|
Piala Dunia, China, dan Sebelas Pemain yang
Tak Kunjung Datang Virdika
Rizky Utama : Peneliti PARA
Syndicate |
KOMPAS.COM, 16 Juni 2026
|
CHINA hadir hampir di mana-mana dalam
Piala Dunia 2026. Bus listrik dan kereta ringan buatan perusahaan China
mengangkut penumpang di kota-kota tuan rumah Meksiko. Perangkat Lenovo menopang operasi
turnamen dan pusat penyiaran. Layar Hisense digunakan dalam sistem
video assistant referee. Kelme memasok seragam untuk dua negara
peserta. Dari Yiwu dan Qingdao, jutaan bendera, syal, topi, boneka, dan bola
suvenir dikirim untuk menyambut pesta sepak bola terbesar di dunia. China bahkan hadir melalui para
pengadil pertandingan. Ma Ning terpilih sebagai wasit, Zhou Fei sebagai
asisten wasit, dan Fu Ming bertugas dalam tim video assistant referee. Hampir setiap lapisan Piala Dunia
memiliki jejak China, mulai dari kendaraan, perangkat digital, perlengkapan
tim, barang dagangan, sampai orang-orang di balik keputusan pertandingan. Satu-satunya unsur China yang tidak hadir
justru unsur paling penting, yakni tim nasional sepak bola putra. Kenyataan tersebut sudah lama menjadi
bahan humor di China. Menjelang setiap Piala Dunia, lelucon serupa kembali
muncul. Segala sesuatu dari China akan datang
ke Piala Dunia, kecuali kesebelasan nasionalnya. Kalimat itu terdengar ringan, tetapi
menyimpan rasa malu yang sulit disembunyikan. Sebuah negara yang mampu memasok hampir
seluruh kebutuhan turnamen tetap tidak sanggup mengirim sebelas pemain untuk
bertanding. Humor menjadi cara paling mudah untuk
hidup bersama kegagalan itu. Warga China tidak lagi sekadar kecewa. Mereka sudah terbiasa menertawakan
harapan yang berulang kali kandas. Tim nasional kalah, pelatih diganti,
federasi berjanji melakukan reformasi, lalu siklus serupa dimulai kembali. Ejekan terhadap sepak bola China juga
tidak berhenti pada kemampuan pemain di lapangan. Sasaran paling mudah tentu
Asosiasi Sepak Bola China. Organisasi tersebut lama dipandang
sebagai simbol korupsi, salah urus, pergantian kebijakan, dan pemborosan. Klub-klub menghabiskan dana besar untuk
mendatangkan pemain dan pelatih asing, sementara pembinaan usia muda tetap
rapuh. Akademi dibangun, target diumumkan, dan
kompetisi baru diluncurkan, tetapi hasil tim nasional hampir tidak bergerak. Di balik kritik terhadap federasi,
tersimpan kritik yang lebih luas terhadap cara negara mengelola sepak bola. Federasi bukan lembaga independen yang
berdiri di luar sistem politik. Cara kerja, pola promosi, dan mekanisme
pengambilan keputusannya merupakan bagian dari kultur birokrasi negara. Menertawakan federasi dapat menjadi
cara aman untuk menertawakan keyakinan bahwa semua masalah bisa diselesaikan
melalui instruksi, kampanye, anggaran, dan target administratif. Sepak bola mendapat bobot politik lebih
besar setelah Xi Jinping menyampaikan tiga harapan bagi China. Negara itu diharapkan dapat lolos ke
Piala Dunia, menjadi tuan rumah, lalu memenangkannya. Sejak saat tersebut, sepak bola bukan
lagi semata-mata urusan olahraga. Prestasi tim nasional ikut dikaitkan dengan
kebangkitan nasional dan kemampuan negara mewujudkan ambisi besar. Beban politik itu justru memperjelas
kegagalan. China sudah membuktikan kemampuan luar
biasa dalam membangun infrastruktur, mengembangkan industri kendaraan
listrik, menguasai manufaktur, dan mencetak prestasi dalam sejumlah cabang
Olimpiade. Keberhasilan tersebut melahirkan
keyakinan bahwa sepak bola dapat ditaklukkan dengan rumus serupa. Pemerintah menetapkan tujuan,
mengerahkan dana, membangun akademi, dan meminta sekolah menjalankan program
sepak bola. Sepak bola tidak bekerja seperti
pembangunan jalur kereta atau pabrik baterai. Stadion dapat dibangun melalui
perintah. Budaya bermain tidak dapat diciptakan
dengan cara serupa. Kreativitas, improvisasi, keberanian
mengambil keputusan, dan naluri kolektif tumbuh melalui kebiasaan bermain
selama bertahun-tahun. Semua itu memerlukan jutaan anak,
pelatih akar rumput, kompetisi lokal, ruang bermain, serta jalur pembinaan
yang hidup. Masalah China bukan terletak pada
perencanaan semata. Negara-negara kuat dalam sepak bola juga memiliki
federasi, akademi, dan strategi nasional. Perbedaannya terletak pada hubungan
antara perencanaan dan kehidupan sosial. Di China, target sering datang lebih
dahulu, sementara ekosistem belum tumbuh. Sekolah menjalankan program demi
memenuhi instruksi. Akademi dibuka untuk menunjukkan kepatuhan. Turnamen
digelar agar kegiatan dapat dicatat dalam laporan. Kegagalan sepak bola China bukan cermin
lemahnya negara. Kegagalan itu justru menunjukkan kepercayaan negara yang
terlalu besar terhadap kekuatan administratifnya sendiri. Sistem mampu memobilisasi sumber daya,
tetapi kesulitan menciptakan sesuatu yang bergantung pada spontanitas,
partisipasi, dan kebebasan mengambil keputusan. Kontras menarik terlihat dalam
liga-liga akar rumput di Guizhou dan Jiangsu. Para pemain bukan bintang bergaji
tinggi, melainkan pekerja, pedagang, petani, dan warga biasa. Penonton datang bukan untuk menyaksikan
kualitas kelas dunia, melainkan untuk mendukung tetangga, desa, atau kota
mereka. Pertandingan terasa hidup karena memiliki hubungan dengan komunitas. Liga semacam itu belum tentu
menghasilkan pemain tim nasional. Antusiasme lokal tidak otomatis melahirkan
prestasi internasional. Kehadirannya tetap penting sebagai
pengingat bahwa sepak bola tumbuh saat orang merasa permainan tersebut milik
mereka, bukan sekadar program pemerintah. Warga China tampaknya memahami paradoks
tersebut lebih cepat daripada birokrasi. Lelucon mereka tidak selalu bermaksud
menentang pemerintah. Banyak penggemar bahkan masih menginginkan intervensi
negara yang lebih tegas. Mereka mengejek birokrasi, lalu
berharap birokrasi memperbaiki semuanya. Kontradiksi itu menggambarkan hubungan
publik China dengan negara secara lebih jujur daripada slogan mana pun. Piala Dunia 2026 memperlihatkan dua
wajah China. Satu wajah menampilkan kekuatan
industri, teknologi, pasar, dan integrasi global. Wajah lainnya memperlihatkan batas
kemampuan negara dalam membentuk budaya, kreativitas, dan kehidupan sosial. China mampu membuat kendaraan, layar,
perangkat digital, seragam, serta jutaan suvenir untuk Piala Dunia. Hal yang belum mampu dibuatnya adalah
sebuah tim nasional yang layak berada di sana. Dari jarak antara dua
kenyataan itulah lahir lelucon sepak bola paling getir di China. ● |
Sumber
: https://bola.kompas.com/read/2026/06/16/11290068/piala-dunia-china-dan-sebelas-pemain-yang-tak-kunjung-datang?page=all#page2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar