Kamis, 02 Juli 2026

 

Meneruskan Respons Positif Pasar

Prof. Dr. Nugroho SBM : Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang.

KOMPAS.COM, 15 Juni 2026

 

 

                                                           

KEBIJAKAN Bank Indonesia menaikkan BI Rate ke 5,50 persen membawa dampak positif. Pasar memberikan respons positif.

 

Setelah bertahan beberapa hari di level Rp 18.000-an per dollar AS pada penutupan perdagangan Jumat lalu (12/6/2026), rupiah menguat 129 poin atau 0,71 persen dari posisi sebelumnya Rp 17.989 per dollar AS menjadi Rp 17.860 per dollar AS.

 

Hal yang sama terlihat di kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah menguat ke level Rp 17.921 per dollar AS dari sebelumnya Rp 17.981 per dollar AS.

 

Kenaikan BI Rate yang mendorong kenaikan yield Sekuritas Rupiah BI (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) juga mendorong arus modal asing masuk yang ikut mendorong penguatan kurs rupiah terhadap dollar AS.

 

Modal asing yang masuk dalam bentuk pembelian SRBI pada 10 Juni 2026 sebesar SRBI nonresiden mencapai Rp 15,11 triliun.

 

Sehari kemudian, dana asing yang masuk ke SBN tercatat sebesar Rp 3,91 triliun, kemudian menyusul dana asing masuk ke SBN sebesar Rp 3,91 triliun.

 

Aliran modal asing masuk masih ditambah lagi dengan masuknya dana asing di penerbitan perdana obligasi internasional Danantara yang menghimpun dana sebesar Rp 26,9 triliun. Jadi total dana asing masuk sebesar Rp 45,92 triliun.

 

Berbagai kebijakan BI juga sudah dilakukan untuk mendorong penguatan rupiah, antara lain intervensi di pasar Spot maupun di Non Deliverable Forward (NDF) serta Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), membatasi pembelian dollar AS tanpa underlying sebesar 25.000 dollar AS per orang per bulan.

 

Ada pula kebijakan yang sudah dilakukan seperti menggunakan skema Local Currency Transaction (LCT).

 

Sentimen positif pasar tersebut juga ditopang keyakinan dan fakta bahwa memang fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat.

 

Bank Dunia baru-baru ini merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sebelumnya 4,7 persen menjadi 5 persen.

 

Pertumbuhan ekonomi Triwulan pertama 2026 sebesar 5,61 persen juga menyajikan fakta bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat.

 

Demikian pula tingkat inflasi yang masih di kisaran 2,5 plus minus 1 persen ikut memperkuat data fundamental ekonomi Indonesia tersebut.

 

Hal lain yang ikut membuat rupiah menguat adalah pernyataan bersama baru-baru ini antara pemerintah dan BI bahwa mereka akan terus bekerjasama untuk mendorong penguatan pemerintah.

 

Pemerintah juga punya niat baik dengan mengusut tuntas korupsi di program Makan Bergizi Gratis (MBG). Jika korupsi bisa diberantas sampai tuntas, maka akan ada penghematan.

 

Kebijakan lain yang dilakukan-meskipun pahit- menaikkan harga BBM Pertamax sehingga akan menghemat pengeluaran di APBN.

 

Ke depannya sinyal dan respons positif pasar harus terus diupayakan. Untuk itu, diperlukan langkah kebijakan yang lebih fundamental dan struktural dari pemerintah, khususnya di bidang fiskal dengan melakukan efisiensi di level pemerintah dan pejabat pusat.

 

Serta mengevaluasi beberapa program yang ternyata membutuhkan pengeluaran besar.

 

Ada baiknya pemerintah mendengarkan seruan mahasiswa lewat demonstrasi akhir-akhir ini. Ketika terjadi demonstrasi yang berlangsung tertib, pasar tidak merespons dengan negatif.

 

Reaksi dan sinyal pasar tetap positif dengan penguatan rupiah terhadap dollar AS. Artinya pasar setuju dengan tuntutan perbaikan yang diserukan oleh para mahasiswa tersebut.

 

Sumber : https://money.kompas.com/read/2026/06/15/125000626/meneruskan-respons-positif-pasar?page=all#page2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar