|
Darurat Bahan Bakar
Minyak Bersubsidi Fery
Firmansyah : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 26
Juli 2026
|
· Antrean kendaraan yang membeli bahan
bakar bersubsidi makin panjang. · Stok bahan bakar bersubsidi diduga
makin menipis karena migrasi konsumen. · Perusahaan taksi berlomba menyediakan
kendaraan yang sangat irit bahan bakar. SEJAK
awal Juli 2026, hampir setiap hari muncul kabar tentang antrean di stasiun
pengisian bahan bakar umum (SPBU). Di Jakarta, kebetulan saya pernah satu
kali melihat antrean mobil dan sepeda motor di pompa pengisian Pertalite di
SPBU kawasan Palmerah. Tapi, menurut kawan di Sumatera, pemandangan itu
terjadi setiap saat di semua SPBU. Pada
awalnya kondisi ini terlihat biasa. Antrean bisa saja terjadi karena truk
tangki pengangkut bahan bakar datang terlambat atau memang ketika itu
kebetulan terlalu banyak konsumen yang datang. Namun
kami di tim Ekonomi dan Bisnis Tempo melihat sesuatu yang tidak biasa tatkala
kawan-kawan di daerah bercerita bahwa antrean orang yang membeli bahan bakar
sangat panjang. Banyak di antara pemilik mobil pribadi dan sopir kendaraan
umum datang ke SPBU pada pagi dan baru mendapatkan Pertalite atau solar
menjelang sore. Kami
juga melihat ada persoalan lain lantaran yang cenderung langka adalah bahan
bakar bersubsidi, seperti Pertalite dan solar. Beberapa pemilik SPBU di
Sumatera bercerita bahwa mereka hanya mendapatkan pasokan separuh dari
biasanya. Di sini
muncul dugaan, apakah pemerintah dan PT Pertamina (Persero) menjalankan
pembatasan pasokan secara diam-diam karena stok menipis atau jangan-jangan
stok bahan bakar bersubsidi sudah tiris? Namun manajemen Pertamina selalu
menjawab “stok aman” ketika ditanya soal ini. Untuk
mengetahui apa yang terjadi, kami menugasi kawan-kawan koresponden di
sejumlah daerah, dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, hingga Nusa
Tenggara Timur. Ternyata gejala ini terjadi di belahan barat hingga timur
pada kurun waktu yang hampir sama. Bahan bakar yang cenderung langka adalah
Pertalite dan solar, sedangkan yang tak disubsidi seperti Pertamax cenderung
aman. Kami
juga mewawancarai sejumlah pejabat pemerintah, petinggi grup Pertamina,
anggota Dewan Perwakilan Rakyat, hingga pihak lembaga pemantau masalah
publik. Dari mereka, kami mengetahui ada persoalan dalam penetapan kuota
antardaerah hingga masalah stok Pertalite dan solar yang makin menipis. Stok dua
bahan bakar bersubsidi ini makin tiris setelah Pertamina menaikkan harga
Pertamax dan bahan bakar nonsubsidi lain pada 10 Juni 2026. Konsumen Pertamax
dan bahan bakar nonsubsidi rupanya banyak yang berpindah ke bahan bakar yang
lebih murah. Cerita
lain yang tak kalah menarik adalah modus-modus konsumen mengakali metode
pembatasan pembelian bahan bakar bersubsidi. Selama ini Pertamina menerapkan
kode respons cepat atau quick response (QR) code khusus di aplikasi
MyPertamina bagi konsumen yang berhak membeli bahan bakar bersubsidi. Di
Sumatera, berdasarkan pemantauan koresponden kami dan informasi dari Badan
Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi, banyak orang yang memiliki belasan QR
code untuk pelat nomor yang sama. Artinya, mereka bisa bolak-balik membeli
Pertalite atau solar seolah-olah tanpa pembatasan. Di luar
hiruk-pikuk antrean di SPBU, kami menyajikan cerita tentang manuver sejumlah
perusahaan taksi menekan konsumsi bahan bakar dalam artikel “Prospek Taksi
Mobil Hibrida di Tengah Kelangkaan BBM”. Para
operator taksi kini menambah armada berupa kendaraan listrik dan mobil
hibrida yang irit bahan bakar. Strategi itu kami anggap relevan dengan kondisi
saat ini, ketika harga bahan bakar makin mahal dan produk bersubsidi makin
seret karena anggaran pemerintah dipangkas. ● Sumber :
https://www.tempo.co/ekonomi/bbm-bersubsidi-pertalite-solar-pertamina-2278283 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar