Minggu, 04 Oktober 2026

 

Bisakah Kita Menghindari Berita Buruk

Qaris Tajudin :  Wartawan Tempo, Sarjana Hadis dari Universitas Al Azhar Kairo

TEMPO MINGGUAN, 27 September 2026

 

 

                                                           

·      Kita hidup di zaman ketika informasi susul-menyusul menghantam ruang hidup dan berpikir.

 

·      Meski menutup mata, informasi datang kepada kita dari segala penjuru, lewat segala cara.

 

·      Kita seperti Gandari yang menutup mata pada informasi tapi dia terlalu banyak yang terjadi dalam keluarganya.

 

GANDARI menutup matanya. Ia mengikatkan selembar kain ke kepalanya untuk menghilangkan pandangan. Gandari melakukan itu ketika menikah dengan Destarastra, Raja Hastina yang buta, sebagai bentuk cinta, pengorbanan, dan kesetiaan. Tapi Mahabharata selalu menyisakan kemungkinan tafsir yang lebih luas.

 

Gandari menutup matanya, tapi dia bukannya tidak tahu. Ia sadar bahwa Duryudana, anaknya, dikuasai nafsu dan kemarahan. Ia tahu anak-anaknya, para Kurawa, menginginkan kerajaan dengan cara yang salah. Ia bahkan meminta Duryudana berdamai dengan Pandawa. Gandari mengingatkan suaminya, Destarastra, bahwa terlalu mengikuti kehendak anak juga kesalahan.

 

Kepada Duryudana ia mengatakan dengan lantang, “Yato dharmas tato jayah, di mana kebaikan berada, di sanalah kemenangan.”

 

Gandari tahu. Ia juga peduli. Mengetahui tidak selalu berarti mampu menghentikan. Itulah kenapa Gandari menjadi tokoh yang menarik untuk zaman kita, ketika informasi begitu banyak lewat di depan mata dan kita kewalahan, lalu memutuskan untuk menutup mata.

 

Beberapa waktu lalu seorang pesohor dihujat oleh banyak orang karena di videonya ia berbicara tentang rasa kewalahan menghadapi berita buruk yang datang bertubi-tubi. Dari masalah politik, bencana, persoalan ekonomi, lingkungan, hingga berbagai kabar lain. Ia membagikan cara dirinya menyaring informasi agar tidak terus-menerus terseret ke dalam kecemasan dan kelelahan emosional.

 

Sebenarnya tidak ada yang salah dari gagasan itu. Mengkurasi dan membatasi informasi adalah hal lumrah untuk menjaga kewarasan. Yang kemudian dipertanyakan adalah mudahkah kita mengambil jarak dari kabar buruk jika berita buruk itu bukan sekadar berita, melainkan juga kenyataan yang kita hadapi setiap hari?

 

Bagi sebagian orang, kabar buruk adalah sesuatu yang bisa dimatikan dengan menekan tombol. Tapi, bagi yang lain, berita tidak enak adalah kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Perdebatan itu kemudian membawa kesimpulan bahwa kemampuan untuk menjauh dari berita adalah privilese.

 

Yang juga dipertanyakan adalah kenapa dia tidak menggunakan pengaruhnya untuk mengubah keadaan? Pesohor itu memang bukan Gandari, yang dalam keterbatasan pandangannya tetap peduli dan terus menggugat.

 

Gandari mempersoalkan Destarastra yang tidak mencegah anak-anaknya melakukan pembantaian di Kurusetra. Gandari bahkan memanggil Duryudana ketika anaknya tidak mau memilih jalan kedamaian dan memberi nasihat yang keras, “Panggillah segera anakku yang sakit dan haus kekuasaan itu. Orang yang mengorbankan kebajikan dan kemaslahatan tidak layak memerintah sebuah kerajaan.”

 

Kita bukan Gandari, karena kita tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan dengan berita buruk itu. Setiap hari kita melihat dan membaca berita buruk. Lalu kita marah, membagikan, berkomentar, dan lupa. Karena besok ada berita lain dan muncul skandal lain.

 

Kita hidup di masa ketika informasi dan tindakan sudah terputus. “The tie between information and action has been severed,” kata Neil Postman dalam pidatonya, “Informing Ourselves to Death”. Postman menyampaikan hal itu pada 1990, ketika dunia digital dan media sosial belum seedan sekarang. Namun saat itu—ketika Internet baru muncul—dia sudah mencium dampak banjirnya informasi.

 

Ia kemudian merumuskan information-action ratio. Bahwa tindakan tidak selalu muncul karena kita makin tahu, tapi dari jenis pengetahuan yang sampai ke kita. Apakah itu informasi biasa atau information that matters for action. Ada banjir bandang di Nepal adalah informasi, yang tidak membuat kita bertindak. Tapi di Jakarta besok hujan badai adalah informasi yang membuat kita membawa payung atau bahkan memilih bekerja dari rumah.

 

Ini karena informasi saat ini datang bukan karena kita membutuhkannya, melainkan karena teknologi mampu mengirimkannya. Informasi sudah menjadi komoditas. Bahkan, masih menurut Postman, informasi adalah hiburan. Sudah seperti pakaian yang berubah dari kebutuhan pokok menjadi gaya dan penanda status. “Worn like a garment to enhance one’s status.”

 

Pengetahuan menjadi semacam pseudo-information, karena kita merasa mengetahui sesuatu tapi pengetahuan itu tidak mengubah hubungan kita dengan dunia. ●

 

Sumber :   https://www.tempo.co/kolom/banjir-informasi-media-sosial-2292631

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar