Kamis, 02 Juli 2026

 

Piala Dunia, China, dan Sebelas Pemain yang Tak Kunjung Datang

Virdika Rizky Utama : Peneliti PARA Syndicate

KOMPAS.COM, 16 Juni 2026

 

 

                                                           

CHINA hadir hampir di mana-mana dalam Piala Dunia 2026. Bus listrik dan kereta ringan buatan perusahaan China mengangkut penumpang di kota-kota tuan rumah Meksiko.

 

Perangkat Lenovo menopang operasi turnamen dan pusat penyiaran.

 

Layar Hisense digunakan dalam sistem video assistant referee.

 

Kelme memasok seragam untuk dua negara peserta. Dari Yiwu dan Qingdao, jutaan bendera, syal, topi, boneka, dan bola suvenir dikirim untuk menyambut pesta sepak bola terbesar di dunia.

 

China bahkan hadir melalui para pengadil pertandingan. Ma Ning terpilih sebagai wasit, Zhou Fei sebagai asisten wasit, dan Fu Ming bertugas dalam tim video assistant referee.

 

Hampir setiap lapisan Piala Dunia memiliki jejak China, mulai dari kendaraan, perangkat digital, perlengkapan tim, barang dagangan, sampai orang-orang di balik keputusan pertandingan.

 

Satu-satunya unsur China yang tidak hadir justru unsur paling penting, yakni tim nasional sepak bola putra.

 

Kenyataan tersebut sudah lama menjadi bahan humor di China. Menjelang setiap Piala Dunia, lelucon serupa kembali muncul.

 

Segala sesuatu dari China akan datang ke Piala Dunia, kecuali kesebelasan nasionalnya.

 

Kalimat itu terdengar ringan, tetapi menyimpan rasa malu yang sulit disembunyikan.

 

Sebuah negara yang mampu memasok hampir seluruh kebutuhan turnamen tetap tidak sanggup mengirim sebelas pemain untuk bertanding.

 

Humor menjadi cara paling mudah untuk hidup bersama kegagalan itu. Warga China tidak lagi sekadar kecewa.

 

Mereka sudah terbiasa menertawakan harapan yang berulang kali kandas. Tim nasional kalah, pelatih diganti, federasi berjanji melakukan reformasi, lalu siklus serupa dimulai kembali.

 

Ejekan terhadap sepak bola China juga tidak berhenti pada kemampuan pemain di lapangan. Sasaran paling mudah tentu Asosiasi Sepak Bola China.

 

Organisasi tersebut lama dipandang sebagai simbol korupsi, salah urus, pergantian kebijakan, dan pemborosan.

 

Klub-klub menghabiskan dana besar untuk mendatangkan pemain dan pelatih asing, sementara pembinaan usia muda tetap rapuh.

 

Akademi dibangun, target diumumkan, dan kompetisi baru diluncurkan, tetapi hasil tim nasional hampir tidak bergerak.

 

Di balik kritik terhadap federasi, tersimpan kritik yang lebih luas terhadap cara negara mengelola sepak bola.

 

Federasi bukan lembaga independen yang berdiri di luar sistem politik. Cara kerja, pola promosi, dan mekanisme pengambilan keputusannya merupakan bagian dari kultur birokrasi negara.

 

Menertawakan federasi dapat menjadi cara aman untuk menertawakan keyakinan bahwa semua masalah bisa diselesaikan melalui instruksi, kampanye, anggaran, dan target administratif.

 

Sepak bola mendapat bobot politik lebih besar setelah Xi Jinping menyampaikan tiga harapan bagi China.

 

Negara itu diharapkan dapat lolos ke Piala Dunia, menjadi tuan rumah, lalu memenangkannya.

 

Sejak saat tersebut, sepak bola bukan lagi semata-mata urusan olahraga. Prestasi tim nasional ikut dikaitkan dengan kebangkitan nasional dan kemampuan negara mewujudkan ambisi besar.

 

Beban politik itu justru memperjelas kegagalan.

 

China sudah membuktikan kemampuan luar biasa dalam membangun infrastruktur, mengembangkan industri kendaraan listrik, menguasai manufaktur, dan mencetak prestasi dalam sejumlah cabang Olimpiade.

 

Keberhasilan tersebut melahirkan keyakinan bahwa sepak bola dapat ditaklukkan dengan rumus serupa.

 

Pemerintah menetapkan tujuan, mengerahkan dana, membangun akademi, dan meminta sekolah menjalankan program sepak bola.

 

Sepak bola tidak bekerja seperti pembangunan jalur kereta atau pabrik baterai. Stadion dapat dibangun melalui perintah.

 

Budaya bermain tidak dapat diciptakan dengan cara serupa.

 

Kreativitas, improvisasi, keberanian mengambil keputusan, dan naluri kolektif tumbuh melalui kebiasaan bermain selama bertahun-tahun.

 

Semua itu memerlukan jutaan anak, pelatih akar rumput, kompetisi lokal, ruang bermain, serta jalur pembinaan yang hidup.

 

Masalah China bukan terletak pada perencanaan semata. Negara-negara kuat dalam sepak bola juga memiliki federasi, akademi, dan strategi nasional.

 

Perbedaannya terletak pada hubungan antara perencanaan dan kehidupan sosial. Di China, target sering datang lebih dahulu, sementara ekosistem belum tumbuh.

 

Sekolah menjalankan program demi memenuhi instruksi. Akademi dibuka untuk menunjukkan kepatuhan. Turnamen digelar agar kegiatan dapat dicatat dalam laporan.

 

Kegagalan sepak bola China bukan cermin lemahnya negara. Kegagalan itu justru menunjukkan kepercayaan negara yang terlalu besar terhadap kekuatan administratifnya sendiri.

 

Sistem mampu memobilisasi sumber daya, tetapi kesulitan menciptakan sesuatu yang bergantung pada spontanitas, partisipasi, dan kebebasan mengambil keputusan.

 

Kontras menarik terlihat dalam liga-liga akar rumput di Guizhou dan Jiangsu.

 

Para pemain bukan bintang bergaji tinggi, melainkan pekerja, pedagang, petani, dan warga biasa.

 

Penonton datang bukan untuk menyaksikan kualitas kelas dunia, melainkan untuk mendukung tetangga, desa, atau kota mereka. Pertandingan terasa hidup karena memiliki hubungan dengan komunitas.

 

Liga semacam itu belum tentu menghasilkan pemain tim nasional. Antusiasme lokal tidak otomatis melahirkan prestasi internasional.

 

Kehadirannya tetap penting sebagai pengingat bahwa sepak bola tumbuh saat orang merasa permainan tersebut milik mereka, bukan sekadar program pemerintah.

 

Warga China tampaknya memahami paradoks tersebut lebih cepat daripada birokrasi.

 

Lelucon mereka tidak selalu bermaksud menentang pemerintah. Banyak penggemar bahkan masih menginginkan intervensi negara yang lebih tegas.

 

Mereka mengejek birokrasi, lalu berharap birokrasi memperbaiki semuanya.

 

Kontradiksi itu menggambarkan hubungan publik China dengan negara secara lebih jujur daripada slogan mana pun.

 

Piala Dunia 2026 memperlihatkan dua wajah China.

 

Satu wajah menampilkan kekuatan industri, teknologi, pasar, dan integrasi global.

 

Wajah lainnya memperlihatkan batas kemampuan negara dalam membentuk budaya, kreativitas, dan kehidupan sosial.

 

China mampu membuat kendaraan, layar, perangkat digital, seragam, serta jutaan suvenir untuk Piala Dunia.

 

Hal yang belum mampu dibuatnya adalah sebuah tim nasional yang layak berada di sana. Dari jarak antara dua kenyataan itulah lahir lelucon sepak bola paling getir di China.

 

Sumber : https://bola.kompas.com/read/2026/06/16/11290068/piala-dunia-china-dan-sebelas-pemain-yang-tak-kunjung-datang?page=all#page2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar