Senin, 27 Juli 2026

 

Darurat Bahan Bakar Minyak Bersubsidi

Fery Firmansyah :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 26 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Antrean kendaraan yang membeli bahan bakar bersubsidi makin panjang.

 

·      Stok bahan bakar bersubsidi diduga makin menipis karena migrasi konsumen.

 

·      Perusahaan taksi berlomba menyediakan kendaraan yang sangat irit bahan bakar.

 

SEJAK awal Juli 2026, hampir setiap hari muncul kabar tentang antrean di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Di Jakarta, kebetulan saya pernah satu kali melihat antrean mobil dan sepeda motor di pompa pengisian Pertalite di SPBU kawasan Palmerah. Tapi, menurut kawan di Sumatera, pemandangan itu terjadi setiap saat di semua SPBU.

 

Pada awalnya kondisi ini terlihat biasa. Antrean bisa saja terjadi karena truk tangki pengangkut bahan bakar datang terlambat atau memang ketika itu kebetulan terlalu banyak konsumen yang datang.

 

Namun kami di tim Ekonomi dan Bisnis Tempo melihat sesuatu yang tidak biasa tatkala kawan-kawan di daerah bercerita bahwa antrean orang yang membeli bahan bakar sangat panjang. Banyak di antara pemilik mobil pribadi dan sopir kendaraan umum datang ke SPBU pada pagi dan baru mendapatkan Pertalite atau solar menjelang sore.

 

Kami juga melihat ada persoalan lain lantaran yang cenderung langka adalah bahan bakar bersubsidi, seperti Pertalite dan solar. Beberapa pemilik SPBU di Sumatera bercerita bahwa mereka hanya mendapatkan pasokan separuh dari biasanya.

 

Di sini muncul dugaan, apakah pemerintah dan PT Pertamina (Persero) menjalankan pembatasan pasokan secara diam-diam karena stok menipis atau jangan-jangan stok bahan bakar bersubsidi sudah tiris? Namun manajemen Pertamina selalu menjawab “stok aman” ketika ditanya soal ini.

 

Untuk mengetahui apa yang terjadi, kami menugasi kawan-kawan koresponden di sejumlah daerah, dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, hingga Nusa Tenggara Timur. Ternyata gejala ini terjadi di belahan barat hingga timur pada kurun waktu yang hampir sama. Bahan bakar yang cenderung langka adalah Pertalite dan solar, sedangkan yang tak disubsidi seperti Pertamax cenderung aman.

 

Kami juga mewawancarai sejumlah pejabat pemerintah, petinggi grup Pertamina, anggota Dewan Perwakilan Rakyat, hingga pihak lembaga pemantau masalah publik. Dari mereka, kami mengetahui ada persoalan dalam penetapan kuota antardaerah hingga masalah stok Pertalite dan solar yang makin menipis.

 

Stok dua bahan bakar bersubsidi ini makin tiris setelah Pertamina menaikkan harga Pertamax dan bahan bakar nonsubsidi lain pada 10 Juni 2026. Konsumen Pertamax dan bahan bakar nonsubsidi rupanya banyak yang berpindah ke bahan bakar yang lebih murah.

 

Cerita lain yang tak kalah menarik adalah modus-modus konsumen mengakali metode pembatasan pembelian bahan bakar bersubsidi. Selama ini Pertamina menerapkan kode respons cepat atau quick response (QR) code khusus di aplikasi MyPertamina bagi konsumen yang berhak membeli bahan bakar bersubsidi.

 

Di Sumatera, berdasarkan pemantauan koresponden kami dan informasi dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi, banyak orang yang memiliki belasan QR code untuk pelat nomor yang sama. Artinya, mereka bisa bolak-balik membeli Pertalite atau solar seolah-olah tanpa pembatasan.

 

Di luar hiruk-pikuk antrean di SPBU, kami menyajikan cerita tentang manuver sejumlah perusahaan taksi menekan konsumsi bahan bakar dalam artikel “Prospek Taksi Mobil Hibrida di Tengah Kelangkaan BBM”.

 

Para operator taksi kini menambah armada berupa kendaraan listrik dan mobil hibrida yang irit bahan bakar. Strategi itu kami anggap relevan dengan kondisi saat ini, ketika harga bahan bakar makin mahal dan produk bersubsidi makin seret karena anggaran pemerintah dipangkas.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/ekonomi/bbm-bersubsidi-pertalite-solar-pertamina-2278283

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar