Kamis, 30 Juli 2026

 

Ketika Dunia Berpaling dari Rohingya

Reza Maulana :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 26 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Hampir satu dekade sejak eksodus massal pada 2017, lebih dari sejuta warga Rohingya tetap hidup di pengungsian.

 

·      Perhatian dunia terhadap krisis kemanusiaan Rohingya kian surut karena tertutupi konflik-konflik yang lebih baru.

 

·      Pengungsi akan terus ada selama akar persoalan krisis Rohingya di Myanmar tidak diselesaikan.

 

KONFLIK demi konflik terus muncul di berbagai penjuru dunia. Ketika satu perang meletus, perhatian internasional segera beralih ke medan tempur yang baru. Sorotan media bergeser, diplomasi sibuk mencari titik temu, dan bantuan kemanusiaan berdatangan meski belum tentu tersalurkan.

 

Semua itu berlangsung di saat perang-perang yang lebih dulu pecah masih berkecamuk. Ya, dalam setiap perang, hal yang sering kali lebih dulu memudar adalah perhatian terhadap korban.

 

Penderitaan akibat perang tidak berhenti ketika dentuman senjata mereda. Justru setelah sorotan dunia berpindah, jutaan orang harus menjalani kehidupan yang tak lagi normal. Mereka kehilangan rumah, pekerjaan, sekolah, dan bahkan kewarganegaraan.

 

Sebagian dari mereka hidup bertahun-tahun di kamp pengungsi, bergantung pada bantuan yang terus menyusut. Sebagian lain memilih mempertaruhkan nyawa untuk mencari tempat yang lebih aman. Status korban sebagai pengungsi sering kali berusia lebih panjang daripada perang itu sendiri.

 

Nasib warga Rohingya menjadi contoh nyata. Hampir satu dekade setelah dunia dikejutkan oleh eksodus besar-besaran dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar, mereka masih hidup sebagai pengungsi.

 

Krisis yang semula dipandang sebagai keadaan darurat kemanusiaan telah berubah menjadi kenyataan sehari-hari bagi lebih dari 1 juta orang. Anak-anak lahir dan tumbuh di kamp pengungsi. Orang dewasa menjalani hidup tanpa kepastian waktu pulang ke kampung halaman.

 

Akar krisis itu bermula pada Agustus 2017. Setelah kelompok bersenjata Arakan Rohingya Salvation Army atau ARSA menyerang sejumlah pos polisi di Rakhine, militer Myanmar melancarkan balasan berskala besar.

 

Operasi militer tersebut disertai pembakaran desa, pembunuhan, kekerasan seksual, dan pengusiran massal terhadap warga Rohingya. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebutnya memiliki “ciri-ciri genosida”.

 

Dalam hitungan bulan, lebih dari 700 ribu orang melarikan diri ke Bangladesh, bergabung dengan ratusan ribu orang Rohingya yang mengungsi akibat diskriminasi dan kekerasan pada tahun-tahun sebelumnya. Sejak saat itulah Cox’s Bazar, kota di bagian selatan Bangladesh, berkembang menjadi kawasan pengungsian terbesar di dunia.

 

Harapan bahwa krisis kemanusiaan itu segera berakhir tak pernah menjadi kenyataan. Kudeta militer di Myanmar pada Februari 2021 memicu perang saudara yang melibatkan junta dan berbagai kelompok etnis bersenjata.

 

Rakhine kembali menjadi satu pusat pertempuran. Di tengah perebutan wilayah dan kekuasaan, warga Rohingya makin terdesak karena dimusuhi junta ataupun pemberontak, Arakan Army. Gelombang baru pengungsi pun kembali datang ke Bangladesh.

 

Ironisnya, semua itu terjadi ketika perhatian internasional mulai bergeser. Bantuan kemanusiaan terus menyusut, sementara kebutuhan para pengungsi justru bertambah. Sebagian memilih meninggalkan kamp dengan menumpang kapal-kapal kecil melintasi Teluk Benggala dan Laut Andaman menuju Malaysia, Indonesia, atau negara lain di kawasan. Perjalanan itu berisiko tinggi. Namun, bagi banyak orang, bertahan dalam ketidakpastian terasa tidak kalah berbahaya.

 

Krisis Rohingya mengingatkan bahwa perang tidak hanya menyebabkan kehancuran bangunan dan korban jiwa, tapi juga membuat orang-orang kehilangan tempat untuk pulang. Selama akar persoalan yang membuat mereka terusir belum diselesaikan, pengungsian akan terus menjadi babak yang tak berkesudahan, sekalipun perhatian dunia telah beralih ke konflik berikutnya.

 

Di rubrik Internasional edisi ini, wartawan Tempo, Rina Widiastuti, menyajikan situasi terbaru di Cox’s Bazar yang memburuk lewat artikel “Rohingya di Ujung Jalan”. Di tengah gelombang baru kedatangan pengungsi Rohingya, bantuan internasional menyusut.

 

Sebagai pelengkap, Shofwan Al Banna Choiruzzad, dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, mengulas mengapa penyelesaian konflik Myanmar tidak akan pernah utuh selama persoalan Rohingya tetap diletakkan di pinggir agenda diplomasi kawasan dalam kolom bertajuk “Saatnya Diplomasi Nyata untuk Rohingya”.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/internasional/krisis-kemanusiaan-pengungsi-rohingya-2278284

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar