|
Pemimpin Tahu Tombol Ahmadie Thaha : Kolumnis, mantan wartawan Majalah TEMPO dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 30 Juli 2026
|
Teknologi
Sudaryono mungkin biasa. Yang tidak biasa adalah pertanyaannya: jika data MBG
bisa dilihat orang tua, mengapa selama ini tidak dibuka? Ada masalah yang kelihatan besar
karena dibicarakan di ruang rapat yang besar. Begitu diserahkan kepada orang
yang mengerti teknologi, kadang ia menyusut menjadi beberapa tabel database
dan halaman web. Kita lalu bertanya: yang rumit masalahnya, atau cara
birokrasi memandang masalah? Saya teringat itu ketika membaca
langkah Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang dilantik Presiden
Prabowo Subianto, 22 Juli 2026. Umurnya 41 tahun. Tergolong muda untuk pucuk
birokrasi negeri ini, tempat usia kadang diperlakukan seperti versi perangkat
lunak: makin lama dianggap makin lengkap fiturnya. Beberapa hari setelah dilantik,
Sudaryono menjanjikan sistem yang memungkinkan orang tua melihat informasi
Makan Bergizi Gratis (MBG): anaknya mendapat menu apa, kandungan gizinya
bagaimana, dimasak di dapur mana, bahkan siapa kepala Satuan Pelayanan
Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab. Ia berharap sistem itu sudah bisa
diakses seluruh orang tua siswa pekan ini. Bagi orang yang biasa mengoprek
komputer dan koding, saya agak sulit menyebutnya “sistem canggih”. Kalau
database dapur, sekolah, menu, dan penerima manfaat sudah tersedia, pekerjaan
dasarnya menjadi lebih mudah. Tinggal buatkan laman antarmuka
berbasis web, tentukan data yang boleh dibaca publik, sambungkan ke database,
lalu sajikan dalam dashboard yang ramah ponsel. Tentu praktiknya nanti
terkait urusan keamanan, integrasi, dan kualitas data. Tapi secara
konseptual, teknologinya biasa. Justru karena teknologinya biasa,
pertanyaan yang luar biasa adalah: mengapa orang tua yang selama ini memimpin
BGN tidak bisa melihatnya? Di situlah perkara teknologi berubah menjadi
perkara kepemimpinan. Pemimpin tak harus bisa menulis kode
Python atau menghafal SQL. Kepala badan juga tak perlu tahu mengapa
programmer bisa murung gara-gara satu titik koma. Tapi pemimpin zaman
sekarang perlu mempunyai "imajinasi digital": kemampuan melihat
bahwa data yang tersimpan di kantor dapat diubah menjadi pelayanan bagi
warga. Seorang ibu yang anaknya menerima MBG
tak membutuhkan seminar tiga hari tentang tata kelola gizi nasional. Ia cuma
ingin tahu: anak saya hari ini makan apa? Dari dapur mana? Siapa yang
bertanggung jawab? Kalau bermasalah, mengadu ke siapa? Pertanyaan sederhana.
Tapi di situlah petunjuk negara hadir atau tidak hadir. Harus adil dicatat, digitalisasi BGN
bukan lahir bersama Sudaryono. BGN sudah meluncurkan platform e-tracking pada
September 2025 untuk mencatat distribusi MBG. Pada April 2026, BGN juga
mengumumkan pembukaan akses pengecekan data. Jadi kantor BGN sebelumnya bukan
gudang arsip yang masih bekerja dengan mesin tik. Yang menarik dari langkah Sudaryono
adalah perubahan sudut pandang: data pemerintah jangan hanya berguna bagi pemerintah. Birokrasi kita gemar mendigitalkan
formulir. Kertas dipindahkan ke layar, lalu kita merasa sudah melakukan
transformasi digital. Padahal penderitaan warga tetap sama, cuma bolpennya
diganti keyboard. Antrean dipindahkan dari halaman kantor ke layar ponsel,
yang nasibnya ditentukan sinyal internet. Transformasi digital seharusnya
dimulai dari kebutuhan warga, bukan kegemaran instansi membuat aplikasi. OECD
menyebut pendekatan semacam ini human-centred public services: pelayanan
pemerintah dirancang berdasarkan kebutuhan penggunanya. Teknologi bukan
tujuan, melainkan alat keterbukaan dan keterjangkauan. Karena itu kecerdasan teknologi
pemimpin jangan diukur dari kemampuannya membuat aplikasi. Itu pekerjaan
programmer. Ukurannya adalah apakah ketika menghadapi masalah ia tahu
teknologi dapat menyediakan jalan penyelesaian yang lebih cepat dan murah.
Literasi digital pemimpin bukan keterampilan jari. Ia keterampilan kepala. Dan, lebih penting lagi, keterampilan
hati. Teknologi tanpa empati hanya menghasilkan mesin yang bekerja lebih
cepat. Empati membuat pemimpin bertanya: informasi apa yang dibutuhkan warga?
Transparansi membuatnya bertanya lagi: kalau data itu menyangkut kepentingan
publik, mengapa harus disimpan rapat-rapat? Di sinilah langkah Sudaryono layak
diperhatikan Presiden Prabowo. Indonesia tak kekurangan pejabat yang fasih
mengucapkan “transformasi digital”. Istilah itu sudah seperti daun bawang
dalam pidato birokrasi: hampir semua masakan ditaburi dengannya. Ada big
data, AI, dashboard, super-app, dan banyak lagi. Padahal kebutuhan rakyat sering
sederhana: "saya ingin tahu." Saya ingin tahu uang publik digunakan
untuk apa. Bantuan saya sudah sampai mana. Siapa yang bertanggung jawab.
Dalam MBG: makanan anak saya dimasak siapa. Teknologi memungkinkan pertanyaan
itu dijawab hampir seketika. Masalahnya, transformasi digital kita
sering berhenti pada pembelian teknologi, bukan perubahan cara berpikir. Kita
membeli server, tapi mempertahankan mental lemari besi. Kita membuat
dashboard, tapi datanya hanya dilihat pejabat. Kita membangun aplikasi pengaduan,
tapi pengaduannya masuk ke lubang digital yang sama gelapnya dengan kotak
saran zaman dulu. Teknologinya abad ke-21, naluri birokrasinya masih zaman
stempel tiga rangkap. Maka Prabowo mungkin perlu menambahkan
satu kolom tak tertulis ketika memilih pembantunya: digital intelligence
(kecerdasan digital). Bukan tes membuat program komputer, melainkan cara
berpikir. Ketika menghadapi masalah pelayanan
publik, apakah seorang pejabat mampu melihat penyelesaiannya melalui data dan
teknologi? Apakah ia mengerti data harus terhubung, layanan dapat ditelusuri,
keputusan bisa diaudit, dan informasi publik semestinya terbuka kecuali ada
alasan hukum untuk menutupnya? Pemimpin yang buta teknologi gampang
menjadi tawanan bawahannya. Ia mengetahui dunia dari laporan yang diletakkan
di mejanya. Sebaliknya, pemimpin yang melek digital tahu pertanyaan yang
perlu diajukan: sumber datanya apa? Diperbarui kapan? Bisa dilacak sampai
pelaksana? Publik bisa melihatnya? Tentu kita jangan buru-buru memberikan
medali kepada Sudaryono. Ia baru beberapa hari bekerja. Janji dashboard
tetaplah janji sampai benar-benar dibuka, datanya akurat, diperbarui rutin,
dan mudah digunakan. Sudaryono juga mengatakan akan membuat
sistem pengadaan bahan baku lebih transparan untuk menghindari hanky-panky
atau kongkalikong antara pemasok dan dapur. Ini malah lebih penting.
Informasi menu menyangkut transparansi pelayanan; pengadaan menyentuh jantung
uang dan kepentingan. Jangan berhenti pada layar yang
cantik. Sistem perlu meninggalkan jejak: siapa mengubah data, kapan, dan apa
yang diubah. Pengaduan masyarakat harus dapat dilacak. Kriteria pemasok
jelas. Transparansi bukan sekadar etalase, melainkan arsitektur. Sebab
korupsi jarang takut kepada slogan. Ia lebih takut kepada jejak. Di zaman ketika seorang ibu dapat
melacak pengemudi ojek daring yang membawa sebungkus martabak sampai beberapa
meter dari rumahnya, memang ganjil bila ia tidak dapat mengetahui dari dapur
mana makanan yang masuk ke perut anaknya berasal. Gojek bisa menunjukkan martabak sedang
di tikungan mana. Paket belanja bisa diketahui sudah sampai gudang mana. Masa
sepiring nasi yang dibayar negara untuk anak sekolah masih harus dilacak
melalui konferensi pers? Barangkali itulah kecerdasan teknologi
bagi pemimpin publik. Bukan kemampuan membuat teknologi paling canggih,
melainkan kemampuan melihat sesuatu yang sebenarnya sudah mungkin dilakukan,
lalu bertanya: “Kalau memang bisa dibuka kepada rakyat, mengapa selama ini
ditutup?” Kadang revolusi birokrasi tidak
memerlukan algoritma rumit. Cukup seorang pemimpin yang tahu tombol mana yang
harus ditekan — dan punya keberanian menekan tombol "OPEN". ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar