|
Suhu Politik Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 29 Juli 2026
Kalau saja saya
punya termometer, suhu politik Indonesia sekarang ini rasanya di sekitar 38
derajat. Termometer Anda mungkin menunjukkan angka 39 derajat. Para pengusaha
sebaiknya tidak usah sering-sering buka medsos. Itu akan membuat suhu badan
Anda naik jadi 40.
Kalau pun
terpaksa melihat medsos jangan sampai melotot. Cukup lirik-lirik saja sedikit.
Setelah tahu sekadarnya segeralah putuskan: tidak memercayainya. Sekarang ini
sudah sulit membedakan mana aspirasi murni mana aspirasi ''wani piro"
--mau bayar berapa. Saya sendiri lebih ikuti medsos kalau bentuknya meme.
Lucu-lucu. Sedikit terhibur.
Cara melihat
medsos tanpa ikut emosi sangatlah mudah: jangan punya sikap memihak. Ini bukan
sepak bola. Kalau menonton sepak bola memang harus memihak; tidak memihak tidak
asyik.
Misalnya ada
medsos mengatakan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin segera diperiksa.
Terkait dengan penetapan Febrie Adriansyah sebagai tersangka pencucian uang. Di
rumah (waktu itu) Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Korupsi Febrie Adriansyah
ditemukan emas 74 kg dan berbagai uang asing bernilai Rp 476 miliar. Yang
menemukan adalah polisi dari Satuan Pemberantasan Korupsi Markas Besar
Kepolisian Republik Indonesia. Mereka sengaja melakukan penggeledahan di rumah
Febrie yang di Sentul dekat Bogor.
Sejak Febrie
menyatakan "itu bukan uang saya" dan ''uang itu ada yang punya''
spekulasi memang bermunculan. Salah satunya: uang itu milik Menhan Sjafrie
Sjamsoeddin. Tidak adanya bantahan dari menhan membuat spekulasi itu tidak
berhenti.
Maka sebaiknya
jangan percaya dulu. Anggap saja itu hiburan. Kalau pun benar, apa untungnya
bagi Anda. Tidak ada. Kalau salah tiwas terpanjur percaya.
Saya lihat
banyak orang percaya begitu saja pada medsos. Apalagi kalau sudah ada videonya.
Padahal di zaman AI ini apalah yang tidak bisa dibuat.
Yang juga
penting bagi Anda: jangan menambah panas suhu Istana Merdeka Jakarta. Misalnya
dengan cara ikut menjadi kompor: menyebarkan isu adanya dua kubu di Istana yang
sudah ''pecah''. Dua-duanya sama-sama tangan kanan Presiden Prabowo: Prof Dr
Sufmi Dasco Ahmad dan Sjafrie Sjamsoeddin. Wakil Ketua DPR Dasco tangan kanan
bidang politik. Menhan Sjafrie tangan kanan bidang keamanan nasional.
Isu seperti itu
tidak baru. Juga bukan baru terjadi di zaman Presiden Prabowo. Di semua zaman
ada isu seperti itu. Sejak zaman kerajaan Tiongkok kuno. Selalu saja orang di
sekitar pusat kekuasaan ingin terlihat 'yang paling dekat' dengan Presiden.
Atau 'yang paling dipercaya' Presiden.
Padahal
Presiden sendiri bisa jadi tidak percaya siapa pun. Seperti di zaman Pak Harto
dulu. Sebagian orang percaya Ali Murtopolah orang kepercayaan presiden di
bidang politik. Lalu Sudjono Humardani-lah orang yang paling dipercaya dalam
hal spiritual. Seolah Sudjono itu guru kebatinannya Pak Harto.
Ternyata Pak
Harto sendiri mendengar isu seperti itu. Ketika belakangan Pak Harto
menerbitkan buku, jelaslah semuanya. Menurut Pak Harto justru Sudjono yang
berguru soal kebatinan ke Pak Harto. Dan Ali Murtopo dengan gampang
"dibuang" begitu saja.
Memang isu di
luaran biasanya lebih gawat dari kenyataan sebenarnya. Orang Madura punya
istilah yang amat pas untuk menggambarkan itu: wat menggawat.
Digawat-gawatkan.
Bagaimana cara
melupakan dengan cepat isu-isu di medsos? Mudah. Tetaplah selalu sibuk. Anda
yang sedang menekuni dunia usaha konsentrasilah di usaha Anda. Bikinlah target
capaian sedikit lebih tinggi dari kemampuan Anda. Politik tidak akan bisa
menyelamatkan Anda. Hanya Anda sendiri yang bisa mengatasi kesulitan Anda.
Politik tidak akan membantu Anda.
Suhu politik
memang sedang tinggi. Ada mal yang sudah mulai bikin pagar baru yang lebih
tinggi. Rasanya itu agak berlebihan –mungkin karena terlalu banyak mengikuti
masalah-masalah yang wat menggawat di medsos.
Padahal Anda
tidak boleh lupa: medsos juga bisa dipakai untuk operasi intelijen. Pihak lawan
juga menggunakannya untuk operasi kontra-intelijen. Anda bukan bagian dari
keduanya kan? Tidak usahkan memihak. Untuk apa memihak-mihak –yang itu berarti
Anda termakan operasi intelijen atau kontra intelijen? ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/959699/suhu-politik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar