Senin, 27 Juli 2026

 

Orang Indonesia Malas Membaca karena Bukunya Tak Sesuai

Dinda Shabrina :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 26 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Pemotongan anggaran membuat program pengembangan literasi di Perpusnas terganggu.

 

·      Banyak sekolah mengaku memiliki perpustakaan agar mendapat dana BOS.

 

·      Orang Indonesia malas membaca karena bahan bacaannya tak sesuai dengan kebutuhan.

 

DI awal menjabat Pelaksana Tugas Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada November 2023, Endang Aminudin Aziz pernah dijuluki anak buahnya sebagai perampok dan orang gila. Sebabnya, dia mengalihkan anggaran untuk pengadaan 10 juta buku di 10 ribu titik. “Pos yang tidak penting saya coret,” kata Aminudin—sejak Januari 2025 menjadi Kepala Perpusnas—di kantornya pada Selasa, 21 Juli 2026.

 

Program literasi yang ia jalankan sejak 2024 itu kini terhenti karena pemangkasan anggaran. Tahun ini, Perpusnas hanya mendapat anggaran Rp 377 miliar dari sebelumnya Rp 721 miliar. Aminudin kembali mengutak-atik anggaran dan program. Tak hanya menyetop pengadaan buku gratis, ia juga menghentikan penambahan koleksi buku dan langganan jurnal.

 

Aminudin sebenarnya bukan pustakawan. Doktor linguistik lulusan Monash University, Australia, itu sebelumnya menjadi Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Pada 2024, namanya masuk daftar 100 tokoh dunia versi majalah Time karena membangun korpus digital untuk melestarikan lebih dari 700 bahasa daerah dengan memanfaatkan akal imitasi atau AI.

 

Kepada jurnalis Tempo, Dinda Shabrina, Yosea Arga, dan Friski Riana, serta fotografer Tony Hartawan, Aminudin menjelaskan berbagai masalah peningkatan literasi serta pengelolaan perpustakaan. Dalam wawancara selama sekitar dua setengah jam, ia menyatakan ada berbagai perpustakaan yang berfasilitas baik tapi sepi pengunjung dan tak mengadakan kegiatan literasi.

 

Ia juga bercerita soal penetapan bahasa Indonesia sebagai lingua yang digunakan Organisasi Pendidikan, Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Aminudin menjadi inisiator upaya tersebut.

 

Seperti apa dampak pemangkasan anggaran Perpusnas?

 

Untuk 2026, anggaran perpustakaan sebelumnya Rp 721 miliar, kemudian turun menjadi Rp 580 miliar sekian, dan sekarang Rp 377 miliar. Untuk operasi dan gaji saja Rp 271 miliar. Dengan sangat terpaksa, saya meniadakan program bantuan buku. Kami punya ruang fiskal yang sedikit.

 

Memang berapa kebutuhan anggaran untuk program bantuan buku?

 

Target kami 10 juta buku diberikan di 10 ribu lokus, seperti taman baca masyarakat, desa, dan kelurahan. Ini angka besar. Bisa puluhan miliar, malah mungkin ratusan miliar rupiah. Angka 10 ribu lokus bukan berarti paling baik, tapi karena anggaran yang tersedia sebatas itu. Kami juga punya ribuan relawan yang menggerakkan literasi di 10 ribu lokasi. Tahun ini kami merekrut 360 orang.

 

Pemangkasan ini menunjukkan peningkatan literasi belum jadi prioritas pemerintah?

 

Kalau melihat Asta Cita, sebetulnya literasi masuk program prioritas. Bicara tentang literasi karena ini bagian dari pendidikan, sumber daya manusia, seolah-olah programnya sudah beranggaran besar. Tapi, untuk literasi yang khusus digarap Perpusnas sendiri, porsinya masih kecil.

 

Sebagian dana pendidikan malah digunakan untuk makan bergizi gratis....

 

Tidak dalam kapasitas saya mengatakan itu. Kepanjangan MBG bagi Perpusnas adalah membaca buku gratis. Kami kasih bukunya gratis.

 

Selain buku, program apa yang terkena dampak?

 

Anggaran pengembangan koleksi dan langganan jurnal yang sebelumnya besar sekarang tidak ada lagi. Ya sudah, kami kurangi pengadaan koleksi itu. Kami masih bisa menambah koleksi dari SSKCKR (serah simpan karya cetak dan karya rekam) yang diserahkan penerbit-penerbit.

 

Program literasi lain masih berjalan?

 

Yang kami pertahankan kuliah kerja nyata atau KKN tematik literasi yang bergerak di desa selama 30-40 hari. Dengan buku yang tahun lalu kami berikan ke desa dan taman bacaan, masyarakat desa bisa belajar membaca, menulis, mendongeng, dan berkreativitas dengan para mahasiswa. Ada juga Relawan Literasi Masyarakat atau Relima. Ribuan relawan memanfaatkan buku dari kami di pusat kesehatan masyarakat, desa, perpustakaan umum, taman baca masyarakat, hingga lembaga pemasyarakatan.

 

Kenapa Relima dipertahankan?

 

Supaya mereka tetap bergerak, dapat menyalakan kantong-kantong literasi. Lalu pengakuan negara tidak hilang. Mereka memang meminta bukunya ditambah lagi. Saya bilang, enggak bisa. Sudah, sekarang mikir dulu yang ada. Buku tahun lalu masih ada. Pakai buku itu.

 

Daerah mana yang diutamakan dalam peningkatan literasi?

 

Daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T yang kondisi literasinya masih belum baik dan yang kapasitas fiskalnya sangat rendah. Dulu DAK (dana alokasi khusus) nonfisik ini, entah daerah kaya entah miskin, tetap mendapatkannya karena sesuai dengan usulan. Sekarang kami harus berpihak kepada daerah yang tak mampu. Tahun ini kami hanya bisa memberikan bantuan DAK nonfisik ke 168 kabupaten, kota, provinsi.

 

Di luar literasi, apa prioritas Anda?

 

Program TPBIS (Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial) yang sejak 2018 menjadi program prioritas nasional. Tidak mungkin kami hilangkan. Tapi targetnya kami turunkan dari 1.000 menjadi 750. Berikutnya pelestarian naskah yang makin hari makin rusak kalau hanya disimpan dan didiamkan. Tetap harus kami adakan uangnya walaupun targetnya tidak sama.

 

Bagaimana caranya? Kan, anggarannya minim….

 

Ada teman-teman pustakawan yang kreatif mencari hibah dan mendapat 28 ribu pound sterling atau sekitar Rp 600 juta untuk menyelamatkan naskah yang rusak gara-gara banjir di Sumatera. Ada juga untuk naskah di Solo, Jawa Tengah. Tapi, karena proposalnya memang untuk menyelamatkan naskah di Solo, jadi dananya untuk di sana.

 

Anda mencari sumber pendanaan alternatif untuk program lain?

 

Kami ini kan LPNK (lembaga pemerintah non-kementerian), punya keterbatasan dalam mencari peluang pendanaan. Uangnya tidak langsung masuk ke kami. Yang kami lakukan mendekati lembaga lain. Misalnya di desa enggak ada duit, kami mengobrol dengan Menteri Desa. Kepala desa itu ada yang mengalokasikan Rp 500 ribu-1 juta sebulan untuk pegiat literasi. Besarannya tergantung kepala desa. Jadi, bagi saya, ketiadaan anggaran bukan kiamat.

 

Seperti apa keterlibatan Perpusnas dalam program prioritas Presiden?

 

Kami menangani perpustakaan sekolah rakyat. Untuk sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, kami beri masing-masing 1.500 buku. Sekolah menengah atas seribu buku. Jadi, kalau satu atap, nanti SD, SMP, SMA dapat 4.000 buku.

 

Pengelolaan perpustakaan di sekolah sudah cukup baik?

 

Ada data pokok pendidikan yang tidak sama dengan data Perpustakaan Nasional. Ada yang mengaku punya perpustakaan dan dapat bantuan operasional sekolah (BOS) untuk pemeliharaan, pembelian buku, dan segala macamnya. Begitu kami cek, ternyata tidak ada. Ini banyak kasusnya.

 

Bagaimana Anda mengatasinya?

 

Kami memperbaiki sistemnya dengan menyatukan nomor pokok sekolah nasional (NPSN) dan nomor pokok perpustakaan (NPP). Ini akan terpantau dan ada perubahan orientasi. Sebelumnya perpustakaan di sekolah sangat tidak diperhatikan, sekarang mendapatkan perhatian dengan adanya NPP yang akan disatukan dengan data NPSN.

 

Apa dampak penyatuan data tersebut?

 

Dampaknya pada pembelanjaan buku dengan uang yang 10 persen dari dana BOS. Lalu ada pustakawan yang akan diangkat di sekolah. Ini bentuk perhatian Kementerian Pendidikan untuk menggerakkan literasi dan menyadari pentingnya perpustakaan di sekolah.

 

Bagaimana pengembangan perpustakaan yang dikelola pemerintah daerah?

 

Kami sedang memperbarui instrumen untuk penilaian Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM). Dulu provinsi hanya ongkang-ongkang kaki karena akan mendapat nilai dari agregat kabupaten dan kota. Instrumen itu yang sedang kami perbaiki.

 

Apa saja ukuran IPLM?

 

Dulu lebih pada soal kepatuhan aturan. Kami memperhatikan luas ruangan perpustakaan, jumlah buku, dan stafnya. Kalau perangkat segala macam sudah ada, pasti nilainya bagus karena bobotnya 70 persen. Nilainya langsung A. Tapi ada perpustakaan yang tidak digunakan, hanya ditempati jin. Sekarang saya balik, lebih ke kinerjanya. Urusan fasilitas dan segala macamnya 30 persen. Yang kegiatannya besar dan banyak, saya kasih 70 persen. Makanya mereka syok.

 

Karena nilai mereka turun jauh?

 

Kalau nilai jeblok, berarti itu tidak ada kegiatan. Kami lebih berpihak pada kreativitas untuk menggerakkan literasi di akar rumput dan lembaga-lembaga. Perpustakaan kecil tak jadi soal, bahkan tidak punya gedung juga enggak apa-apa. Yang terpenting ada kegiatan dan dicatatkan.

 

Anda masih yakin membaca adalah fondasi untuk literasi?

 

Kalau kami tidak yakin, enggak akan ada gerakan memberikan buku. Literasi itu mulainya harus dari buku. Peningkatan literasi dimulai dengan kebiasaan membaca.

 

Ada survei yang menyebutkan orang Indonesia malas membaca....

 

Data itu banyak dikutip, bahkan dalam naskah akademik Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (yang antara lain membidangi pendidikan) disebutkan bahwa hanya satu dari seribu orang Indonesia yang membaca. Data itu menyebar di mana-mana. Saya bingung datanya dari mana. Kata mereka, itu survei dari UNESCO. Tapi teman-teman di UNESCO bilang tak pernah merilis data itu. Kemudian ada data yang lebih moderat. Saya sering kutip data ini. Benar atau tidaknya, mari kita analisis.

 

Seperti apa?

 

Orang Indonesia hanya membaca 129 jam dalam setahun. Rata-rata jumlah buku yang dihabiskan selama setahun hanya 5,9 buku. Berarti satu buku pun tidak selesai dalam sebulan. Saya tidak percaya data ini. Hampir di setiap tempat, buku yang kami berikan itu dinantikan. Yang paling benar adalah orang Indonesia malas membaca karena bahan bacaannya tidak sesuai dengan kebutuhannya.

 

Bagaimana memastikan buku itu sesuai dengan kebutuhan atau minat?

 

Sewaktu di Badan Bahasa, saya mengumpulkan sekitar 400 anak. Kami tanya mereka suka buku apa. Ada yang suka superhero. Anak perempuan suka Cinderella. Kami tanya juga orang tua mereka. Mereka ingin buku yang dibaca anak-anak itu tentang pengajaran moral. Tapi tidak mungkin kami berikan buku itu kepada anak berusia empat-lima tahun. Kami beri muatan, disisipkan di buku itu.

 

Siapa yang menulis?

 

Para ahli sastra anak dengan bahasa anak. Kami sudah bikin sekitar 2.000 judul. Kemudian saya ke Perpustakaan Nasional, saya bawa buku itu dan sediakan ke desa, taman bacaan masyarakat. Buku itu dimanfaatkan pegiat literasi karena menarik. Jadi anak diberi hak untuk menilai juga buku mana yang dia suka.

 

Di tengah antusiasme membaca buku digital, apakah buku fisik masih penting?

 

Buku fisik tetap dan sampai kapan pun akan relevan. Kalau menganggap Indonesia adalah Jakarta, kota besar dengan akses Internet, setiap orang punya gawai dan kuota, kita mungkin tidak memikirkan urusan buku cetak. Tapi tidak semua orang memiliki keistimewaan mengakses Internet serta punya gawai dan kuota. Jangankan di daerah 3T, di Pulau Jawa saja, tidak semua orang punya fasilitas itu. Ketersediaan buku fisik ini adalah untuk memberikan fasilitas kepada mereka yang tidak mendapatkan akses istimewa.

 

Anda menjadi inisiator penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi sidang UNESCO. Bagaimana ceritanya?

 

Anak-anak muda kita sudah mulai banyak yang meninggalkan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia tidak mungkin menjadi bahasa resmi ASEAN karena tidak ada official language. Yang ada adalah working language, yaitu bahasa Inggris. Cara lain muncul, bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa UNESCO.

 

Banyak yang mendukung usulan tersebut?

 

Saya melapor kepada eselon I di Kementerian Pendidikan. Tidak ada yang mendukung. Saya berbicara sama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Nadiem Makarim. Saya meminta izin berjuang menginternasionalkan bahasa Indonesia melalui UNESCO. Dia bilang, “It doesn't make sense, Pak Amin.”

 

Kenapa dianggap tidak masuk akal?

 

Dia bilang, “Coba Pak Amin bayangkan. Anggota UNESCO berapa?” Ya, sekitar 140 negara. “Mau-enggak Pak Amin diplomasi satu-satu? That's money. Pak Amin, kan, enggak punya anggaran,” ujarnya lagi. Saya bilang tidak minta duit, tapi izin. Kalau pergi ke Paris (lokasi sidang umum UNESCO pada 20 November 2023), izinkan saya pergi dan menggunakan uang negara. Total mungkin Rp 50 juta.

 

Apa strategi Anda di sana?

 

Izin meminta agenda dibahas di steering committee lama sekali. Belum tentu disetujui dalam sidangnya. Nah, pada Agustus 2023 keluar pengumuman akan dibahas pada 8 November 2023. Saya harus ke Paris untuk melakukan presentasi. Saya menjelaskan sejarah bahasa Indonesia dan alasan pengusulan. Kata mereka, oke. Lantas ditanya, apa nomenklaturnya? Indonesian and Malay? Atau Indonesian language? Saya katakan, rumusan di dalam konstitusi kami adalah bahasa Indonesia.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/wawancara/kepala-perpusataan-nasional-orang-indonesia-malas-membaca-2278235

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar