|
Survei Londo Ireng Ahmadie Thaha : Kolumnis, mantan wartawan Majalah TEMPO dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 29 Juli 2026
|
Saiful
Mujani berhak mengkritik Prabowo. Tapi ketika pemilik lembaga survei ikut
menyerukan presiden dijatuhkan, termometernya ikut menghadapi ujian
kredibilitas. Ada pekerjaan yang menuntut orang
menjaga jarak dari barang yang diukurnya. Wasit boleh mencintai sepak bola,
tapi sebaiknya jangan ikut menendang bola ketika pertandingan berlangsung.
Auditor boleh punya pandangan tentang perusahaan yang diperiksanya, tapi agak
repot jika ia mengkritik di depan kantor perusahaan itu. Begitu pula lembaga survei politik. Ia
bertugas mengukur pendapat masyarakat tentang pemerintah dan tokoh politik.
Karena itu, ketika pemiliknya ikut aktif menyerukan jatuhnya tokoh yang
sedang diukur, orang wajar bertanya: masih bisakah hasil surveinya dipercaya
sepenuhnya? Di situlah Saiful Mujani menghadapi
persoalan yang lebih menarik dari perkara pidana yang membuntutinya. Pendiri
Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) ini doktor ilmu politik Ohio
State University, akademisi dan peneliti opini publik. Karena itu, ucapan
politiknya mempunyai bobot berbeda dari celotehan influencer. Pada April 2026, Saiful menjadi
kontroversial setelah berbicara tentang konsolidasi masyarakat untuk
“menjatuhkan” Presiden Prabowo Subianto. Ia menjelaskan bahwa maksudnya bukan
makar, melainkan political engagement, bagian dari kebebasan dan partisipasi
demokratis. Belakangan ia bahkan berbicara tentang
people power sebagai alternatif karena menilai jalur formal pemakzulan sulit
bekerja. Hak Saiful berbicara tentu harus dilindungi. Kritik kepada presiden
tidak menjadi makar hanya karena nadanya keras. Negara demokratis tak perlu
alergi kritik. Tapi persoalannya bukan cuma boleh
atau tidak. Ada pertanyaan lain: patutkah figur yang begitu identik dengan
lembaga pengukur opini publik sekaligus tampil sebagai partisan dalam
pertarungan yang sedang diukurnya, apa pun alasannya? Ini perkara kredibilitas,
bukan kriminalitas. Di tengah pertanyaan itu, perusahaan
Saiful, SMRC, lalu tampil menayangkan hasil survei kepuasan terhadap Prabowo.
Survei 5–19 Juli dengan 749 responden itu menyebut angkanya tinggal 51,1
persen. Persentasenya turun 30,1 poin dalam sembilan bulan. Pada November
2025 kepuasan publik terhadap Prabowo masih 81,2 persen. Bahkan menurut survei terbaru itu,
49,4 persen responden menilai kondisi ekonomi buruk atau sangat buruk,
sementara hanya 15,7 persen menilainya baik atau sangat baik. Ini hantaman
telak dengan angka. Tapi di sinilah muncul ironi pembuat survei yang sebelumnya
sudah berteriak bahwa pasiennya sakit. Survei SMRC boleh jadi sepenuhnya
akurat. Jika mau mengkritiknya, harus pula dijawab dengan survei tandingan.
Metode harus dinilai berdasarkan metode, bukan berdasarkan siapa pemilik
perusahaan. Kalau sampelnya benar, pertanyaan
tidak menggiring, pembobotan tepat dan pengolahan data profesional,
ketidaksukaan kepada Saiful tidak dapat menyulap 51,1 menjadi 81,2. Statistik
tidak mengenal sakit hati. Tapi penelitian juga membutuhkan
independensi yang bukan hanya ada, melainkan "terlihat ada". Inilah
yang disebut perceived conflict of interest. Bukan berarti Saiful
memanipulasi survei. Masalahnya, publik mempunyai alasan untuk bertanya. Apalagi nama perusahaannya
"Saiful Mujani Research and Consulting". Nama pendirinya terpampang
di situ. Publik awam tentu sulit memisahkan dengan pisau bedah antara Saiful
sebagai warga negara dan SMRC sebagai lembaga riset. Secara organisatoris
mereka mungkin berbeda tugas. Tapi publik melihat, Saiful pemiliknya. Karena itu, makin jauh Saiful masuk
gelanggang politik, makin tinggi pagar kelembagaan yang dibutuhkan SMRC.
Metodologi dan kuesioner perlu terbuka, pendanaan survei transparan, dan
aktivitas politik pendiri dipisahkan tegas dari manajemen penelitian. Ini
supaya orang tak gampang menuduhnya curang. Namun di seberang lapangan, Prabowo
juga menghadapi problem yang hampir menjadi bayangan cerminnya. Jika Saiful
dianggap terlalu jauh masuk gelanggang sehingga surveinya ikut dicurigai,
Presiden terlalu sering memberi nama aneh kepada orang yang membawa
termometer yang siap mengukur kinerjanya. Yang terbaru: “londo ireng.” Dalam
pidato Harlah ke-28 PKB, 23 Juli 2026, Prabowo berbicara tentang “londo
ireng” yang menurutnya masih ada sampai sekarang, sambil menyinggung
wartawan, pengamat dan LSM yang dianggap terus menggambarkan Indonesia secara
negatif. Sebelumnya muncul pula ungkapan
tentang pengamat yang tidak patriotik, “antek asing”, dan kekuatan luar di
balik kritik kepada pemerintah. Politik kita rupanya sedang membuka kamus
kolonial seperti “londo ireng” untuk mencari kosakata menghadapi abad digital. Masalahnya bukan sekadar kata-katanya
kasar. Demokrasi tidak akan roboh gara-gara presiden memakai bahasa warung
kopi. Yang berbahaya ialah ketika substansi kritik diganti dengan identitas
pengkritik. Lembaga survei mengatakan approval rating turun, mestinya dijawab
dengan survei pembanding atau perbaikan kebijakan. Begitu pengkritik disebut “antek
asing”, “tidak patriotik”, atau “londo ireng”, pertanyaan pun bergeser.
Semula: apakah kritiknya benar? Lalu menjadi: apakah orangnya cukup
Indonesia? Ini sama dengan penggunaan logika ad hominem: isi argumen
dibiarkan berdiri, pembawanya yang dipukul. Lucunya, Saiful dan Prabowo akhirnya
bertemu pada satu problem: posisi orang menjadi lebih menonjol dari isi
argumen. Saiful membuat publik bertanya apakah angka surveinya murni atau
ikut berpolitik. Prabowo membuat publik bertanya apakah pemerintah sedang
menjawab kritik atau sibuk memilah siapa kawan dan siapa lawan. Padahal keduanya dapat berbuat lebih
baik. Saiful cukup mengatakan: inilah metodologi kami; bongkar, uji,
replikasi, dan buktikan jika salah. SMRC bahkan dapat membangun firewall
kelembagaan antara pandangan pendirinya dan produksi data. Presentasi survei
Juli pun sudah dilakukan Deni Irvani, bukan Saiful sendiri. Prabowo juga dapat mengatakan: saya
tidak setuju dengan Saiful, tapi pemerintah akan memeriksa mengapa kepuasan
turun 30,1 poin. Apalagi survei yang sama mencatat hanya 13,5 persen publik
menilai kondisi politik baik atau sangat baik, dan 26,4 persen menilai
penegakan hukum baik atau sangat baik. Survei bahkan dapat menjadi hadiah
bagi pemerintah. Ia memberitahu sebelum pemilu memberitahu. Seperti alarm
asap: bunyinya menjengkelkan, tapi jauh lebih murah dari menunggu rumah
terbakar. Bandingkan temuan SMRC dengan lembaga survei lain, data BPS, daya
beli, pengangguran, konsumsi rumah tangga dan kepercayaan konsumen. Kalau SMRC keliru, penelitian lain
akan menunjukkannya. Kalau ternyata searah, yang perlu diperbaiki bukan
alarmnya. Demokrasi memang membutuhkan dua kedewasaan sekaligus. Pengkritik
harus menjaga kredibilitas kritiknya. Kekuasaan harus mampu menerima kritik
tanpa menganggapnya pengkhianatan. Demokrasi membutuhkan termometer
seperti survei yang tidak ikut demam, sekaligus pasien yang tidak membanting
termometer ketika melihat suhu tubuhnya naik. Saiful Mujani perlu menjaga
yang pertama. Prabowo perlu menjaga yang kedua. Sebab kalau ilmuwan sibuk menjatuhkan
presiden, sementara presiden sibuk memberi julukan kepada ilmuwan, mungkin
yang paling membutuhkan survei bukan lagi approval rating. Melainkan
kedewasaan kita berdemokrasi. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar