktober 2025 (survei 22–28 September 2025).
https://www.pewresearch.org/.../how-americans-view-the.../ 7.
Pew Research Center. "Negative Views of Israel, Netanyahu Continue to
Rise Among Americans, Especially Young People." 7 April 2026 (survei
23–29 Maret 2026).
https://www.pewresearch.org/.../negative-views-of-israel.../ 8.
Pew Research Center. "Americans' Views of Israelis Have Grown
Increasingly Negative, but Views of Palestinians Have Held Fairly
Steady." 9 Juli 2026 (survei 4–17 Mei 2026). |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar