Senin, 27 Juli 2026

 

Antre Malam, Terisi Pagi: Fenomena Kelangkaan BBM di Daerah

Han Revanda Putra :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 26 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Biaya angkutan naik 30 persen untuk upah tambahan sopir dan biaya membeli bahan bakar eceran.

 

·      Pedagang menaikkan harga barang untuk menambal biaya tambahan sopir dan bahan bakar.

 

·      Seorang sopir di Sumatera Selatan meninggal karena kelelahan saat mengantre bahan bakar.

 

DAUD Fallo terpaksa berkeliling mendatangi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kupang, Nusa Tenggara Timur, untuk berburu solar. Pagi itu, Selasa, 21 Juli 2026, Daud sudah menyambangi empat SPBU, dari Oesapa, Kelapa Lima, Oepura, hingga Sikumana, tapi hasilnya nihil. Upayanya baru membuahkan hasil setelah dia antre di SPBU Mitra, Kelurahan Fatululi. "Solar di sejumlah SPBU kosong," ujar pria yang bekerja sebagai sopir truk itu.

 

Di Kupang, solar bersubsidi bak lenyap dari pasar sejak awal Juli. Pekerjaan Daud mengangkut batu karang dan pasir kepada pelanggan pun terganggu. Dia kesulitan memenuhi permintaan pelanggan tepat waktu sehingga terpaksa mengalihkan pesanan kepada pengemudi truk lain yang sudah mendapatkan solar.

 

Di Medan, Sumatera Utara, Adi, warga Klambir Lima, mengeluhkan persoalan yang sama. Setiap hari ia mengemudikan truk pengangkut pupuk ke Aceh. Pulangnya, truk ia isi dengan semen, pinang, dan beras. Pagi itu, Adi mengantre solar di SPBU Jalan Jenderal Gatot Subroto yang beroperasi 24 jam. Menurut dia, lama antrean kendaraan di sana bisa lebih dari dua jam. “Kalau di Aceh, lebih parah. Masuk sore, besok pagi baru terisi," katanya, lalu tertawa.

 

Adi juga mengeluhkan nihilnya tambahan uang makan dari tauke atau pemilik usaha. Padahal, dia mengungkapkan, insentif itu diperlukan sebagai pengganti lelah menunggu di SPBU. "Mana mau tahu dia? Yang penting setoran cukup," tuturnya.

 

Tapi tak semua tauke seperti itu. Jafarudin Ahmad, pedagang besar cabai dan sayur-mayur di Pasar Induk Laucih, Medan, mengaku memberikan uang lelah kepada para sopir pengangkut barang dagangannya. Upah ekstra ini ia berikan setelah para sopir mengeluh karena lebih sering menginap di SPBU. "Kasihan mereka," kata Jafar, yang tinggal di Sei Mencirim, Deli Serdang, Sumatera Utara, pada Rabu, 22 Juli 2026.

 

Tapi mana ada pedagang yang mau merugi? Untuk menambal uang tip para sopir, Jafar menaikkan harga barang dagangannya Rp 300 per kilogram. Jika harga itu dikalikan dengan volume dagangannya setiap hari sekitar 3 ton, ada Rp 900 ribu uang tambahan yang ia peroleh. Dari duit itu, Rp 500 ribu ia berikan kepada sopir.

 

Jafar punya tiga mobil pikap berbahan bakar solar dan Pertalite untuk mengangkut sayuran dari petani di Pasar Sumbul di Sidikalang dan Seribu Dolok di Simalungun, Sumatera Utara.

 

Selain pedagang eceran, ada dua dapur makan bergizi gratis di Kampung Lalang dan Deli Tua yang menjadi pelanggan tetapnya. Sopir-sopirnya biasa mengantre solar di SPBU Jalan A.H. Nasution, Medan, selepas tengah malam dan baru memperoleh pasokan menjelang subuh. “Lebih ramai antre malam daripada siang,” ujar pria 34 tahun itu.

 

Adapun untuk memperoleh Pertalite, Jafar menambahkan, mobil pikapnya antre di SPBU Simpang Selayang, tak jauh dari Pasar Induk, sejak pukul 4 subuh. Tapi itu pun tak menjamin tangkinya terisi penuh. Tak jarang, ketika stok Pertalite menipis, Jafar harus membeli Pertamax atau Pertamax Turbo yang harganya jauh lebih mahal.

 

Di Palembang, Sumatera Selatan, Sekretaris Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia Sumatera Selatan Budi Susanto mengatakan kelangkaan bahan bakar mengakibatkan pengiriman yang sebelumnya memakan waktu satu-dua hari molor menjadi tiga-empat hari. Waktu perjalanan yang lebih panjang dan biaya pembelian bahan bakar eceran yang mesti dikeluarkan ketika stok SPBU kosong membuat biaya operasional operator truk membengkak.

 

Budi menghitung, kerugian pengusaha truk untuk pengiriman di Palembang sekitar Rp 300 ribu per perjalanan. Jika pengantaran hingga ke luar kota seperti Jambi dan sekitarnya, kerugian membengkak sampai Rp 500 ribu. Bahkan, menurut Budi, pengiriman yang lebih jauh hingga ke Pekanbaru bisa mengerek kerugian hingga Rp 1 juta. “Masalah ini sudah terjadi bertahun-tahun, tapi sebelumnya tidak separah ini,” katanya.

 

Keluhan para sopir truk di Sumatera sampai ke telinga Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia Gemilang Tarigan. Di Medan, dia memberi contoh, kendaraan sudah tak bisa lagi membeli solar selepas pukul 12 siang. Para pengemudi menangkap fenomena ini sebagai pembatasan atau pengurangan pasokan. Laporan-laporan serupa ia terima dari daerah-daerah lain, baik dari Jawa maupun luar Jawa. “Ini menjadi gejala nasional,” tuturnya pada Selasa, 21 Juli 2026.

 

Gangguan ini pun berdampak anjloknya utilisasi industri logistik. Dari sebelumnya sepuluh kali perjalanan pulang-pergi yang bisa dicetak perusahaan, menurut Gemilang, kini hanya tersisa separuhnya.

 

Walhasil, penghasilan terpangkas lebih dari 50 persen. Selain itu, dia menambahkan, risiko keselamatan meningkat. Amri, 50 tahun, seorang sopir truk, meninggal ketika mengantre solar di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

 

Dampak serupa dirasakan penyedia jasa angkutan orang. Sekretaris Jenderal Organisasi Angkutan Darat Kurnia Lesani Adnan mengatakan angkutan yang sebelumnya bisa mencatatkan 12 perjalanan setiap bulan kini hanya bisa melayani enam-delapan perjalanan pulang-pergi. Antrean di SPBU dan kemacetan menyebabkan waktu tempuh perjalanan menjadi lebih panjang. “Yang paling riskan adalah keselamatan awak angkutan karena kelelahan,” katanya.

 

Keuntungan industri transportasi makin tergerus biaya operasional yang naik 15-30 persen. Kurnia mengatakan kenaikan ini disebabkan oleh pemborosan bahan bakar ketika kendaraan terjebak kemacetan dan sopir membeli solar eceran di luar SPBU yang harganya lebih mahal, yakni Rp 12-15 ribu per liter.

 

Anggota Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat yang membidangi urusan energi, Mohammad Eddy Dwiyanto Soeparno, mengatakan klaim PT Pertamina (Persero) soal ketersediaan stok bahan bakar belum dirasakan masyarakat. Ia meminta perusahaan pelat merah itu mempercepat distribusi. “Pertamina perlu bergerak cepat,” ujarnya pada Rabu, 22 Juli 2026.

 

Area Manager Communication, Relations, and Corporate Social Responsibility Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara Fahrougi Andriani Sumampouw menjelaskan, volume penyaluran solar bersubsidi mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 dan Surat Keputusan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi Nomor 04/P3JBT/BPH MIGAS/KOM/2020.

 

Aturannya adalah kendaraan pribadi roda empat maksimal memperoleh 60 liter per hari, kendaraan roda empat umum dan barang maksimal 80 liter per hari, serta kendaraan umum dan barang roda enam atau lebih maksimal 200 liter per hari.

 

Menurut Fahrougi, kepadatan antrean kendaraan yang hendak diisi solar tidak terelakkan karena area SPBU yang tidak terlalu besar. Kendaraan yang antre, kata dia, berbobot besar dan membeli bahan bakar dalam jumlah banyak sehingga membutuhkan waktu lebih lama. "Distribusi sudah kembali normal. Stok di SPBU kami upayakan selalu tersedia,” tuturnya pada Kamis, 23 Juli 2026.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/ekonomi/kelangkaan-bbm-pertalite-solar-angkutan-2278189

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar