|
Bahlil Bahlil Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 02 Oktober 2026
Kabinet kita
yang gendut kian tambun saja: ada nomenklatur baru di reshuffle kabinet Merah
Putih kemarin. Dibentuk kemenko baru: hilirisasi dan transisi energi. Ada pula
tambahan wakil menteri di banyak kementerian.
Bahwa Kapolri
Jenderal Listyo Sigit Prabowo diganti memang sudah waktunya. Bahwa yang
menggantikannya adalah Komjen Suyudi Ario Seto adalah kejutan. Respons publik
umumnya sangat positif. Ia salah satu jenderal yang netral dari perkubuan mana
pun.
Listyo Sigit
sendiri mendapat akomodasi yang memadai: menjadi kepala staf presiden (KSP).
Itu posisi yang
sangat penting: sama dengan west wing-nya Gedung Putih. KSP seharusnya menjadi
pemegang dashboard kepresidenan: apa saja program presiden yang sudah jalan,
setengah jalan, dan tidak jalan.
KSP punya
wewenang memanggil para menteri, utamanya yang membuat program presiden tidak
jalan.
Itu kalau KSP
difungsikan seperti west wing. Bisa juga KSP tidak diberi wewenang apa-apa.
Semua itu tergantung pada presidennya.
Ups.... Kadang
bisa juga tergantung dari orang yang menjabat.
Saya mengamati:
ada tipe orang yang diberi jabatan apa pun tetap menonjol. Termasuk ketika
diberi jabatan ''buangan''.
Ada juga tipe
orang yang diberi jabatan penting pun tidak banyak berbuat.
Presiden
Prabowo ternyata mendengar apa yang disuarakan dengan riuh di media: agar
mengganti Menteri Luar Negeri Sugiono. Untuk selanjutnya kita akan melihat
Sugiono tergolong tipe orang seperti apa. Apakah jabatan barunya, menko
Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, lebih membuatnya berfungsi.
Kita tidak
pernah mendengar apa saja kiprah menko PMK yang digantikan Sugiono: Prof Dr
Pratikno.
Sebelum
menjabat menko, beliau dua periode menjadi mensesneg-nya Jokowi. Anda sudah
tahu: beliau juga mantan rektor Universitas Gadjah Mada.
Bahwa jarang
muncul di media, mungkin karena beliau tergolong tipe orang yang rendah hati,
low profile dan sedikit bicara banyak kerja. Sesekali nama Pratikno muncul di
media kaitannya dengan ijazah S-1 kehutanan Presiden Jokowi.
Pratikno
dicopot begitu saja. Tidak ada jabatan ''hiburan'' yang diberikan kepadanya.
Atau, mungkin saja diberi tapi ditolak. Dengan berpikir positif seperti itu
setidaknya tidak perlu berburuk sangka bahwa di reshuffle ini dua anggota
"Geng Solo" dicopot.
Saya ingin
mengulas lebih panjang soal kemenko yang baru: Hilirisasi dan Transisi Energi.
Lebih menarik lagi karena yang menjabat menko adalah Bahlil Lahadalia
–dirangkap dengan jabatannya selama ini: menteri ESDM.
Kita belum
tahu: kementerian apa saja yang akan di bawah menko hiltrans. Yang pasti
Kementerian ESDM dan Perindustrian. Apakah kementerian perdagangan akan di
bawahnya juga.
Dalam reshuffle
kemarin Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dicopot. Penggantinya
tetap dari Golkar: M. Sarmuji, yang tak lain adalah sekjen Golkar. Maka, karena
ketua umumnya menko dan sekjennya menjabat menteri perindustrian koordinasi di DPP
Golkar bisa lebih lancar.
Presiden
Prabowo rupanya melihat hilirisasi dan transisi energi termasuk yang akan
didorong keras. Hilirisasi nikel misalnya, bisa dianggap sukses. Sedang untuk
bauksit dan timah masih jauh. Maka menterinya diganti.
Bagaimana
dengan transisi energi? Sebagai menko, Bahlil bisa minta pertanggungjawaban
menteri ESDM. Bahlil memerintah Bahlil. Bahlil marah-marah ke Bahlil. Lebih
mudah. Melekat pada orang yang sama.
Transisi energi
–dari fosil ke tenaga surya– memang punya hambatan besar di PLN. Listrik untuk
Jawa dan Sumatera sudah cukup. Harga produksinya pun murah –karena didominasi
oleh batu bara dan tenaga air. PLN langsung sulit kalau harus membeli listrik
dari solar cell yang lebih mahal.
Tapi PLN kan
milik negara. Bisa dipaksa negara untuk berubah ke solar cell –asal selisih
harganya ditanggung oleh yang memerintahkan: negara. Misalnya lewat subsidi.
Transisi energi
memang krusial sekali. Saya ingin tahu apa perintah tegas Bahlil ke Bahlil di
soal transisi energi ini.
Beda dengan
hilirisasi. Sukses hilirisasi nikel –matur nuwun Pak Jokowi– ternyata bisa
menjadi pendorong kemajuan lebih tinggi lagi. Berkat ada hilirisasi nikel kini
di Morowali muncul industri lanjutan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Yakni industri berbagai jenis material baterai lithium untuk diekspor. Termasuk
jenis yang bahan bakunya diimpor ke Morowali dari Australia dan Afrika Selatan.
Lihatlah grafik
yang menyertai tulisan ini: awalnya ekspor hasil hilirisasi nikel mencapai
USD315 juta. Begitu muncul jenis industri lanjutannya ekspor melonjak sampai ke
USD1.266 juta. Itu angka bandingan tahun 2025 dan 2026 –sama-sama enam bulan
pertama.
Itu yang
disebut invisible impact: kemajuan melahirkan kemajuan yang lain.
Yang saya
khawatirkan adalah ini: Presiden Prabowo akan memaksakan hilirisasi batu bara.
Yakni mengubah batu bara menjadi gas. Secara teori dan secara ilmu itu sangat
baik dan ideal. Tapi dalam praktik masih sangat sulit.
Apalagi harga
batu bara 4.000 kalori kini sudah USD80/ton. Kalau dijadikan gas harga gasnya
bisa USD18/MMBTU. Sedang harga gas alam sekarang di bawah itu.
Memang secara
teknologi sudah ada yang membuktikan: Amerika, Afrika Selatan, Tiongkok. Batu
bara dipanaskan di ruang tanpa oksigen: menjadi gas sintetis. Lalu sin gas itu
diproses lebih lanjut: dimurnikan. Jadilah gas setara gas alam.
Kelihatannya
sederhana dan beres. Tapi stabilitas harga batu bara sulit dipegang.
Memang
persoalan gas sekarang ini rumit sekali. Industri sudah banyak yang tergantung
pada gas. Tapi banyak industri tidak mendapat kepastian pasokan gas. Termasuk
kepastian harga. Industri di Jawa Barat yang paling menderita soal gas ini.
Mungkinkah
Presiden Prabowo akan memaksakan seluruh batu bara Indonesia diolah jadi gas?
Apakah itu yang menyebabkan Agus Gumiwang diganti? Atau itu skenario Bahlil
saja: untuk konsolidasi Golkar?
Secara politik
reshuffle ini banyak dihubungkan Jokowi. Secara ekonomi dihubungkan ke Bahlil. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/971437/bahlil-bahlil
Tidak ada komentar:
Posting Komentar