Rabu, 29 Juli 2026

 

Bagaimana Siswa Boyolali Menemukan Celah Keamanan Situs NASA

Septhia Ryanthie :  Jurnalis Tempo.

TEMPO HARIAN, 28 Juli 2026

 

 

                                                           

·      Ibrahim memperoleh Letter of Recognition setelah melaporkan broken link pada salah satu domain publik NASA.

 

·      Siswa SD di Boyolali ini menemukan celah keamanan dengan mengandalkan teknik Google Dorking.

 

·      Setelah memperoleh surat pengakuan NASA, Ibrahim mendapat apresi berupa pendidikan dari Badan Siber dan Sandi Negara.

 

MELALUI program Vulnerability Disclosure Policy (VDP), Badan Antariksa dan Aeronautika Nasional Amerika Serikat (NASA) mengundang para peneliti keamanan siber eksternal melaporkan celah atau kelemahan yang ada pada sistemnya yang bisa diakses lewat Internet.

 

Kepada mereka yang kemudian temuannya bisa dikonfirmasi dan diatasi, NASA akan berterima kasih dengan mengirimkan sepucuk surat pengakuan resmi yang berjudul Letter of Recognition. Salah satu penerima surat itu adalah Ibrahim Al Abrar, siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri 3 Genengsari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada Kamis, 9 Juli 2026.

 

Ibrahim memang bukan orang Indonesia pertama yang mendapat surat itu. Tapi Ibrahim, yang masih duduk di bangku sekolah dasar, mendulang pemberitaan luas. Ibrahim memperoleh letter of recognition setelah melaporkan kerentanan berupa broken link hijacking pada salah satu domain publik NASA. Tautan yang sudah tak digunakan lagi itu berpotensi dimanfaatkan untuk modus kejahatan siber phising apabila diambil alih oleh pihak lain.

 

Bocah 12 tahun itu menemukan celah tersebut bukan dengan perangkat peretasan khusus. Ia mengandalkan teknik Google Dorking, sebuah metode pencarian menggunakan kombinasi kata kunci tertentu untuk menemukan halaman atau tautan yang berpotensi mengandung kerentanan.

 

"Saya pakai teknik dorking untuk mencari link yang kelihatannya sudah mati," katanya saat ditemui Tempo di rumahnya, di Kemusu, Kabupaten Boyolali, Kamis, 23 Juli 2026, atau tepat pada Hari Anak Nasional.

 

Menurut Ibrahim, dorking bukanlah teknik yang sulit karena termasuk kemampuan dasar dalam mencari informasi atau sumber data yang tersedia di Internet melalui mesin pencari Google. Namun, kata dia, pengguna tetap perlu memahami cara menggunakan kata kunci dan operator pencarian dengan tepat agar hasil yang diperoleh lebih spesifik.

 

Jadilah dia menggunakan teknik tersebut untuk mengecek setiap tautan yang berada di domain NASA, yang bisa diakses Internet atau berada di ranah publik. Ibrahim memastikan apakah tautan itu benar-benar sudah mati atau masih bisa diambil alih. "Kalau bisa diaktifkan kembali, saya jadikan bukti, lalu saya laporkan ke sistem NASA," ujarnya.

 

Selama sekitar enam hari, Ibrahim memeriksanya. Dari empat laporan yang dikirimkan, satu di antaranya dinyatakan valid dan memperoleh apresiasi resmi tersebut.

 

Ibrahim mengaku tantangan terbesar tidak hanya menemukan kerentanan, tapi juga menyusun laporan dalam bahasa Inggris. Untuk itu ia memanfaatkan akal imitasi atau artificial intelligence (AI) sebagai alat bantu dalam penyusunan kalimat. "Pelaporannya harus menggunakan bahasa Inggris," katanya.

 

Ayah Ibrahim, Aminuddin Salas, mengatakan putranya itu pernah hilang harapan karena tak kunjung menerima kabar balasan selama hampir dua bulan setelah pelaporan. "Sampai akhirnya ternyata mendapat letter of recognition itu," kata Aminuddin dengan senyum terkembang di wajahnya.

 

Menurut Aminuddin, VDP memang disiapkan NASA sebagai program atau jalur resmi bagi peneliti keamanan siber untuk melaporkan kerentanan. Berbeda dengan Bug Bounty yang memberi imbalan uang, VDP merupakan penghargaan dari NASA berupa surat pengakuan bagi pelapor yang temuannya dinilai valid.

 

Aminuddin, guru teknik komputer dan jaringan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Kemusu, menjelaskan bahwa sebenarnya temuan Ibrahim masih tergolong kerentanan tingkat rendah atau kategori P4. Meski demikian, laporan tersebut tetap dianggap membantu meningkatkan keamanan sistem NASA karena disampaikan secara bertanggung jawab melalui mekanisme resmi.

 

Bagi Ibrahim, penghargaan dari NASA ini menjadi awal untuk membangun cita-citanya menjadi peneliti keamanan siber. "Senang sekali karena mendapat apresiasi dari NASA. Orang-orang di sekitar saya juga mendukung. Jadi, saya tambah bersemangat," ujarnya.

 

Ibrahim berencana terus mencari kerentanan pada berbagai situs web yang menyediakan program pelaporan resmi agar dapat memperkaya portofolionya. Sebelum mendapat apresiasi NASA, Ibrahim mengaku pernah menemukan sebuah kerentanan pada situs web salah satu perguruan tinggi negeri. Dia telah melaporkan temuan tersebut kepada pihak terkait dan kini kerentanannya sudah diperbaiki.

 

Peran Ayahnya yang Guru Teknik Komputer

 

Aminuddin menuturkan, beberapa hari setelah kabar penghargaan dari NASA mencuat, Ibrahim diundang bertemu dengan perwakilan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Dalam pertemuan itu, Ibrahim kembali mendapat sejumlah cendera mata, termasuk sebuah tablet yang akan digunakan untuk mendukung aktivitas belajar.

 

Selain itu, Ibrahim diberi kesempatan mengikuti pendidikan di bidang siber dan sandi negara setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah nanti.

 

Dikutip dari keterangan resmi yang disiarkan di laman ataupun akun media sosialnya, BSSN mengungkapkan adanya Program VVIP (Voluntary Vulnerability Identification and Protection). "BSSN membuka ruang kolaborasi bagi talenta keamanan siber dan peretas etis untuk berkontribusi secara legal dalam memperkuat keamanan sistem elektronik pemerintah," begitu BSSN menuliskan.

 

Badan Siber juga menyebutkan prestasi Ibrahim dalam mengidentifikasi celah keamanan pada sistem NASA menjadi inspirasi bahwa kemampuan teknis harus selalu diiringi dengan integritas dan etika. "BSSN mengapresiasi tidak hanya temuannya, tapi juga sikap bertanggung jawab dalam melaporkan kerentanan melalui mekanisme yang benar (responsible disclosure)," demikian pernyataan BSSN.

 

Tentang kemampuan istimewa putranya itu, Aminuddin mengatakan tidak pernah mengirim Ibrahim ke tempat kursus pemrograman ataupun keamanan siber. Sebagai guru di bidang teknik komputer dan jaringan, Aminuddin hanya membantu menyediakan referensi belajar. Semua proses pembelajaran lain, kata Aminuddin, dilakukan Ibrahim secara autodidak.

 

"Saya hanya mencarikan aplikasi di Play Store, tutorial di YouTube, atau referensi belajar," katanya. "Dia yang kemudian mempelajari dan mempraktikkan sendiri." Apalagi topiknya soal keamanan siber, yang juga tak terlalu dikuasai Aminuddin. "Saya hanya membantu mencarikan bahan belajarnya," ucapnya.

 

Dipicu Pemberitaan Siswa Mendapatkan Sertifikat NASA

 

Menurut Aminuddin, minat Ibrahim terhadap keamanan siber berawal dari sebuah pemberitaan mengenai seorang siswa SMK di Jawa Barat yang memperoleh sertifikat dari NASA setelah melaporkan celah keamanan. Rasa penasaran mendorongnya mempelajari bagaimana proses pelaporan dilakukan, termasuk mencari tahu jenis kerentanan yang dapat diterima dalam program VDP NASA.

 

Sebelumnya, ketertarikan Ibrahim terhadap teknologi informatika bermula dari kegemarannya bermain game di telepon seluler, seperti umumnya anak-anak masa kini. Alih-alih melarang, Aminuddin justru mengarahkan anaknya mencoba membuat gim sendiri.

 

"Dari situ Ibrahim mulai belajar logika pemrograman, kemudian merambah pengembangan web sebelum akhirnya mendalami keamanan siber pada awal tahun ini," tutur Aminuddin.

 

Dia juga menyebutkan media sosial menjadi bagian dari proses belajar Ibrahim. Sang ayah awalnya membuat akun media sosial hanya sebagai dokumentasi perkembangan kemampuan Ibrahim dalam membuat gim dan belajar coding.

 

Namun akun tersebut justru menarik perhatian banyak pegiat teknologi yang kemudian memberikan masukan agar Ibrahim tidak hanya mempelajari pemrograman, tapi juga keamanan siber.

 

"Awalnya banyak yang bilang nanti coding bisa terbantu AI. Mereka menyarankan belajar cybersecurity karena masih sedikit yang mendalami. Ternyata Ibrahim juga tertarik," kata Aminuddin.

 

Sumber :   https://www.tempo.co/digital/pengakuan-nasa-untuk-siswa-sd-boyolali-2278581

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar