|
Bisakah
Kita Menghindari Berita Buruk Qaris Tajudin : Wartawan
Tempo, Sarjana Hadis dari Universitas Al Azhar Kairo |
TEMPO MINGGUAN, 27 September 2026
|
· Kita hidup di zaman ketika informasi
susul-menyusul menghantam ruang hidup dan berpikir. · Meski menutup mata, informasi datang
kepada kita dari segala penjuru, lewat segala cara. · Kita seperti Gandari yang menutup mata
pada informasi tapi dia terlalu banyak yang terjadi dalam keluarganya. GANDARI
menutup matanya. Ia mengikatkan selembar kain ke kepalanya untuk
menghilangkan pandangan. Gandari melakukan itu ketika menikah dengan
Destarastra, Raja Hastina yang buta, sebagai bentuk cinta, pengorbanan, dan
kesetiaan. Tapi Mahabharata selalu menyisakan kemungkinan tafsir yang lebih
luas. Gandari
menutup matanya, tapi dia bukannya tidak tahu. Ia sadar bahwa Duryudana,
anaknya, dikuasai nafsu dan kemarahan. Ia tahu anak-anaknya, para Kurawa,
menginginkan kerajaan dengan cara yang salah. Ia bahkan meminta Duryudana
berdamai dengan Pandawa. Gandari mengingatkan suaminya, Destarastra, bahwa
terlalu mengikuti kehendak anak juga kesalahan. Kepada
Duryudana ia mengatakan dengan lantang, “Yato dharmas tato jayah, di mana
kebaikan berada, di sanalah kemenangan.” Gandari
tahu. Ia juga peduli. Mengetahui tidak selalu berarti mampu menghentikan.
Itulah kenapa Gandari menjadi tokoh yang menarik untuk zaman kita, ketika
informasi begitu banyak lewat di depan mata dan kita kewalahan, lalu
memutuskan untuk menutup mata. Beberapa
waktu lalu seorang pesohor dihujat oleh banyak orang karena di videonya ia
berbicara tentang rasa kewalahan menghadapi berita buruk yang datang
bertubi-tubi. Dari masalah politik, bencana, persoalan ekonomi, lingkungan,
hingga berbagai kabar lain. Ia membagikan cara dirinya menyaring informasi
agar tidak terus-menerus terseret ke dalam kecemasan dan kelelahan emosional. Sebenarnya
tidak ada yang salah dari gagasan itu. Mengkurasi dan membatasi informasi
adalah hal lumrah untuk menjaga kewarasan. Yang kemudian dipertanyakan adalah
mudahkah kita mengambil jarak dari kabar buruk jika berita buruk itu bukan
sekadar berita, melainkan juga kenyataan yang kita hadapi setiap hari? Bagi
sebagian orang, kabar buruk adalah sesuatu yang bisa dimatikan dengan menekan
tombol. Tapi, bagi yang lain, berita tidak enak adalah kenyataan dalam
kehidupan sehari-hari. Perdebatan itu kemudian membawa kesimpulan bahwa
kemampuan untuk menjauh dari berita adalah privilese. Yang
juga dipertanyakan adalah kenapa dia tidak menggunakan pengaruhnya untuk mengubah
keadaan? Pesohor itu memang bukan Gandari, yang dalam keterbatasan
pandangannya tetap peduli dan terus menggugat. Gandari
mempersoalkan Destarastra yang tidak mencegah anak-anaknya melakukan
pembantaian di Kurusetra. Gandari bahkan memanggil Duryudana ketika anaknya
tidak mau memilih jalan kedamaian dan memberi nasihat yang keras, “Panggillah
segera anakku yang sakit dan haus kekuasaan itu. Orang yang mengorbankan
kebajikan dan kemaslahatan tidak layak memerintah sebuah kerajaan.” Kita
bukan Gandari, karena kita tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan dengan
berita buruk itu. Setiap hari kita melihat dan membaca berita buruk. Lalu
kita marah, membagikan, berkomentar, dan lupa. Karena besok ada berita lain
dan muncul skandal lain. Kita
hidup di masa ketika informasi dan tindakan sudah terputus. “The tie
between information and action has been severed,” kata Neil Postman dalam
pidatonya, “Informing Ourselves to Death”. Postman menyampaikan hal
itu pada 1990, ketika dunia digital dan media sosial belum seedan sekarang.
Namun saat itu—ketika Internet baru muncul—dia sudah mencium dampak banjirnya
informasi. Ia
kemudian merumuskan information-action ratio. Bahwa tindakan tidak selalu
muncul karena kita makin tahu, tapi dari jenis pengetahuan yang sampai ke
kita. Apakah itu informasi biasa atau information that matters for action.
Ada banjir bandang di Nepal adalah informasi, yang tidak membuat kita
bertindak. Tapi di Jakarta besok hujan badai adalah informasi yang membuat
kita membawa payung atau bahkan memilih bekerja dari rumah. Ini
karena informasi saat ini datang bukan karena kita membutuhkannya, melainkan
karena teknologi mampu mengirimkannya. Informasi sudah menjadi komoditas.
Bahkan, masih menurut Postman, informasi adalah hiburan. Sudah seperti
pakaian yang berubah dari kebutuhan pokok menjadi gaya dan penanda status. “Worn
like a garment to enhance one’s status.” Pengetahuan
menjadi semacam pseudo-information, karena kita merasa mengetahui
sesuatu tapi pengetahuan itu tidak mengubah hubungan kita dengan dunia. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/banjir-informasi-media-sosial-2292631 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar