|
Ketika Dunia
Berpaling dari Rohingya Reza Maulana : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 26
Juli 2026
|
· Hampir satu dekade sejak eksodus massal
pada 2017, lebih dari sejuta warga Rohingya tetap hidup di pengungsian. · Perhatian dunia terhadap krisis
kemanusiaan Rohingya kian surut karena tertutupi konflik-konflik yang lebih
baru. · Pengungsi akan terus ada selama akar
persoalan krisis Rohingya di Myanmar tidak diselesaikan. KONFLIK
demi konflik terus muncul di berbagai penjuru dunia. Ketika satu perang meletus,
perhatian internasional segera beralih ke medan tempur yang baru. Sorotan
media bergeser, diplomasi sibuk mencari titik temu, dan bantuan kemanusiaan
berdatangan meski belum tentu tersalurkan. Semua
itu berlangsung di saat perang-perang yang lebih dulu pecah masih berkecamuk.
Ya, dalam setiap perang, hal yang sering kali lebih dulu memudar adalah
perhatian terhadap korban. Penderitaan
akibat perang tidak berhenti ketika dentuman senjata mereda. Justru setelah
sorotan dunia berpindah, jutaan orang harus menjalani kehidupan yang tak lagi
normal. Mereka kehilangan rumah, pekerjaan, sekolah, dan bahkan
kewarganegaraan. Sebagian
dari mereka hidup bertahun-tahun di kamp pengungsi, bergantung pada bantuan
yang terus menyusut. Sebagian lain memilih mempertaruhkan nyawa untuk mencari
tempat yang lebih aman. Status korban sebagai pengungsi sering kali berusia
lebih panjang daripada perang itu sendiri. Nasib
warga Rohingya menjadi contoh nyata. Hampir satu dekade setelah dunia
dikejutkan oleh eksodus besar-besaran dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar,
mereka masih hidup sebagai pengungsi. Krisis
yang semula dipandang sebagai keadaan darurat kemanusiaan telah berubah
menjadi kenyataan sehari-hari bagi lebih dari 1 juta orang. Anak-anak lahir
dan tumbuh di kamp pengungsi. Orang dewasa menjalani hidup tanpa kepastian
waktu pulang ke kampung halaman. Akar
krisis itu bermula pada Agustus 2017. Setelah kelompok bersenjata Arakan
Rohingya Salvation Army atau ARSA menyerang sejumlah pos polisi di Rakhine, militer
Myanmar melancarkan balasan berskala besar. Operasi
militer tersebut disertai pembakaran desa, pembunuhan, kekerasan seksual, dan
pengusiran massal terhadap warga Rohingya. Perserikatan Bangsa-Bangsa
menyebutnya memiliki “ciri-ciri genosida”. Dalam
hitungan bulan, lebih dari 700 ribu orang melarikan diri ke Bangladesh,
bergabung dengan ratusan ribu orang Rohingya yang mengungsi akibat
diskriminasi dan kekerasan pada tahun-tahun sebelumnya. Sejak saat itulah
Cox’s Bazar, kota di bagian selatan Bangladesh, berkembang menjadi kawasan
pengungsian terbesar di dunia. Harapan
bahwa krisis kemanusiaan itu segera berakhir tak pernah menjadi kenyataan.
Kudeta militer di Myanmar pada Februari 2021 memicu perang saudara yang
melibatkan junta dan berbagai kelompok etnis bersenjata. Rakhine
kembali menjadi satu pusat pertempuran. Di tengah perebutan wilayah dan
kekuasaan, warga Rohingya makin terdesak karena dimusuhi junta ataupun
pemberontak, Arakan Army. Gelombang baru pengungsi pun kembali datang ke
Bangladesh. Ironisnya,
semua itu terjadi ketika perhatian internasional mulai bergeser. Bantuan
kemanusiaan terus menyusut, sementara kebutuhan para pengungsi justru
bertambah. Sebagian memilih meninggalkan kamp dengan menumpang kapal-kapal
kecil melintasi Teluk Benggala dan Laut Andaman menuju Malaysia, Indonesia,
atau negara lain di kawasan. Perjalanan itu berisiko tinggi. Namun, bagi
banyak orang, bertahan dalam ketidakpastian terasa tidak kalah berbahaya. Krisis
Rohingya mengingatkan bahwa perang tidak hanya menyebabkan kehancuran
bangunan dan korban jiwa, tapi juga membuat orang-orang kehilangan tempat
untuk pulang. Selama akar persoalan yang membuat mereka terusir belum
diselesaikan, pengungsian akan terus menjadi babak yang tak berkesudahan, sekalipun
perhatian dunia telah beralih ke konflik berikutnya. Di
rubrik Internasional edisi ini, wartawan Tempo, Rina Widiastuti, menyajikan
situasi terbaru di Cox’s Bazar yang memburuk lewat artikel “Rohingya di Ujung
Jalan”. Di tengah gelombang baru kedatangan pengungsi Rohingya, bantuan
internasional menyusut. Sebagai
pelengkap, Shofwan Al Banna Choiruzzad, dosen Departemen Hubungan
Internasional Universitas Indonesia, mengulas mengapa penyelesaian konflik
Myanmar tidak akan pernah utuh selama persoalan Rohingya tetap diletakkan di
pinggir agenda diplomasi kawasan dalam kolom bertajuk “Saatnya Diplomasi
Nyata untuk Rohingya”. ● Sumber :
https://www.tempo.co/internasional/krisis-kemanusiaan-pengungsi-rohingya-2278284 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar