|
Sayembara Tangkap Begal I
Gede Widhiana Suarda : Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Jember |
KOMPAS, 28 Juli 2026
|
Akar masalah yang utama dari begal dan berbagai kriminalitas
jalanan di Indonesia adalah kemiskinan dan pengangguran. Meskipun kita sudah merdeka lebih dari 80 tahun, rasa aman
rupanya masih menjadi masalah berat bangsa ini. Kita belum sepenuhnya merasa
aman dan nyaman untuk beraktivitas di ruang publik. Ada rasa khawatir dan
ketakutan menjadi korban kejahatan. Maraknya begal dan kejahatan di jalanan dalam beberapa hari ini
sangat meresahkan masyarakat. Para orangtua menjadi sangat khawatir dengan
keselamatan anak-anaknya, baik pada saat belajar di sekolah, berkegiatan di
luar rumah, maupun saat bekerja. Sempat viral juga, seorang perempuan pengendara sepeda motor di
Bandung yang memesan tiga ojek online sekaligus hanya untuk mendampingi
pulang kerja di malam hari. Dia langsung memesan tiga karena ketakutan
setelah mendengar kabar bahwa temannya menjadi korban begal saat pulang kerja. Sekitar dua hari yang lalu, Kang Dedi (Gubernur Jawa Barat)
sampai membuat sayembara. Bagi yang bisa menangkap begal dan diserahkan ke
Polisi dalam keadaan hidup akan diberikan hadiah berupa uang. Apa yang
sebenarnya terjadi dan apa yang harus dilakukan? Akar masalah Fenomena begal dan berbagai kejahatan terkait seperti copet,
jambret, dan kejahatan jalanan lainnya disebut dengan istilah street crimes.
Apa penyebabnya? Ilmu kriminologi telah menjelaskan berbagai sebab terjadinya
kejahatan, termasuk begal dan kejahatan sejenis. Salah satu penyebab kriminalitas adalah kemiskinan. Sebuah teori,
strain theory, yang diperkenalkan Durkheim (1893) dan dikembangkan Merton
(1968) menjelaskan bahwa kondisi sosial ekonomi mempunyai pengaruh terhadap
timbulnya kejahatan, termasuk kejahatan jalanan seperti begal, jambret,
pencurian, penipuan, dan kejahatan sejenisnya. Dalam konteks Indonesia, hasil penelitian Septriani (2024)
menguatkan teori ini. Dia menyimpulkan ada korelasi positif antara tingginya angka
kriminalitas di Indonesia dan tingginya angka kemiskinan. Selain angka
kemiskinan, penelitian Septriani juga menunjukkan bahwa tingginya angka
pengangguran juga berkorelasi positif dengan tingginya angka kejahatan.
Artinya, akar masalah yang utama dari begal dan berbagai kriminalitas jalanan
di Indonesia adalah kemiskinan dan pengangguran. Mengamati sebuah peristiwa begal yang juga berujung pada
pembunuhan seorang pengemudi ojek online di Jakarta beberapa waktu lalu,
strain theory ini juga teruji. Pelakunya adalah seorang pemuda yang sedang
kesulitan ekonomi untuk memenuhi biaya pernikahannya. Contoh lain, kejadian sekelompok pemuda mengamuk dan merusak
sebuah warung di daerah Kendari hanya karena tidak diberikan ngebon rokok
adalah contoh kriminalitas yang dipicu oleh keterbatasan ekonomi. Sangat
miris dan memprihatinkan. Kondisi ini harus disikapi serius, terlebih lagi
bangsa ini sudah merdeka lebih dari 80 tahun. Cara represif dan preventif Cara represif melalui penegakan hukum adalah tindakan untuk
menangkap dan menghukum para pelaku begal. Aparat penegak hukum, dalam hal
ini Polri, menjadi garda terdepan dalam melakukan penindakan. Meski arahan
Kapolda Jawa Barat yang membolehkan masyarakat menangkap begal, arahan ini
tidak dapat mengalihkan tanggung jawab Polri. Tanggung jawab utama tetap ada
pada Polri sebagai perangkat terdepan dalam sistem peradilan pidana. Peran
serta masyarakat memang dibutuhkan dalam menjaga ketertiban dan keamanan.
Namun, dalam batas sebagai supporting system, bukan yang utama. Bahkan, pelibatan dan arahan terbuka untuk masyarakat dalam
melakukan penindakan perlu berhati-hati karena sangat berpotensi melanggar
hak asasi manusia dan memicu tindakan main hakim sendiri. Menyikapi hal
tersebut, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid
telah menyampaikan pesan tertulis bahwa aparat dan pemerintah tidak boleh
melempar tanggung jawab dengan meminta masyarakat untuk ikut menindak aksi
begal. Cara represif pada dasarnya menjadi ranah aparat penegak hukum.
Oleh karena itu, kesiapan dan kesigapan aparat harus ditingkatkan sehingga
setiap begal atau kejahatan jalanan mampu ditangkap dan diproses dalam sistem
peradilan pidana. Dalam hal kesiapan dan kesigapan, tindakan ini tidak
semata-mata masuk ranah represif, tetapi juga masuk ranah preventif. Terkait
ini, aparat keamanan dan kepala daerah harus memperkuat sistem dan
infrastruktur untuk mencegah begal dan kejahatan jalanan lainnya. Cara paling ampuh untuk mengurangi kriminalitas begal dan
kejahatan jalanan lainnya adalah dengan cara preventif atau pencegahan.
Berbagai upaya harus dilakukan guna mengurangi potensi terjadinya begal.
Apabila cara pencegahan berhasil, dampaknya tidak hanya pada penurunan angka
kriminalitas jalanan, tetapi juga akan berpegaruh pada peningkatan rasa aman
masyarakat ketika beraktivitas di ruang publik. Singkatnya, dengan kejadian
begal yang menurun, rasa aman meningkat. Fokus pada pencegahan macro-level Banyak cara dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya begal. Kita
bisa mengadopsi berbagai model atau strategi pencegahan kejahatan yang telah
ditawarkan para kriminolog. Misalnya, strategi pencegahan kejahatan pada
level makro (macro-level crime prevention) yang dikemukakan Hunter (2010).
Fokus pada macro-level adalah strategi pencegahan kejahatan yang skalanya
luas, bersifat nasional, dan meliputi kepentingan masyarakat secara
keseluruhan. Pada level ini, tindakan yang dilakukan akan berdampak pada
perubahan sosial dan ekonomi berskala nasional. Dengan data bahwa ada korelasi positif antara tingginya angka
kemiskinan dan tingginya angka kriminalitas secara nasional, strategi
pencegahan yang harus dilakukan adalah fokus pada level makro, yaitu dengan
menurunkan angka kemiskinan dan penggangguran. Dengan kata lain, negara harus
hadir untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya jika menginginkan angka
kriminalitas menurun, termasuk begal dan kejahatan jalanan lainnya. Pemerintah harus mampu mewujudkan situasi sosial masyarakat, di
mana setiap insan yang lahir, hidup dan berkembang di negeri ini harus bisa
dijamin kesejahteraannya. Memang berat, tetapi saya yakin pasti bisa
mengingat Indonesia adalah bangsa yang kaya. Sejak di dalam kandungan, setiap
insan anak bangsa seharunya sudah sejahtera. Setelah dilahirkan sampai melewati
masa sekolah hingga kemudian siap bekerja atau berwirausaha. Idealnya, bangsa
ini harus menjamin bahwa lapangan kerja tersedia atau kesempatan berwirausaha
terjamin dengan baik. Sistem jaminan sosial juga harus dibangun dengan baik. Pemerintah memang harus bekerja keras untuk kesejahteraan rakyat.
Kita harus sampai pada titik di mana setiap orang percaya bahwa ”menjadi
sejahtera adalah keniscayaan” di republik ini. Sementara ”menjadi miskin
adalah pilihan”. Sudah seharusnya seluruh rakyat Indonesia hidup sejahtera.
Dengan komitmen ini, saya yakin angka kriminalitas, termasuk begal dan
kejahatan lainnya, akan menurun. ● |
Sumber
: https://www.kompas.id/artikel/sayembara-tangkap-begal?open_from=Artikel_Opini_Page
Tidak ada komentar:
Posting Komentar