|
Meneruskan Respons Positif Pasar Prof.
Dr. Nugroho SBM : Dosen Fakultas
Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang. |
KOMPAS.COM, 15 Juni 2026
|
KEBIJAKAN Bank Indonesia menaikkan BI
Rate ke 5,50 persen membawa dampak positif. Pasar memberikan respons positif. Setelah bertahan beberapa hari di level
Rp 18.000-an per dollar AS pada penutupan perdagangan Jumat lalu (12/6/2026),
rupiah menguat 129 poin atau 0,71 persen dari posisi sebelumnya Rp 17.989 per
dollar AS menjadi Rp 17.860 per dollar AS. Hal yang sama terlihat di kurs
referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI),
rupiah menguat ke level Rp 17.921 per dollar AS dari sebelumnya Rp 17.981 per
dollar AS. Kenaikan BI Rate yang mendorong
kenaikan yield Sekuritas Rupiah BI (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN)
juga mendorong arus modal asing masuk yang ikut mendorong penguatan kurs
rupiah terhadap dollar AS. Modal asing yang masuk dalam bentuk
pembelian SRBI pada 10 Juni 2026 sebesar SRBI nonresiden mencapai Rp 15,11
triliun. Sehari kemudian, dana asing yang masuk
ke SBN tercatat sebesar Rp 3,91 triliun, kemudian menyusul dana asing masuk
ke SBN sebesar Rp 3,91 triliun. Aliran modal asing masuk masih ditambah
lagi dengan masuknya dana asing di penerbitan perdana obligasi internasional
Danantara yang menghimpun dana sebesar Rp 26,9 triliun. Jadi total dana asing
masuk sebesar Rp 45,92 triliun. Berbagai kebijakan BI juga sudah
dilakukan untuk mendorong penguatan rupiah, antara lain intervensi di pasar
Spot maupun di Non Deliverable Forward (NDF) serta Domestic Non Deliverable
Forward (DNDF), membatasi pembelian dollar AS tanpa underlying sebesar 25.000
dollar AS per orang per bulan. Ada pula kebijakan yang sudah dilakukan
seperti menggunakan skema Local Currency Transaction (LCT). Sentimen positif pasar tersebut juga
ditopang keyakinan dan fakta bahwa memang fundamental ekonomi Indonesia masih
cukup kuat. Bank Dunia baru-baru ini merevisi
prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sebelumnya 4,7 persen menjadi 5
persen. Pertumbuhan ekonomi Triwulan pertama
2026 sebesar 5,61 persen juga menyajikan fakta bahwa fundamental ekonomi
Indonesia masih cukup kuat. Demikian pula tingkat inflasi yang
masih di kisaran 2,5 plus minus 1 persen ikut memperkuat data fundamental
ekonomi Indonesia tersebut. Hal lain yang ikut membuat rupiah
menguat adalah pernyataan bersama baru-baru ini antara pemerintah dan BI
bahwa mereka akan terus bekerjasama untuk mendorong penguatan pemerintah. Pemerintah juga punya niat baik dengan
mengusut tuntas korupsi di program Makan Bergizi Gratis (MBG). Jika korupsi
bisa diberantas sampai tuntas, maka akan ada penghematan. Kebijakan lain yang dilakukan-meskipun
pahit- menaikkan harga BBM Pertamax sehingga akan menghemat pengeluaran di
APBN. Ke depannya sinyal dan respons positif
pasar harus terus diupayakan. Untuk itu, diperlukan langkah kebijakan yang
lebih fundamental dan struktural dari pemerintah, khususnya di bidang fiskal
dengan melakukan efisiensi di level pemerintah dan pejabat pusat. Serta mengevaluasi beberapa program
yang ternyata membutuhkan pengeluaran besar. Ada baiknya pemerintah mendengarkan
seruan mahasiswa lewat demonstrasi akhir-akhir ini. Ketika terjadi
demonstrasi yang berlangsung tertib, pasar tidak merespons dengan negatif. Reaksi dan sinyal pasar tetap positif
dengan penguatan rupiah terhadap dollar AS. Artinya pasar setuju dengan
tuntutan perbaikan yang diserukan oleh para mahasiswa tersebut. ● |
Sumber
: https://money.kompas.com/read/2026/06/15/125000626/meneruskan-respons-positif-pasar?page=all#page2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar