|
Instrumen Bayangan
untuk Pertahanan Rupiah Yopie Hidayat : Anggota Tim Evaluator Editorial Tempo. |
TEMPO MINGGUAN, 26
Juli 2026
|
· Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia
mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. · SRBI telah menjadi salah satu instrumen
operasi moneter terbesar dalam sejarah. · Imbal hasil SRBI menjadi “bunga acuan
bayangan” yang mempengaruhi perilaku investor. KETIKA tekanan terhadap nilai tukar
rupiah meningkat, seperti yang terjadi hari-hari ini, lazimnya Bank Indonesia
bertindak. Bank sentral bisa, antara lain, menaikkan suku bunga. Itu sebabnya
baik para ekonom maupun analis menduga BI akan menaikkan lagi suku bunga
acuan atau BI-Rate menjadi 6 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pekan lalu.
Namun kali ini BI tak memenuhi ekspektasi itu dengan menahan bunga acuan
tetap 5,75 persen. Keputusan itu menunjukkan kecenderungan
BI yang tak lagi mengandalkan BI-Rate sebagai instrumen untuk menopang
rupiah. Bank sentral memilih menjalankan kombinasi berbagai kebijakan
nonbunga, dari melakukan intervensi di pasar valuta asing hingga mendorong
transaksi mata uang lokal. Yang paling menonjol dalam opsi
kebijakan BI adalah penggunaan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai
wahana untuk menahan dana investor asing tetap tinggal di Indonesia. Data
menunjukkan dana asing yang masuk ke SRBI bertambah dengan pesat. Sejak awal
tahun hingga akhir Juni 2026, ada tambahan Rp 179 triliun. Pertumbuhan pesat SRBI sebagai
instrumen moneter makin jelas jika kita melihat posisinya yang mencapai Rp
1.073 triliun. Hal itu menunjukkan bahwa bukan cuma dana asing yang tersedot
masuk, likuiditas domestik pun turut serta. Sepertinya SRBI kini telah
menjadi salah satu instrumen operasi moneter terbesar dalam sejarah BI.
Ketika BI menerbitkan SRBI dan investor, baik lokal maupun asing, membelinya,
dana rupiah berpindah ke bank sentral. Uang tersebut akan
"terkunci" di BI selama SRBI belum jatuh tempo. Akibatnya,
likuiditas di pasar uang menyusut. Kuatnya sedotan likuiditas ini membantu
penguatan rupiah lewat dua jalur. Pertama, ketatnya likuiditas rupiah membuat
tekanan spekulatif terhadap rupiah berkurang. Rupiah yang lebih langka
biasanya membuat suku bunga pasar uang terdorong naik sehingga mengurangi
insentif menjual rupiah untuk membeli dolar. Inilah yang terjadi ketika
bank-bank domestik membeli SRBI. Dari total SRBI Rp 1.073 triliun itu,
sebanyak Rp 616 triliun milik bank nasional. Sedangkan jalur kedua adalah arus modal
asing. Posisi dana asing di SRBI mencapai Rp 293 triliun secara total. Artinya,
SRBI tidak hanya menyerap likuiditas domestik, tapi juga “mengimpor
likuiditas dari luar negeri” melalui arus modal asing. Inilah yang turut
menopang kekuatan rupiah di tengah tekanan yang sekarang terus berlangsung. Makin besar posisi SRBI, rupiah memang
makin terlindungi. Namun tentu ada konsekuensi operasi moneter yang begitu
masif. Yang jelas, ada ongkos operasi moneter yang membebani BI. Sebab, agar
tawarannya menarik, BI harus memberi iming-iming bunga yang sangat besar
kepada investor yang menanam uang di SRBI. Dalam lelang terakhir pada awal Juli
2026, imbal hasil SRBI bertenor satu tahun mencapai 7,67 persen. Ada selisih
hampir dua poin persentase di atas BI-Rate. Selisih yang sangat lebar itu
tentu sangat mempengaruhi keputusan investor dalam menaruh dana. Yang lebih
dominan menjadi penentu pergerakan dana di pasar keuangan sepertinya bukan
lagi BI-Rate, melainkan seberapa besar imbal hasil SRBI. Ini perubahan besar kebijakan moneter
Indonesia. Secara de facto, ada dua indikator penting yang kini menjadi acuan
pasar. Yang resmi, BI-Rate tetap menjadi acuan berbagai jenis pinjaman dari
bank untuk sektor riil ataupun bunga obligasi pemerintah. Sedangkan imbal
hasil SRBI menjadi semacam “bunga acuan bayangan” yang sangat mempengaruhi
perilaku investor di pasar keuangan dan menopang nilai tukar rupiah. Penggunaan SRBI yang kini menjadi
andalan untuk mempertahankan nilai rupiah itulah yang memungkinkan BI lebih
leluasa mengambil keputusan tentang BI-Rate. Di masa lalu, jika BI ingin memperkuat
rupiah, opsi yang tersedia hanyalah menaikkan BI-Rate dengan segala
konsekuensinya, dari kenaikan bunga deposito, peningkatan bunga kredit,
hingga akhirnya berujung pada perlambatan ekonomi. Namun, sekadar catatan,
operasi moneter yang begitu agresif itu pun belum memperkuat rupiah secara
signifikan. Sejauh ini, BI baru berhasil mencegah rupiah turun lebih dalam. ● Sumber : https://www.tempo.co/ekonomi/kurs-rupiah-suku-bunga-2278166 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar