|
Berharap pada Terapi Sel Punca secara
Rasional Djoko Santoso : Guru Besar Kedokteran Universitas Airlangga, Ketua
Lembaga Advokasi dan Koordinasi Kesehatan MUI Provinsi Jawa Timur. |
MEDIA INDONESIA, 28 September 2026
|
DI dunia medis, terapi stem cell atau sel punca
sekarang sangat populer dan dianggap sebagai metode paling ampuh yang sanggup
mengobati penyakit apa saja. Banyak rumah sakit dan klinik menawarkannya,
baik untuk pengobatan penyakit berat maupun untuk kosmetika. Sel punca seolah
sihir hebat, padahal secara medis baru sebatas riset yang masih terus
dikembangkan. Situs Ditjen Kesehatan Lanjutan Kementerian
Kesehatan menyebutkan ada 21 rumah sakit (RS) penyelenggara layanan
‘penelitian berbasis pelayanan sel punca’. Artinya Kemenkes jujur menyebut
layanan ini masih tahap penelitian. Delapan RS ada di Jakarta, 2 di Depok,
sisanya tersebar di Medan, Palembang, Padang, Bandung, Semarang, Yogyakarta,
Solo, Denpasar, dan Makassar. Kemenkes juga telah mengizinkan 15 laboratorium
pengolah sel punca dan 4 bank sel punca. Namun, bukan hanya itu yang beroperasi. Di
Jakarta, misalnya, banyak bertebaran klinik sel punca, ada yang menyebut diri
sebagai ‘klinik stem cell terbaik di Jakarta’, bahkan yang belum berizin pun
sudah membuka layanan. Publik sempat dihebohkan oleh seorang akademisi
kedokteran hewan yang membuka klinik sel punca ilegal berbiaya jutaan rupiah
untuk pasien manusia, yang viral setelah seorang jurnalis senior membagikan
pengalaman terapinya. Ada pula oknum praktisi kedokteran saraf yang memanfaatkan
popularitasnya di media sosial untuk menawarkan terapi serupa kepada tokoh
nasional dengan tarif fantastis. Ironisnya, seorang seniman senior yang
sempat menjadi promotor sukarela akhirnya menyesal setelah menyadari
legalitas dan efektivitas klinis terapi tersebut belum teruji. Rentetan
peristiwa ini membuktikan bahwa sel punca, meski masih dalam tahap riset,
telah telanjur dikomersialisasi secara tidak bertanggung jawab di tengah
tingginya harapan kesembuhan masyarakat. Memang, terapi sel punca adalah inovasi sains
medis yang sangat menjanjikan. Sel punca adalah sel awal yang belum memiliki
fungsi spesifik, tetapi dapat membelah diri dan berubah menjadi sel khusus
seperti sel darah, sel saraf, sel otot jantung, atau sel tulang. Yang hebat
ialah kemampuannya untuk memperbarui diri dan berdiferensiasi. Dengan
kemampuan regeneratif yang luar biasa, sel punca memberikan harapan baru bagi
pengobatan penyakit degeneratif hingga cedera jaringan berat. Terapi dimulai dengan mengambil sel punca dari donor
atau tubuh pasien sendiri, memprosesnya di laboratorium, lalu menyuntikkannya
ke bagian tubuh yang rusak. Setelah disuntikkan, sel punca bekerja melalui
tiga mekanisme. Pertama, berdiferensiasi menggantikan sel jaringan yang mati
atau rusak. Kedua, mensekresikan faktor pertumbuhan yang merangsang
regenerasi alami jaringan sekitarnya. Ketiga, efek antiinflamasi yang menekan
peradangan kronis yang memperburuk kerusakan organ. SAINS KEDOKTERAN DAN BATASNYA Kemajuan sains kedokteran sudah relatif lama mampu
memperbaiki kesehatan dan memperpanjang harapan hidup: memasang cincin di
jantung, menyaring racun lewat mesin cuci darah, hingga membedah tumor otak.
Tetapi sains medis tidak bisa menciptakan kembali kemurnian organ yang sudah
mati. Kematian sel kardiomiosit pascaserangan jantung dan kehancuran nefron
ginjal adalah bukti fisik ‘titik tanpa kembali (point of no return)’ dalam
biologi manusia. Kita tidak bisa menggantungkan masa depan pada janji
komersial terapi sel punca yang belum mendapat persetujuan otoritas medis
global. Manusia modern justru harus kembali pada prinsip paling rasional:
merawat pembuluh darah dan organ vital dengan menjaga nutrisi, olahraga,
istirahat cukup, dan manajemen stres secara konsisten. Secara alamiah, sistem tubuh sangat tangguh. Sel
darah putih membangun kekebalan, tulang retak bisa menyambung sendiri, ginjal
membersihkan darah dari racun. Di setiap sel terdapat untaian DNA sepanjang
dua meter yang menyimpan blueprint kehidupan. Proses transkripsi dan
translasi genetik terjadi setiap saat untuk memproduksi protein bahan baku
otot, enzim pencernaan, hingga hormon; kesalahan sekecil satu nukleotida saja
dapat mengubah struktur protein dan memicu penyakit genetik serius. Sistem
homeostasis pun menakjubkan: saat dingin pembuluh darah menyempit dan otot
menggigil menghasilkan panas, saat kepanasan kelenjar keringat aktif
mendinginkan suhu inti tubuh. Ginjal menyaring darah setiap hari dan menjaga
keseimbangan cairan dengan akurasi menakjubkan, dan mekanisme inilah yang
membuat kita mampu bertahan hidup di bumi yang penuh tantangan. Biologi tubuh
adalah sains tertinggi yang menyatukan fisika, kimia, dan informasi alamiah
dalam satu kesatuan yang hidup. Akan tetapi, meskipun tangguh dan punya kemampuan
luar biasa untuk menyembuhkan diri, kemampuan ini ada batasnya. Tubuh
menyimpan kerentanan dan memiliki batas toleransi yang sangat ketat. Tubuh
memiliki kompensasi fungsional: ketika sebuah organ mulai rusak, sel yang
tersisa bekerja dua kali lebih keras menutupi kekurangan. Akibatnya kita
sering merasa sehat, padahal kerusakan sedang merayap menuju titik
ireversibel. Ketika gangguan seluler dan jaringan terjadi akibat akumulasi
gaya hidup buruk, keseimbangan harmonis tubuh dapat goyah, dan sekali batas
kritis dilalui, fungsi biologis asli tidak akan pernah kembali seperti
sediakala. Kita lihat apa yang terjadi pada organ jantung.
Ketika seseorang bertahun-tahun mengonsumsi makanan tinggi lemak trans,
jarang bergerak, dan merokok, menyebabkan penumpukan plak kolesterol di
pembuluh koroner (aterosklerosis). Suatu saat plak ini bisa pecah dan
membentuk gumpalan yang menyumbat total aliran darah sehingga dalam hitungan
menit sel otot jantung (kardiomiosit) mulai mati. Kardiomiosit dewasa tidak
mampu beregenerasi; sel yang mati digantikan jaringan parut (fibrosis) yang
kaku dan tidak bisa memompa, sehingga secara klinis pasien akan divonis
menderita gagal jantung kronis seumur hidupnya. Sains tercanggih hanya bisa
mengalirkan kembali darah ke area yang tersisa, tanpa bisa menghidupkan sel
yang telah menjadi jaringan parut (Thygesen, K., et al., 2018). Kondisi serupa terjadi pada ginjal, yang bekerja
dengan jutaan filter mikroskopis bernama nefron. Pada pasien hipertensi tidak
terkontrol atau diabetes kronis, tekanan tinggi dan kadar gula yang pekat
merusak dinding nefron secara perlahan tapi masif, dan nefron yang hancur
tidak bisa tumbuh baru. Ketika fungsi ginjal turun di bawah 15% (penyakit
ginjal kronis stadium 5), pasien harus menjalani cuci darah seumur hidup atau
cangkok ginjal. Mesin cuci darah secanggih apa pun hanya meniru sebagian
kecil fungsi nefron dan tidak bisa mengembalikan kemurnian organ aslinya (GBD
Chronic Kidney Disease Collaboration, 2020). Pada diabetes melitus tipe 2, kerusakan terjadi
di level molekular. Konsumsi gula rafinasi berlebihan memaksa tubuh
memproduksi insulin secara masif hingga reseptornya ‘lelah’ (resistensi
insulin). Pada tahap lanjut, sel beta pankreas penghasil insulin mati
(apoptosis) dan tubuh kehilangan pabrik insulin alaminya. Diabetes tak
terkontrol lalu merusak pembuluh darah kecil di mata yang memicu kebutaan dan
saraf kaki yang sering berakhir amputasi. Sains kedokteran bisa memberikan
obat pengontrol gula, tetapi tidak bisa membangkitkan sel beta yang telah
mati (Kahn, S. E., et al, 2014). SEL PUNCA MASIH JAUH Untuk menghadapi beragam kerusakan ireversibel
pada organ penting itulah banyak orang kini berharap pada terapi sel punca.
Iklan klinik menjamur dengan janji regenerasi organ, anti-aging, hingga
penyembuhan total penyakit degeneratif. Namun, dunia medis yang jujur harus
berani melihat realitas: metode klinis sel punca masih sangat jauh dari
harapan publik. FDA (Badan POM-nya AS) baru menyetujui segelintir produk,
yakni sel progenitor hematopoietik dari darah tali pusar seperti Hemacord untuk
kanker darah (leukemia) atau kelainan imun tertentu, serta sel mesenkim
Ryoncil (remestemcel-L) untuk komplikasi pascatransplantasi sumsum tulang
pada anak-anak. FDA belum pernah menyetujui terapi sel punca
untuk menyembuhkan diabetes, gagal jantung, kerusakan nefron, apalagi
kecantikan dan kebugaran. Tantangan biologisnya masih besar: risiko
pembentukan tumor (tumorigenesis) karena sel membelah tak terkendali, serta
rendahnya kemampuan sel menempel dan bertahan hidup pada jaringan rusak
(Volarevic, V., et al., 2018). Banyak layanan komersial sel punca saat ini
beroperasi di zona abu-abu tanpa uji klinis fase akhir yang sahih.
Mengharapkan keajaiban sel punca sambil mengabaikan pola hidup sehat hari ini
adalah perjudian eksistensial yang keliru. Sains kedokteran dibangun di atas evidence-based
medicine (EBM), yang mensyaratkan keputusan klinis didasarkan pada bukti
ilmiah terbaik dari uji klinis yang sangat ketat. Namun, sains kedokteran
juga punya kelemahan: variabilitas individual yang masif (genetik dan
mikrobiom usus), serta pengetahuan medis yang dinamis dan terus dikoreksi.
Esensi metode ilmiah adalah kesadaran akan keterbatasannya. Kedokteran memang
bisa menambal, berpotensi menunda kematian, dan meredakan gejala, tetapi
jarang mampu merestorasi total kerusakan struktural organ yang sudah masif. BIJAK JAGA KESEHATAN Mengingat tubuh begitu magis tapi juga rapuh,
serta metode sel punca pun masih sebatas riset, maka lebih bijak menjaga
kesehatan secara preventif melalui pola hidup sehat yang konsisten. Makanan
adalah informasi kimia bagi sel: makanan ultra-proses memicu peradangan
kronis yang merusak pembuluh darah, sedangkan makanan utuh memberi bahan baku
perbaikan sel. Olahraga kardiovaskular memperkuat jantung dan meningkatkan
sensitivitas insulin; tidur nyenyak membantu otak membersihkan limbah
metabolik; sebaliknya stres kronis menjaga kortisol tetap tinggi, menekan
imunitas, dan merusak endotel. Manfaat intervensi gaya hidup ini divalidasi
riset jangka panjang (Springfield, N. K., et al. (2019). Pada akhirnya, masa depan adalah akumulasi dari
apa yang kita lakukan hari ini. Kita mendambakan masa tua yang mandiri,
berpikiran tajam, dan tetap berkontribusi tanpa menjadi beban orang tercinta,
dan itu harus diinvestasikan sejak dini. Yang utama ialah menjaga kebiasaan
sehari-hari agar penyakit tidak datang. Kemajuan kedokteran sebaiknya
dipandang sebagai jaring pengaman terakhir, bukan tameng utama. Sebelum
orkestra biologis tubuh mengalami gangguan yang tak bisa dikembalikan, mari
rawat setiap instrumennya dengan penuh kesadaran. Riset sel punca patut
diteruskan, tetapi menjaga pola hidup sehat adalah bentuk rasa syukur paling
nyata atas keajaiban kehidupan hari ini. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/kolom-pakar/938228/berharap-pada-terapi-sel-punca-secara-rasional
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar