|
Bagaimana Siswa
Boyolali Menemukan Celah Keamanan Situs NASA Septhia
Ryanthie : Jurnalis Tempo. |
TEMPO HARIAN, 28 Juli
2026
|
· Ibrahim memperoleh Letter of
Recognition setelah melaporkan broken link pada salah satu domain publik
NASA. · Siswa SD di Boyolali ini menemukan
celah keamanan dengan mengandalkan teknik Google Dorking. · Setelah memperoleh surat pengakuan
NASA, Ibrahim mendapat apresi berupa pendidikan dari Badan Siber dan Sandi
Negara. MELALUI
program Vulnerability Disclosure Policy (VDP), Badan Antariksa dan
Aeronautika Nasional Amerika Serikat (NASA) mengundang para peneliti keamanan
siber eksternal melaporkan celah atau kelemahan yang ada pada sistemnya yang
bisa diakses lewat Internet. Kepada
mereka yang kemudian temuannya bisa dikonfirmasi dan diatasi, NASA akan
berterima kasih dengan mengirimkan sepucuk surat pengakuan resmi yang
berjudul Letter of Recognition. Salah satu penerima surat itu adalah Ibrahim
Al Abrar, siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri 3 Genengsari, Kabupaten
Boyolali, Jawa Tengah, pada Kamis, 9 Juli 2026. Ibrahim
memang bukan orang Indonesia pertama yang mendapat surat itu. Tapi Ibrahim,
yang masih duduk di bangku sekolah dasar, mendulang pemberitaan luas. Ibrahim
memperoleh letter of recognition setelah melaporkan kerentanan berupa broken
link hijacking pada salah satu domain publik NASA. Tautan yang sudah tak
digunakan lagi itu berpotensi dimanfaatkan untuk modus kejahatan siber
phising apabila diambil alih oleh pihak lain. Bocah 12
tahun itu menemukan celah tersebut bukan dengan perangkat peretasan khusus.
Ia mengandalkan teknik Google Dorking, sebuah metode pencarian menggunakan
kombinasi kata kunci tertentu untuk menemukan halaman atau tautan yang
berpotensi mengandung kerentanan. "Saya
pakai teknik dorking untuk mencari link yang kelihatannya sudah mati,"
katanya saat ditemui Tempo di rumahnya, di Kemusu, Kabupaten Boyolali, Kamis,
23 Juli 2026, atau tepat pada Hari Anak Nasional. Menurut
Ibrahim, dorking bukanlah teknik yang sulit karena termasuk kemampuan dasar
dalam mencari informasi atau sumber data yang tersedia di Internet melalui
mesin pencari Google. Namun, kata dia, pengguna tetap perlu memahami cara
menggunakan kata kunci dan operator pencarian dengan tepat agar hasil yang
diperoleh lebih spesifik. Jadilah
dia menggunakan teknik tersebut untuk mengecek setiap tautan yang berada di
domain NASA, yang bisa diakses Internet atau berada di ranah publik. Ibrahim
memastikan apakah tautan itu benar-benar sudah mati atau masih bisa diambil
alih. "Kalau bisa diaktifkan kembali, saya jadikan bukti, lalu saya
laporkan ke sistem NASA," ujarnya. Selama
sekitar enam hari, Ibrahim memeriksanya. Dari empat laporan yang dikirimkan,
satu di antaranya dinyatakan valid dan memperoleh apresiasi resmi tersebut. Ibrahim
mengaku tantangan terbesar tidak hanya menemukan kerentanan, tapi juga
menyusun laporan dalam bahasa Inggris. Untuk itu ia memanfaatkan akal imitasi
atau artificial intelligence (AI) sebagai alat bantu dalam penyusunan
kalimat. "Pelaporannya harus menggunakan bahasa Inggris," katanya. Ayah
Ibrahim, Aminuddin Salas, mengatakan putranya itu pernah hilang harapan
karena tak kunjung menerima kabar balasan selama hampir dua bulan setelah
pelaporan. "Sampai akhirnya ternyata mendapat letter of recognition
itu," kata Aminuddin dengan senyum terkembang di wajahnya. Menurut
Aminuddin, VDP memang disiapkan NASA sebagai program atau jalur resmi bagi
peneliti keamanan siber untuk melaporkan kerentanan. Berbeda dengan Bug
Bounty yang memberi imbalan uang, VDP merupakan penghargaan dari NASA berupa
surat pengakuan bagi pelapor yang temuannya dinilai valid. Aminuddin,
guru teknik komputer dan jaringan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1
Kemusu, menjelaskan bahwa sebenarnya temuan Ibrahim masih tergolong
kerentanan tingkat rendah atau kategori P4. Meski demikian, laporan tersebut
tetap dianggap membantu meningkatkan keamanan sistem NASA karena disampaikan
secara bertanggung jawab melalui mekanisme resmi. Bagi
Ibrahim, penghargaan dari NASA ini menjadi awal untuk membangun cita-citanya
menjadi peneliti keamanan siber. "Senang sekali karena mendapat
apresiasi dari NASA. Orang-orang di sekitar saya juga mendukung. Jadi, saya
tambah bersemangat," ujarnya. Ibrahim
berencana terus mencari kerentanan pada berbagai situs web yang menyediakan
program pelaporan resmi agar dapat memperkaya portofolionya. Sebelum mendapat
apresiasi NASA, Ibrahim mengaku pernah menemukan sebuah kerentanan pada situs
web salah satu perguruan tinggi negeri. Dia telah melaporkan temuan tersebut
kepada pihak terkait dan kini kerentanannya sudah diperbaiki. Peran
Ayahnya yang Guru Teknik Komputer Aminuddin
menuturkan, beberapa hari setelah kabar penghargaan dari NASA mencuat,
Ibrahim diundang bertemu dengan perwakilan Badan Siber dan Sandi Negara
(BSSN). Dalam pertemuan itu, Ibrahim kembali mendapat sejumlah cendera mata,
termasuk sebuah tablet yang akan digunakan untuk mendukung aktivitas belajar. Selain
itu, Ibrahim diberi kesempatan mengikuti pendidikan di bidang siber dan sandi
negara setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah nanti. Dikutip
dari keterangan resmi yang disiarkan di laman ataupun akun media sosialnya,
BSSN mengungkapkan adanya Program VVIP (Voluntary Vulnerability
Identification and Protection). "BSSN membuka ruang kolaborasi bagi
talenta keamanan siber dan peretas etis untuk berkontribusi secara legal
dalam memperkuat keamanan sistem elektronik pemerintah," begitu BSSN
menuliskan. Badan
Siber juga menyebutkan prestasi Ibrahim dalam mengidentifikasi celah keamanan
pada sistem NASA menjadi inspirasi bahwa kemampuan teknis harus selalu
diiringi dengan integritas dan etika. "BSSN mengapresiasi tidak hanya
temuannya, tapi juga sikap bertanggung jawab dalam melaporkan kerentanan
melalui mekanisme yang benar (responsible disclosure)," demikian
pernyataan BSSN. Tentang
kemampuan istimewa putranya itu, Aminuddin mengatakan tidak pernah mengirim
Ibrahim ke tempat kursus pemrograman ataupun keamanan siber. Sebagai guru di
bidang teknik komputer dan jaringan, Aminuddin hanya membantu menyediakan
referensi belajar. Semua proses pembelajaran lain, kata Aminuddin, dilakukan
Ibrahim secara autodidak. "Saya
hanya mencarikan aplikasi di Play Store, tutorial di YouTube, atau referensi
belajar," katanya. "Dia yang kemudian mempelajari dan mempraktikkan
sendiri." Apalagi topiknya soal keamanan siber, yang juga tak terlalu
dikuasai Aminuddin. "Saya hanya membantu mencarikan bahan
belajarnya," ucapnya. Dipicu
Pemberitaan Siswa Mendapatkan Sertifikat NASA Menurut
Aminuddin, minat Ibrahim terhadap keamanan siber berawal dari sebuah
pemberitaan mengenai seorang siswa SMK di Jawa Barat yang memperoleh
sertifikat dari NASA setelah melaporkan celah keamanan. Rasa penasaran
mendorongnya mempelajari bagaimana proses pelaporan dilakukan, termasuk
mencari tahu jenis kerentanan yang dapat diterima dalam program VDP NASA. Sebelumnya,
ketertarikan Ibrahim terhadap teknologi informatika bermula dari kegemarannya
bermain game di telepon seluler, seperti umumnya anak-anak masa kini.
Alih-alih melarang, Aminuddin justru mengarahkan anaknya mencoba membuat gim
sendiri. "Dari
situ Ibrahim mulai belajar logika pemrograman, kemudian merambah pengembangan
web sebelum akhirnya mendalami keamanan siber pada awal tahun ini,"
tutur Aminuddin. Dia juga
menyebutkan media sosial menjadi bagian dari proses belajar Ibrahim. Sang
ayah awalnya membuat akun media sosial hanya sebagai dokumentasi perkembangan
kemampuan Ibrahim dalam membuat gim dan belajar coding. Namun
akun tersebut justru menarik perhatian banyak pegiat teknologi yang kemudian
memberikan masukan agar Ibrahim tidak hanya mempelajari pemrograman, tapi
juga keamanan siber. "Awalnya
banyak yang bilang nanti coding bisa terbantu AI. Mereka menyarankan belajar
cybersecurity karena masih sedikit yang mendalami. Ternyata Ibrahim juga
tertarik," kata Aminuddin. ● Sumber :
https://www.tempo.co/digital/pengakuan-nasa-untuk-siswa-sd-boyolali-2278581 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar