|
Guru Besar Terlibat Konferensi Abal-abal Tim
Kompas : Wartawan Kompas |
KOMPAS, 27 Juli 2026
|
Sejumlah guru besar di Indonesia diduga mengendalikan konferensi
ilmiah yang diragukan validitasnya. Mereka berperan aktif agar forum itu
berjalan lancar. Bisnis konferensi ilmiah di Tanah Air kian menjamur. Hal ini
sejalan dengan tuntutan akademisi untuk mendapatkan angka kredit yang menjadi
dasar kenaikan pangkat. Konferensi tersebut banyak dipilih karena publikasi
riset di prosiding konferensi lebih mudah dibandingkan dengan menerbitkan
artikel di jurnal ilmiah bereputasi. Namun, sejumlah konferensi itu ditengarai abal-abal. Penggunaan
kata abal-abal ini merujuk pada konferensi predator yang mengeksploitasi
peserta demi keuntungan finansial. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan
Teknologi (Kemendiktisaintek) menyebut, indikatornya, antara lain, mengusung
tema terlalu luas, mencatut nama pakar, proses telaah sejawat (peer review)
minim, hingga profil panitia tak bereputasi. Beberapa guru besar di Indonesia diduga terlibat dalam konferensi
yang terindikasi abal-abal ini. Sebagian dari mereka berperan aktif sebagai
penyelenggara, sebagian yang lain dicatut namanya pada situs konferensi
predator global. Terkait dugaan adanya konferensi ilmiah abal-abal ini dan
berangkat dari informasi situs agregator, International Conference Alert,
pada Juni-Juli 2026, tim investigasi Kompas (Kompas.id) melacak informasi
forum The 2nd International Academic Conference on Teaching Education and
Recent Learning Technologies (ICTERLT) 2026. Tim ingin membuktikan acara itu
benar-benar digelar secara hibrida pada 17-18 Juni 2026 di Hotel Ciputra,
Jakarta. Temuan Kompas, tidak ada aktivitas konferensi di Hotel Ciputra,
Kamis (18/6/2026), yang merupakan hari kedua konferensi. Spanduk, poster,
meja registrasi, dan keramaian konferensi sama sekali tak terlihat. Ruangan
ballroom juga gelap. Sementara manajemen hotel menegaskan, tak ada agenda
konferensi di tempat itu. ”Untuk acara tersebut tidak ada di Hotel Ciputra,”
kata Kigunawan, Direktur Sales dan Marketing Hotel Ciputra, Kamis
(16/7/2026). Guru Besar Universitas Jambi berinisial AM tercatat sebagai ketua
konferensi (conference chair) serta dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Lampung FR sebagai wakil ketua konferensi (conference
co-chair). Saat dikonfirmasi, AM tidak mau memberikan keterangan. Ia
menyampaikan keberatan melalui Bagian Humas Universitas Jambi. ”Saat ini Prof
AM belum bersedia dikonfirmasi,” kata Ketua Tim Kerja Humas Universitas Jambi
Tri Imam Munandar. Sementara itu, FR terkejut namanya dicantumkan sebagai wakil
ketua konferensi. ”Itu bisa dikatakan sebetulnya mencatut nama saya di dalam
konferensi tersebut,” ujar FR. ICTERLT juga mengundang Associate Professor JFD sebagai pembicara
kunci. Pimpinan Universitas Sugeng Hartono Sukoharjo, Jawa Tengah, ini
diundang lewat surel oleh panitia. Ia mengira, ICTERLT hanya digelar secara
virtual. Ada beberapa peserta luar negeri yang ikut. ”Saya lihat dari
materinya, tidak ada dari Indonesia,” ujarnya. Sementara itu, identitas IFERP selaku penyelenggara konferensi
ICTERLT memiliki sedikitnya empat situs berbeda. Dua di antaranya menampilkan
informasi soal konferensi ICTERLT. IFERP merupakan singkatan dari Institute
for Educational Research and Publication. Namun, pada halaman profil di situs
lain, IFERP dijelaskan sebagai Institute for Engineering Research and
Publication. Dua situs lain tidak menjelaskan kepanjangan IFERP. Perbedaan
identitas ini menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi profil
penyelenggara. Adapun IFERP mencantumkan lokasi kantor yang berbeda-beda dan
semua di India. Kompas mengonfirmasi sejumlah kejanggalan ini, tetapi tidak
ada jawaban dari IFERP. Terlibat aktif Temuan berikutnya, ada dugaan keterlibatan aktif Guru Besar
Universitas Negeri Jakarta berinisial SH sebagai penyelenggara konferensi
yang meragukan. Namanya tercatat pada tiga konferensi berbeda. Salah satunya
konferensi dengan penyelenggara Indonesian Financial Management Association
(IFMA). SH menjadi salah seorang pendiri lembaga ini. Pada situs IFMA, SH mencantumkan tujuh nama akademisi luar negeri
sebagai dewan penasihat. Salah satunya Associate Professor National
University of Singapore Anand Srinivasan. Saat dikonfirmasi melalui surel,
Anand menyatakan tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan IFMA. ”Dia (SH)
pernah mengirim surel ke saya berkisar 8-10 tahun lalu untuk jadi pembicara.
Namun, tidak pernah ada tindak lanjut setelah itu. Hingga saya berasumsi dia
menemukan sosok lain,” katanya. Penjelasan Anand dibantah SH. Ia mengaku pernah bertemu Anand
pada 2007-2012 di Singapura. Di momen itu, SH menawarkan Anand menjadi dewan
penasihat IFMA. Menurut dia, Anand menerima penawaran tersebut secara lisan.
”Saya pernah menawarinya menjadi dewan penasihat IFMA saat bertemu di
Singapura. Ia mengiyakan,” ujar SH, Senin (13/7/2026). SH juga menunjukkan percakapannya dengan Profesor University of
Chicago George M Constantinides terkait pencatuman namanya sebagai dewan
penasihat IFMA. George dalam surel itu menyatakan bersedia. SH juga terkait pada forum International Research Conference on
Management and Business (IRCMB) pada 25-26 Juli 2026. Dalam situsnya, IRCMB
mencantumkan nama hotel yang tidak lagi beroperasi dan berganti nama sejak
Januari 2026. IRCMB adalah konferensi yang dikelola IFMA. Dicatut namanya Pertengahan Juli 2026, Bali dijadikan tuan rumah dalam
penyelenggaraan konferensi predator World Academy of Science, Engineering,
and Technology (WASET). Konferensi ini memiliki cakupan tema luas dengan
berbagai macam disiplin ilmu, mulai dari kesehatan, sosial, hingga sains.
Dalam sejumlah referensi akademik, WASET dikenal sebagai penyelenggara yang
paling sering dijadikan contoh fenomena konferensi predator. Sejumlah guru besar Indonesia tercatat sebagai komite di situs
resmi WASET. Salah satunya Guru Besar Universitas Sriwijaya Palembang,
Sumatera Selatan, IM. Saat dikonfirmasi, IM tak tahu namanya ada dalam daftar
komite WASET. Namun, ia mengaku pernah ikut konferensi WASET di Tokyo,
Jepang, tahun 2014. ”Saya pernah mengikuti seminar WASET tahun 2014, tetapi
saya bukan komite WASET,” ujarnya. Selain IM, terdapat nama Guru Besar Universitas Indonesia
berinisial ZR yang dicantumkan sebagai komite WASET tanpa pemberitahuan.
”Saya tiba-tiba dicantumkan sebagai komite, padahal saya tak pernah daftar
sebagai komite atau peserta,” katanya. Kemendiktisaintek menekankan akademisi agar memiliki
kehati-hatian akademik dalam memilih konferensi. Sebab, hal ini dapat
berkonsekuensi pada runtuhnya reputasi. ”Ini bisa berdampak pada kredibilitas
rekam jejak publikasi, terutama jika konferensi diketahui tak memiliki proses
review yang benar, menggunakan komite fiktif, atau membuat klaim indeksasi
menyesatkan,” ucap Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek
M Fauzan Adziman. ● |
Sumber
: https://www.kompas.id/artikel/guru-besar-terlibat-konferensi-abal-abal?open_from=Section_Tematik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar