Selasa, 28 Juli 2026

 

Guru Besar Terlibat Konferensi Abal-abal

Tim Kompas :  Wartawan Kompas

KOMPAS, 27 Juli 2026

 

 

                                                           

Sejumlah guru besar di Indonesia diduga mengendalikan konferensi ilmiah yang diragukan validitasnya. Mereka berperan aktif agar forum itu berjalan lancar.

 

Bisnis konferensi ilmiah di Tanah Air kian menjamur. Hal ini sejalan dengan tuntutan akademisi untuk mendapatkan angka kredit yang menjadi dasar kenaikan pangkat. Konferensi tersebut banyak dipilih karena publikasi riset di prosiding konferensi lebih mudah dibandingkan dengan menerbitkan artikel di jurnal ilmiah bereputasi.

 

Namun, sejumlah konferensi itu ditengarai abal-abal. Penggunaan kata abal-abal ini merujuk pada konferensi predator yang mengeksploitasi peserta demi keuntungan finansial. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menyebut, indikatornya, antara lain, mengusung tema terlalu luas, mencatut nama pakar, proses telaah sejawat (peer review) minim, hingga profil panitia tak bereputasi.

 

Beberapa guru besar di Indonesia diduga terlibat dalam konferensi yang terindikasi abal-abal ini. Sebagian dari mereka berperan aktif sebagai penyelenggara, sebagian yang lain dicatut namanya pada situs konferensi predator global.

 

Terkait dugaan adanya konferensi ilmiah abal-abal ini dan berangkat dari informasi situs agregator, International Conference Alert, pada Juni-Juli 2026, tim investigasi Kompas (Kompas.id) melacak informasi forum The 2nd International Academic Conference on Teaching Education and Recent Learning Technologies (ICTERLT) 2026. Tim ingin membuktikan acara itu benar-benar digelar secara hibrida pada 17-18 Juni 2026 di Hotel Ciputra, Jakarta.

 

Temuan Kompas, tidak ada aktivitas konferensi di Hotel Ciputra, Kamis (18/6/2026), yang merupakan hari kedua konferensi. Spanduk, poster, meja registrasi, dan keramaian konferensi sama sekali tak terlihat. Ruangan ballroom juga gelap. Sementara manajemen hotel menegaskan, tak ada agenda konferensi di tempat itu. ”Untuk acara tersebut tidak ada di Hotel Ciputra,” kata Kigunawan, Direktur Sales dan Marketing Hotel Ciputra, Kamis (16/7/2026).

 

Guru Besar Universitas Jambi berinisial AM tercatat sebagai ketua konferensi (conference chair) serta dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung FR sebagai wakil ketua konferensi (conference co-chair). Saat dikonfirmasi, AM tidak mau memberikan keterangan. Ia menyampaikan keberatan melalui Bagian Humas Universitas Jambi. ”Saat ini Prof AM belum bersedia dikonfirmasi,” kata Ketua Tim Kerja Humas Universitas Jambi Tri Imam Munandar.

 

Sementara itu, FR terkejut namanya dicantumkan sebagai wakil ketua konferensi. ”Itu bisa dikatakan sebetulnya mencatut nama saya di dalam konferensi tersebut,” ujar FR.

 

ICTERLT juga mengundang Associate Professor JFD sebagai pembicara kunci. Pimpinan Universitas Sugeng Hartono Sukoharjo, Jawa Tengah, ini diundang lewat surel oleh panitia. Ia mengira, ICTERLT hanya digelar secara virtual. Ada beberapa peserta luar negeri yang ikut. ”Saya lihat dari materinya, tidak ada dari Indonesia,” ujarnya.

 

Sementara itu, identitas IFERP selaku penyelenggara konferensi ICTERLT memiliki sedikitnya empat situs berbeda. Dua di antaranya menampilkan informasi soal konferensi ICTERLT. IFERP merupakan singkatan dari Institute for Educational Research and Publication. Namun, pada halaman profil di situs lain, IFERP dijelaskan sebagai Institute for Engineering Research and Publication.

 

Dua situs lain tidak menjelaskan kepanjangan IFERP. Perbedaan identitas ini menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi profil penyelenggara. Adapun IFERP mencantumkan lokasi kantor yang berbeda-beda dan semua di India. Kompas mengonfirmasi sejumlah kejanggalan ini, tetapi tidak ada jawaban dari IFERP.

 

Terlibat aktif

 

Temuan berikutnya, ada dugaan keterlibatan aktif Guru Besar Universitas Negeri Jakarta berinisial SH sebagai penyelenggara konferensi yang meragukan. Namanya tercatat pada tiga konferensi berbeda. Salah satunya konferensi dengan penyelenggara Indonesian Financial Management Association (IFMA). SH menjadi salah seorang pendiri lembaga ini.

 

Pada situs IFMA, SH mencantumkan tujuh nama akademisi luar negeri sebagai dewan penasihat. Salah satunya Associate Professor National University of Singapore Anand Srinivasan. Saat dikonfirmasi melalui surel, Anand menyatakan tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan IFMA. ”Dia (SH) pernah mengirim surel ke saya berkisar 8-10 tahun lalu untuk jadi pembicara. Namun, tidak pernah ada tindak lanjut setelah itu. Hingga saya berasumsi dia menemukan sosok lain,” katanya.

 

Penjelasan Anand dibantah SH. Ia mengaku pernah bertemu Anand pada 2007-2012 di Singapura. Di momen itu, SH menawarkan Anand menjadi dewan penasihat IFMA. Menurut dia, Anand menerima penawaran tersebut secara lisan. ”Saya pernah menawarinya menjadi dewan penasihat IFMA saat bertemu di Singapura. Ia mengiyakan,” ujar SH, Senin (13/7/2026).

 

SH juga menunjukkan percakapannya dengan Profesor University of Chicago George M Constantinides terkait pencatuman namanya sebagai dewan penasihat IFMA. George dalam surel itu menyatakan bersedia.

 

SH juga terkait pada forum International Research Conference on Management and Business (IRCMB) pada 25-26 Juli 2026. Dalam situsnya, IRCMB mencantumkan nama hotel yang tidak lagi beroperasi dan berganti nama sejak Januari 2026. IRCMB adalah konferensi yang dikelola IFMA.

 

Dicatut namanya

 

Pertengahan Juli 2026, Bali dijadikan tuan rumah dalam penyelenggaraan konferensi predator World Academy of Science, Engineering, and Technology (WASET). Konferensi ini memiliki cakupan tema luas dengan berbagai macam disiplin ilmu, mulai dari kesehatan, sosial, hingga sains. Dalam sejumlah referensi akademik, WASET dikenal sebagai penyelenggara yang paling sering dijadikan contoh fenomena konferensi predator.

 

Sejumlah guru besar Indonesia tercatat sebagai komite di situs resmi WASET. Salah satunya Guru Besar Universitas Sriwijaya Palembang, Sumatera Selatan, IM. Saat dikonfirmasi, IM tak tahu namanya ada dalam daftar komite WASET. Namun, ia mengaku pernah ikut konferensi WASET di Tokyo, Jepang, tahun 2014. ”Saya pernah mengikuti seminar WASET tahun 2014, tetapi saya bukan komite WASET,” ujarnya.

 

Selain IM, terdapat nama Guru Besar Universitas Indonesia berinisial ZR yang dicantumkan sebagai komite WASET tanpa pemberitahuan. ”Saya tiba-tiba dicantumkan sebagai komite, padahal saya tak pernah daftar sebagai komite atau peserta,” katanya.

 

Kemendiktisaintek menekankan akademisi agar memiliki kehati-hatian akademik dalam memilih konferensi. Sebab, hal ini dapat berkonsekuensi pada runtuhnya reputasi. ”Ini bisa berdampak pada kredibilitas rekam jejak publikasi, terutama jika konferensi diketahui tak memiliki proses review yang benar, menggunakan komite fiktif, atau membuat klaim indeksasi menyesatkan,” ucap Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek M Fauzan Adziman. ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/guru-besar-terlibat-konferensi-abal-abal?open_from=Section_Tematik

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar