|
Setelah Taylor Swift di Singapura dan Tomorrowland di Thailand:
Saatnya Bali Berani Menjadi Panggung Musik Dunia Tantowi Yahya : Duta Besar RI untuk Selandia Baru (2017-2021); Ketua Umum IKA
NHI Bandung; Presiden Komisaris PT BTID/KEK Kura Kura Bali.. |
ORBIT INDONESIA, 14 Juni 2026
|
Bali selama ini telah
menjadi salah satu nama paling kuat dalam peta pariwisata dunia. Bagi banyak
wisatawan mancanegara, Bali bukan sekadar destinasi. Bali adalah pengalaman,
identitas, gaya hidup, spiritualitas, budaya, hospitality, dan kerinduan
untuk kembali. Karena itu, sudah saatnya
Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi alam dan budaya, tetapi juga
berani menjadi panggung musik dunia. Kita dapat belajar dari Singapura ketika
Taylor Swift hadir melalui The Eras Tour. Singapura menjadi satu-satunya
destinasi Asia Tenggara untuk konser tersebut. Dampaknya luar biasa. Fans
dari berbagai negara Asia datang ke Singapura. Mereka membeli tiket
pesawat, menginap di hotel, makan di restoran, berbelanja, menggunakan
transportasi, membeli merchandise, dan memperpanjang masa tinggal. Satu
konser berubah menjadi gerakan ekonomi lintas sektor. Kita juga melihat
Thailand yang bergerak agresif melalui Tomorrowland Thailand. Festival musik
elektronik dunia itu menjadi magnet baru bagi wisatawan muda, komunitas
global, promotor, sponsor, media, kreator konten, dan industri hospitality.
Thailand memahami bahwa konser dan festival musik bukan sekadar hiburan,
tetapi alat promosi destinasi dan mesin ekonomi baru. Pertanyaannya: mengapa
Bali tidak mengambil posisi yang sama, bahkan lebih kuat? Bali memiliki modal yang
sangat besar. Bali memiliki reputasi global. Bali memiliki banyak penerbangan
internasional langsung. Bali memiliki jaringan hotel, resort, villa,
restoran, beach club, kawasan event, komunitas kreatif, pekerja hospitality,
dan pengalaman menyelenggarakan berbagai agenda internasional. Bali juga
memiliki keunggulan emosional yang tidak dimiliki banyak destinasi lain:
orang tidak hanya ingin datang ke Bali, mereka ingin mengalami Bali. Dengan modal sebesar itu,
Bali sesungguhnya sangat layak menjadi destinasi konser dunia. Yang dibutuhkan sekarang
adalah keberanian. Keberanian untuk mengundang artis internasional.
Keberanian untuk membuat kalender konser dunia. Keberanian untuk menjadikan
music tourism sebagai strategi pariwisata nasional. Keberanian untuk tidak
hanya menjadi pasar penonton, tetapi menjadi tuan rumah panggung global.
Musik hari ini bukan sekadar hiburan. Musik adalah industri.
Musik adalah diplomasi budaya. Musik adalah magnet wisatawan. Musik adalah
alasan orang melakukan perjalanan lintas negara. Dalam bahasa pariwisata,
musik adalah salah satu mesin multiplier effect paling cepat dan paling
nyata. Bayangkan satu konser
internasional besar di Bali. Ribuan bahkan puluhan ribu orang datang dari
berbagai negara dan daerah. Hotel terisi. Villa penuh. Restoran bergerak.
Transportasi lokal hidup. UMKM menjual produk. Pekerja event terserap.
Desainer lokal membuat merchandise. Musisi lokal mendapat kesempatan tampil.
Media internasional meliput. Konten digital menyebar. Pajak daerah meningkat.
Devisa masuk ke Indonesia. Jika konser itu dibuat
dalam format multi-day event, dampaknya akan lebih besar. Wisatawan tidak
hanya datang satu malam. Mereka bisa tinggal tiga sampai tujuh hari. Sebelum konser mereka
menikmati Ubud, Sanur, Kuta, Nusa Dua, Canggu, Uluwatu, dan desa-desa wisata.
Setelah konser mereka berbelanja, menikmati kuliner, mengikuti wellness
program, melihat pertunjukan budaya, atau melanjutkan perjalanan ke Labuan
Bajo, Lombok, dan destinasi lain di Indonesia. Inilah multiplier effect
yang dahsyat. Satu konser besar tidak
hanya menghidupkan panggung. Ia menghidupkan kamar hotel, meja restoran,
kendaraan transportasi, dapur UMKM, pekerja kreatif, petani pemasok bahan
makanan, nelayan, pengrajin, pemandu wisata, desa wisata, dan anak-anak muda
yang bekerja di belakang layar industri event. Namun agar Bali
benar-benar mampu bersaing dengan Singapura dan Thailand, pemerintah harus
hadir. Kehadiran pemerintah bukan untuk mengambil alih industri, tetapi untuk
memastikan ekosistemnya sehat, efisien, dan masuk akal secara bisnis. Salah satu persoalan
utama dalam konser berskala dunia adalah biaya. Venue tidak boleh terlalu
mahal. Perizinan tidak boleh berbelit. Biaya keamanan, pajak, logistik,
teknis, dan operasional harus dirancang agar promotor internasional melihat
Bali sebagai destinasi yang feasible. Jika seluruh biaya
terlalu tinggi, konser besar akan sulit masuk. Industri musik global sangat
rasional. Mereka akan menghitung risiko, kapasitas pasar, biaya produksi, dan
potensi keuntungan. Karena itu, pemerintah
pusat dan daerah perlu duduk bersama dengan promotor, pemilik venue, hotel,
maskapai, sponsor, kawasan pariwisata, dan pelaku industri kreatif. Tujuannya
sederhana: membuat Bali masuk akal secara bisnis sebagai destinasi konser dunia. Bali tidak hanya harus
indah. Bali juga harus kompetitif. Ada beberapa solusi nyata
yang dapat segera dipertimbangkan. Pertama, pemerintah perlu
membentuk Bali Music Tourism Task Force yang melibatkan pemerintah pusat,
pemerintah daerah, pelaku industri, promotor, hotel, maskapai, venue, aparat
keamanan, dan komunitas kreatif. Task force ini bertugas menyusun strategi,
kalender event, standar layanan, dan skema kolaborasi agar Bali menjadi
destinasi konser internasional yang siap secara teknis dan bisnis. Kedua, perlu ada skema
venue partnership agar biaya penggunaan venue tetap rasional. Pemerintah
dapat memfasilitasi kerja sama antara pemilik venue, promotor, sponsor, dan
industri hospitality. Prinsipnya, harga venue tidak boleh membunuh kelayakan
bisnis. Jika venue terlalu mahal, artis internasional tidak datang, promotor
mundur, dan multiplier effect hilang sebelum terjadi. Ketiga, perizinan konser
internasional harus dibuat cepat, transparan, dan pasti. Promotor dunia
membutuhkan kepastian waktu. Artis dunia memiliki jadwal tur yang sangat
ketat. Jika izin tidak jelas, biaya tidak pasti, atau proses terlalu panjang,
Bali akan kalah dari negara lain yang lebih siap. Kepastian regulasi adalah
bagian dari daya saing destinasi. Keempat, pemerintah perlu
memberi dukungan dalam aspek keamanan, lalu lintas, kebersihan, kesehatan,
dan crowd management. Event besar tidak hanya membutuhkan panggung. Ia
membutuhkan pengalaman yang aman, tertib, bersih, nyaman, dan profesional.
Wisatawan yang puas akan menjadi promotor terbaik bagi Bali. Kelima, perlu dibuat
paket kolaborasi antara konser, hotel, maskapai, restoran, dan destinasi
wisata. Tiket konser dapat dikombinasikan dengan paket menginap,
transportasi, kuliner, wellness, dan desa wisata. Dengan cara ini, nilai
ekonomi tidak hanya berhenti di panggung, tetapi menyebar ke seluruh
ekosistem pariwisata. Keenam, konser dunia di
Bali harus memberi ruang bagi pelaku lokal. Harus ada keterlibatan UMKM,
kuliner lokal, merchandise lokal, pekerja event lokal, musisi lokal, seniman
Bali, desa wisata, dan koperasi. Jangan sampai event besar hanya menjadi
tontonan, tetapi tidak meninggalkan nilai ekonomi bagi rakyat sekitar. Ketujuh, Bali perlu
memiliki Bali International Music Calendar. Event tidak boleh sporadis. Harus
ada kalender tahunan yang jelas: konser pop internasional, electronic dance
music, jazz, world music, cultural music festival, beach concert, dan
wellness-music event. Kalender yang konsisten akan membangun reputasi Bali
sebagai music tourism hub Asia. Kedelapan, promosi Bali
sebagai destinasi konser dunia harus dilakukan melalui diplomasi pariwisata.
KBRI, diaspora Indonesia, maskapai, hotel chain, promotor internasional, dan
media global harus ikut memasarkan Bali bukan hanya sebagai tempat berlibur,
tetapi sebagai tempat terbaik di Asia untuk menikmati konser dunia sambil
mengalami budaya dan keindahan Indonesia. Yang penting, rakyat
harus ikut sejahtera. Konser dunia tidak boleh hanya menjadi panggung bagi
artis dan promotor. Ia harus menjadi ruang ekonomi bagi pekerja lokal, UMKM,
restoran, transportasi, hotel, desa wisata, petani, nelayan, pengrajin, dan
anak-anak muda Bali. Di situlah music tourism bertemu dengan ekonomi
kerakyatan. Bali sudah memiliki modal
yang dibutuhkan: nama besar, direct international flights, hotel yang banyak,
hospitality yang kuat, destinasi yang indah, dan daya tarik global. Kini yang
diperlukan adalah keberanian mengemas semua modal itu menjadi strategi baru. Singapura telah
menunjukkan bagaimana Taylor Swift dapat menggerakkan ekonomi kawasan.
Thailand bergerak dengan Tomorrowland. Maka Indonesia tidak boleh hanya
menjadi penonton. Bali mampu bersaing.
Bahkan, Bali bisa menawarkan sesuatu yang lebih lengkap: konser kelas dunia,
pengalaman budaya, alam yang indah, hospitality Indonesia, kuliner, wellness,
desa wisata, dan multiplier effect yang langsung dirasakan rakyat. Kini saatnya Bali berani
menjadi panggung musik dunia. Bukan hanya sebagai
tempat orang datang untuk berlibur. Bukan hanya sebagai destinasi yang indah
untuk dikenang. Tetapi sebagai pusat music tourism Asia yang membawa devisa,
pekerjaan, kebanggaan nasional, dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar