Catatan
dari London (6)
|
DUA SEPUPU RATU ELIZABETH II YANG DILUPAKAN DARI INGATAN Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 27 Juli 2026
|
Seorang anak
perempuan berdiri di balik jendela. Di luar, musim semi datang seperti biasa.
Burung tetap bernyanyi, matahari tetap terbit, dan dunia terus bergerak tanpa
tahu bahwa di balik tembok itu ada manusia yang perlahan dihapus dari
ingatan. Bertahun-tahun
kemudian, sebuah buku silsilah menyatakan ia telah meninggal. Padahal
napasnya masih ada dan jantungnya masih berdetak. Yang sesungguhnya mati
bukan tubuhnya, melainkan haknya untuk diingat. —oOo— Pagi itu
saya berdiri di depan Buckingham Palace. Ribuan wisatawan memenuhi halaman,
mengangkat telepon genggam, menunggu momen yang diimpikan pelancong dari
seluruh dunia: seorang anggota keluarga kerajaan melambaikan tangan dari
balkon. Di kerajaan
modern, balkon bukan sekadar arsitektur, melainkan panggung simbolik. Dari
sanalah kerajaan menunjukkan siapa yang menjadi wajah monarki, siapa yang
mewakili kesinambungan sejarah, dan siapa yang akan dikenang oleh jutaan
kamera. Saya
memandangi balkon itu cukup lama, hingga muncul satu pertanyaan yang tidak
pernah saya pikirkan. Jika ada orang yang dipilih untuk tampil di balkon,
adakah pula orang yang dipilih agar tidak pernah terlihat? Pertanyaan
itu membawa saya kepada salah satu kisah paling sunyi dalam sejarah keluarga
kerajaan Inggris. Ini bukan tentang raja atau perang, melainkan tentang dua
perempuan yang lahir dekat mahkota, tetapi hampir seluruh hidupnya dijauhkan
dari pandangan dunia. Namanya
Nerissa Bowes-Lyon dan Katherine Bowes-Lyon. Mereka putri John Bowes-Lyon,
kakak kandung Elizabeth Bowes-Lyon yang kelak dikenal sebagai Queen Mother.
Dengan demikian, keduanya adalah sepupu pertama Ratu Elizabeth II, darah
daging keluarga yang sama, namun diperlakukan seolah tidak pernah ada. —oOo— Nerissa
lahir pada 1919, Katherine pada 1926. Sejak kecil keduanya mengalami
disabilitas intelektual yang berat. Pengetahuan medis saat itu masih
terbatas, dan masyarakat Inggris memandang gangguan perkembangan sebagai aib
keluarga. Tahun 1941,
di tengah Perang Dunia Kedua, keduanya ditempatkan di Royal Earlswood
Hospital di Surrey, institusi perawatan disabilitas intelektual. Dilihat
dengan ukuran moral hari ini, keputusan itu memilukan. Namun sejarah menuntut
kita berlaku adil. Bukan hanya
keluarga kerajaan yang berbuat serupa. Ribuan keluarga Inggris, dari
aristokrat sampai rakyat biasa, mempercayakan anggotanya kepada institusi
semacam itu, meyakini bahwa hidup di balik tembok lembaga adalah pilihan
terbaik pada zaman yang dikuasai stigma. Tetapi ada
satu hal yang membedakan kisah Nerissa dan Katherine dari ribuan kisah lain.
Mereka perlahan menghilang dari ingatan publik, hampir tidak pernah disebut,
hampir tidak pernah dibicarakan, seolah sejarah kerajaan berjalan tanpa
mereka. —oOo— Rahasia itu
mengguncang Inggris pada 1987, setahun setelah Nerissa wafat. Ini bukan
karena penyelidikan polisi atau dokumen bocor, melainkan karena sebuah
kematian yang memicu penelusuran. Ketika wartawan menelusuri latar belakang
Nerissa yang meninggal pada 1986 di usia enam puluh enam tahun, mereka
menemukan sesuatu yang mengejutkan. Dalam
Burke's Peerage, buku silsilah bangsawan yang berabad-abad menjadi rujukan
utama garis keturunan aristokrat, Nerissa dan Katherine tercatat telah
meninggal bertahun-tahun sebelumnya. Padahal Nerissa baru wafat pada 1986,
sedangkan Katherine bertahan hingga 2014. Temuan itu
segera menjadi berita nasional. Surat kabar Inggris mempertanyakan bagaimana
mungkin dua sepupu pertama Ratu masih hidup, sementara buku silsilah paling
berpengaruh mencatat mereka telah meninggal. Sebagian menuduh keluarga
kerajaan sengaja menghapus keberadaan mereka demi menjaga citra monarki. Sebagian
lain mengingatkan bahwa Burke's Peerage bukan dokumen resmi kerajaan. Datanya
berasal dari keluarga, dan tidak ada bukti Ratu Elizabeth II memerintahkan
pencatatan yang keliru itu. Yang tersisa hanyalah perdebatan moral tanpa
penjahat tunggal. —oOo— Kontroversi
itu berpusat pada sebuah buku yang terdengar biasa, tetapi bagi bangsawan
Inggris nyaris setara dengan arsip keluarga. Sejak terbit pada 1826, Burke's
Peerage menjadi rujukan paling otoritatif silsilah kerajaan dan aristokrasi
Britania. Di dalamnya
tercatat kelahiran, pernikahan, kematian, dan hubungan antarkeluarga
bangsawan. Sejarawan, hakim, hingga keluarga kerajaan sering merujuk padanya.
Karena itulah, ketika edisi 1963 mencatat Nerissa dan Katherine telah
meninggal, hampir tidak ada yang mempertanyakannya. Yang dapat
dipastikan hanyalah satu fakta: informasi yang masuk ke Burke's Peerage
keliru. Siapa yang menyampaikannya dan mengapa kesalahan itu tidak dikoreksi
selama puluhan tahun, masih menjadi perdebatan sejarawan. Di sinilah sejarah
menuntut kerendahan hati. —oOo— Yang jauh
lebih menarik bukan siapa yang salah. Yang mengejutkan adalah mengapa
masyarakat pada masa itu dapat menerima kenyataan bahwa dua perempuan hidup
puluhan tahun di sebuah institusi tanpa pernah dipertanyakan keberadaannya
oleh dunia luar. Untuk
memahaminya, kita harus memasuki cara berpikir Inggris pertengahan abad kedua
puluh. Disabilitas intelektual belum dipahami sebagaimana sekarang. Banyak
keluarga menyembunyikan anggotanya, dan tidak sedikit yang merasa memiliki
anak dengan disabilitas adalah aib yang harus ditutup rapat. Lembaga
seperti Royal Earlswood Hospital lahir bukan semata karena kekejaman, tetapi
karena keyakinan zaman bahwa hidup terpisah dari masyarakat berarti perawatan
yang lebih baik. Hari ini kita tahu banyak institusi semacam itu justru
melahirkan keterasingan. Royal Earlswood sendiri akhirnya ditutup pada 1997,
seiring perubahan cara pandang terhadap disabilitas. Namun mudah
sekali menghakimi masa lalu dengan standar moral masa kini. Jauh lebih sulit
memahami bagaimana rasa takut terhadap stigma dapat mengalahkan kasih sayang
keluarga. Yang dikalahkan bukan hanya dua perempuan itu, melainkan juga
keberanian masyarakat untuk melihat bahwa martabat manusia tidak ditentukan
oleh kemampuan intelektualnya. —oOo— Beberapa
hari sebelum menulis catatan ini, saya kembali melewati gerbang Buckingham
Palace. Turis tetap berdesakan, anak-anak duduk di pundak ayahnya, dan para
penjaga kerajaan berdiri tegak dengan seragam merah serta topi hitam tinggi
khas Inggris. Semuanya
datang dengan harapan yang sama: melihat keluarga kerajaan. Monarki memang
hidup dari simbol. Namun saya bertanya, mengapa manusia begitu mudah terpikat
pada apa yang tampak, sementara begitu jarang bertanya tentang apa yang
sengaja tidak ditampilkan? Sejarah
sering bekerja seperti panggung teater. Lampu sorot hanya menerangi sebagian
kecil ruang. Saya teringat dua sepupu Ratu yang menghabiskan sebagian besar
hidupnya tanpa sorotan kamera: tanpa pidato, tanpa tepuk tangan, tanpa
balkon, hanya hari-hari yang berjalan perlahan. Saya
membayangkan mereka mungkin pernah mendengar suara burung pada pagi hari,
menunggu surat yang tidak pernah datang, atau bertanya mengapa semakin
sedikit anggota keluarga yang berkunjung. Di situlah kekuatan empati: ia
mengajak kita membayangkan penderitaan yang tak sempat dituliskan arsip. —oOo— Semakin lama
saya memikirkan kisah ini, semakin saya sadar persoalannya bukan lagi tentang
keluarga kerajaan Inggris. Setiap institusi besar memiliki godaan yang sama:
perusahaan ingin menampilkan keberhasilan, partai politik menonjolkan
kemenangan, negara mengenang kejayaan. Bahkan
keluarga biasa pun sering menyimpan rahasia yang dianggap memalukan agar
citra tetap utuh di mata tetangga. Di zaman media sosial, jutaan orang
membangun balkon digitalnya sendiri: memasang foto, senyum, prestasi, dan
liburan terbaik. Sedangkan
kesepian, kegagalan, penyakit, dan luka disimpan di ruang belakang kehidupan.
Itulah pertanyaan yang sama seperti yang saya temukan di depan Buckingham
Palace: siapa yang kita izinkan muncul di balkon, dan siapa yang kita
sembunyikan di balik pintu terkunci? —oOo— Pada
akhirnya, setiap pencitraan yang dipaksakan selalu menuntut tumbal. Ketika
kesempurnaan disembah, kelemahan manusiawi diubah menjadi rasa malu, dan
mereka yang tak sempurna dipaksa menghilang demi menjaga kilau kebohongan
bersama. Tiga puluh
tahun setelah kontroversi itu, kisah Nerissa dan Katherine memperoleh
kehidupan baru bukan melalui buku sejarah, melainkan layar televisi. Netflix
mengangkatnya dalam The Crown, Season 4, Episode 7, berjudul The Hereditary
Principle. Episode itu
menjadi salah satu yang paling diperdebatkan dalam sejarah serial tersebut.
Sebagian penonton menganggapnya keberanian moral membuka luka lama monarki.
Sebagian lain menilai Peter Morgan terlalu jauh mencampurkan fakta dengan
fiksi. Kedua pendapat itu sama-sama benar. Keberadaan
Nerissa dan Katherine serta kesalahan dalam Burke's Peerage adalah fakta.
Namun percakapan antara Princess Margaret dan Queen Mother dan sebagian besar
dialog emosional adalah dramatisasi. Peter Morgan bukan dokumenter; ia
memakai sejarah untuk mengajukan pertanyaan moral. —oOo— Dalam
episode itu, Princess Margaret sedang berada pada masa paling rapuh. Usianya
bertambah, perannya di keluarga kerajaan berkurang, dan ia baru menjalani
operasi paru-paru. Untuk pertama kalinya ia bersedia menemui seorang
psikiater. Di ruang
konsultasi itu muncul pertanyaan sederhana: "Apakah ada riwayat gangguan
mental dalam keluarga Anda?" Margaret menjawab tidak. Namun sang
psikiater menyebut dua nama yang asing baginya: Nerissa Bowes-Lyon dan
Katherine Bowes-Lyon. Margaret
terkejut. Ia membuka Burke's Peerage. Di sana memang tertulis keduanya telah
meninggal. Tetapi sang psikiater mengucapkan kalimat yang mengubah seluruh
arah cerita: "Mereka masih hidup." Kadang satu kalimat yang tenang
lebih mengguncang daripada seribu teriakan. —oOo— Margaret
kemudian meminta sahabatnya, Derek Jennings, mengunjungi Royal Earlswood
Hospital, sementara ia menunggu di luar. Peter Morgan membuat pilihan
artistik yang menarik: penonton tidak diajak melihat seluruh kehidupan
Nerissa dan Katherine. Kamera lebih
banyak mengikuti ekspresi Derek ketika keluar dari bangunan itu. Wajahnya
berubah, matanya basah. Ia hanya mengatakan bahwa kedua perempuan itu memang
masih hidup, tanpa sensasi apa pun tentang kondisi mereka. Yang menjadi
pusat cerita justru guncangan batin orang-orang yang baru mengetahui
kenyataan itu. Seakan Peter Morgan ingin berkata: tragedi terbesar bukanlah
apa yang terjadi di rumah sakit, melainkan betapa lama dunia tak pernah
bertanya tentang mereka. —oOo— Lalu
muncullah adegan yang paling terkenal. Princess Margaret menemui ibunya,
Queen Mother, di tepi pantai yang sunyi. Tidak ada wartawan, tidak ada
ajudan. Di sana hanya seorang ibu dan anak perempuan yang mempertanyakan arti
sebuah keluarga. Margaret
bertanya dengan kemarahan yang hampir tak dapat disembunyikan. Mengapa dua
anggota keluarga sendiri disingkirkan dari ingatan? Mengapa dunia dibuat
percaya bahwa mereka telah meninggal? Queen Mother menjawab dengan tenang,
tidak tentang kebencian, melainkan tentang institusi. Menurutnya,
monarki Inggris bertumpu pada fondasi yang rapuh: hak memerintah diwariskan
melalui garis keturunan. Jika rakyat percaya bahwa garis keturunan kerajaan
membawa kelemahan mental, kepercayaan kepada monarki dapat runtuh. Peter
Morgan menyebut fondasi itu the hereditary principle. Maka
lahirlah benturan dua cara memandang dunia. Bagi Queen Mother, mempertahankan
institusi adalah pengabdian. Bagi Margaret, mengorbankan manusia demi
institusi adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan. Tidak ada pemenang
mutlak. Yang hadir hanya dua pilihan moral yang sama-sama menyakitkan. —oOo— Saya
menonton episode itu pada suatu malam di Jakarta. Sesudah layar padam, saya
duduk lama dalam keheningan. Yang terus berputar di kepala saya bukan
keluarga kerajaan, melainkan kehidupan kita sendiri. Bukankah
setiap manusia memiliki kecenderungan membangun "The Crown"
versinya masing-masing? Kita memilih cerita yang ingin diketahui orang lain,
menyunting bagian yang memalukan, dan membangun citra yang tampak utuh, meski
di baliknya ada luka yang tak pernah selesai. Saya
teringat begitu banyak keluarga yang saya kenal. Ada yang menyembunyikan
anaknya karena autisme, tidak pernah mengakui anggotanya mengalami gangguan
jiwa, menganggap depresi sebagai aib, bahkan lebih rela kehilangan anak
daripada kehilangan nama baik. Saya tidak
sedang menghakimi. Saya hanya bertanya: berapa banyak penderitaan lahir bukan
karena penyakitnya, melainkan karena rasa malu terhadap penyakit? Kemajuan
sebuah peradaban juga diukur dari keberaniannya menerima manusia paling rapuh
sebagai bagian utuh dari kemanusiaan. —oOo— Dua buku
sangat membantu saya memahami persoalan ini. Buku pertama adalah Far from the
Tree: Parents, Children and the Search for Identity karya Andrew Solomon,
diterbitkan Scribner pada 2012. Solomon
mewawancarai ratusan keluarga dengan anak berkebutuhan khusus: disabilitas
intelektual, autisme, sindrom Down, dan gangguan perkembangan lain.
Kesimpulannya: penderitaan terbesar sering bukan berasal dari kondisi
biologis anak, melainkan stigma sosial yang membuat keluarga merasa harus
menyembunyikannya. Buku kedua
adalah Stigma: Notes on the Management of Spoiled Identity karya Erving
Goffman (Prentice-Hall, 1963). Goffman menjelaskan bagaimana masyarakat
membangun kategori tentang siapa yang "normal" dan siapa yang
"cacat", lalu menyembunyikan atau mendefinisikan ulang identitas
mereka yang tidak sesuai. Stigma bukan
sekadar prasangka pribadi, melainkan konstruksi sosial yang menentukan siapa
memperoleh tempat terhormat dalam masyarakat, dan siapa perlahan dihapus dari
ingatan bersama. Karena itu, kisah Nerissa dan Katherine bukan sekadar
skandal kerajaan, melainkan cermin sebuah zaman. —oOo— Tentu saja
ada pandangan yang berbeda. Sebagian sejarawan mengingatkan agar kita tidak
tergesa-gesa menjadikan kisah Nerissa dan Katherine sebagai bukti bahwa
keluarga kerajaan Inggris sengaja melakukan kekejaman. Keberatan itu layak
dihormati. Pertama,
tidak ada bukti Ratu Elizabeth II memerintahkan penyembunyian sepupunya.
Kedua, ribuan keluarga Inggris juga menempatkan anggotanya yang berkebutuhan
khusus di institusi. Ini pilihan yang saat itu dianggap lazim. Ketiga, dialog
dalam The Crown adalah karya dramatik, bukan transkrip sejarah. Esai ini
tidak sedang mengadili seseorang, melainkan mengadili sebuah cara berpikir.
Bahkan tanpa niat jahat, sebuah sistem tetap dapat menghasilkan ketidakadilan
apabila ia lebih mencintai citra daripada manusia. Sering kali sejarah tidak
digerakkan oleh kebencian, melainkan oleh ketakutan. Takut
kehilangan kehormatan. Takut kehilangan kekuasaan. Takut kehilangan
kepercayaan publik. Dan ketika rasa takut menjadi lebih besar daripada kasih
sayang, manusia paling rapuh hampir selalu menjadi korban pertama dalam mesin
kekuasaan yang lebih mencintai citra ketimbang martabat. —oOo— Sebelum
meninggalkan Buckingham Palace, saya kembali memandang balkon yang sejak pagi
dipenuhi harapan wisatawan. Saya membayangkan foto yang akan mereka bawa
pulang: pagar emas, istana megah, seragam merah penjaga, mungkin juga
lambaian tangan anggota keluarga kerajaan. Namun saya
membawa pulang gambar yang berbeda. Bukan balkon, bukan mahkota, melainkan
dua perempuan yang tidak pernah berdiri di sana. Nerissa dan Katherine
mengajarkan bahwa sejarah juga dibentuk oleh mereka yang lama hidup di dalam
bayang-bayang. Peradaban
yang matang bukanlah yang hanya mampu merayakan orang-orang terbaiknya.
Peradaban yang matang adalah yang tetap menjaga martabat mereka yang paling
lemah, bahkan ketika tidak ada kamera yang merekamnya. Barangkali
itulah ukuran paling jujur dari sebuah bangsa, sebuah keluarga, bahkan diri
kita sendiri. Bukan bagaimana kita memperlakukan mereka yang membawa
kehormatan, melainkan mereka yang tidak dapat memberi apa-apa selain
kesempatan bagi kita untuk menunjukkan kasih. Setiap zaman
memiliki balkonnya sendiri, dan setiap manusia juga memilikinya.
Pertanyaannya bukan seberapa sering kita berdiri di atas balkon itu,
melainkan apakah kita masih mengingat mereka yang tidak pernah diberi
kesempatan untuk ikut berdiri bersama kita. Karena
kemuliaan sebuah peradaban tidak diukur dari siapa yang berhasil
ditinggikannya, tetapi dari siapa yang tetap dirangkulnya ketika dunia
memilih melupakannya. Itulah pelajaran diam Nerissa dan Katherine, dua
perempuan yang panggungnya bukan balkon istana, melainkan hati orang-orang
yang akhirnya berani mengingat. ● REFERENSI 1. Andrew Solomon, Far from the Tree: Parents,
Children, and the Search for Identity, Scribner, New York, 2012. 2. Erving Goffman, Stigma: Notes on the Management
of Spoiled Identity, Prentice-Hall, Englewood Cliffs, New Jersey, 1963. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar