|
TNI AD DI UJUNG TANDUK: BERHENTI BERMIMPI, MULAI BERADAPTASI! Mayjen TNI Purn. Fulad : Penasihat Militer RI untuk PBB 2017–2019 |
ORBIT INDONESIA, 03 Juni 2026
|
Dunia saat ini tengah
berubah dengan cepat. Pola persaingan antarnegara tidak lagi semata-mata
mengandalkan kekuatan otot atau jumlah tank, tetapi lebih pada penguasaan
data, teknologi drone, dan kecepatan beradaptasi. Peristiwa perang antara
Iran melawan AS dan Israel pada Februari 2026 menjadi momentum penting bagi
kita semua. Bukan karena skala kerusakannya, melainkan karena cara perang itu
berlangsung sangat berbeda dari ekspektasi kita selama ini. Sekitar 300 drone
dan rudal murah mampu melumpuhkan sistem pertahanan yang tergolong paling
mahal di dunia. Markas militer lumpuh akibat serangan siber, bukan karena
bom. Opini publik pun diarahkan oleh hoaks, bahkan sebelum tembakan pertama
dilepaskan. Tentu ini bukan berarti
TNI AD tidak mampu. Namun, sebagai bagian dari institusi yang saya cintai,
saya merasa perlu mengajak kita semua bertanya secara jujur: jika besok
kejadian serupa menimpa kita, apakah doktrin dan alutsista kita saat ini
sudah cukup? Apakah kita masih akan mengandalkan tank dan semangat juang '45
tanpa diimbangi penguasaan teknologi digital dan kesiapan siber? Saya tidak bermaksud
merendahkan. Saya hanya prihatin. Karena keterlambatan kita dalam membaca
tanda-tanda zaman, pada akhirnya, bisa membahayakan nyawa prajurit-prajurit
terbaik kita. Mari kita buka mata, tanpa harus menghakimi diri sendiri. BERHENTI OBSESI TANK,
MULAI WARAS MELAWAN SWARM Kita masih terbuai.
Anggaran miliaran rupiah masih kita bakar untuk beli tank berat, meriam,
panser. Bagus untuk parade. Tapi tidak untuk perang masa depan. Iran membuktikan: satu
drone kamikaze Rp5 juta bisa membuat tank Leopard Rp100 miliar jadi peti mati
berjalan. Iron Dome Rp800 triliun kewalahan menghadapi "banjir nyamuk
baja". Ini kritik saya yang
tegas: kalau TNI AD masih berpikir perang itu soal "siapa tanknya lebih
tebal", maka kita sedang menyiapkan prajurit kita untuk dibantai. Yang kita butuh sekarang:
jamming gun di setiap pos. Radar anti-drone di setiap Kodam. Ribuan prajurit
Kostrad/Kopassus yang jago menerbangkan drone FPV rakitan anak bangsa.
Perisai anti-drone, bukan hanya baja anti-peluru. Berhentilah bermimpi
tentang perang WW2. Musuh kita besok tidak akan mengirim divisi tank. Dia
akan mengirim 10.000 drone dari kontainer. MARKAS KITA LUMPUH LEBIH
DULU – ITU FAKTA, BUKAN FITNAH Ini bagian paling
menyakitkan. Perang Iran dimulai bukan dengan sirene, tapi dengan layar
hitam. Hacker mematikan listrik, rumah sakit, bank, komunikasi. Berani jujur? Seberapa
kuat server Kodam kita? Data logistik gudang munisi kita kalau dibobol
hacker, prajurit kita mau makan apa? Komunikasi radio kita kalau dijamming,
Dandim mau perintah pakai teriakan? Jangan salahkan BSSN saja
kalau nanti Kodam lumpuh. Itu tanggung jawab Pangdam. Keamanan siber bukan
"urusan IT". Itu urusan komando. Itu urusan nyawa prajurit. Perintahkan setiap Kodam
wajib punya Tim Cyber AD. Latihan "Mati Lampu Digital" setiap 6
bulan. Kalau internet mati 3 hari, rantai komando harus tetap jalan pakai HF,
kurir, dan peta kertas. Kalau tidak bisa, berarti kita sudah kalah sebelum
perang. BABINSA KALAH DI MEDSOS =
KITA KALAH DI PAPUA Saya lihat sendiri di PBB
2017–2019. Hoaks "Pasukan PBB perkosa warga" lebih efektif
menjatuhkan misi perdamaian daripada satu batalyon musuh. Di Papua, KKB sudah
menang telak di ranah ini. 70% "kemenangan" mereka bukan dari baku
tembak, tapi dari satu video hoaks "TNI nembak warga sipil" yang
viral dan membuat TNI dibenci rakyatnya sendiri. Ini kritikan paling
pahit: kita punya Babinsa terbaik di dunia soal berbincang dengan warga. Tapi
Babinsa kita kalah telak melawan satu bocah buzzer dengan 10 akun palsu. Tuntutannya: lahirkan
"Cyber Babinsa" sekarang juga. Bekali mereka HP, powerbank,
Starlink, dan kemampuan OSINT. Tugas mereka bukan hanya cegah maling ayam.
Tugas mereka cegah "pencurian pikiran warga". Senjata Babinsa masa
depan: SS2 di tangan kanan, HP berisi data kebenaran di tangan kiri. Kalau
Babinsa kalah di grup WA desa, maka satu batalyon di hutan pun tidak ada
artinya. TUNTUTAN KONKRET KEPADA
NEGARA: BERHENTI BICARA, MULAI BEKERJA Kritik tanpa solusi itu
omong kosong. Sebagai mantan Penasihat PBB, saya tahu: pembuat kebijakan
hanya bergerak kalau ada angka, target, dan batas waktu. Ini tiga harga mati
yang harus ditandatangani tahun 2026: 1. ANGGARAN: ALIHKAN 20%
UNTUK "PERISAI ANTI-DRONE NASIONAL" Stop beli alutsista
"gagah-gagahan" yang hanya buat parade. Alihkan 20% anggaran
alutsista TNI AD 2026–2027 khusus untuk radar frekuensi rendah, jamming gun,
dan drone FPV rakitan lokal. Kita harus bisa "membanjiri" musuh
dengan drone kita sendiri, sebelum dibanjiri drone musuh. 1. BENTUK "KOMANDO
PERTAHANAN SIBER AD" SETINGKAT KOSTRAD Jangan lagi taruh urusan
siber di bawah sub-dinas yang anggaran dan personelnya meminta-minta. Bentuk
Kotersiber AD. Kasih bintang tiga. Kasih wewenang. Tugasnya satu: jaga gawang
data Kodam-Kodam. Kalau markas lumpuh, jenderal mana pun tidak bisa berbuat
apa-apa. 1. 10.000 BABINSA WAJIB
SERTIFIKASI "CYBER BABINSA" DALAM 2 TAHUN Ini paling penting. Dalam
24 bulan, 10.000 Babinsa terdepan wajib lulus uji: bedah hoaks OSINT, buat
konten klarifikasi 1 menit, operasi radio HF saat internet mati. Negara wajib
memberi mereka HP militer, powerbank, dan kuota Starlink. Babinsa adalah firewall
terakhir kita. Jangan biarkan dia bertarung dengan bambu runcing di era AI. PENUTUP Saya bicara keras bukan
karena benci. Saya bicara keras karena saya sayang sama prajurit TNI AD. Saya
tidak mau anak buah kita mati konyol karena jenderalnya masih hidup di masa
lalu. Pengalaman saya di PBB
mengajarkan satu hukum rimba baru: yang didengar dunia bukan yang teriak
paling keras, tapi yang datang dengan data paling valid dan adaptasi paling
cepat. TNI AD punya dua pilihan: Berubah: akui kita
tertinggal. Bakar ego. Laksanakan tiga tuntutan konkret di atas. Cetak
prajurit yang tangannya pegang senjata, otaknya paham AI. Mati bersama ego:
pertahankan doktrin lama. Bangga dengan parade tank. Lalu kaget, menangis,
dan menyalahkan Tuhan saat markas kita gelap, prajurit kita buta, dan rakyat
kita termakan hoaks. Indonesia tidak mencari
perang. Tapi kalau perang datang menjemput, maka TNI AD harus siap. Siap
bukan hanya dengan baja, tapi dengan otak, data, dan kecepatan. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar