|
Best Practise Kepemimpinan dari Lamongan Piet Hizbullah Khaidir :
Dosen STIQSI
Lamongan, Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Lamongan. |
MEDIA INDONESIA, 30 September 2026
|
DUNIA kontemporer saat ini sedang tidak berada
dalam titik ekuilibrium yang stabil. Kita tengah memasuki sebuah epos yang
oleh para ahli kebijakan publik dan sosiolog disebut sebagai era polycrisis,
yang ditandai dengan berbagai krisis berskala makro yang terjadi secara
simultan, saling iris, dan menciptakan disrupsi yang tidak bisa dielakkan.
Ketidakpastian ekonomi global, konflik geopolitik yang mengganggu rantai
pasok dunia, perubahan iklim yang radikal, disrupsi kecerdasan buatan (AI)
dan teknologi digital, hingga krisis misinformasi serta hilangnya kepercayaan
publik terhadap institusi dan antarelite pemimpin telah menjadi drama harian
yang harus dihadapi kita semua. Kondisi zaman saat ini menyuguhkan trinitas
tantangan: uncertainty (ketidakpastian yang terus meningkat di berbagai
sektor kehidupan), complexity (masalah-masalah yang saling terkait, kompleks,
dan sangat sulit diprediksi solusinya), serta disruption (perubahan
eksponensial yang dengan cepat mengubah atau bahkan menghancurkan tatanan
lama). Realitas itu tidak hanya mendestruksi cara manusia memproduksi barang atau
memberikan layanan, tetapi juga mendestruksi secara fundamental cara manusia
berpikir dan berinteraksi. FAKTA-FAKTA EMPIRIS KRUSIAL Terdapat fakta-fakta empiris dan krusial yang
tidak bisa diabaikan. Laporan global memperkirakan bahwa 39% keterampilan
kerja yang relevan saat ini akan berubah drastis sebelum 2030. Di tengah
perubahan tersebut, sekitar 170 juta pekerjaan baru diproyeksikan akan
muncul, tetapi pada saat yang sama, 92 juta pekerjaan lama akan tergantikan
dan hilang ditelan otomatisasi. Skala interkonektivitas manusia juga mencapai
puncaknya, dengan 5,5 miliar penduduk dunia kini terhubung ke internet,
dengan 5 miliar di antaranya merupakan pengguna aktif media sosial yang
setiap detiknya mereproduksi serta mengonsumsi informasi. Dari sisi ekologi,
2024-2025 telah tercatat sebagai tahun dengan suhu terpanas dalam sejarah
pengamatan iklim global, memberikan peringatan keras akan krisis lingkungan. Dalam menghadapi konstelasi tantangan raksasa
tersebut, ancaman terbesar bagi eksistensi dan kemajuan peradaban sejatinya
bukanlah AI atau teknologi itu sendiri, melainkan ketidakmampuan sumber daya
manusia dalam beradaptasi serta hilangnya karakter moral. Kecerdasan buatan
hanyalah instrumen, sedangkan yang menentukan arah labuh kapal peradaban ialah
kebijaksanaan sang navigator. Terhadap hal itu, yang paling esensial dan
mendesak untuk dihadirkan ialah model kepemimpinan yang memiliki integritas
nilai yang kukuh, sekaligus kelenturan untuk beradaptasi dan mengantisipasi
segala kemungkinan (antisipatoris). Kepemimpinan itu dituntut untuk mampu
membawa kapal kebijakan dan birokrasi menuju pelabuhan solusi yang menjamin
kesejahteraan rakyat. Model paripurna itulah yang disebut dengan integrity-based
anticipatory leadership. INTEGRITY-BASED ANTICIPATORY LEADERSHIP Diskursus literatur tentang manajemen dan tata
kelola organisasi telah melahirkan berbagai model kepemimpinan, mulai
transformational leadership yang berfokus pada visi, servant leadership yang
berpusat pada pelayanan, hingga adaptive leadershipp yang menekankan
kelenturan. Namun, kompleksitas abad ke-21 menuntut sintesis baru. Konsep
integrity-based anticipatory leadership lahir dari interseksi multidisipliner
yang merangkum kearifan teologis, presisi psikologis, dan kekuatan
sosiologis-antropologis. Dalam bingkai Al-Qur'an dan filsafat keislaman,
kepemimpinan bukanlah sekadar fungsi administratif, melainkan juga sebuah
manifestasi khalifah fil ardh (wakil Tuhan di bumi) yang dibebani amanah
(tanggung jawab transendental). Kepemimpinan Islam dibangun di atas pilar
shidiq (integritas/kebenaran), fathanahp (kecerdasan visioner/antisipatif),
tabligh (kemampuan komunikasi/transparansi), dan amanah (akuntabilitas).
Al-Qur’an sangat menekankan pentingnya bashirah (pandangan batin/kewaskitaan)
dalam melihat fenomena, yang dalam konteks modern ekuivalen dengan visi
antisipatif. Seorang pemimpin harus memiliki hikmah (kebijaksanaan) untuk
mengambil keputusan presisi yang tidak hanya berorientasi pada kemaslahatan
sesaat, tetapi juga mencegah kerusakan pada masa depan. Dalam kaidah ushul
fiqh dinyatakan: dar’ul mafasid, muqaddamun ‘ala jalbil mashalih (mencegah
kerusakan harus didahulukan hanya untuk tujuan mencapai maslahat yang mungkin
sesaat). Dari perspektif psikologi, model kepemimpinan itu
berakar kuat pada apa yang sering disebut sebagai growth mindset (nalar
bertumbuh) dan kelincahan kognitif (agile). Pemimpin dengan growth mindset
tidak melihat krisis sebagai tembok buntu, melainkan sebagai ruang kelas
raksasa untuk belajar dan berinovasi. Mereka memiliki courage atau keberanian
untuk mengambil keputusan-keputusan strategis sebelum keadaan eksternal
memaksa mereka. Mereka bertindak proaktif (antisipatif), bukan reaktif.
Kesiapan mental itu memungkinkan seorang pemimpin untuk memitigasi risiko sekaligus
menangkap peluang di tengah turbulensi. Kemampuan itu terangkum dalam
prinsip: 'melihat lebih awal, bertindak lebih berani'. Sementara itu, dalam kacamata sosiologi dan
antropologi, legitimasi seorang pemimpin tidak murni dibangun rasionalitas
legal-formal birokrasi, tetapi oleh modal sosial dan moralitasnya. Itu sering
dikaitkan dengan otoritas karismatik weberian, tetapi bukan karisma yang
manipulatif, melainkan karisma yang lahir dari integritas karakter yang
teruji. Integritas itu berfungsi sebagai kohesi sosial yang mengikat
kepercayaan publik (public trust), yang saat ini tengah mengalami defisit
global. Dalam rumusan kepemimpinan antisipatif, karakter integritas bermakna
'menjaga integritas ketika memiliki kewenangan'. Secara holistis, integrity-based anticipatory
leadership bersandar pada tiga pilar utama: vision (kemampuan membaca
perubahan sebelum perubahan itu datang), courage (keberanian mengambil
keputusan sebelum keadaan memaksa), dan integrity (ketahanan menjaga nilai
moral dan karakter saat berkuasa). BUPATI YUHRONUR EFENDI Gagasan tentang integrity-based anticipatory
leadership bukanlah utopia akademis semata. Realitas operasional dari konsep
itu dapat dibaca dan diekstraksi dari pengalaman kepemimpinan H Yuhronur
Efendi selaku Bupati Lamongan. Model kepemimpinan yang ia terapkan
menghadirkan best practice yang sangat relevan untuk ditransformasikan kepada
generasi mendatang, terkhusus dalam rangka mempersiapkan fondasi Indonesia
emas 2045. Pertama, dari sisi vision (visi antisipatif).
Yuhronur Efendi menyadari secara empiris bahwa Kabupaten Lamongan dihadapkan
pada realitas demografis yang menjanjikan sekaligus menantang. Dengan jumlah
penduduk lebih dari 1,36 hingga 1,37 juta jiwa, dengan sekitar 66,96% hingga
69,10% berada pada rentang usia produktif, Lamongan memiliki pijakan
demografi yang masif. Namun, melalui kacamata antisipatoris, bonus demografi
itu tidak dilihat sebagai kekuatan yang bekerja secara otomatis. Ia sadar
betul bahwa ledakan usia produktif hanya akan menjadi anugerah (dan bukan
bencana sosial) jika didukung kualitas manusia yang unggul, kesehatan,
tingkat pendidikan, keterampilan, serta terbukanya kesempatan untuk
berkembang. Dalam merespons visi itu, kebijakan Lamongan
diarahkan pada optimalisasi human capital. Bukti keberhasilan antisipasi itu
tecermin pada indeks pembangunan manusia (IPM) Lamongan yang melesat mencapai
angka 76,80 hingga 76,81 pada 2025, menempatkannya pada kategori pembangunan
tinggi dan berada di atas rata-rata pencapaian nasional. Peningkatan IPM itu
berbanding lurus dengan peningkatan indeks daya saing daerah yang mencapai
skor impresif 3,81 (dan 3,65 di pengukuran sebelumnya), menunjukkan kapasitas
daerah yang luar biasa dalam menciptakan iklim kompetisi dan inovasi yang
berkelanjutan. Kedua, dari sisi courage (keberanian mengeksekusi
keputusan). Dalam menghadapi dinamika fiskal dan tantangan pembangunan
pascapandemi, kepemimpinan Yuhronur Efendi memanifestasikan keberanian luar
biasa dalam merumuskan kebijakan yang sering kali dihindari pemimpin berjiwa
status quo. Pembangunan infrastruktur esensial dilakukan secara progresif
melalui Program Jamula (Jalan Mantap dan Alus Lamongan)
untuk mempercepat perputaran roda ekonomi daerah. Di sektor penerangan dan
keamanan, keberanian itu diwujudkan melalui Program Lamongan Menyala dengan
target penyediaan 10 ribu titik lampu penerangan jalan umum (LPJU) secara
terintegrasi. Dampak keputusan berani dan strategis itu secara
makroekonomi sangat signifikan. Tren pertumbuhan ekonomi Lamongan menunjukkan
kurva positif yang persisten; tercatat pada 2025 pertumbuhan ekonomi mencapai
5,40% (hingga 5,80%), melampaui rata-rata pertumbuhan Jawa Timur dan capaian
nasional. Lebih spektakuler lagi, pada triwulan I 2026, akselerasi ekonomi
Lamongan menyentuh angka 10,76% (atau 10,79% secara q-to-q, menjadikannya
daerah dengan pertumbuhan tertinggi kedua di Provinsi Jawa Timur. Ketiga, dari sisi integrity (integritas yang
memberdayakan). Bagi seorang pemimpin yang paripurna, pertumbuhan ekonomi
kuantitatif (angka PDRB) tidak pernah menjadi garis akhir, tetapi alat untuk
mencapai kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan. Kepemimpinan Lamongan
mendemonstrasikan bahwa pertumbuhan harus inklusif, bukan oligarkis. Jika
meminjam pendekatan capability dari filsuf dan ekonom Amartya Sen,
kepemimpinan Bupati Yuhronur bergeser dari paradigma sekadar 'pertumbuhan'
menuju 'pemberdayaan' yang membebaskan (development as freedom). Pembangunan
ekonomi tidak dinilai hanya dari akumulasi kapital, tetapi dari seberapa luas
kesempatan nyata bagi masyarakat untuk meningkatkan kapabilitas dan bertumbuh
secara adil. Implementasi integritas kebijakan itu lahir dalam
bentuk intervensi konvergensi pemberdayaan kelompok rentan melalui Program
YSS (Yakin Semua Sejahtera), sebuah afimasi terintegrasi yang berhasil
menekan angka kemiskinan menjadi 12,03% pada 2025, serta menurunkan
kemiskinan ekstrem menjadi 0,26%. Di sektor rill dan ketahanan pangan,
Lamongan berhasil mengukuhkan identitas mereka sebagai lumbung pangan
nasional dengan produksi padi menyentuh lebih dari 1,33 juta ton, hasil dari
mekanisasi dan pendampingan yang persisten. Lebih jauh, antisipasi terhadap era disrupsi
dijawab melalui penyiapan ekosistem wirausaha bagi anak muda lewat
Megpreneur. Program itu tidak semata melahirkan pedagang, tetapi juga
institusionalisasi entrepreneurial mindset: mentalitas untuk berani melihat
peluang, menghubungkan jaringan pasar, dan menciptakan nilai (creating value)
di tengah masyarakat. Tercatat 1.536 wirausaha baru telah lahir melalui
inkubasi itu, menyuntikkan energi inovatif yang siap bersaing secara global. Akhirulkalam, dalam pusaran polycrisis dan
lompatan peradaban yang eksponensial, kepemimpinan tidak bisa lagi beroperasi
dengan algoritma lama. Transformasi dunia hanya bisa dinavigasi mereka yang
memiliki kejernihan spiritual, kelincahan berpikir, ketegasan bertindak, dan
akar moral yang tertancap kuat. Kepemimpinan Bupati Yuhronur Efendi di
Lamongan telah membuktikan bahwa integrasi visi yang antisipatif, keberanian
strategis, dan komitmen pada pemberdayaan sosial ialah oase di tengah
gersangnya krisis kepemimpinan modern. Sebagai konklusi praksis dan pijakan fundamental
bagi generasi emas 2045, statement Bupati Yuhronur Efendi merangkum seluruh
urgensi itu dengan sangat kuat: "Di tengah transformasi dunia dan
perubahan Lamongan, religiositas harus menjadi pijakan, entrepreneurial
mindset membantu kita melihat peluang, leadership memberikan arah, dan impact
memastikan apa yang kita lakukan memberi manfaat. Dengan bekal itulah, kita
bisa membaca masa depan dan menciptakan nilai." Masa depan bangsa tidak
akan dimenangi semata-mata oleh yang paling kuat, tetapi oleh mereka yang
paling tangkas beradaptasi, tanpa pernah kehilangan esensi karakter mereka. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/938993/best-practise-kepemimpinan-dari-lamongan
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar